
Stiven menyetir mobilnya menuju bandara untuk menjemput sandra. Stiven tak ingin pujaan hatinya itu menunggu lama jadi stiven berangkat lebih dulu dari jam yang di katakan oleh sandra.
"Tapi kenapa ya sandra tiba-tiba balik ke indonesia? "pikir stiven yang lupa menanyakan itu tadi pada sandra.
'' Mungkin nanti saya harus tanyakan itu pada sandra. Siapa tau dia akan menetap di sini."
Stiven mengetik pesan di ponselnya untuk mengabari sandra jika ia sudah sampai dan sudah menunggu di depan bandara.
" Ra aku udah nyampe ya, aku udah ngga sabar ketemu sama kamu." ketik stiven sembari menambahkan emotion love di akirnya.
Stiven membuka media sosialnya sembari menunggu sandra.stiven terkejut begitu menemukan kabar Frans yang meninggal kini tengah Viral di media sosial. Kematian frans kini dalam penyelidikan polisi dan jasad frans juga sedang di otopsi sekarang di rumah sakit.
"Bagaimana ini, bagaimana kalau polisi menemukan perampok yang di suruh Rashel untuk membunuh frans? "cemas Stiven yang sangat takut saat ini. Ia tidak mau masuk ke penjara secepat ini karna rencana gila yang di lakukan oleh Rashel ini.
'' Saya harus kabari Rashel saat ini juga!, dia harus tau soal kabar ini." ucap stiven yang langsung menghubungi Rashel.
Di sisi lain Rashel saat ini sedang menyiapkan kejutan makan malam bersama mama mertuanya di rumahnya saat ini. Rashel sengaja meminta mama mertuanya untuk datang dan membuat semua makanan kesukaan Rico agar rico bisa kembali mencintainya.
"Ma ini di tuangin ke sini ya? "tanya Rashel memegang sejumput garam di tangannya.
" Iya sayang kamu masukin aja, tapi jangan banyak - banyak ya!" jawab tari memberitahu Rashel.
"Iya ma. "ucap Rashel sembari memasukkan garam yang sudah ia ambil tadi ke wajan.
Drettt... Drettt... Dret...
Stiven is call....
Stiven menelfon di saat Rashel sedang sibuk memasak bersama mamanya. Rashel melihat sekilas siapa yang menelfon namun ketika tau jika yang menelfon adalah Stiven, rashelpun mengabaikannya.
"Kenapa ngga di angkat sel? '' tanya Tari karna rashel membiarkan ponselnya terus berbunyi.
" Ngga penting ma." jawab rashel.Taripun hanya ber oh ria mendengar jawaban menantunya.
Dretttt..... Drettttt.... Dretttt.
Stiven is call......
Ponsel Rashel kembali berbunyi dengan penelfon yang sama.
"Angkat aja dulu sel, siapa tau penting . Biar mama yang gantiin sini!"suruh Tari mengambil sendok goreng yang di pegang oleh Rashel.
Rashel tersenyum canggung, ia merasa tidak enak pada mama mertuanya itu karna ponselnya yang terus berbunyi dari tadi. Entah apa yang ingin di katakan stiven kepadanya sampai - sampai menelfonnya berulang kali seperti ini.
Rashel mengangkat telfon stiven sembari menjauh dari dapur.
"Ada apa sih? "ketus Rashel menjawab telfon dari stiven.
" ada hal gawat sel. "
" Gawat apa? "
" Berita kematian frans sekarang viral di mana - mana dan polisi sekarang udah menyelidiki kejadian perampokan itu. Kalau kita ketangkep gimana?"
"Kalau polisi nemuin orang - orang suruhan kamu gimana? Pokoknya saya ngga mau ya masuk penjara." jelas stiven yang terdengar sangat cemas.
"Ngga usah parno bisa ngga sih. Yang ada kalau kamu bersikap seperti ini orang - orang malah jadi tau. "
"Ya gimana saya ngga parno kalau udah menyangkut dengn polisi seperti ini. "
__ADS_1
'' Stiven kamu dengar ya, kalaupun orang - orang suruhan saya itu ketangkep mereka ngga akan bisa ngasih tau apa - apa. "
"Mereka ngga tau siapa kita, mereka ngga tau wajah kita gimana dan lebih penting lagi mereka ngga tau kalau saya yang nyuruh mereka, ngerti kamu! "jawab Rashel yang sangat kesal karna semua kecemasan Stiven.
Di sisi lain, Sadra langsung mencari keberadaan stiven begitu ia sampai di tempat yang biasanya para keluarga menjemput.
" Stiven mana sih?" ucap sandra melihat kesan kemari untuk mencari keberdaan stiven.
'' iya saya tau tapi gimana kalau mereka cerita kalau mereka di suruh oleh seseorang untuk membunuh Frans dengan berkedok perampokan. "ucap stiven lagi yang masih tidak bisa menghilangkan kecemasannya.
" Udah deh stiven kamu ngga usah mikir terlalu jauh, karna apa yang kamu pikirkan itu ngga akan terjadi. "
" Saya lagi sibuk, saya ngga ada waktu buat ngeladenin semua ketakutan dan kecemasan kamu itu! "ucap rashel menutup telfon
" Tapi sel... Rasel saya belum selesai bicara tentang frans!" ucap Stiven meninggikan suaranya, karna kesal dengan sikap Rashel.
" Bicara tentang frans?" sandra tidak sengaja mendengar itu saat ia berjalan menuju stiven begitu ia menemukan stiven tadi.
" Ada apa dengan frans?" tanya Sandra yang membuat stiven terkejut dan langsung berbalik.
"Sandra... "ucap stiven yang hawatir jika sandra mendengar pembicaraannya dengan rashel tadi.
" Kamu udah lama berdiri di sini?" tanya stiven.
Sandra menggeleng, "Aku baru nyampe, dan denger kamu bicara tentang frans. Itu frans yang beritanya lagi viral itu ya?" tanya sandra.
"baguslah ternyata sandra ngga denger apa - apa" batin stiven.
"Bukan, ini frans teman kantor aku. Yaudah yuk kita langsung ke mobil kamu pasti capekkan? "ucap stiven mengalihkan pembicara suapaya sandra tidak bertanya terlalu dalam.
Sandra mengangguk sembari menerima gandengan tangan stiven.
Sandra melihat ke arah stiven yang tersenyum ke arahnya" Tapi kenapa dia bohong?" batin sandra yang menjadi curiga dengan stiven.
*******************
" Halo mas." jawab sheila mengangkat telfon dari suaminya.
" kamu pulang dengan saya sekarang, saya sudah di depan kantor papa kamu! "ucap xavi yang sudah menunggu sheila di parkiran kantor leonard.
" Dia bukan papa saya inget itu." ketus sheila sebelum ia mengakiri telfon dari xavier.
Padahal sudah berapa kali sheila memberitahu pada xabier untuk tidak menyebut leonard sebagai papanya. Sheila sangat tidak suka orang lain mengakuinya sebagai anak dari laki-laki brengsek seperti leonard.
Xavier mengutuk keras dirinya karna sudah salah bicara pda sheila tadi di telfon. Padahal xavier ke sini untuk mengembalikan mood sheila yang masih sangat sedih dengan kabar kematian bosnya.
"Xavier... Kenapa sih kamu ngga bisa jaga bicara kamu dulu sebelum kamu nelfon dia! "kesal xavi pada dirinya sendiri.
Brukh..
" Buruan jalan!" ucap sheila saat ia telah masuk kedalam mobil Xavier.
Xavier memperhatikan wajah sheila yang terlihat sangat kesal, sampai - sampai sheila tidak mau melihatnya sama sekali. Cara bicara sheilapun juga sangat ketus.
Xavier menghela nafas dalam, kemudian melajukan mobilnya.
Di perjalanan xavier mencari - cari tema pembicaraan dengan sheila supaya tidak merasa canggung seperti ini. Xavier mengetuk - ngetuk stir mobil dengan jarinya beberapa kali, berharap ada ide yang bisa mencairkan suasananya dengan sheila.
"Oke... Saya harus bisa! "batin xavi menhemangati dirinya.
__ADS_1
" Gimana pekerjaan kamu di kantor?" tanya xavier memasang senyum lebarnya.
" Baik." jawab sheila singkat yang membuat senyum xavier langsung memudar.
Xavier meremas stir mobil," Ini perempuan nguras emosi banget. "geram xavier padahal ia sudah mencoba bersikap baik pada sheila.
" Gimana dengan rencana kamu, apa sudah berhasil?" tanya xavier lagi.
" semua rencana itu ngga ada yang instan, semuanya butuh proses. '' ketus sheila lagi.
"Astaga sabar xavi... Sabar. Untuk menghadapi perempuan seperti dia kamu memang harus menyetok kesabaran yang banyak!" batin xavier berusaha untuk tidak terpancing emosi.
"Mama tiri kamu gimana, apa dia sudah tau soal kamu yang bekerja di sana? "tanya xavier lagi masih berharap sheila bisa menanggapinya dengan baik.
" Dia tau, tapi saya lagi ngga mau bahas dia sekarang." jawab sheila memutar matanya malas di hadapan xavier.
"Cukup xavier... Ngga usah tanya lagi! "batin xavier yang telah kehabisan stok sabarnya.
************
Stiven menghentikan mobilnya di sebuah apartemen mewah.
" Kamu ngga tingga di rumah kamu yang dulu ra?" tanya stiven.
Sandra menggeleng," Ngga en rumah itu udah di jual semenjak mama papaku pindah ke singapur. Dan cuma ini aset satu - satunya papa yang masih tersisa di sini." jelas sandra.
Stiven mengangguk - ngangguk mengerti , sembari membantu sandra mengeluarkan barang - barangnya di bagasi.
'' Tapi kamu kenapa balik ke Indonesia, bukannya kamu sudah bekerja sebagai dokter di sana?" tanya stiven menanyakan hal yang dari tadi membutnya penasaran.
Sandra bekerja sebagai dokter bedah di singapur. Kepintaran sandra menjadikannya dokter termuda dan paling berbakat di sana. Banyak dari rumah sakit yang menawari sandra untuk bergabung dengan mereka.
"Aku balik karna mau.... "sandra menghentikan ucapanya.
" Ngga aku ngga bisa ngasih tau siappun soal tujuan aku balik ke sini. Orang - orang ngga boleh tau kalau frans adalah sepupu aku." batin sandra.
" Mau apa ra?" tanya stiven yang penasaran karna sandra yang berbicara setegah - setengah.
"Mau.... Mau ngurusin kepindahan pekerjaan aku ke rumah sakit di jakarta."jawab sandra, memang sandra berencana untuk bekerja di rumah sakit di jakarta selama ia menyelidiki kasus kematian frans . Karna polisi mengabari jika kematian frans bukanlah murni karna perampokan tapi ada kemungkinan jika frans sengaja di bunuh dan untuk menyamarkan itu mereka mengambil barang - barang berharga frans agar terkesan seperti perampokan. Walaupun itu masih dugaan tapi Sandra yakin jika itu pasti memang pembunuhan. Melihat hasil otopsi yang di kirimkan oleh rekan dokter yang mengotopsi Frans.
"Kamu stay di jakarta ra? "ucap Stiven yang terlihat sangat senang.
" Iya..." jawab sandra membalas senyuman stiven.
Seketika stiven langsung memeluk sandra sangking senangnya dengan jawaban sandra. "Aku udah nunggu ini dari lama ra dan akirnya sekarang terwujud. Aku seneng banget karna mulai hari ini aku bisa liat kamu setiap hari." ucap stiven.
"Iya,.... aku juga ngga sabar bertemu dengan Xavier. Gimana ya reaksinya nanti kalau di tau aku bakal stay di sini.''
" Er bakal sesenang kamu ngga ya?" tanya sandra yang sangat merindukan xavier.
" Dia pasti seneng ra." jawab stiven diiringi senyuman sinis" Dan aku juga akan semakin senang jika kehadiran kamu bisa menghancurkan rumah tangga xavier dan sheila ra. "batin stiven masih belum melepas pelukannya.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1