
Sheila berjalan - jalan di lorong rumah sakit untuk bisa menghindari xavi yang masih berada di ruangan mamanya. Sheila malas jika harus di paksa mengobrol dan berbaikan oleh mamanya.
Sheila melihat - lihat ramainya pengunjung rumah sakit, baik orang sakit ataupun orang - orang yang sekedar berkonsultasi dengan dokter.
"Pasti sulit mengurus rumah sakit sebesar ini, belum lagi perusahaan. Opa alexsander memang hebat pantas dia sangat di segani. "gumam sheila teringat dengan alexsander mengingat jika mereka cukup akrab saat ini.
Saat sheila mengalihkan pandangannya, ia tidak sengaja melihat reno dan papanya masuk ke rumah sakit.
Sheila mengerutkan keningnya," Kenapa dia bisa ada di sini,? "heran sheila yang kemudian terbelalak mengingat mamanya juga ada di sini.
" jangan - jangan dia tau kalau mama ada di sini. "ucap sheila yang kemudian mengikuti leonard diam-diam.
" Lihat saja saya tidak akan membiarkan kamu bertemu dengan mama saya!" ucap sheila masih mengikuti leonard.
Langkah sheila berhenti saat leonard dan reno mengarah ke arah yang berlawanan dari ruangan mamanya.
"Dia tidak ke ruangan mama lalu dia mau kemana?" heran sheila yang malah menjadi penasaran dengan keperluan leonard ke rumah sakit.
"Dokter ahli ginjal"ucap sheila saat reno dan leonard masuk kedalam ruangan tersebut.
***************
Stiven mengendarai mobilnya di keramaian kota yang saat ini sedang macet parah. Ia terpaksa harus menunggu untuk bisa sampai ke kantornya. Hal yang paling ia benci selalu ia hadapi setiap pagi seperti ini.
Seorang pedagang air datang menjajakan barang jualannya ke mobil stiven. Pedangan itu mengetuk-ngetuk kaca mobil stiven agar stiven membuka kaca mobilnya dan membeli barang jualannya.
Tuk... Tukk... Tuk..
Ketuk pedang itu yang berulang kali mengetuk kaca mobil stiven. Tentu saja sifat gigih Pedangan itu membuat stiven geram. Stiven membuka kaca mobilnya lalu menyuruh pedang itu untuk segera pergi dari mobilnya.
"Saya tidak tertarik membeli jualan anda, jadi sekarang lebih baik anda pergi dari mobil saya! "usir stiven dengan kasarnya.
" Dasar orang kaya sombong" umpat pedang tersebut memelototi stiven kemudian pergi menjauh.
"Dasar pedagang gila." "umpat stiven kembali menutup kaca mobilnya. Namun belum juga tertutup sempurna selembar kertas tiba terbang dan masuk melalui kaca mobilnya yang belum tertutup rapat.
__ADS_1
" Aaiiisss... Sampah apa lagi ini." umpat Stiven lagi yang semakin kesal.
Stiven mengambil kertas tersebut untuk membuangnya namun saat stiven hendak membuang itu ia tidak sengaja melihat gambar dua orang pria yang tak asing dari kertas tersebut.
Stiven membuka lebar kertas tersebut untuk melihat keseluruhan isi dari kertas itu.
"Ini... "jantung stiven berdegup sangat kencang, keringatnya langsung bercucuran, kecemasan sangat luar biasa ia rasakan saat ini.
**************
Sheila berjalan dengan langkah kecil menuju ruangan mamanya. Sepanjang perjalanan sheila tak henti - hentinya memikirkan leonard yang masuk ke ruangan dokter khusus ginjal.
Dddrrrttt... Dddrrrttt
Ponsel sheila berbunyi saat ia hendak masuk kedalam ruangan mamanya.
Mama karina is call...
Sheila mengangkat telfon tersebut setelah tau jika yang menelfonnya adalah mama karina.
"Halo ma. "jawab sheila tidak jadi membuka pintu ruangan mamanya.
Sheila mengerutkan keningnya," Memangnya ada apa ma? "heran sheila mendengar karina yang terdengar sangat hawatir.
" Ada apa, harusnya mama yang tanya pada kamu. Ada apa dengan kamu dan xavi kenapa semalaman kalian tidak pulang?"
" Mama telfon tidak kalian angkat, mama hawatir , takut terjadi sesuatu pada kalian. "
Sheila baru ingat kalau ia belum memberi tau jika mamanya masuk rumah sakit.
" Sheila!, kamu baik - baik sajakan?" tanya karina lagi karna sheila tidak menjawabnya.
"Sheila dan mas xavi baik - baik saja ma."
"Lalu kenapa kalian tidak pulang dan tidak meberi kabar apapun pada mama?"
__ADS_1
"Sheila memang tidak apa - apa ma tapi mama qania,....."
"Kenapa dengan mama kamu sheila?"
"Mama jatuh kemarin ma,dan luka jahitan bekas oprasi mama kembali terbuka dan sekarang mama sedang di rawat di rumah sakit untuk pemulihan. "
"Jatuh? Lalau bagaimana keadan ibuk qania sekarang? "tanya karina yang kaget dengan kabar tersebut.
" Keadaan mama sekarang sudah membaik mungkin satu atau duhari lagi mama sudah boleh pulang."
Karina menghela nafas lega," yasudah kalau begitu mama akan segera ke sana, mama ingin lihat langsung keadaan besan mama."
"Iya ma. "jawab sheila yang kemudian mengakiri telfonnya.
Sheila menghela nafas sembari tersenyum, sheila merasa senang dengan perhatian yang di berikan mama mertuanya.
Ceklek...
Sheila membuka pintu ruang rawat mamanya karna tadi sempat tertunda karna telfon dari mama mertuanya.
"Syukurlah ibuk pulih dengan sangat cepat. Semua pemeriksaan menunjukkan jika sekarang ibuk sudah baik - baik saja. "ucap sandra yang kebetulan bertugas memeriksa keadaan mama sheila.
Qania tersenyum sembari mengucapkan terima kasih pada dokter cantik yang memeriksanya.
" Terima kasih dok, saya pasti cepat pulih seperti ini karna di periksa oleh dokter secantik anda. "
Sandra tertawa kecil, "terima kasih atas pujiannya buk." ucap sandra sembari melihat xavi yang juga tersenyum ke arahnya.
Sheila berjalan masuk kedalam kamar inap mamanya dengan wajah yang masih tersenyum.
Namun senyuman sheila memudar ketika melihat sandra ada di dalam ruangan mamanya. Terlebih sheila juga melihat sandra dan xavi saling curi-curi pandang dengan wajah yang tersenyum.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung