
HAPPY READING GAYS!!!
Sheila masuk kedalam toilet tersebut dengan menggunakan kaca mata night vision sehingga sheila bisa melihat dalam kegelapan walaupun sheila tidak bisa melihat wajah manusia tapi setidaknya sheila bisa melihat bentukan-bentukan benda dan manusia.
Di dalam toilet sheila melihat dua orang yang terlihat sedang berpelukan. "ini saatnya saya balas dendam sama kamu."batin sheila yang semakin mendekat ke arah orang tersebut.
Sheila mendorong pria itu lalu menendang selangkangannya sampai pria itu jatuh dan berteriak kesakitan.
" Rasain kamu." ucap sheila yang kemudian berlari keluar toilet.
" Aaaaakkh." pria itu memegang selangkangannya yang terasa sangat sakit.
Perempuan itupun panik dengan apa yang terjadi pada pria itu sampai ia kesakitan seperti itu. Ia mencoba membatu pria itu yang telah terduduk di bawah lantai toilet dengan kondiai yang masih kesakitan.
Sheila masuk kedalam toilet wanita untuk menengkan dirinya yang kini sedang ngos-ngosan karna berlari sangat cepat tadi.
Setelah mersa tenang sheilapun berdiri di depan toilet pria, ia mengambil walkie-talkie untuk mengabarkan kecelakaan yang ada di dalam toilet pria.
"Saya baru saja keluar dari toilet wanita dan mendengar ada teriakan yang sangat keras dari dalam toilet pria. Saya ngga bisa masuk jadi tolong kirim bantuan secepat mungkin kesini. Saya takut jika terjadi sesuatu dengan orang yang berada di dalam! "ucap sheila berpura-pura panik agar ia tidak di curigai.
Sheila melihat kedalam toilet sambil tersenyum sinis karna rencana balas dendamnya berhasil kali ini.
" Baik kami akan segera kesana untuk mengirim bantuan." ucap orang tersebut.
" Iya pak." jawab sheila.
************
Satu minggu kemudian....
__ADS_1
Xavier berjalan cepat di koridor luar bangsal kelas atas di lantai atas rumah sakit, xavier berjalan dengan tidak sabar, diikuti oleh sekretaris pribadinya, Daniel. seorang pria elit berusia tiga puluhan.
Xavier berjalan sambil terus mengumpat dengan apa yang di perintahkan kakeknya tadi kepada xavier.
"kalau bukan karna paksaan dari kakek saya, ngga akan saya mau ngeliat dia." umpat xavier yang sangat terpaksa mengunjungi pamannya itu.
Karna kejadian di dalam toilet seminggu yang lalu membuat paman xavier harus di rawat di rumah sakit karna luka akibat tendangan sangat kuat di bagain alat fitalnya.
Alexander, kakek xavier menyuruh xavier untuk mengunjungi stiven pamannya yang telah sakit selama seminggu. Sebagai keluarga alexsander menyuruh xavier untuk menjenguk sekaligus memberikan semangat untuk pamannya itu. Alexsander berharap dengan ia menyuruh xavier untuk mengunjungi pamannya yang sakit bisa membuat hubungan mereka membaik dan mereka bisa menjadi keluarga yang akur dan kompak. Mengingat xavier dan stiven sangatlah tidak aku dan sering sekali bertengkar. Hubungannya tidak pernah baik, mereka berdua bagaikan musuh bubuyutan yang mustahil unyuk berdamai walau sudah berbagi cara alexsnder menyatukan mereka tapi tetap saja ujung-ujung mereka berdua tetap bertengkar dan tidak akur sampai sekarang.
Daniel hanya mendengarkan umpatan atasannya itu tanpa mau menyauti ataupun menyela ucapannya. Daniel tidak mau jadi sasaran empuk untuk xavier meluapkan emosinya.
Ketika xavier sampai di luar bangsal, xavier berdiri dan melihat pergerakan di dalam. Di dalam, xavier melihat seorang pria yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya dan terlihat agak mirip dengannya sedang memarahi dokter. Dia adalah Stiven Paman xavier.
"Kondisi bapak saat ini sudah baik tapi karna bapak terluka di bagaian bawah maka perlu waktu sebulan lagi untuk bisa benar-benar sembuh. "jelas dokter itu menjelaskan keadaan stiven saat ini.
" Tapi pak saya sudah melakukan semua penanganan yang terbaik untuk pak stiven." jawab dokter itu.
Stiven masih tidak terima jika ia sembuh dalam waktu satu bulan lagi" Harusnya sebagai dokter yang memang ahli dalam hal ini kamu bisa menyembuhkan saya hari ini juga bukan sebulan lagi! ." Stiven tidak terima jika ia harus bertahan di rumah sakit ini selama sebulan lagi,walau ini rumah sakit keluarganya tapi tetap saja ia tidak mau. Stiven mau ia sembuh dengan cepat agar ia bisa bebas melakukan hal-hal yang ia sukai lagi bukan tidur dan berbaring di atas kasur tanpa bisa melakukan apa-apa seperti ini.
"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin pak, tapi karna luka bapak ini cukup parah jadi perlu penyembuhan yang cukup lama. Cjelas dokter itu lagi mencoba agar stiven bisa mengerti seberapa parah lukanya itu.
" Pokoknya saya ngga mau tau hari ini juga kamu harus cari obat yang paling ampuh yang bisa nyembuhin saya. "tegas stiven, tidak mau mendengar alasan apapun dari dokter itu, sudah cukup rasanya ia bertahan selama seminggu di rumah sakit ini.
" Kalau kamu ngga bisa saya akan pecat dan tuntut kamu."ancam stiven.
Dokter itu mengangguk pasrah kemudian keluar dari ruangan stiven.
" Songong banget mentang-mentang ini rumah sakit keluarga dia bisa semen-mena seperti itu. "
__ADS_1
'' Kalau ngga mau sembuh mati aja sekalian." ucap xavier yang berdiri di depan pintu ruangan Stiven.
Daniel menghela nafas mendengar ucapan xavier, suasana-suasana pertengakaran sudah sangat terasa saat ini.
Stiven melihat ke luar ruangan dan melihat xavier dan sekretarisnya sedang berdiri di luar bangsal.
" Ngapain kamu berdiri di sana? Emangnya kamu pikir saya ada di luar?" Xavier berdecak kesal mendengar ucapan pamannya itu.
Xavier berjalan mendekat ke arah pamannya itu.Xavier memalingkan wajahnga di saat ia sampai di dekat ranjang Stiven.
"Gimana udah kamu cari orang yang udah buat saya seperti ini?" tanya Stiven pada Xavier.
"Pokoknya kamu harus buat orang yang memukuli saya seperti ini mendekam di penjara atau buat dia di hukum mati sekalian! "sambung Stiven.
Xavier tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan pamannya itu. Lagian tidak penting juga ia mencari tau tentang siapa yang memukulinya malahan ia senang melihat Stiven berada di rumah sakit seperti ini jadinya ia tidak perlu bertemu dengan Stiven.
"Kenapa kamu diam atau jangan - jangan kamu yang sudah memukuli saya waktu itu di toilet? "tuduh Stiven mengingat di dalam toilet kleb malam waktu itu juga ada Xavier.
Xavier menatap sinis ke arah Pamannya itu," Kalau saya yang melakukannya saya akan langsung membunuh kamu dari pada harus repot - repot memukuli kamu seperti itu. "jawab Xavier.
Stiven mengingat kejadian malam itu apa yang di katakan xavier ada benarnya lagian tidak ada gunanya juga xavier melakukan ini kepadanya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1