Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 28.kekaguman yang salah


__ADS_3

"Hai... "Jawab Stiven sembari menyembunyikan berkas - berkas tentang identitas perempuan yang ia selidiki.


Rico duduk di atas brankar Stiven," Apaan itu stive? "Tanya Rico menunjuk berkas yang akan di masukkan kedalam lemari oleh Stiven.


" Ngga ada apa-apa, biasalah soal pekerjaan."alasan stiven karna menurut stiven rico tidak perlu tau tentang rencananya ini.


" Kamu ngapain ke sini ?" tanya Stiven mengalihkan pembicaraan.


" Niatannya sih tadi mau jenguk eh tapi malah ketemu sama cewek idaman. " Jawab Rico sembari tersenyum girang.


"Cewek idaman? Rachel maksud kamu?" tebak Stiven karna siapa lagi kalaubukan tunangannya itu, ya walaupun Stiven tau jika Rico dan Rachel bertunangan untuk memperluas bisnis perusahaan Rico.


Stiven dan Rico sudah berteman lama, Stiven dan rico berteman sejak mereka duduk di bangku SMA. Wajah mereka yang tampan dan rupawan menjadikan mereka sebagai bintang di SMA karna sama-sama menjadi bintang Rico dan Stivenpun dekat bahkan sampai sekarang.


Tidak hanya ketampanan yang membuat mereka bisa berteman lama namun juga karna prilaku mereka yang sama - sama playboy dan suka main wanita,suka balapan, judi dan diam diam mereka juga mengomsumsi narkoba.


"Rachel? Ya bukanlah"ucap Rico menyengir kuda.


" Kan kamu tau saya sama Rachel itu tunangan untuk memperlancar bisnis saya." sambung Rico lagi.


" Ya terus siapa kalau bukan Rachel?" tanya Stiven karna Rico terlalu berbelit-belit.


" Kamu Ingat perempuan yang saya ceritakan waktu itu?" Tanya Rico yang di angguki oleh Stiven. Beberapa hari yang lalu Rico sempat bercerita tentang wanita gay yang berpenampilan jelek melerai perkelahiannya di bar.


" Saya ketemu dia tadi waktu saya mau beleiin kamu makanan." jelas Rico.


Stiven melihat tangan Rico yang tidak membawa apapun"  makanannya mana? "tanya Stiven heran.


" Saya kasih ke dialah. "jawab Rico enteng.


" Lah kok di kasih ke dia, kan kamu beli buat saya. "


" Ya habisnya gimana ya bro,  dia itu  lagi kesakitan dan kayaknya dia belum makan, ya mau ngga mau  saya kasihlah makanan kamu buat dia, sekalian saya mau cari muka ke dia. "jelas Rico.


" Apanya yang mau kamu carmukin sih Ric kamukan tau kalo dia itu lesbi mau gimanapun usaha kamu dia ngga bakal suka sama kamu?" bantah stiven karna menurut stiven usaha temannya itu adalh usaha yang sia - sia dan tidak penting.


" Stiven jadi orang itu ngga usah goblok-goblok banget kenapa sih.? "bukannya mengiyakan kata-kata stiven,tapi rico malah menghina dan mengatai stiven.


" Mau gimanapun dia itu cewek, cantik lagi. Ya pastilah sedikit banyanya paati ada usur ketertarikannya  sama cowok. "sambung Rico.


" Ya mungkin sekarang belum ada karna dia masih gay tapi mungkin dengan kehadiran saya dia bisa ngga gay lagi.ucap Rico percaya diri dengan modal wajah tampan dan kekayaannya.


"Saya bisa jadi pangeran penyelamat buat dia. Penyelamat dari ketersesatannya memilih cinta." Rico mulai menyombongkan dirinya di hadapan Stiven.


Sontak perkataan Rico membuat Stiven muak dan langsung mendorong kepala Rico, "Ngga usah sok jadi pangeran kalu kelakuan kamu aja masih ngebangsad."

__ADS_1


Rico memegang keoalanya sembari menatap Stiven dengan tatapan kesal.


"Sudah pergi sana saya mau istirahat, perkataan kamu ngga ada yang penting. "sambung Stiven sembari menedang Rico dari brankarnya.


******'*****


Xavier kembali kerumah sakit untuk melihat bagaimana ke adaan sheila juga mamanya. Xavier mencoba untuk menepikan rasa tidak enaknya pada sheila karna kemarin sudah lancang menciumnya.


" Pokoknya saat saya sampai di ruangan nanti saya harus jaga jarak sama dia." batin xavier yang tak ingin kejadian kemarin terulang kembali.


Suara ribut dari ruangan VVIP terdengar sangat jelas saat xavier keluar dari lift. Xavier sangat familiyar dengan suara orang yang membuat keributan itu. Dengan cepat xavier berjalan menuju kamar rawat mama sheila karna sumber keributan berada di sana.


"saya yakin Pasti ini Merti(Mertua Tiri) buat keributan lagi." xavier berjalan cepat dengan wajah yang sangat kesal menuju ruangan VVIP itu.


"Dasar anak haram, bisanya bawa sial"ucap helen menghina Sheila begitu sheila keluar dari ruangan mama.


" Hasutan apa yang kamu katakan pada suami saya sampai dia bisa marah pada saya ha?" Helen berbicara dengan nada full di hadapan sheila yang berdiri di depan ruangan mamanya.


"Saya ngga pernah ngehasut apapun,karna saya bukan setan seperti tante." balas sheila juga ikut berbicara dengan nda full di hadapan mama tirinya itu.


"Apa kamu bilang saya setan kamu yang setan. Anak haram yang ngga tau diri. Apa yang kamu harapin dari suami saya ha?" balas helen sembari mendorong tubuh sheila.


Dorongan helen tidak berpengaruh apapun bagi sheila karna helen sedang di halangi oleh dua penjaga yang menjaga ruangan mamanya.


" Kamu mau harta suami saya kan?"tuduh helen.


" Dasar ank saya ibuk sama aja sama-sama matre. "hujat helen lagi.


" Jaga ucapan tate ya,"ucap sheila menunjuk ke arah helen.


" saya ngga pernah sedikitpun ngarepin harta suami tante itu sesikitpun. Bahkn saya juga ngga sudi di akui anak oleh orang yang tidak bertanggung jawab seperti suami tante "sheila tidak terima dengan tuduhan helen terlebih ini menyangkut tentang statusnya sebagi anak dari suaminya itu.


" Kalau kamu memang ngga ngarepin itu semua kenapa kamu nemuin suami saya dan mengaku sebagai anaknya? "


" Saya ngga pernah bilang kalau saya itu anaknya , saya juga ngga mau dia jadi ayah saya ."


"Tapi nyatanya kamu bilang kan sama suami saya kemarin. Apa sih mau kamu, kamu mau harta, uang, kekayaan suami saya? Berapa sih sebutin biar saya bayarin biar kamu itu ngga ngerecokin keluarga saya lagi!! ." Helen menawari sheila berbagai macam agar sheila dan ibunya itu bisa pergi dari kehidupannya.


" Saya ngga pernah ganggu keluarga tante, tante yang selalu ngerecokin kehidupan saya sama mama saya. "


" Saya ngerecokin hidup kamu,jangan asal bicara kmu kmu dan mama kamu yang buat hidup saya jadi seperti ini" helen tidak terima dengan tuduhan sheila keoadany karna selama ini helen merasa jika sheila dan ibunyalah yang sudah mengganghu dan merecoki kehidupannya. .


"Kamu dan mama kamu itu sama - sama pembawa sial, kalian itu bisanya cuma nyusahin orang sama kayak parasit." Helen semakin menghina sheila dan mamanya.


"Orang-gorang kayak kalian itu harusnya di basmi, di musnahkan biar ngga ada orang yang bawa sial lagi ke kehidupan orang lain." helen semakin menjadi-jadi tidak peduli seberapa marahpun tatapan sheila kepadanya.

__ADS_1


Mendengar hal itu membuat xavier sangat marah, entah perasaan apa yang mendorong xavier ingin sekli membela sheila dan mengembalikan kata-kata itu kepada Merti nya itu.


"Yang bawa sial dan parasite itu harusnya anda. Contohnya seperti saat ini. Anda membuat semua orang yang ada di rumah sakit ini susah dan tidak nyaman akibat kerubutan dan ulah  yang anda buat. "Xavier menunjuk ke arah orang-orang yang dari tadi melihat dan membisikkan perbuatan Helen namun mereka tidak berani menegur karna tau jika helen adalah istri dari pengusaha sukses dan punya kekuasan banyak.


Di sisi lain Stiven juga ikut keluar dari ruangannya karna mendengar keributan yang terdengr tidak jauh dari ruangannya. Stiven mendorong kursi roda nya untuk melihat keributan apa yang sebenarnya sedang terjadi sampai-sampai mengganggun ketenangan pagi harinya.


" Sekarang jelaskan sipa yang parasit di sini?" Xavier lagi-lgi mempermalukan helen dengan membalikkan ucapan helen.


Sheila menatap xavier denagan tatapan kagum, baru kali ini ada orang yang membelanya sepeeti ini. Bahkan xavier tidak perlu ucapan yang banyak untuk membalas semua oenghinaan mama tirinya itu.


Helen menatap xavier dengan tatapan tidak suka , bisa - bisanya bocah ingusan seperti xavier melawannya seperti ini bahkan sudah mempermalukannya dua kali.


" Kamu itu sebenarnya siapa sih kenapa kamu selalu ikut campur urusan saya dengan perempuan ini? '' tanya Helen menunjukk sheila dengan tangan kirinya.


Stiven melihat sheila, xavier serta Helen istri dari pengusaha sukses yang kebetulan juga rekan bisnis papanya. Dengan ceoat stiven bersembunyi di balik dinding agar xavier dan sheila tidak melihatnya. Xavier ingin tau persoalan apa yang sedang mereka ributkan.


Xavier merangkul sheila, "Saya tunangan dari wanita yang sudah anda kata-katai ini." jawab Xavier tersenyum sinis ke arah Helen.


"Saya xavier Alexander, cucu dari pemilik rumah sakit ini anak dari pengusa sukses nomor satu di Indonesia dan CEO Sukses. "xavier membeberkan semua kekuasaan serta pangkat dan derajatnya di hadapan helen agr Mertinya itu tidak sembarangan lagi menghina orang.


Sontak perkataan xavier membuat stiven kaget ia tidak percaya jika ternyata wanita itu adalah tunangan xavier.


" Saya dan sheila akan segera menikah dan anda pasti tau setelah ini status sheila adalah nyonya CEO. Dan sebagai nyonya CEO sheila bisa melakukan apapun termasuk membalas semua penghinaan yang sudah anda katakan kepadanya."


"Derajat sheila akan jauh lebih tinggi dari pada anda. Jadi lebih baik sekarang anda minta maaf pada calon istri saya ini dari pada nanti anda menyesal!"ucap xavier penuh penekanan.


Helen terkejut mendengar penuturan itu semua. Ia tidak menyangka jika sheila bisa secepat ini mendapatkan tandingan untuk membalasnya. Bahkan sekarang helen tidak bisa berkata lagi karna semua ancaman xavier terdengar sangat nyata.


Helen menatap sheila dengan sorot mata penuh kebencian, ia menghentakkan kakinya kemudian berbalik badan dan pergi meninggalkan sheila.


Dalam hati sheila sangat bahagia karna mama tirinya itu kalah. Ucapan xavier menyelamatkannya dari semua penghinaan yang mama tirinya itu ucapkan. Bahkan dalam satu rangkaian kata yang tak terlalu panjang xavier bisa membuat mamanya itu bungkam dan memilih untuk pergi daripada melanjutkan keributan.


Sheila menatap xavier dengan penih kekaguman. "Makasi." ucap sheila tersenyum ke arah xavier.


Xavier memutar matanya, kemudian melepas rangkulannya "Ngga usah GR saya melakukan ini bukan cuma-cuma tapi harus ada harga yang harus kamj bayar pada saya."


Sontak perkatan xavier membuat sheila terbelalak tatapan kekagumannya seketika lenyap dan berganti dengan kekesalan. Sheila tersadar jika pria yang ada di hadapannya ini adalah pria bejat yang  mesum.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2