
HAPPY READING GAYS!!!
Setelah pembicaraan tersebut xavier dan sheila saling terdiam, mereka larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Sesekali xavier melirik ke arah shila dengan tatapan dingin. Xavier masih tidak henti-hentinya mengutuk sheila dalam hatinya. Xavier masih terlalu jengkel pada sheila yang dengan santainya mengatakan jika ia benar-benar membutuhkan uang. Seperti tidak ada malu di diri sheila begitu ia mengatakan jika ia benar-benar membutuhkan uang.Seharusnya sebagian banyak orang pasti akan menjelaskan alasan kenapa mereka membutuhkan uang sebelum mengatakan pada intinya. Tapi perempuan di depannya ini seolah sudah terbiasa dengan kata - kata yang ia kata akan tadi.
Tak berselang lama sekretaris xavier datang membawakan cek seperti yang di minta oleh xavi. Ia memberikannya pada xavi sebelum akirnya ia pamit pergi untuk kembali ke kantor. Xavi melihat ke arah sheila yang juga melohat ke arahnya. Senyum penuh kebagaian sheila menambah kesan jengkel di hati xavi. Bukan karna uang yang ia berikan kepada sheila namun cara sheila meminta uanglah yang membuat xavi jengkel. Xavi memberikan cek itu pada sheila dengan wajah yang sangat dingin, tatapan tidak senang di layangkannya pada sheila.
Sheil menerima cek yang di berikan xavi tanpa mengatakan apapun, tatapan dingin yang di layangkan xavi seolah tidak mengganggu sama sekali bagi sheila. Fokus sheila hanya pada cek satu miliyar yang saat ini sudah berada di tangannya.
"Ck.. "decak xavi yang kembali duduk di sebelah sheila.
Suasana hening kembali menyelimuti mereka berdua. Entah apa yang xavi tunggu sampai - sampai rela membuang waktunya di sana.
" Uang ini untuk mama saya, Dia sedang sakit parah dan harus segara di oprasi." sheila melengos ke arah xavi. Memecah keheningan di antara mereka berdua.
Xavi melihat ke arah sheila.
"Penjelasan inikan yang kau tunggu? "sambung sheila lagi,yang membuat xavi menautkan alisnya.
Xavier menatap sheila lebih jelas , wajahnya yang kini sedang menahan tangis tergambar jelas.
" Uang yang kau kasih ini untuk transplantasi ginjal mama saya. "jelas sheila lagi. Sheila menahan air matanya yang telah berlinang di pelupuk matanya. Mengingat mamanya yang sakit dengan kekurangn uang seperti ini membuat sheila menjadi sangat sedih. Sheila merasa jika dirinya tidak berguna kalau ia tidak bisa membiayai biaya rumah sakit mamanya.
Xavier terdiam tanpa bisa berkomentar apapun, xavier sadar jika ia sudah salah paham pada sheila. Raut wajah xavi berubah dengan raut wajah mengiba menatap sheila yang sedari tadi sudah mengalihkan pandangannya.
merasa dirinya sedang di tatap dengan tatapan kasihan oleh xavier sheilapun menyembunyikan wajahnya sheila sangat tidak suka di tatap seperti itu, sheila tidak mau di kasihani oleh xavier.
" Saya mau keruangan mama saya dulu, permisi." pamit shila tanpa melihat sedikitpun ke arah xavier. Sheila sangat risih di pandang seperti itu oleh xavier,bahkan ketika ia berdiri dan hendak pergipun xavier masih memperhatikannya dengan tatapan yang sama.
Xavier menghele nafas panjang sambil melihat punggung sheila yang perlahan-lahan hilang dari pandangannya.
"Kenapa saya merasa kasihan kepadanya.? "gumam xavier bertanya pada dirinya sendiri
************
Sheila duduk di sofa dalam ruangan mamanya, dari tadi sheila menunggu mamanya untuk bangun tapi sepertinya mamanya itu masih terpengaruh dengan dosis obat yang diberikan dokter. Karna bosan dan tidak tau akan melakukan apa sheilapun memutuskan untuk menelfon xavier. Sheila ingin menjelaskan pada xavier perihal status pernikahan mereka nanti.
Di sisi lain xavier yang baru sampai di rumahnya dan hendak membaringkan tubuhnya di kasur kamar malah terganggu karna suara deringgan ponselnya yang dari tadi tidak mau diam. Dengan sangat terpaksa xavier merogoh ponselnya dari dalam kantong celananya. Xavier melihat penelfon yang sudah berani - beraninya mengacaukan aktivitas istirahatnya.
Xavier mendengus kesal begitu tau yang menelfonnya adalah sheila, perempuan matre yang baru saja ia temui tadi.
"Halo. "ucap sheila begitu telfonnya di angkat oleh xavier.
" Hmmm." jawab xavier dengan dinginnya. Xavier sangat tidak mood berdebat ataupun berbicara dengan sheila.
" Ada yang oerlu saya bicarakan denganmu. "
"Ini soal pernikahan kita nanti!"jelas sheila langsung pada intinya.
__ADS_1
Xavier masih setia mendengarkan tanpa berniat untuk bersuara. Xavier menyelipkan telfon di telinganya kemudian Xavier membuka jas dan menaruhnya di atas kasur sambil terus mendengarkan ocehan sheila yang entah apa lagi yang akan ia bahas padanya.
"Satu hal yang harus saya tegaskan padamu, saya sama sekali tidak mengharapkan sepeser uangpun darimu walaupun kita sudah menikah nantinya."
"Saya bukan perempuan matre seperti yang kau pikirkan. "
Xavi terbelalak mendengar penuturan sheila, padahal xavi tidak pernah mengatakan secara terus terang jika mencap sheila sebagai perempuan matre.
'' Saya menerima tawaranmu karna saya hanya ingin berstatus sebagai nyonya CEO, orang yang memiliki kuasa dan karisma. Ada dendam yang harus saya balaskan jadi saya memerlukan status itu agar bisa membalasnya. "tegas sheila, menjelaskan sedikit tujuannya.
" Kau akan membunuh seseorang?" tanya xavier yang merasa curiga dan takut sheila akan menyalah gunakan kekuasaannya nanti.
" Ya, jika itu di perlukan." jawab sheila enteng.
Xavi semakin terbelalak di buatnya, pikiran buruk tentang sheila semakin bertebaran di pikiran xavi. Bahkan pikiran xavi lebih buruk dari seorang perempuan matre yang ia pikirkan tadi.
" Dan satu lagi, Kau tidak perlu memusingkan ataupun mengeluarkan uang untuk keperluan hidupku nanti, aku bisa mencukupinya sendiri. Jangan merasa bertanggung jawab ataupun berperan seperti suami sungguhan karna aku tidak akan melakukan sebagaimana layaknya istri di hadapanmu. Kita urus hidup kita masing - masing dan jangan ikut campur dengan pekerjaan ataupun urusan kita nanti ."
Xavier cukup tercengang dengan ucapan sheila, awalnya xavier memang berpikir jika sheila menerima tawarannya untuk bisa menguasa harta dan kekayaannya namun semakin ke sini xavier malah merasa takut pada sheila. Xavier takut wanita yang akan ia nikahi ini adalah seorang pisikopat atau semacamnya melihat tujuannya yang lain daripada wanita pada umumnya.
"Kau yakin dengan ucapanmu? "tanya xavie r tidak percaya.
"Aku dengan senang hati akan melakuka apa yang kau minta, aku tidak akan berubah pikiran walaupun kau berlutut ataupun menangis di hadapanku nantinya?." sindir xavier menguji keakuratan perkataan sheila.
Jelas saja sindiran xavier tersebut membuat sheila naik pitam karna secara tidak langsung xavier baru saja menghinanya dan sheila tidak suka itu.
" Kau meragukanku? Apa kau masih berpikir jika aku perempuan matre yang rela melakukan segala cara untuk bisa mendapatkan uang sebanyak - bayaknya."
nada bicara sheila seketika langsung meninggi bahkan toa abang-abang tukang sayurpun kalah tinggi dengan nada bicara sheila saat ini.
"Saya tau saya miskin tapi bukan berarti kau bisa menghina saya seperri ini. Harga diri saya tidak sebanding dengan uang yang kau punya. " sheila mencurahkan semua kekesalannya kepada xavier bahkan kekesalannya dengan penghinaan mama tirinya tadipun ikut di limpahkan sheila pada xavier.
"Saya masih punya tenaga dan anggota tubuh yang lengkap, saya tidak kekurangan sedikitpun jadi saya bisa menghidupi diri saya sendiri tanpa perlu memoroti orang sepertimu." sheila sangat tidak suka di pandang rendah oleh orang-orang yang mempunyai kekuasaan seperti xavier.
"Dan satu hal yang perlu kamu tau, saya mau menikah dengan kamu hanya ingin mendapatkan status nyonya CEO agar derajat saya dan mama saya bisa sedikit tinggi."
"Hanya D E R A J A T bukan uang seperti yang kau pikirkan "tegas sheila penuh penakanan.
"Kalau bukan karna itu saya tidak akan mau menikah dengan Om om tua yang jelek sepertimu. "ucap sheila memaki-maki xavier.
Setelah mengatakan itu sheila langsung menutup telfonnya secara sepihak.
xavier sangat marah di maki-maki seperti itu oleh sheila terutama dengan perkataan sheila yang mengatakan jika dirinya om om tua.xavier juga ingin memaki gmaki sheila namun telfonnya sudah putuskan oleh sheila sebelum ia sempat memakinya.
"Dasar gadis yang tidak tau terima kasih"
"OM? Tua?, Ck... Yang benar saja." ucap xavi melihat ke arah cermin sembari memegangi wajahnya yang mulus dan tampan.
" Dasar Perempuan gila, . "hujat xavier lagi sambil memegang dan memandangi wajahnya di cermin.
__ADS_1
Xavier memukul meja serta menendang kursi untuk meluapkan kekesalannya." T U A?. Akkkkhhh... Baikalah saya akan mengajarimu cara berterima kasih yang benar.!!!
"Kau tidak membutuhkan uang?"
"Baiklah saya akan memberikan hal yang paling kau butuhkan dengan uang saya. Kita lihat saja siapa yang berlutut untuk berterima kasih kepada saya nantinya . "
Xavier meraih ponselnya lagi untuk menghubungi wakil kepala rumah untuk mengurus pengobatan mama sheila. Xavier yakin jika ia melakukan hal yang menyangkut mamanya pasti sheila akan sangat berterima kasih dan dia akan menjilat ludahnya sendiri atas perkataan yang sudah ia katakan tadi.
" Halo. "ucap xavier.
"Iya pak. "jawab wakil kepala rumah sakit tersebut sopan.
" Saya mau pasien yang bernama Qania Larasati di pindahkan ke ruangan khusus keluarga alexsander dan mendapatkan perlakuan serta pengobatan khusus dari dokter terbaik yang ada di rumah sakit.!!! " perintah xavier.
" Baik pak. "jawabnya kemudian menutup telfon.
Xavier menarik nafas dalam kemudian melempar ponselnya ke sembarang arah. Ia masih sangat kesal dengan perkataan sheila tadi kepadanya. Ucapan sheila yang mengatainya jelek dan tua selalu terlintas di pikirannya.
***********
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit wakil kepala rumah sakit dan para dokter mengundang sheila dan ibunya masuk ke sebuah ruangan rawat inap yang sangat mewah.
Sheila mengikuti para suster yang menuntunnya dan ibunya untuk masuk ke ruangan yang katanya wakil kepala rumah sakit sendiri yang memintanya.
Sheila cukup terperangah begitu ia masuk kedalam ruangan tersebut. Ruangan itu bak hotel bintang lima kamar inap yang ia masuki sekarang sangat besar dan jauh lebih mewah dari kamar yang ia pesan kemarin.
"Halo mbak sheila. "sapa wakil kepala rumah sakit tersebut.
Sheila mengangguk sembari tersenyum, banyak dokter berada di dalam ruangan itu.
'' Perkenalkan saya Bayu wakil kepala rumah sakit medical center." ucapnya memperkenalkan diri pada sheila.
Sheila menerima jabat tangan dokter tersebut" saya sheila. "ucap sheila memperkenalkan dirinya.
Dokter itu mengangguk lalu melihat para dokter yang berbaris di depannya."Dan ini adalah para dokter yang akan membantu pengobatan ibu Qania."
"Secepat mungkin kami akan mencarikan ginjal yang cocok untuk ibu qania agar kami bisa secepatnya melakukan operasi transplantasi ginjal. "jelas bayu wakil kepala rumah sakit tersebut.
Sheila tersenyum bahagia mendengar kabar baik dokter tersebut." makasi dok. "ucap sheila memegang tangan bayu.
" Sama - sama ini memang sudah tugas kami." balas bayu.
Sheila tersenyum bahagia, walau sangat kebingungan dengan perlakukan khusus yang ia dapatkan ini.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung