
Sheila mondar - mandir di dalam kamarnya memikirkan cara bagaimana cara untuk melampiaskan kekesalannya pada xavi. Ia ngga cemburu, cuma kesal saja dirinya terabaikan karna adanya casandra.
"Apa ya, yang harus saya lakukan pada xavi."
"Ngambek? Kayaknya itu udah umum banget deh dilakuin sama cewek-cewek."
"Marah - marah?, apalagi ini yang ada cuma nambah masalah nantinya."
"Aduh... Saya harus apa, saya ngga bisa biarin gitu aja."
Ceklek
Xavier masuk kedalam kamar sebelum sheila merencanakan rencana apapun.
"Sial dia sudah datang sebelum saya tau harus melakukan apa." umpat sheila di dalam hati begitu melihat xavi masuk kedalam kamar.
Xavi berjalan mendekati sheila, ia sangat merasa bersalah karna telah melupakan sheila begitu saja tadi.
"Sheila.." ucap xavi namun langsung di potong oleh sheila.
"Mas "sheila berusaha tersenyum," gimana lancar kantornya? "tanya sheila membantu xavi membuka jas serta meletakkan tas kerja xavi.
Tentu saja perbuatan sheila ini membuat xavi heran. Tidak biasanya sikap sheila menjadi baik seperti ini tapi sekarang?....
" Apa sikapnya berubah karna bawaan hormon?" pikir xavi.
"Mas? Kenapa? "
Sheila memperhatikan xavi yang menatapnya dengan tatapan heran.
Xavi mengalihkan pandangannya, lalu menggeleng pada sheila, "Saya bersih gbersih dulu!" ucp xavi yang kemudian masuk kedalam kamar mandi.
Sheila tersenyum melihat reaksi xavi dengan sikap baiknya.
"Kita lihat saja nanti? Kamu akan lebih tercengang daripada ini. "batin sheila yang kemudian memasukkan jas kotor xavi kedalam keranjang pakaian kotor.
***************
Sheila dan xavi telah berbaring di atas kasur mereka, entahlah sheila belum menemukan rencana pembalasan pada xavi. Malahan sekarang ia malah ingin meminta tolong pada xavi untuk menemaninya untuk membeli makanan yang sangat ia benci. Iya sate kambing makanan yang tidak pernah ia sukai dari kecil tapi sekrang dia malah ingin sekali memakan makanan itu.
" Mas," panggil sheila.
" Hmmm.." jawab xavi.
" kayaknya saya kepengen makan sate kambing deh, kayak enak banget gitu." ucap sheila saat akan bersiap - siap untuk tidur.
" Malam - malam gini?" Sheila mengangguk.
"Ini udah malam, ngga mungkin ada yang jualan juga, besok aja ya? "
" Yaah kok besok sih saya tuh maunya sekarang! "
"Tapi ini tuh udah malam, ngga usah aneh - aneh deh."
Sheila membuang wajahnya, tak tau kenapa ia serasa ingin sekali memakan makanan itu. Ia ingin sekali dan ngga bisa di tunda sampai besok.
" Kamu enak bisa bicara seperti itu, ngga tau aja rasanya hamil kayak gimana. "ketus sheila yang kemudian berdiri.
" Kamu mau kemana?" tanya xavi melihat sheila yang bangkit dan berjalan mengarah pintu keluar.
" Saya mau pergi."
__ADS_1
" saya bisa pergi sendiri, tanpa harus ada kamu. Saya bisa cari pedagang itu sampai ketemu,Dan dapetin apa yang saya mau. "ucap sheila menatap sinis ke arah xavi.
Xavi langsung berdiri begitu mendengar ucapan sheila yang serius." sheila... Sheila tunggu! "tahan xavi memegang tangan sheil.
" Iya saya akan temani kamu!" tahan xavi.
Sheila memutar matanya, menanggapi ucapan xavi.
Xavi mengmbil sweeter serta jaket untunya dan sheila.
" Pakai ini, biar kamu tidak kedinginan!" ucap xavi memakaikan sweeter pada sheila.
Sheila memperbaiki sweeter yang di pakaikan xavi kemudian berjalan keluar dari kamar.
.
.
.
Sudah banyak tempat di kunjungi oleh xavi namun semua tempat yang menyediakan makanan yang di inginkan sheila sudah tutup semua. Pedagang yang biasanya berjualan di pinggirjalanpun sudah bubar. Tapi xavi terus melajukan mobilnya tanpa mengeluh sedikitpun, berhenti dan keluar dari mobil di setiap warung ataupun restoran di lakukan oleh xavi untuk meminta tolong agar apa yang diinginkan sheila terkabul.
"Sebentar ya,! "ucap xavi keluar dari mobil untuk menghampiri restoran yang sudah tutup namun masih ada beberapa pelayan di dalamnya.
Sheila memperhatikan xavi yang terlihat memohon pada pelayan tersebut namun sepertinya permintaan xavi di tolak.
Xavi masuk kedalam mobil dan kembali melajukan mobilnya untuk mencari restoran lain.
"Andai saja hubungan kita ini serius dan kita saling mincintai pasti kita akan sangat bahagia saat ini. Apalagi dengan adanya kehadiran calon anak ini." batin sheila memperhatikan xavi yang sedang mengendarai mobilnya.
Xavi melihat sheila yang memperhatikannya dari sudut matanya. Xavi menepikan mobilnya kemudian membalas tatapan sheila.
Xavi mendekatkan wajahnya dan saling bertatapan dengan sheila,"Mau sampai kapan kamu memperhatikan saya seperti ini?" tanya xavi.
" Feling kamu bener, masih ada yang jualan. "ucap xavi melihat kedepan menatap pedang kaki lima yang berjualan sate kambing seperti yang diinginkan sheila.
Sheila tersenyum lebar melihat apa yang ia inginkan akirnya bisa terkabul, sangking senangnya sheila langsung memeluk xavi dengan sangat bahagia.
Sheila melepas pelukannya lalu keluar dari mobil dan berlari menuju penjual tersebut. Sheila memesan sate kambing keinginanya pada penjual tersebut dan duduk di kursi yang telah di sediakan dengan wajah yang sangat bahagia.
Xavi tersenyum miring melihat wajah sheila yang terlihat sangat menggemaskan. Senyum bahagia sheila membuat orang yang di sekitarnya ikut bahagia.
"Kamu memang menyebalkan tapi melihat kamu seperti ini entah kenapa saya juga ikut bahagia. "batin xavi menghampiri sheila ke tempat penjual tersebut.
**************
Stiven keluar dari mobilnya dan langsung berjalan menghampiri rashel yang saat ini sedang berolah raga di depan halamannya. Stiven menarik rashel untuk duduk di kursi teras rashel.
"say perlu bicara dengan kamu!" ucap Stiven menarik tangan rashel.
"Stiven... Stiven kamu ini apa - apaan! "kesal rashel menghentak - hentakkan tangannya agar terlepas dari stiven.
Stiven melepaskan cekalan tangan rashel," ada hal penting yang harus saya bahas dengan kamu! "ucap stiven.
" Yaudah apa?" kesal rashel.
" Kamu sangat bencikan pada sheila, apalagi rencana kamu menjebak sheila kemarin gagal. Dan yang lebih parahnya lagi mama kamu saat ini sedang di permalukan oleh Xavier dengan berita penggelapan dana perusahaan itu."
"Iya memang saya sangat benci pada sheila, lalu kenapa?"
"Saya ingin mengajak kamu untuk kerja sama menghancurkan sheila."
__ADS_1
Apa yang kamu rencanakan? "
Stiven melihat kedalam rumah memeriksa keberadaan rico." tidak ada siapapun di sana kamu tenang saja. "ucap rashel melohat gelagat stiven.
" Rico?" tanya stiven.
"Dia pergi dan belum pulang sampai sekarang."
stiven mengangguk lalu kembali melanjutkan oembicaraannya.
"Sheila hamil, xavi dan semua alexsander saat ini sangat bahagia dan saya tidak suka itu."
"Lalu?"
"Saya ingin menghancurkan rumah tangga xavi dan menggugurkan kandungan sheila."
"Dengan cara apa?"
"Qania."
"Pelakor itu?"
"Iya, itu satu - satunya kelemahan sheila. Saya mau membuat dia kembali drob jika perlu dia mati supaya sheila stress."
"Dengan begitu pasti kandungannya akan terganggu dan pastinya dia akan keguguran."
"Memangnya dengan cara apa kamu akan membuat wanita tua itu kembali drob?"
"Saya tidak tau, makannya saya mengajak kamu untuk bekerja sama. Otak licik kamu sangat di perlukan saat ini. Karna tidak mungkin kita akan menggunakan cara kekerasan untuk rencana ini."
Rashel memegangi perutnya yang terasa sakit, memang dari tadi pagi ia merasa perutnya sangat sakit. Makannya ia berolahraga kecil di halaman rumahnya supaya rasa sakit itu tidak begitu terasa.
" Kamu pasti taukan apa yang akan kita lakukan?"
Rashel menekan perutnya yang terasa sangat sakit.
"Rashel?"
"Hmm... Iya, saya belum tau akan melakukan apa."
"Ya... Saya kesini juga tidak meminta kamu untuk langsung menemukan caranya, kamu pikirkan saja dulu dan kita bicarakan ini lagi ketika kamu sudah tau harus melakukan apa."
Rashel mengangguk, menahan rasa sakit di perutnya.
"Saya pergi dulu. "pamit Stiven yang lagi - lagi di angguki oleh rashel.
Stiven bangkit dan berjaln menuju mobilnya.
Brak
Rashel jatuh saat sakit di perutnya tak tertahan lagi.
Stiven berbalik dan melihat Rashel yang telah tergeletak di atas lantai dengan wajah yang terlihat sangat kesakitan.
"Rashel!"
"Rashel... "ucap stiven yang langsung berlari ke arah rashel.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung