
Ting... nung.... Ting.. Nung
Bel apartemen leonard terus berbunyi. Ketukan serta bunyi bel tak henti - hentinya berbunyi dari pintu apartemen,membuat leonard terganggu akan hal itu.
Leonard langsung membuka pintu tanpa melihat terlebih dahulu siapa tamu yang datang ke apartemennya.
Leonard terbelalak saat melihat orang yang berdirindi depan pintu apartemennya.
"Helen? "kejut Leonard, ternya orang yang sudah mengetuk dan membunyikan bel berulang kali adalah helen.
Helen mendorong pintu apartemen leonard agar terbuka lebar dan ia bisa masuk.
" Kamu tau dari mana kalau saya ada di sini?" tanya leonard mengikuti helen yang sudah lancang masuk kedalam apartemennya tanpa ia izinkan.
"Bangun ya apartemen kamu, sampai - sampai aku ngga tau. "hcap helen yang mengabaikan pertanyaan leonard.
Leonard menarik tangan helen sebelum ia berkeliling lebih jauh," kamu tau dari mana kalau akau tinggal di sini? "tanya leonard lagi.
Helen menaikkan kedua alisnya sembari menatap leonard," Kamu pikir kamu saja yang punya mata-mata?.aku juga punya kali mas. "jawab helen sembari tersenyum pada leonard.
" Kurang hajar, jadi helen memata - matai saya selama ini." batin leonard yang sangat geram dengan sikap istrinya itu.
" Oh ya mas, karna sekarang kamu tinggal di sini berarti aku juga akan tinggal di sini. Sebagaimana layaknya menjadi istri yang baik. "sambung helen berjalan menuju kamar apartemen.
" Ngga..." tolak leonard, leonard menarik tangan helen." lebih baik sekarang kamu pulang! "usir leonard.
Helen menggeleng," aku ngga akan pulang tanpa kamu mas. "kekeh helen.
" helen aku lagi ngga mau ribut dengan kamu. Jadi lebih baik kamu pulang sekarang sebelum emosi aku meluap! "tegas leonard.
" Engga mas. Mas kamu kira kamu saja yang emosi, aku juga emosi mas."
"Kamu lebih memilih tinggal di sini di banding sama aku di rumah. Kamu kira aku ngga emosi karna itu?. "
"Aku sangat emosi mas, belum lagi kalau para tetangga nanyain kamu?"
Helen masuk kedalam kamar tersebut kemudian menguncinya dari dalam.
"Helen buka helen! "ucap leonard mengetuk - ngetuk pintu kamar namun tidak ada jawab dari helen.
************
Sheil dan xavier pergi ke pemakaman Frans sheila memonta izin lewat Reno untuk datang terlambat hari ini ke kantor.
Tidak banyak kerabat Frans yang datang hanya beberapa kerabat yang berada di jakarta saja. Di ketahui jika kedua orang tua frans telah meningal dunia sejak ia masih kecil.
Sheila menaburkan bunga yang ia bawa ke makam frans, "Semoga bapak tenang di sana" ucap sheila melihat makam frans dengan tatapan yang sangat sedih.
Sheila melihat ke arah xavier, iya mengangguk menandakan jika ia sudah selesai. Xavi ikit mengangguk kemudian merangkul sheila untuk meninggalkan makam Frans yang sudah sepi.
Di sisi lain Casandra bersembunyi di balik pohon dekat makam Frans, Sandra sengaja melakukan itu untuk memantau siapa saja orng yang dekat dengan Frans. Dengan begitu sandra bisa menyelidiki mereka satu persatu.
Sandra mengerutkan keningnya begitu ia melihat Xavier bersama wanita lain datang ke pemakaman sepupunya itu.
"Siapa wanita yang bersama Er itu?" heran Sandra melihat kedekatan xavier dan sheila saat di pemakaman.
"Apa dia tunangan atau istrinya Er? "terka sandra menebak - nebak.
"Tapi kenapa dia terlihat sangat sedih di makam bang Frans. Apa dia ada sangkut pautnya dengan kematian bang fran?" Pikir Sandra.
Drtttt.... Drtttt
Ponsel casandra berbunyi saat ia sedang memperhatikan kepergian Xavi dan sheila.
" Halo."
"............."
__ADS_1
"Baik saya segera ke sana sekarang." jawab sandra yang terlihat sangat tergesa-gesa saat ia selesai menjawab telfon dari seseorang.
Saat sandra pergi stivenpun datang ke makam frans.
"Hai Frans, saya datang ke pemakaman kamu." Stiven berjongkok sembari menaburkan bunga yang ia bawa ke makam frans.
"Yaa... Utuk mimta maaf sih karna saya sudah membuat kamu mati seperti ini." ucapnya sembari tertawa sinis.
"Kematian tragis yang pastinya sangat menyakitkan bukan? "tanya Stiven masih menaburkan bunga yang ia bawa.
Stiven memegang batu nisan frans" Tapi frans sebenarnya saya tidak mau membuat kamu seperti ini. "ucap stiven melihat penuh prihatin ke arah makam frans.
" Tapi karna kamu sudah berani memeras bahkan mengancam saya...... jadi mau tidak mau saya terpaksa melakukan ini,supaya ngga ada yang tau tentang apa yang terjadi dengan saya dan Rashel malam itu.
"Coba saja waktu itu kamu menuruti permintaan saya pasti saat ini kamu masih hidup dan bisa mengelola bar seperti biasa. "
"Tapi sayangnya kamu malah tidak menuruti kemauan saya, Dan memilih mati sia - sia seperti ini." ucap stiven memperhatikan makam serta batu nisan Frans.
Stiven mendekatkan mulutnya ke batu nisan frans kemudian berbisik"Semoga kamu tenang di neraka sana frans! "ucapnya menepuk dua kali batu nisan frans,Kemudian pergi.
*****************
" Saya akan pulang bersama kamu." ucap leonard saat helen keluar dari kamar apartemen leonard.
Helen tersenyum bahagia mendengar keputusan yang sangat tepat dari suaminya itu.
"Nah gitu dong mas dari kemaren, jadi aku ngga perlu capek-capek nyamperin kamu ke sini,bahkan tidur di tempat sempit seperti ini." ucap helen sembari berjalan menuju dapur untuk mencari sarapan.
"Mau ngapain kamu? "tanya leonard melihat helen yang berjalan menuju dapurnya.
Buat sarapan lah mas, mau ngapain lagi." jawab helen membuka kulkas yang da di dapur.
"Tidak usah kita oergi sekarang! "ucap leonard yang memang sudah berpakaian rapi.
" Tapi mas...."
Leonard berdiri dan berjalan menuju pintu keluar apartemennya," Ayo!, sebelum saya berubah pikiran! "ucap leonard melihat ke arah helen yang masih berdiri di dapurnya. Mau tidak mau helen terpaksa mengikuti suaminya itu untuk keluar.
**************
Casandra kembali ke apartemennya setelah ia mengambil rekaman cctv yang berada di Bar fran satu bulan ini. Tadi saat di pemakan anak buah frans bilang jika semua perintah yang di suruh oleh sandra sudah selesai ia lakukan.
"Semoga saya dapet jawaban dari CCTV ini. "batin Sandra memegang erat salinan hasil rekaman cctv itu.
Stiven yang dari tadi sudah menunggu Sandra di loby apartemen langsung berdiri dan tersenyum begitu melihat sandra yang telah kembali..
" Akirnya dateng juga." ucap stiven menghampiri sandra yang masih tidak ngeh dengan keberadaannya.
"Liatin flashdisk aja sampai segitunya, apa lagi kalau liatin aku, pasti bakal lebihkan? "ucap stiven begitu ia berada di dekat sandra.
Sandra yang terkejutpun langsung memukul Stiven," kamu tuh apa-apaan sih en, iseng banget jadi orang! "kesal sandra karna stiven membuatnya kaget.
Sandra langsung memasukan flashdisk tersebut kedalam sakunya,ia tidak mau stiven mengepoi isi dari flashdisknya itu.
" Flashdisk apaan sih itu, data - data penting ya?" tanya stiven.
Sandra mengangguk," iya data-data soal pekerjaan aku." jawab sandra mengiyakan ucapan stiven agar ia tidak di curigai oleh stiven .
"Kamu ngapain di sini? "tanya sandra, yang heran dengan kedatangan stivem yang tiba-tiba ke apartemennya.
" Mau jemput kamu lah ra."jawab stiven sembari tersenyum ke arah sandar
"Jemput aku, mau ngapain? "heran sandra.
" Katanya kamu mau ketemu xavier. Kebetulan loh sekarang xavier lagi libur keluarga di rumah juga lagi lengkap."
" Tapikan ngga harus sekarang juga en."
__ADS_1
"Emangnya kenapa sih kalau sekarang? Kamu keliatannya juga ngga sibuk. Panggilan dari rumah sakit jakarta juga belum adakan? "
" Jadi nunggu apa lagi ini hari yang bagus loh buat kamu berkunjung ke rumah. Kamu emang ngga pengen ketemu sama tante karina, mama stela gitu kan udah lama banget kamu ngga ketemu sama mereka?" bujuk stiven supaya Sandra mau ikut dengannya.
Sandra menghela nafas,ucapan Stiven cukup mempengaruhi pikirannya.
Yaudah aku ikut kemauan kamu."
"Yes... Gitu dong! "ucap stiven bersorak bahagia.
" Kalau gitu aku ganti baju dulu, kamu tunggu di sini sebentar!" ucap sandra yang kemudian berjalan menuju lift setelah di angguki oleh stiven.
**************
Sheila langsung bersiap - siap untuk berangkat ke kantor papanya.
"Kamu ngga ke kantor mas? "tanya sgeila melihat xavier yang masih duduk manis di atas kasur.
" Ngga, saya libur hari ini" jawab xavier yang masuh fokus dengan leptopnya.
Sheila mengangguk - ngangguk, "Hmmmm.... Mas." ucap sheila lagi.
"Hmmm... "jawab xavi.
" Gimana ya reaksi mama kamu nanti kalau tau aku kerja? "tanya sheila, yang takut keluar dengan pakaian kantornya ini.
Karina memang baru saja pulang dari luar kota tadi malam,karna hari yang sudah larut jadi sheila tidak sempat me ceritakam ini kepada mama mertuanya itu.
" Ngga tau, kan kita bekum liat. "jawab xavi menanggapi.
" Iiiihhhh.... Ini saya serius, malah di tanggapin ngasal kayak gitu." kesal sheila memasang raut wajah cemberut.
Xavier menutup leptopnya kemudian berjalan menuju sheila. Xavier mengacungkan tangannya ke arah sheila.
" Apaan nih, maksudnya apa kamu ngacungin tangan kamu ke saya? "tanya sheila yang tak mengerti dengan maksud xavi.
" Ya ayo kita keluar, kamu mau taukan gimana tanggapan mama saya!" ucap xavier.
" Sekarang?" tanya sheila yang masih ragu.
" menurut kamu?...... Ayo buruan! "ucap xavi lagi menggerak - gerakkan tangannya.
Sheila memperhatikan acungan tangan xavier, jujur saja ia sangat gugup saat ini.
Xavier mendengus kesal,Xavi pun menarik tangan sheila dan memvawanya keluar.
'" Kelamaan kalau saya nunggu kamu mikir." ucap xavi..
Sheila mendengus kesal mendengar ucapan suaminya itu, memang xavier tidak bisa memahami sedikit saha perasaan gugupnya saat ini.
Xavuer terus membawa sheila menuhu ke tempat mama serta papanya yang sedang berkumpul di ruang tamu..
" Ma..."
Di waktu yang bersaman stiven datang bersama sandra.
"Halo semua, lihat siapa yang aku bawa "teriak stiven begitu ia sampai.
" Sandra?" kejut xavi yang saling bertatapan dengan sandra.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1