Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 39.Permintaan maaf


__ADS_3

Leonard kembali pergi kerumah sakit namun sekarang bukan untuk menemui Qania tapi untuk bertemu dengan dokter yang menangani qania.


Tok..


Tokkk...


Setelah mengetuk pintu leonardpun masuk dan melihat seorang dokter yang duduk di kursi ruangannya.


Leonard mengetahui bahwa yang bertanggung jawab atas kesembuhan qania adalah wakil kepala rumah sakit itu sendiri. Suster yang memberitahukan itu pada leonard saat ia menjennguk qania kemarin.


Leo duduk kemudian menjelaskan maksud dan kedatangannya menemui dokter tersebut.


"Jadi ada apa bapak menemui saya? "tanya dokter tersebut.


" Saya ke sini untuk membicarakan pendonor ginjal untuk pasien yang bernama qania. "


Dokter itupun langsung antusias begitu tau jika orang yang di hadapannya ini sudah menemukan pendonor untuk pasiennya.


" Baguslah kalau bapak menemukan pendonor untuk ibuk qania. Dengan begitu kita bisa langsung melakukan pemeriksaan untuk bisa memutuskan jika ginjal orang tersebut cocok atau tidak dengan ibuk qania. "


"Tapi apa bisa identitas pendonor tersebut di rahasiakan?"


"Tentu bisa pak, jika itu permintaan pendonor kami pasti akan melakukannya. "


"Jadi kapan bapak akan membawa orang yang akan mendoror tersebut ke sini pak. Karna mengingat kondisi ibuk qania yang saat ini masih dalam kondisi kritis. Ibu qania tidak punya banyak waktu lagi pak."


Jelas dokter tersebut menjelaskan kondisi qania saat ini.


'' Saya sendiri yang menjadi pendonornya dok." ucap leonard.


Dokter tersebut terdiambegitu leonard mengatakan jika dialah yang akan mendonorkan ginjalnya pada qania.


*************


Sheila baru saja kembali ke rumah sakit setelah mengambil gaji terakirnya di bar. Sheila berhenti dari pekerjaannya, memang berat berhenti bekerja di sana tapi untuk kondisi mamanya yang saat ini sedang kritis tidak memungkin lagi bagi sheila untuk kerja di sana dan meninggalkan mamanya.


Sheila melihat aplop yang ia pegang, "mungkin ini keputusan yang terbaik. Saya harus fokus sama mama." gumam sheila yang masih tidak percaya kalau ia sudah berhenti bekerja dari bar yang sudah menghidupinya selama ini.


Sheila tersenyum pada dua penjaga yang berjaga di depan ruangan mamanya, lalu masuk. Saat sheila masuk kedalam ruangan mamanya sheila terkejut dengan banyaknya dokter di dalam ruangan. Karna itu sheila langsung panik dan langsung berlari ke kumpulan dokter yang mengelilingi brankar mamanya.


"Mama saya kenapa dok? "


"Kondisinya drop lagi? "


"Bilang sama saya mama saya baik-baik aja kan dok? "


Sheila langsung histeris dan panik, sheila sudah berpikiran buruk tentang mamanya.


"Mama saya ngga meninggalkan dok? "pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut sheila. Sheila sangat takut jika hal itu terjadi.

__ADS_1


Butiran bening mengalir begitu saja dari mata sheila pikiran sheila sudah di penuhi hal-hal buruk tentang mama. Ia tidak akan bisa sanggup hidup jika mamanya benar-benar pergi meninggalkannya.


"Mbak sheila yang tenang, tidak terjadi apapun pada ibuk qania. "ucap dokter tersebut menjelaskan pada sheila.


" Lalu kenapa dokter berkumpul di sini kalau bukan ada sesuatu yang buruk pada mama saya." ucap sheila masih dalam tangisannya.


Dokter itupun tersenyum pada sheila," kami ke sini sedang melihat dan menjadwalkan operasi transplantasi ginjal untuk ibuk qania. "jelas wakil kepala rumah sakit tersebut.


Perlahan - lahan sheila tersenyuman, akirnya kabar baik yang ia tunggu - tunggu selama ini sekarang bisa terdengar di telinganya.


'' Jadi mama saya sudah mendapatkan pendonor dok?"


Dokter itu mengangguk, "benar mbak, ada orang baik mau sukarela mendonorkan ginjalnya pada ibuk qania."


"Siapa orang itu dok? "tanya sheila penasaran.


" Soal itu kami tidak bisa memberitahunya karna orang tersebut meminta untuk identitasnya di rahasiakan."


Mendengar itu senyuman sheila perlahan glahan menghilang padahal sheila ingin berterima kasih pada orang yang sudah mau menolong mamanya. Sheila ingin berterima kasih secara langsung pada orang itu.


" Kalau begitu kamu mohon pamit dulu"ucap dokter tersebut sebelum mereka semua pergi.


Sheila mengangguk da berterima kasih pada semua dokter tersebut.


Sheila mengelus puncak kepala mamanya," Mama sebentar lagi mama bisa sehat lagi. Kita bisa makan sama-sama lagi,bahkan mama juga bisa keluar rumah tanpa harus takut lagi penyakit mama kambuh."


Sheila janji jika nanti sheila mengetahui siapa orang yang sudah mendonorkan ginjal ini ke mama sheila akan membalas budi kepada orang itu ma,Sheila janji." ucap sheila mengutarakan janjinya.


" Xavier pasti senang kalau dia tau kalau mama sudah mendapatkan donor ginjal." ucap sheila ingin mengabari berita gembira ini pada xavier.


**********


Xavier tenang mondar - mandir di dalam ruangan kantornya. Sampai saat ini ia belum tau bagaimana cara supaya dia bisa mengajak sheila untuk menemui keluarganya. Jangankan untuk mengajaka sheila untuk menemui sheila saat inipun xavier tidak mampu akibat kejadian kemarin. Xavier menyadari jika perkataannya kemarin pasti sangat menyakiti sheila, tapi meminta maaf duluan pada sheila Xavier tidak bisa mengingat harga dirinya yang akan jatuh jika ia melakukan itu.


drittt... Driittt... Drittt


Deringan ponsel membuat xavi menghentikan mondar mandirnya, xavi melihat siapa orang yang sudah menelfonnya.


Sheila is call....


Xavi mengerutkan keningnya begitu tau sang penelfon adalah sheila. Cukup mengejutkan karna kemarin sheila sangat terlihat matah kepadanya. Tapi sekarang sheila malah dengan sendirinya menghubunginya.


Xavi menggantung tangannya saat ia akan menganggkat telfon dari sheila.


"Apa jangan - jangan sheila menelfon saya untuk melanjutkan kemarahannya yang tertahan kemarin? "


"Bisa saja jika saya mengangkat ini sheila langsung marah-marah pada saya dan mengata-ngatai saya seperti dulu. "


Xavir menggeleng saya tidak ingin ribjt dengan sheila untuk saat ini, saat ini saya sangat membutuhkan sheila untuk bisa menyakinkan opa.

__ADS_1


"Lebih baik saya langsung meminta maaf dari pada saya harus bertengkar dengannya sekarang." ucap xavier yang kemudian menganggkat telfon dari sheila.


"Halo''ucap sheila setelah sekian lama ia menunggu untuk xavier mengangkat telfonnya.


Saya____


Saya minta maaf sama kamu saya tau perkataan saya kemarin menyakiti hati kamu, tapi jujur saya tidak bermaksud untuk buat kamu marah dan sakit hati.


Saya juga sadar kata-kata saya kemarin juga terlalu kasar untuk saya ucapkan pd seorang wanita seperti kamu.


"Harusnya saya kemarin bisa mengertikan kamu buka malah berkata seperti itu."


"Sekali lagi saya minta maaf, saya minta sama kamu dengan penuh penyesalan dari saya. "


"Tolong maafkan kata-kata saya kemarin dan saya juga minta supaya kamu bisa melupakan itu semua. "


Sheila terdiam mendengarkan kata-kata xavier yang sebegitu panjang lebarnya meminta maaf padanya padahal ia sendiri sudah tidak mempermasalahkan kejadian kemarin.


" Sheila kamu masih ada di sanakan?" tanya xavier karna dari tadi tidak ada jawaban apapun dari sheila.


"hmmm." ucap sheila berdehem mengiyakan panggilan xavi. Menurut sheila situasi saat ini sangat bagus untuk dia mempermainkan xavi. Hitung - hitung untuk mengobati rasa kesalnya kemarin.


"Hmmm... Itu saja? Sheila saya itu nanya sama kamu apa kamu memaafkan saya?"


"Ya tergantung."


"tergantung maksud kamu?" heran xavi.


"Iya tergantung bagaimana kamu bisa mengembalikan mood saya lagi. Asal kamu tau akibat kata-kata kamu kemarin saya itu badmood seharian."


"Jadi maksud kamu saya harus bisa buat mood kamu baik lagi begitu? "


"iya, baru setelah itu saya bisa memaafkan kamu." ucap sheila yang kemudian mematikan telfonnya.


Sheila tersenyum bahagia karna telah berhasil mengerjai xavi. Karna kata-kata xavi tadi membuat sheila sampai lupa tujuannya menelfon xavi. Kabar bahagia tentang mamanya yang telah mendaptkan donor ginjal sampi lupa ia beritahukan pad xavi.


Di sisi lain saat ini xavi sedang merutuki dirinya sendiri, sia - sia ia meminta maaf pada sheila sampai-sampai mengeluarka kata-kata sepanjang itu. Baru kali ini ia berbicara sepanjang lebar itu dan satu tarikan nafas pada seseorang. Xavi juga tidak tau kenapa ia mau melakukan itu bahkan sampai berbicar sepanjang lebar itu pada sheila. Kata-katanya tadi seolah-olah keluar dan tersusun begitu saja saya ia mengucapkannya.


Xavi menghela nafas panjang, "Sekarang saya harus bagaimana? Dua masalah dalam waktu yang bersamaan sekarang datang di situasi yang mepet seperti ini?"


"Bagaimana cara saya mengembalikan mood sheila?"


"Kalau saya tidak berhasil pasti sheila tidak akan mau di ajak untuk bertemu dengan opa?"


Xavier benar-benar sangat bingung saat ini ia tidak tau bagaimana caranya ia bisa menyelesaikan ini semua.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2