
Xavier mangambil nafas berulang kali begitu ia sampai di rooftop dan melihat sheila di sana. Dengan wajah yang tersenyum xavier berjalan mendekat. Akan tetapi langkah xavier memelan begitu tau gadis yang ia cari ternyata sedang menangis di sini. Tangisan sheila begitu terisak-isak, Xavier yakin pasti ada sesuatu yang telah terjadi pada sheila saat ia ke toilet tadi.
Xavier duduk di samping sheila tanpa melihat sheila sedikitpun, xavier melihat ke arah langit malam yang di penuhi bintang.
Sheila melihat ke arah orang yang sudah mengganggu kesendiriannya. Dengan wajah yang di basahi air mata sheila menatap Xavier dengan tajam.
"Ngapain kamu ke sini?. "ketus sheila dengan suara parau. Saat ini sheila hanya ingin sendiri untuk bisa menenangkan pikirannya dan kekesalan di hatinya .
Tanpa mengubah arah pandangnya xavier menjawab pertanyaan sheila." Saya ke sini untuk bisa menikmati ke indahan malam. Saya bosan sendiri di ruangan pesta dengan pasangan yang ngga tau ke mana." jawab Xavier sedikit menyindir sheila.
Sheila berdiri melihat xavier dengan tatapan kesal,"kenapa dia tidak bisa mengerti bahkan sedikit saja perasaan saya saat ini." batin sheila yang kemudian berbalik badan untuk pergi.
Xavier dengan cepat menahan tangan sheila, xavier tidak mau gadis yang ia cari sejak tadi kembali hilang dari pandangannya." Duduk!!! "ucap Xavier memerintah sheila.
Sheila menggeleng dan mencoba melepaskan tangannya." kehadiran kamu hanya akan menambah kekacauan pikiran saya. "Sheila tidak ingin menuruti permintaan Xavier. Xavier bukanlah penenang untuknya yang sheila butuhkan saat ini hanya kesendirian.
Sheila menghempas tangan xavier kasar kemudian pergi, namun baru selangkah sheila berjalan Xavier dengan cepat menarik tangan sheila sampai membuat tubuh sheila berbalik dan jatuh ke pangkuan Xavier.
Padangan mereka saling beradu satu sama lain, mata sembab dengan air mata yang masih berlinang jelas terlihat di mata sheila.
"Jangan pergi! Saya janji tidak akan mengganggu kamu. "ucap Xavi dengan nada bicara penuh kelembutan.
************
Leonard mengelus puncak kepala qania dengan lembut. Leonard sangat prihatin melihat kondisi qania seperti ini.
" Maafin aku qania, aku udah buat kamu seperti ini. "Leonard merasa sangat bersalah seandainya waktu itu ia tidak menemui qania dan berkata seperti itu pasti qania tidak akan sedrob ini sekarang.
" Aku janji aku akan melakukan apapun untuk kamu agar aku bisa menebus semua kesalahan aku ke kamu."
Leonard meraih tangan Qania dan menciumnya beberapa kali, "aku janji sama kamu qania." ucapnya lagi.
__ADS_1
Stiven memperhatikan semua sikap leo pada qania, mantan istrinya. Sangat terlihat jelas jika leonard masih sangat mencintai qania.
Leonard mengalihkan pandangannya pada stiven, pemuda yang sudah membantunya untuk masuk kedalam ruangan qania. Leo berjalan mendekat pada stiven, leo juga penasaran siapa sebenarnya pemuda itu?.
"Terimakasih sudah membantu saya untuk masuk keruangan qania. "ucap Leo sembari duduk di sofa dekat dengan kursi roda Stiven.
" Hmmm.... Sama-sama." jawab stiven,bersikap seolah-olah jika ia tidak punya maksud lain dari perbuatannya.
" Sebenarnya kamu ini siapa? Kenapa sepertinya kamu punya kekuasaan di sini?" tanya leo ingin mengetahui latar belakang pemuda itu. Melihat cara pemuda itu memerintah pada dua penjaga di luar tadi membuat leo yakin jika pemuda itu bukan orang sembarangan.
" Stiven Alexander, anak dari pemilik rumah sakit ini juga perusahan Alexander grup." jelas Stiven.
'' Saya juga paman dari tunangan anak anda. "sambung Stiv yang langsung mendapatkan tatapan terkejut dari leo. Jujur saja leo baru tau jika ternyata sheila anaknya sudah mempunyai tunangan.
************
Sheila segera berdiri dari pangkuan xavier, sheila kembali duduk di kursi yang sama namun dengan jarak yang cukup jauh dari xavier.
Tapi dengan adanya xavier di sini membuat sheila harus menhan isakan tangisnya, sheila tidak mau di pandang sebagai wanita cengeng oleh xavier apa lagi di cap sebagai wanita yang lemah yang patut untuk ia kasihani.
"hikks... Hikks.." isak sheila sembari menepis air matanya.
Walau tidak melihat sheila tapi xavier sangat yakin jika saat ini sheila sedang menahan tangisnya.
Dengan suara lembut xavier menyuruh sheila untuk melepaskan tangisannya. "Udah ngga usah di tahan lagian saya juga ngga liat saya juga bakal pura-pura ngga denger. Anggep aja saya ngga ada di sini!!!" ucap Xavier.
Sheila melihat ke arah Xavier yang ternyata telah mengubah posisi duduknya. Xavier duduk dengan posisi membelakanginya. Di kedua telinga xavier juga terpasang earphone.
Merasa jika sheila memperhatikannya, Xaviepun melihatkan layar ponselnya yang terlihat jika sekarang xavier sedang menyetel lagu dengan nada suara tinggi.
"Kamu bisa nangis sepuanya tanpa saya tau ataupun saya denger, jadi lepasin semua kekesalan hati kamu sampai kamu merasa lega."
__ADS_1
" Saya ngga mau karna kekesalan yang tersisa di hati kamu malah buat hidup saya tambah ribet." ucap xavier yang kemudian menikmati alunan musik tanpa mendengar apalun gerutu sheila dengan ucapannya tadi.
Saya ngga nyangka cowok seperti dia bisa berbuat seperti ini." batin sheila yang malah saat ini sudah merasa lega melihat perbuatan dan mendengar kata-kata xvier tadi. Kata-kata Xavier tadi memang menyebalkan namun entah kenapa ia malah merasa tenang. Kata-kata xavier tadi terdengar seperti obat tersendiri untuk sheila.
"Makasi udah buat saya tenang."
"Makasi juga karna perbuatan kamu malah bikin saya bisa senyum seperti ini."
"Kata-kata kamu dan perbuatan kamu seperti ini buat saya jauh lebih baik, sekali lagi makasi."
Sheila sengaja mengatakan terima kasih pada Xavier yang jelas-jelas sedang asyik mendengarkan alunan musik. Untuk saat ini sheila hanya bisa mengatakan itu di saat xavier tidak bisa mendengarnya, sheila tidak bisa mengatakan itu pad xavier dalam keadan xavier yang bisa mendengar harga diri dan kegengsiannya masih menjadi nomor satu bagi sheila.
Sheila duduk mendekati xavier, sheila menjatuhkan kepalnya di bahu xavier sembari mengambil satu earphone dari telinga xavier dan memakaikannya ke telinganya.
Xavier melihat sheila dari sudut matanya, "baguslah kalau dia udah tenang." batin Xavier terswnyum walau ia tidak melihat jelas wajah Sheila namun xavier bisa mersakan jika saat ini mood sheila sudah kembali seperti semula.
Sheila dan xavier menikmati keindahan langit malam sembari mendengarkan alunan musik sampai acara oesta itu berakir.
Berdua dengan sheila seperti ini membuat xavier merasa sangat nyaman, walau tidak bicara satu sama lain namun seolah-olah xavier merasa jika pikiran dan perasaan mereka saling berkomunikasi. Belum pernah rasanya xavier merasa senyaman ini.
Sifat yang selama ini ia pendam dan ia sembunyikan rapat-rapat dari semua orang malah muncul begitu ia bersama sheila. Xavier tidak tau apa sebenarnya yang salah dengan dirinya. Perbuatan dan perlakuan manisnya tiba-tiba reflek keluar begitu ia melihat sheila sedih seperti ini. Ide ide gila dan sifat gilanya seolah - olah keluar demi bisa menghibur sheila. Setiap kali xavier melakukan itu dan begitu ia sadar xavier malah mengutuk dirinya sensiri bahkan ia mencurigai dirinya jikalau dirinya memang benar-benar gila?.
Setiap kali ia melihat sheila menangis dan sedih xavier sangat merasa berslah, padahal bukan dialah penyebab sheila bersedih. Terkadang xavier bertanya-tanya pada dirinya kenapa ia bisa seperti itu?.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1