
Rico terus memaksa sheila untuk menerima makanan yang ia belikan.
"Saya bilang saya ngga mau. "tolak sheila, sangat risih dengan keberadaan rico di dekatnya.
Rico tidak menyerah begitu saja ia membuka kotak makanan itu dan memperlihatkan spagetty hangat yang sangat lezat pada sheila.
" Kamu lihat, ini pasti sangat enak." bujuk Rico.
" Apapun itu saya tidak akan makan pemberian kamu. "kekeh sheila.
" Sheila saya tau kamu pasti belum makan dari tadi pagi, tolong terima makanan dari saya. Saya tidak ingin kamu sakit."
" Kamu tidak usah sok tau,makan atau tidak makannya saya itu bukan urusan kamu. "
" Sudah berapa kali saya bilang jangan pedulikan saya!" sambung sheila.
Rico menutup makanan tersebut kemudian meletakkan kotak makanan itu di kursi yang kosong. Rico bersender dan menatap nanar ke sebuah tembok di depannya.
" Saya berusaha untuk tidak mempedulikan kamu, tapi saya tidak bisa. Saya selalu ingin tau tentang kamu, keadaan kamu, bagaimana hari kamu dan semua yang bersangkutan dengan kamu. "ucap Rico.
Sheila memutar matny malah mendengar semua bualan rico.
" Jujur saya tidak pernah seperhatian ini dengan wanita, kamu wanita pertama yang saya perlakukan sepeeti ini. "ucap Rico menatap sheila dengan penuh ketulusan.
Sheila membalas tatpan Rico yapi bukan dengan tatapan penuh ketulusan melainkan sebaliknya.
Di sisi lain Xavier masih berdiri diam melihat sheila dan Rico yang saling bertatapan, entah tatapan apa itu yang jelas xavier sakit hati melihatnya.
Xavier mengalihkan pandangannya kelain tempat untuk bisa menenagkan pikirannya, xavier tidak mau menghampiri sheila dengan keadaan pikiran yang emosi dan sakit hati seperti ini.
"Mungkin saya pergi dulu dari sini, nanti setelah pikiran saya tenang baru saya kembali. "batin xavi meninggalkan makananya begitu saja.
Di sepanjang perjalanan xavi terus bertanya - tanya kenapa bisa ada Rico di rumah sakit. Xavi menduga pasti sheila yang telah menghubungi Rico sampai Rico datang dan menemani oprasi mamanya.
Xavi menggeleng - gelengkan kepalanya , mengusir semua pikirannya yang bersangkutan dengan sheila, "mengapa saya memusingkan diri karna perempuan itu,ingat xavi dia bukan siapa - siapa kamu. " ucap Xavi yang saat ini berjalan tanpa arah.
Di tengah perjalanan xavi bertemu dengan Beni, wakil kepala rumah sakit. Beni menyapa xavi dan berbincang perihal mama sheila.
" Tuan muda." sapa Beni.
Xavi mengangguk, sembari tersenyum.
" Tuan muda pasti kesini untuk melihat oprasi ibuk qania." ucap Beni.
"Iya. "Jawa b Xavi.
" Tapi bukannya ruang oprasi ibuk xania di sebelah sana tuan." tunjuk Beni ke bangsal ujung rumah sakit.
" Saya tau, tapi saya ingin melihat-lihat rumah sakit ini sebentar." alasan Xavi.
Beni mengangguk - ngangguk mengerti.
" Tapi Saya ingin tau siapa orang yang sudah mendonorkan ginjalnya pada ibuk Qania?" tanya xavi yang penasaran sembari melihat-lihat ke pintu masuk rumah sakit dari lantai tiga.
Soal itu kami tidak bisa memberi tahu paka karna itu privasi pasien, pasien ingin merahasiakan iden titasnya." jelas dokter tersebut.
Xavi tidak mendengarkan begitu jelas penjelasan Beni karna saat ia sedang terfokus pada seorang wanita yang baru saja masuk kedalam rumah sakit.
" Itu kan Rashel, kenapa dia berada di sini? Apa dia mau membuat keributan lagi di sini? "batin xavi bertanya - tanya tentang kedatangan Rashel ke sini.
__ADS_1
" Ini tidak bisa saya biarkan oprasi mama sheila belum selesai, saya tidak akan membiarkan dia membuat keributan di sana nanti." sambung xavi.
" Tuan muda, tuan muda kenapa?" tanya Beni sembari melihat ke arah pandang xavi.
Xavi tidak menjawab pertanya Beni, " Saya harus buru-buru pergi karna ada urusan penting, terima kasih atas infonya." pamit xavi yang kemudian berlari menuju lift.
Pintu lift terbuka begitu xavi sampai di sana, Rashel sedikit terkejut dengan kemunculan xavi yang berdiri tepat di depan pintu lift.
" Kenapa kamu______" Xavi dengan cepat mendorong Rashel untuk masuk kembali ke dalam lift, xavi menekan tombol lift untuk kembali ke lantai satu rumah sakit. Pokoknya xavi tidak akan membiarkan Rashel menginjakkan kakinya ke dekat ruangan oprasi mama sheila.
"Ngapain kamu di sini? Kamu mau membuat keributan di rumah sakit ini lagi?" tanya xavi masih mencengkram pergelangan tangan Rashel.
Rashel memberontak untuk bisa terlepas dari cekalan tangan xavi "saya kesini untuk mencari Rico tunangan saya, pasti dia ada di sinikan? Dia pasti berduaan dengan anak harm itu." jawab Rashel.
"Tidak ada Rico di sini di sini hanya ada saya dan sheila. Kalaupun ada dia pasti sudah saya usir dari tadi bahkan sebelum kamu sampai."
"Tidak usar berbohong saya tau pasti Rico ada di sini, kenapa kamu menutup - nutupi itu ha? "Rashel masih kekeh dengan dugaannya dan tidak mau percaya begitu saja dengan ucapan Xavier.
" Tidak ada Rico di sini, lebih baik sekarang kamu pergi dari rumah sakit saya karna saya tidak mau pembuat keributan seperti kamu ada di sini!"
Pintu lif kembali terbuka, dengan cepat xavi menarik Rashel kembali untuk keluar.
"Xavi lepaskan saya! "Bentak Rashel sembari memberontak.
" PANGGIL SAYA TUAN MUDA, KARNA ORANG SEPERTI KAMU TIDAK PANTAS UNTUK MEMANGGIL NAMA SAYA SEPERTI ITU! "Bentak xavi sembari memelototi Rashel.
Rashel tersentak dengan bentakan xavi, mulutnya langsung bungkam dan tangannya tak sanggup lagi untuk memberontak.
Xavi tidak mempedulikan ekspresi sedih di wajah Rashel, xavi malh semakin menarik Rashel sampai ke parkiran.
"Lebih baik kamu pergi dari sini sebelum saya membentak kamu jauh lebih parah seperti tadi!" ucap xavi sembari melepas cekalan tangan Rashel.
" Jangan biarkan wanita itu masuk!" ucap Xavi sembari menunjuk ke arah Rashel.
Rashel menepis air matanya, seumur - umur ia belum pernah di bentak bahkan di perlakukan seperti tadi di depan umum. Ia malu sekaligus marah dengan perlakuan xavi kepadanya.
Ini semua gara - gara sheila,semenjak kedatangan anak haram itu hidup saya jadi sial seperti ini"
"Liat saja sheila kamu ngga akan lepas begitu saja, kamu harus merasakan penderitaan yang saya rasakan selama ini."
Rashel pergi meningalakan area ruamah sakit dengan hati yang sangat marah.
************
"Kamu pikir dengan kata-kata manis kamu itu saya bisa luluh?" ucap sheila masih dengan tatpan yang sama.
"Mungkin sajakan, karna hati tidak bisa di tebak. "
"Sheila tertawa sinis, "Ngga sama sekali Rico, hati saya tidak akan luluh kepada kamu. Jadi lebih baik kamu mudur dari sekarang sebelum kamu sakit hati terlalu parah!" ucap sheila mengingatkan.
"Saya tidak akan pernah mundur sheila, semakin kamu seperti ini semakin saya bersemangat untuk terus maju."
Sheila memitar mata melas, "Terserah." ucap sheila tang tidak bisa berkata - kata lagi.
Di saat perbincangan Rico dan sheila seorang dokter keluar dari dalam ruangan oprasi.
Meligat itu sheila langsung berdiri dan menghampiri dokter tersebut.
"Bagaimana oprasi mama saya dok?" tanya Sheila sangat mengkhawatirkan keadaaan mamanya.
__ADS_1
"Syukurlah oprasi ibuk qania berjalan dengan lancar, sekarang ini ibuk qania sedang melewati masa kritisnya kita berharap saja semoga ibuk qania dengan cepat melewati ini semua dan segera sadar." jelas dokter tersebut
Sheila sangat bersyukur atas kelancaran oprasi mamanya.
" Dok apa saya boleh masuk untuk melihat mama saya?" tanya sheila.
Dokter itu mengangguk," tentu saja nona tapi saya hanya bisa mengizinkan satu orang yang hanya bisa masuk."
"Baik dok, tidak apa - apa. "ucap sheila.
" Ya sudah kalau begitu saya mohon pamit dulu" pamit dokter tersebut yang di angguki oleh sheila.
Sheilapun membuka pintu ruangan itu agar bisa masuk kedalam ruangan tapi belum juga masuk Rico malah menahan tangan sheila.
"Kalau kamu masuk saya dengan siapa di sini? "tanya Rico memasang wajah memelasnya.
" Sama hantu rumah sakit," ucap sheila menepis tangan Rico kemudian segera masuk.
" Masak sama hantu sih." ucap Rico yang kemudian ikur masuk.
Sheila menghampiri mamanya yang terbaring lemah di rajang rumah sakit. Dengan menggunakan pakaian sterilnya sheila mengelis puncak kepala qania.
"Mama cepat sadar ya ma, sheila rindu dengan semua omelan nama, dengan masakan mama, dengan semua pertanyaan mama dan semua semangat mama. "
"Sebentar lagi sheila menikah ma, sheila mau mama menyaksikan pernikahan sheila,." ucap sheila lagi.
'' Menikah dengan saya tante. '' tiba-tiba Rico datang dan berdiri di samping sheila, Rico juga mengaku - ngaku hal yang tidak - tidak pada mamanya.
"Kamu kenapa ada di sini, apa kamu tidak dengar dokter bilang apa radi, hanya satu orang yang di izikan masuk ke sini. '' kesal sheila.
Kamu dan saya itukan satu jadi artinya satukan yang masuk ke sini, salahnya di mana?" Rico malah menanggapi dengan perkataan yang mengada - ngada membuat sheila semakin kesal di buatnya.
" Sekarang kamu keluar dari sini!" usir sheila.
"Iya saya akan kelyar setelah saya mengenakan diri pada mama kamu. "ucap Rico menyingkirkan sheila yang menghalang-halanginya.
Halo tante, semoga tante bisa segera sadar supaya tante bisa lihat calon menantu tante yang tampan ini.
" Saya tau tante pasti akan sangat setuju dengan pernikhan saya dan sheilakan tante?" sambung rico yang semakin mendapatkan tatapan menusuk dari sheila.
"Saya harap tante bisa mendengarkan saya dan merestui saya dan putri cantik tante ini. "
Sheika semakin muak dengan kata - kata Rico sheila kembali menarik untuk keluar dari.
"Mama saya malah tidak akan sadar - sadar jika kamu merecoki seperti ini,. "ucap sheila sembari terus mendorong Rico ke pintu keluar.
Par....
Bunyi pecahan kaca membuat sheila terkejut dan berhenti mendorong Rico.
" Astaga" ucap seseorang dari balik tirai di samping mamanya.
"Suara itu....... "ucap sheila yang sangat mengenali suara tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung