
Xavier memarkirkan mobilnya di parkiran apartemen yang saat ini di tempati oleh sheila. Semua lampu apartemen sudah padam,tapi xavi tetap saja diam di dalam mobilnya sambil menatap ke atas gedung apartemen.
Malam semakin larut tapi xavi tetap diam tampa melakukan apapun selain menatap ke atas gedung apartemen. Entah apa yang di pikirkan xavi, menunggu sheila keluar? Mungkin, mungkin memang itu yang di harapkan xavi. Semua penjelasan dan bukti yang di tunjukkan opanya tadi memunculkan penyesalan dalam diri xavi. Hanya karna foto dan arahan dari orang yang tidak ia kenal membuatnya salah menilai istrinya sendiri.
*************
Bar yang di urus oleh Frans dulu kini kembali beroprasi, namun dengan pimilik dan pengurus yang di rasiakan. Tapi itu tidak masalah bagi para pengunjung yang telah berlangganan di bar itu.
"Saya jadi penasaran setelah frans mati siapa yang jadi pengurus di sini sekarang ya? "tanya Rico menyeruput alkohol yang ia pesan.
" Emang itu penting untuk kamu?" ucap Stiven menanggapi.
" Engga sih tapi saya penasaran saja."
" Gini ya stiven, Rico itu ngga punya keluarga orang tuanya meningal saat dia kecil. Adik Adik orang tuanya juga di luar negri semua. Dia ibarat sebatang kara di sini. "jelas Rico.
" Terus kamu pikir saya pedulia?"
Rico menaikkan kedua bahunya menanggapi ucapan stiven.
Di sisi lain casandra juga berada di bar tersebut,ya sandra dia lah orang yang telah mengoprasikan bar ini kembali. Tujuan sandra adalah untuk mencari tau siapa pelaku di balik terbunuhnya frans.sandra mencari berkas - berkas kariawan bar frans untuk memulai penyelidikannya.
Walau belum pasti jika kariawan frans yang melakukannya tapi mungkin saja dengan ini ia bisa mengetahui orang orang terdekat frans juga musuh frans.
Sandra berhenti di satu map, terfokus pada satu fota kariawan Frnas yang dulu pernah bekerja dengan frans.
"Ini... "pikir Sandra," ini bukannya istri xavi? "ucap Sandra yang tak menyangka jika istri xavi pernah bekerja sebagai kariawan di bar milik frans.
Sandra melihat pendidikan - pendidikan sheila yang ternyata jauh dari dugaannya.
" Aku mau istri yang berpendidikan tinggi minimal setera dengan aku, supa nanti ngga ada konflik tentang pendapat kita. "ucapan itu masih teringat oleh sandra saat xavi menyebutkan salah satu kriteria istrinya di masa depan padanya dulu.
" Ternyata cinta bisa merubah semua kriteria kamu ya er." ucap sandra yang menghela nafas panjang mengingat semua kedekatannya dengan xavi dulu. Bahkan kriteria xavilah yang membuatnya sampai seperti ini sekarang.
***************
Sheila merengangkan otot-ototnya yang tegang karna seharian kemarin ia habiskan waktu untuk beristirahat. Sheila berjalan menuju jendela apartemen yang berada tepat di depan ranjang.
__ADS_1
Sreekk...
Goredeng jendela itu terbuka sangat lemar, menampakankan cuaca yang sangat bagus pagi.
"Mungkin saya perlu berolahraga pagi ini. "ucap sheila yang kemudian bergegas mengganti pakaiannya.
Di sisi lain xavi tidak sengaja ketiduran sampai pagi di parkiran apartemen yang di tempati sheila.
" Astaga,,, sudah pagi." ucap xavi, memegangi lehernya yang terasa sakit karna ia tidur demgan posisi duduk.
"Saya harus segera pulang pasti mama hawatir dengan saya." ucap xavi melihat banyak panggilan tidak terjawab dari mamanya.
Namun saat xavi akan melajukan melajukan mobilnya, xavi melihat sheila keluar dari apartemen dengan pakaian olahraganya.
"Mau kemana dia pagi - pagi ini?" ucap xavi kembali mematikan mesin mobilnya.
Xavi memperhatikan pakaian sheila dari atas sampai bawah, "tidak dia tidak boleh berolahraga. Bagaiaman dengan kandungannya nanti kalau ia sampai cedera." ucap xabtlagi yang mulai panik
'' Bagaimana cara saya menghentikan sheila? "piki xavi melihat sheila yang telah berlari menuju taman.
Xavi mengikuti sheila secara diam - diam dan sesekali xavi juga bersembunyi karna sheila yang terlihat curiga jika ia di ikuti.
Sheila berlariengitari taman yang saat ini juga ramai dengan para penghuni apartemen yang juga berolah raga untuk mengawali pagi mereka. Udara seger dan sejuk pagi ini membuat sheila sedikit tenang walau nanti dia juga harus memikirkan bagaimana fia harus membuktikan pada keluarga xavi jika dia tidak seperti yang mereka pikir.
Sheila duduk do salah satu taman karna ia mersa capek, sheila melihat langit cerh dengan beberapa burung yang terbang untuk berjuang mencari makanan.
"Terbang bebas tanpa halangan"ucap sheila yang kemudian menghela nafas panjang. '' saya juga ingin seperti itu."
Xavi melihat ke arah langit yanh di tatap sheila, "Saya juga ingim seperti itu." ucap xavi.
Mereka berdua sama - sama melihat burung serta awan yang cerah walau dengan posisi yang berjauhan saat ini
****************
"Uuueek.... "rashel berlari ke kamar mandi ketika ia baru saja bangun. Rasa mual dan badan yang tidak enak membuat kondisinya saat ini serasa lemah.
Rashel menyalakan keran westavel kemudian membasuh mulutnya.Rashel menatap wajahnya di cermin rasa mual di oerutnya masih belum hilang, rasanya sangat tidak enak. "apa saya masuk angin?" ucap Rashel. "sepertinya saha harus beli obat ke apotik nanti." ucapnya lagi yang hendak keluar dari toilet.
__ADS_1
Mata rashel tiba - tiba membulat dan langkahnya berhenti begitu saja. Rashel melihat tanggal yang ada di ponselnya. "ngga... Ngga.... Ngga mungkin." ucap Rashel yang terlihat panik. Rashel bergegas keluar dari kamar mandi dan melihat kelender yang ada di meja rias. Ia yakin jika kelender yang ada di ponselnya salah.
Mata Rashel semakin terbelalak ketika tau jika tanggalnya sama dengan tanggal yang ada di meja riasnya. "ngga mungkin saya hamil. Ngga mungkin." ucap Rashel yang terduduk di kursi rias dengan deraian air mata.
*************
"Sheila... "Xavi memanggil sheila saat sheila akan masuk kedalam apartemen.
" Xavi?" kejut sheila," Saya salah memepercaya daniel. "btin sheila.
Xavi berjalan mendekati sheila, semakin dekat semakin cepat langkah kaki xavi sampai entah kesalahan atau bukan xavi langsung memeluk sheila dengan sangat erat. Entah pelukan apa itu sheila tidak tau tapi saat ini sheila sangat terkejut dengan sikap xavi yang seperti ini kepadanya. Entah ia harus senang atau apa karna xavi yang sudah tidak marah demgannya lagi.
Xavi menatap sheila saat ia telah melepas pelukannya.
"Kamu kenapa mas? "tanya sheila masih dengan tatapan yang sama dengan xavi.
Aku ingin menjemput kamu. Kita pulang sekarang!" jawab xavi.
"Tapi.... "sheila memalingkan wajahnya" bagaimana dengan kejadian kemarin? "
Semua itu sudah selesai, opa telah menunjukkan bukti falid jika kamu tidak bersalah kepada semua keluarga."
" Dan sekarang opa meminta aku untuk menjemputkamu dan kembali kerumah. Opa sangat hawatir ketika kamu hilang begitu saja dari rumah sakit." jelas xavi.
Sheila masih terdiam bahkan setelah mendengar kabar bahagia itu dari xavi. Harusnya saat ini ia senang karna ia tidak perlu lagi mencari bukti untuk bisa mendapatkan kepercayaan keluarga xavi lagi.
" Padahal saya berharap jika kamu yang mencari bukti itu mas. "batin sheila meliaht ke arah xavi.
Lagi-lagi sheila kembali memalingkan wajahnya, tapi kenapa bisa kakek alexsander mendaptkan bukti. Padahal kakek alexsander terlihat tidak peduli dan tidak suka pada saya?" heran sheila memimirkan perubahan kakek xavi yang bisa percaya kepadanya saat semua orang sudah menuduhnya jelek.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1