
Sheila dan xavi kembali masuk kedalam ruang inap. Permintaan maaf dari xavi di terima oleh sheila. Tapi sheila yakin Xavi melakukan ini semua pasti ada maksud lain. Sheila tau betul sikap xavi yang tidak akan melakukan apapun tanpa ada maksud lain.
"Segitu pentingnya ya maaf dari saya? "ucap Sheila begitu mereka berdua telah duduk di sofa.
" Ngga ada yang penting sama sekali dari kamu, saya melakukan ini karna saya sedang memerlukan kamu." batin xavi.
Sheila membuka coklat yang di berikan xavier kepadanya.
" Surat dari kamu ngga romantis sedikitpun, gimana cewek-cewek bisa luluh sama kamu." ucap sheila meremehkan isi surat yang di tulis oleh xavi.
Sheila membelah coklat yang di berikan xavi menjadi dua. Sheila tidak sadar jika xavi sedang memperhatikannya. Saat sheila melihat ke arah xavi untuk memberikan coklat itu, tatapan merekapun beradu dan wajah mereka juga sangat berdekatan.
"Saya tidak perlu banyak wanita yang luluh dengan saya, yang saya perlukan itu kamu. Kamu yang luluh dengan saya. "ucap xavi tidak mengubah sedikitpun pandangannya.
Sheila terkejut dengan ucapan xavi, jantungnya serasa berpacu dan tak bisa ia hentikan. Semakin di tatap seperti ini oleh xavi membuatnya semakin deg-degan dan tidak karuan.
Tidak ingin jantungnya copot sheilapun segera mengalihkan pandangannya, "Apaan sih,Ngga jelas." ucap sheila yang kemudian memaksa xavi untuk menerima potongan coklatnya.
"Saya tau kamu berbuat seperti ini pasti ada tujuan lain kan. Karna tidak mungkin seorang xavier Alexander melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan maaf dari saya."
"Ternyata perempuan ini sangat peka dengan sifat saya. "batin xavier yang bisa di bilang jika xavier mengagumi sheila yag sangat cepat memahami sifatnya.
" Saya tidak mau apapun dari kamu, saya melakukan ini tulus." elak Xavier tak ingin membenarkan begitu saja dugaan sheila.
Sheila mengangguk-ngangguk," Baguslah kalau kamu tulus lagian saya juga tidak mau melakukan apapun permintaan kamu." ucap sheila. Sheila tidak bisa percaya begitu saja pada xavier, karna felingnya tidak pernah salah apa lagi itu tetang xavier. Sheila sangat yakin jika ada sesuatu yang dia inginkan.
" Bagaimana ini, kenapa jdi seperti ini?" Perkataannya tadi malah membuatnya semakin pusing sekarang.
Sheila tersenyum begitu melihat wajah xavi yang sangat bingung, wajah kusutnya sangat terlihat. Ada sesuatu yang akan ia katakan tapi di tahan hanya karna xavi tidak pandai merangkai kata-kata agar ia luluh.
Sembari memakan coklatnya sheila bertanya dengan sendirinya jika apa yang di inginkan oleh xavi. "Kamu mau ngajak saya pergi?" tanya sheila mencoba menebak-nebak.
Xavi terkejut dengan perkataan sheila, sheila seolah - olah tau apa yang ia pikirkan. "Kamu tau dari mana kalau saya mau mengajak kamu pergi?" heran Xavi.
__ADS_1
Sheila menyengir ia tidak menyangka tebakannya benar. "Dari wajah bejat kamu." ucap sheila menggoda xavi.
"Sabar xav, sabar! "batin xavi menahan dirinya untuk tidak marah.
" Iya saya mau mengajak kamu pergi ke suatu tempat." ucap xavi mencoba menjelaskan maksud lainnya.
" Kemana?"tanya sheila masih menikmati coklat pemberian xavi.
" Yang pastinya bukan tempat yang kamu pikirkan." ucap xavi. Karna xavi tau jika sheila pasti sudah menduga tempat-tempat mesum untuk ia kunjungi.
Sheila menatap sinis xavi karna sudah sok tau dengan isi pikirannya.
"Lalu kamu mau bawa saya ke mana? "tanya sheila lagi masih penasaran dengan tempat yang di maksud oleh xavi.
" Yang jelas tempat yang saya maksud ini bersangkutan dengan status nyonya CEO kamu nanti." jelas xavi tidak ingin menyebutkan tempat pastinya.
Sheila menyengitkan keningnya ia tidak mengerti tempat apa yang di maksud oleh xavi.
Xavi memegng tagan sheila'' Kamu tidak perlu memikirkan tempat itu! Lebih baik sekarang kita pergi karna pasti mereka semua sudah menunggu kedatangan kamu. "Xavi menarik tangan sheila untuk bangkit dan segera pergi.
***********
Mobil xavi masuk ke sebuh pekarangan rumah yang sangat besar bak istana.rumah itu sangat besar bahkan sheila tidak bisa melihat dimana ujung rumah tersebut karna sangking besarnya.
Tiang-tiang rumah yang sangt tinggi membuat sheila harus mendongak agar bisa melihat betapa tinggi rumah itu.
Xavi memegang tangan sheila untuk segera masuk kedalam rumahnya. "Ayo kita masuk, semua orang pasti sudah menunggu kehadiran kamu!" ucap Xavi berjalan beriringan untuk masuk kedalam rumah.
Di perjalan masuk sheila bertanya pada xavi jika ini rumah siapa dan apa tujuannya untuk datang ke sini.
" Ini rumah siapa? Dan siapa mereka yang kamu bilang sudah menunggu saya? "tanya sheila.
" Ini rumah saya, kediaman keluarga alexsander." jawab xavi.
__ADS_1
Sontak ucapan xavi membuat sheila langsung berhenti mendadak dan membuat xavi harus ikut berhenti di buatnya . Sheila masih terkejut dengan jawaban xavi ia tidak menyangka jika xavi akan secepat ini mengenalkannya pada keluarga yang sangat terkenal akan kekayaannya itu.
"Jadi ini tempat yang kamu maksud itu. Tempat di mana status nyonya CEO saya di pertaruhkan? "
Xavier mengangguk, "Iya, mengenalkan kamu pada kelurga besar saya adalah langkah pertama yang harus kamu tempuh pertama kali agar kamu bisa mendapatkan status nyonya CEO."
"Tapi harusnya kamu bilang dari awal agar saya bisa menyiapkan mental saya. "kesal Sheila, yang malah terlihat sangat panik karna takut di tanya - tanya nantinya.
" Sudah kamu tenang saja saya akan membantu kamu nanti!" ucap xavi menengkan sheila. Padahal sebenarnya xavi saat ini juga sangat hawatir apalagi dengan pertanyaan Alexander nantinya.
***********
Rico membantu stiven untuk keluar dari kamarnya untuk segera pergi ke meja makan karna sebentar lagi acara yang sangat menegangkan akan segera ia saksikan terlebih di sini ada Rico, stiven yakin pasti suasana kali ini pasti akan bertambah seru.
Ric pokonya begitu sheila sampai nanti kamu harus bisa bersikap seakrab mungkin pada sheila. Bila perlu kamu juga harus membahas pekerjaan sheila di depan semua keluarga nantinya! "perintah Stiven.
Rico mengangguk sembaru tersenyum sinis," Pasti stiv saya akan melakukan apapun agar bisa menghancurkan rencana pernikahan Xavi. Mau bagaimanapun sheila harus jatuh ke tangan saya! "ucap Rico yang sangat mendukung dengan rencana stiven.
Stela langsung mendekati Stiven dan Rico begitu ia baru sampai di meja makan," Stiven kamu yakin mau makan di sini. Kamu itu masih sakit loh sayang? "tanya Stela mencemaskan keaadaan anak kesayangannya.
" Iya ma lagian ngga mungkin stiven biarin acara sepenting ini begitu saja,Lagipula di sini juga ada Rico yang siap siaga membantu stiven." jawab stiven sembari duduk di kursi makan .
" Iya tan, tante tenang saja!" ucap Rico mengangguk-angguk sembari mengacungkan jempol pada Stela.
" Yasudah kalau begitu mama panggil papa kamu dulu untuk segera ke sini." pamit Stela meninggalkan Stiven dan Rico.
"Kita lihat saja bagaimana reaksi xavi dan Sheila begitu melihat kamu di sini nanti." ucap Stiven sembari tersenyum sinis pada Rico.
"Sheila..... Sheila dia tidak akan bisa lepas begitu saja dari Rico Arselio. Dia pasti akan menjadi milik saya." ucap Rico yang di sambut gelak tawa oleh keduanya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung