
Rico masih belum berkutik di dalam ruangannya, para wanita - wanita itu terus mencekokinya dengan alkohol.
" Saya tau saya jauh lebih tampan dari pada xavi."
" Saya yakin pasti kamu akan menyesal telah memilih xavi sheila "teriak Rico dalam keadaan mabuk berat.
Seorang wanita mengelus wajah Rico," Sudahlah jangan memusingkan hal itu lebih baik kita bersenang - senang sekarang. '' bisik wanita tersebut yang di senyumi oleh Rico.
Rico meraih rambut wanita tersebut dan menggulungnya dengan tangannya," Kamu benar sayang. "ucap Rico mencium kening wanita tersebut.
Rico beridiri kemudian menarik wanita tersebut." Mari kita bersenang - senang dan menghabiskan waktu bersama. "ucap rico berjalan dengan langkah gontai menuju kamar pesanannya.
***********
Rashel mendoroh tubuh stiven ke atas kasur kemudian membuka kancing baju stiven satu persatu.
" Malam ini kita akan melakukan malam pertama yang pastinya tidak akan pernah kamu lupakan sayang. "ucap Rashel.
Dada bidang dan perut sispek Stiven terlihat begitu Rashel membuka kancing terakir kemeja Stiven.
Stiven tersenyum melihat Rashel yang masih ia sangka sebagai sheila," Malam ini akan saya buat seindah mungkin bersama kamu sheila, malam yang akan teringat selalu oleh kamu." ucap rico menarik Rashel hingga membuat tubuh rashel menyentuh dada bidangnya.
"Sayang... "ucap Rashel tersenyum menatap Stiven.
" Ternyata kamu jauh lebih romantis daripada yang aku kira." ucap Rashel masih tersenyum bahagia.
Stiven membalas senyuman Rashel," Kamu jauh lebih cantik jika kita berdekatan seperti ini. "puji Stiven yang kemudian mengulam bibir Rashel.
Stiven dan Rashel sangan menikmati ciuman mereka, Stiven berulang kali mengulam bibir atas dan bawah Rashel begitupun dengan Rashel yang tak menyangka jika malam yang ia impikan bersama rico akirnya bisa terjadi.
Dress serta semua pakaian mereka terlepas berserakan di atas lantai bar. Malam yang panjang dan indah mereka lalui bersama tanpa tau jika orang yang mereka lihat dan mereka pikirkan bukanlah orang yang sama.
*************
Sheila merapikan piring serta gelas sarapannya bersama qania dari atas meja makan.
"Mama bantu ya. "ucap qania sembari mengambil piring kotor untuk ia bawa ke dapur.
Dengan cepat sheila langsung mengambil piring tersebut dari tangan qania" Ngga boleh ma, biar sheila yang mengerjakan! '' larang Sheila sembari membawa piring kotor tersebut ke dapur.
Qania hanya bisa menghela nafas sembari menggeleng-geleng melihat sikap anaknya itu "Gini - gini mama juga sudah sembuh sheila, mama juga perlu mengerjakan pekerjaan rumah." ucap Qania sembari mengupas buah di atas meja makan.
"Gini - gini sheila juga anak mama, sudah tugasnya sheila untuk merawat dan memanjakan mama" ujar sheila sembari meletakkan piring ke atas rak piring..
Qania kembali menggeleng, "Kamu ini selalu saja ada jawabnya." ucap Qania memasukkan sepotong buah apel ke mulutnya.
Sheila berjalan menuju mamanya, sheila memeluk leher qania, "Itu tandanya sheila sayang sama mama, sheila ngga mau mama capek dan sakit lagi."
Qania mengelus tangan anaknya, "Kamu memang anak yang paling baik sedunia...." puji qania mencium pipi anaknya.
Tin..
Tin.....
__ADS_1
Suara klakson mobil terdengar dari depan rumah sheila yang membuat obrolannya terhenti.
"Sebentar ya mama, sheila lihat dulu. "pamit sheila sembari berjalan menuju pintu depan.
Xavi keluar dari mobilnya karna sheila yang terlalu lama membuka pintu. Xavi berjalan menuju pintu rumah sheila.
Ceklek..
Pinturumah terbuka begitu xavi akan mengetuk.
Sheila berdecak begitu tau yang datang pagi - pagi seperti ini kerumahnya adalah xavi. "Ada apa kamu kesini?" tanya sheila mendekapkan kedua tangannya di dada sembari melihat xavi.
Xavi tidak menghiraukan pertanyaan sheila, xavi malah menarik tangan sheila menuju mobilnya. Jelas saja tarikan xavi membuat sheila memberontak.
"Kamu apa-apan sih, saya mau di bawa kemana? "berontak sheila menghentak-hentakkan tangannya.
Xavi melepas tangan sheila," Kamu lupa?..... "sheila menaikkan satu alisnya.
Xavi mendengus kesal," Pagi ini kita akan menemui papa kamu. "jelas xavi yang membuat sheila terbelalak.
" Sheila." panggil qania yang membuat sheila langsung membekap mulut xavi sebelum ia melanjutkan kata-katanya.
" Eh ada xavi." ucap Qania begitu melihat xavi dan sheila berdua di luar.
Sheila melepaskan bekapan mulut xavi kemudian tersenyum pada mamanya." Iya ma." jawab sheila.
"Kenapa xavinya ngga di suruh masuk sheila?" tanya qania menegur anaknya itu.
"Ngga usah tante saya di sini saja, lagian saya dan sheila juga mau pergi. "jawab xavi yang di angguki oleh sheila.
"Iya tante. "jawab xavi.
" Yasudah mah sheila ambil tas dulu." ucap sheila berlari masuk kedalam rumah.
Tak berapa lama sheila pun kembali dan langsung berpamitan dengan mamnya begitupun dengan xavi.
" Sheila pergi dulu ya ma." pamit sheila menyalami mamanya di ikuti oleh xavi.
*************
Rashel terbangun sembari meringis kesakitan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Aaakkkhh... "ringis Rashel memijat kepalanya.
Rashel mengedipkan matanya beberapa kali karna pandangannya yang masih kabur.
" Saya dimana?" ucap Rashel melihat sekeliling dan mengatahui ini bukanlah kamar hotel tempatnya dan Rico berbulan madu.
Rashel melihat ke sisi ranjangnya dan betapa terkejutnya Rashel ketika melihat Stivenlah yang berada di sisinya. Rashel menutup mulutnya sembari menangis. Rashel melihat kedalam selimut, tidak ada satupun pakaian melekat di tubuhnya.
Rashel menggeleng, "Apa yang terjadi dengan saya?" tanya Rashel sendiri yang tidak mengingat apapun tentang kejadian semalam.
Rashel menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Rashel mengambil bantal dan kemudian memukuli Stiven yang masih tidak sadarkan diri di sampingnya.
__ADS_1
" Bangun kamu!..... Bangun!" ucap Rashel sembari memukuli Stiven.
"Bangun brengsek! "ucap Rashel terus memukuli Stiven.
Akibat pukulan teesebut Stivenpun terbangun dan menahan bantal yang akan kembali melayang ke wajahnya.
" Apa - apan sih. '' bentak Stiven yang belum sepenuhnya tersadar.
"Apa yang sudah kamu perbuat kepada saya brengsek, bangsad! ? "ucap Rashel yang sangat marah dan sangat hancur saat ini.
Stiven mengucek matanya kemudian melihat ke arah Rashel," Rashel kamu ngapain di sini? "kejut Stiven, melihat sekeliling ruangan.
" Harusnya saya yang nanya sama kamu!..... Apa yang sudah kamu perbuat kepada saya?" Rashel terus menangis, dalam kondisinya seperti ini membuatnya berfikiran buruk tentang apa yang sudah stiven lakukan kepadanya.
"Saya..... Saya tidak ingat. "jawab stiven yang kemudian memeriksa kelengkapan pakaiannya.
Stiven melihat pakaiannya dengan Rashel sudah berserakan di atas lantai bar.
" Brengsek..." ucap Rashel yang kemudian menampar Stiven dengan sangat keras.
" Pokoknya kejadian hari ini jangan sampai ada yang tau, apalagi Rico....... Ngerti kamu! "tegas Rashel yang kemudian menggulung tubuhnya dengan selimut dan memungut pakaiannya sebelum ia masuk kedalam kamar mandi.
Stiven memegangi pipinya yang terasa sangat panas karna tamparan dari Rashel.
" Aaaakkkkh.... Apa yang sebenarnya terjadi?" ucap Stiven yang tidak bisa mengingat apapun.
Di kamar yang berbeda Rico dan wanita yang bersamanya tadi malam baru saja terbangun. Wanita itu memegang dada bidang Rico kemudian mencium Rico.
"Sayang "goda wanita itu sembari mengelus dada Rico.
Rico tersenyum sinis melihat wanita yang kini sedang berada di atasnya.
" Gimana sayang, apa kamu sudah baikan?" tanya wanita tersebut menatap Rico. Wajah Rico yang masih memerah karna pengaruh alkohol memunculkan daya tarik tersendiri untuknya. Walau penampilan rico saat ini terkesan berantakan tapi itu semua tidak mengurangi sedikitpun ketampanan Rico. Malah menurutnya Rico malah semakin tampan apa lagi sekarang dada bidang dan perut sispek Rico terlihat jelas.
Rico memegang pipi wanita tersebut dan mengulusnya, "Saya sudah tidak pusing lagi dengan maslah saya, dan itu berkat kamu. Kamu sangat memuaskan saya malam ini." ucap Rico.
Wanita tersebut tersenyum, "tentu sayang apapun akan saya lakukan supaya kamu bisa tersenyum kembali......" wanita itu mengelus bibir Rico, kemudian menciumnya. "jadi apapun masalah kamu kamu bisa datang ke sini dan menemui aku." ucap wanita tersebut setelah selesai mengulam bibir Rico.
Rico menyengir, kemudian menarik wanita tersebut untuk membalas ciumannya. Rico mengecup bibir wanita itu berulang kali. Wanita menerima begitu saja kecupan Rico malah Wanita itu memegang leher rico sembari mengelus juga menarik rico untuk semakin mendekat kepadanya.
Di rasa cukup Ricopun menyudahi kecupannya.
Rico mengambil celananya di atas lantai mengambil segepok uang daribdalam sakunya kemudian memberikan pada wanita itu.
"Ini bonus untuk kamu. "ucap Rico yang di sambut senyum girang olehnya.
" Thank you sayang," ucap wanita itu yang di angguki oleh Rico. Rico mengambil pakaiannya kemudian mengenakannya.
" Jangan lupa beli daleman yang baru dan mahal untuk persiapan dengan saya nantinya!" pinta Rico sebelum akirnya ia keluar dari kamar VVIP tersebut.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung