Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 102.Hancur


__ADS_3

Ratih segera masuk kedalam kamar ruang rawat qania saat stiven telah keluar.


Ratih terbelalak dan langsung membeku di tempat begitu melihat qania telah bersimbah darah di atas lantai.


*****************


Stiven masuk kedalam Rumah dengan keadaan yang super berantakan.Bau alkohol dari tubuhnyapun masih sangat menyengat.


"Stiven. "panggil alexsander begitu melihat stiven pulang dengan jalan yang sempoyongan.


Stiven menghentikan langkahnya lalu berbalik melihat ke arah alexsander.


" Papa..." stiven tertawa, kemudian melambaikan tangannya ke arah alexsander" sekarang kita impas pa. "ucap stiven memukul pundak alexsander pelan lalu kembali berjalan masuk kedalam kamarnya.


" Dasar anak itu, tidak pernah merasa bersalah atas semua yang dia lakukan." ucap alexsander yang sangat tidak mengerti dengan kelakuan anak bungsunya.


****************


"Bagaimana perasaan kamu,? "tanya sheila masih cekikan menggoda xavier yang terlihat sangat terkejut dengan ciumannya.


" Kenapa kamu mau mendengarkan perasaan saya? Apa perlu saya ungkapkan sekarang?" goda xavier balik yang membuat pipi sheila memerah.


Sheila memukul pundak xavier pelan lalu berjalan cepat menuju kamar rawat mamanya.


"Sheila,... sayang! '' panggil xavier mengejar sheila.


Langkah sheila terhenti begitu melihat banyak dokter masuk kedalam ruangan mamanya. Terlihat juga ratih keluar dari ruang rawat mamanya dengan tangis yang histeris.


Melihat itu Perasaan sheila langsung tidak enak, ia yakin pasti telah terjadi hal buruh pada mamanya.


"Sayang... "ucap xavi merangkul pundak sheila.


Sheila melepas rangkulan xavi lalu berlari menuju ratih," ada apa bik, kenapa banyak dokter yang masuk ke ruangan mama? "


"Apa ada sesuatu yang terjadi pada mama? "tanya sheila yang terlihat sangat panik. Butiran-butiran bening di matanya berjatuhan, pikirannya tidak tenang serta perasaannya saat ini tidak karuan.


Sheila memegang kedua pundak ratih" Bik.. Bibik jawab saya!" bentak sheila yang telah berderaibair mata.


" Hiks...hiks..non."ratih tidak sangup mengatakan apapun tentang kejadian sebenarnya.


" Kenapa bik?"


" Ibuk.... Hiks.. Hiks"


Dokter keluar dari dalam ruang rawat qania. Dokter itu menunduk sopan pada xavi dan sheila.


"Bagaimana keadaan mama mertua saya? "tanya xavi yang dari tadi juga sangat penasaran dengan apa yang terjadi pada qania.


Dokter itu terlihar ragu untuk mengatakan apa yang terjadi pada qania.


" Bagaimana keadaan mama saya dok?" tanya sheila.


Dojter itu menggeleng," Maaf tuan muda, nona sheila kami sudah melakukan yang terbaik untuk ibuk qania tapi..."

__ADS_1


Xavi mencengkram kerah baju dokter itu, "apa maksud kamu,?" ucap xavi menatap dokter itu dengan sangat tajam, wajah pebuh amarah terlihat jelas di wajah xavi.


"Hiks... Hiks... Ngga... Ngga... Ngga mungkin "ucap sheila memegang dinding untuk bisa menyeimbangkan tubuhnya yang terasa sangat lemah tak berdaya.


" Ibuk qania tidak bisa kami selamatkan. "


" Apa kamu bilang?" ucap xavi mencengkram kerah baju dokter itu semakin kuat.


"Maafkan saya tuan muda."ucap dokter itu sangat takut dengan kemarhan xavi.


" Ngga, NGGA ITU NGGA MUNGKIN!" teriak sheila mendorong tubuh dokter itu lalu masuk menerobos kedalam ruangan.


Sheila menutup mulutnya melihat para perwat telah menutup seluruh tubuh mamanya dengan selimut.


" Hikss... Hiks... Hikss"sheila menggeleng, "ngga ini ngga mungkin." icap sheila berjalan mendekat ke ranjang mamanya.


Para perawat itu menunduk hormat pada sheila dan menjaga jarak dari ranjang qania.


Xavier melepas cengkramannya lalu berlari masuk kedalam ruang rawat qania.


Sheila memegang sudut selimut yang menutupi seluruh tubuh mamanya, sheila ingin membuka dan memastikan apakah itu benar mamanya atau bukan.


"Sheila.. "panggil xavi saat sheila hendak mengangkat kain itu.


Xavi berjalan ke arah sheila lalu menyuruh sheila untuk menyingkir," biarkan saya yang memastikannya! "ucap Xavi menatap mata sembab sheila.


" Hiks.. Hiks... Hiks" tangis sheila mundur perlahan dari ranjang qania.


Xavi mengangkat kain itu pelan - pelan. Jujur saja ia sebenarnya tidak sanggup untuk melakukan ini tapi ia mengingat sheila. Sheila akan jauh lebih hancur bila ia yang memastikan ini sendiri.


"MAMA.. Hiks... Hikss.. Hiks"tangis sheila semakin pecah begitu melihat mamanya yang trlah terpejam dengan wajah pucat tak bernyawa di atas ranjang rumah sakit itu.


Sheila mendekat kemudian mencium serta memeluk qania berharap mamanya itu akan bangun.


" Mama.. Mama bangun ma! "ucap sheila menggoyangkan tubuh Qania.


" Mama mama ngga boleh ninggalin sheila kayak gini.... Bangun ma!.. Hiks... Hiks bangun. ''


"Mama bilang ke sheila mama tidak sabar untuk menunggu kelahiran cucu mama ini, mama tidak sabar untuk di panggil nenek kan... Jadi pliase ma bangun, cucu mama ini mau melihat neneknya! "


"Sheila janji akan nurutin apapun kemauan mama asalkan mama bangun!... Hiks... Hikss"


Tidak hanya sheila yang terpukul dengan jeadan qania tapi juga xavi ia tak henti - hentinya meneteskan air mata.


"Xavi kamu maukan janji sama tante"


"Janji apa tan?"


"Jaga sheila baik-baik, buat dia bahagia, dan tidak membiarkan hidupnya menderita lagi! "


Xavi teringat dengan janjinya dengan qania dulu sebelum ia menikah dengan sheila.


Sheila memegang tangan mamanya, "Mama sheila sudah berbaikan dengan xavi sesuai permintaan mama tadi pagi, kami juga sudah dinner romantis sesuai keinginan mama. Kami sudah berbaikan mama.. Hiks... Hikss" ucap sheila mencium tangan mamanya sambil terus menangis memohon agar mamanya itu bangun.

__ADS_1


Xavi mengangkat tubuh sheila, "sudah sheila cukup, jangan bersikap seperti ini mama kamu tidak akan bisa tenang kalau kamu seperti ini!"


Sheila menepis tangan xavi, "Diam dan lepaskan saya, kamu tidak mengerti bagaimana rasanya jadi saya. Kehilangan orang yang paling berarti dan berharga dalam hidup kamu... Hiks... Hikss... Hiks.."


Dua orang, dua orang yang paling berarti dalam hidup saya pergi ningalin saya dan kamu suruh saya untuk tidak bersikap seperti ini? Lantas LANTAS SAYA HARUS BERSIKAP SEPERTI APA.?


Apa saya harus tersenyum atau bahkan tertawa melihat kematian mama saya biar mama saya bisa tenang begitu? Hiks... Hiks"


Bukan begitu sheila, DENGARKAN SAYA!


"Kita semua di sini juga sedih, kamu saya bik ratih para dokter di sini merasakan hal yang sama seperti kamu tapi...


" STOP!" teriak sheila menyuruh xavi untuk diam. "SAYA TIDAK BUTUH SEMUA OMONGAN KAMU, SAYA CUMA MAU MAMA SAYA HIDUP!"


Sheil menatao dokter yabg berdiri tidak jauh darinya, sheila berjalan lalu memaksa dokter itu untuk memeriksa kembali keadaan mamanya.


"Periksa keadaan mama saya lagi dok, saya yakin mama saya masih hidup.... Hikss mama saya tidak meninggal,pasti ada kesalahan pemeriksaan tadi!" paksa sheila menarik tangan dokter tersebut.


Maaf nona tapi kami sudah berulangkali memastikan keadaan ibuk qania tapi hasilnya tetap sama ibuk qania sudah tidak bernyawa lagi.


NGGA! PERIKSA SEKARANG!!!" teriak sheila tidak terima dengan penolakan dokter tersebut.


" Sheila cukup jangan seperti ini! ." ucap xavi dengan lembut.


" Mama...." sheila kembali ke ranjang mamanya.


"Mama, mama denger sheilakan... Hiks... Hikss. "


"Tolong bangun ma, jangan ningalin sheila kayak gini. "


"Mama... Hiks hiks.." ucap sheila tak henti - hentika mencium tangan qania.


Perutnya terasa sangat sakit di saat Sheila menangisi mamanya.


"Akkkh.. Akkhhh"sheila merintih kesakit saat merasa sakit yang luar biasa dari perutnya.


Xavi segera memegangi sheila," sheila kamu kenapa? "tanya xavi.


Perut saya sakit.. Akkhh" rintih sheila memegangi perutnya.


Xavi ikut memegangi perut sheila, "xavi melihat ada darah mengalir di kaki sheila.


" Darah?" ucap xavi


Aaakkkhh..." rintih sheila lagi, dengan kondisi yang sangat lemah.


Xavi langsung berteriak memanganggil perawat serta dokter untuk segera menangani istrinya.


"Cepat bantu istri saya!" tegas xavi yang membuat tim dokter serta perawat langsung ketar ketir untuk menangani sheila.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2