
Xavi memarkirkan mobil di sebuah restoran besar yang mewah.
" Kenapa kita ke sini?" heran sheila, "ooooo.... Jangan - jangan kamu hanya menjadikan orang itu untuk kamu bisa memaksa saya untuk ikut dengan kamu iya kan?" tuduh sheila. Sheila sengaja tidak menyebut nama papanya karna ia tidak mau mengakui jika pria itu adalah papanya.
"Tidak usah GR kamu, saya bawa kamu ke kisini karna dia sudah membuking tempat ini.....dia yang menentukan kita untuk bicara di sini." jawa Xavi tidak terima dengan tuduh sheila.
Sheila memutar matanya, "Terserah..." jawa sheila sembari masuk kedalam restoran.
Xavi mengikuti sheila untuk masuk kedalam restoran.
**************
Stiven menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur kamarnya. Wajah stiven masih sangat kusut, sampai saat ini ia masih belum belum mengerti dengan apa yang sudah terjadi malam itu.
"Kenapa bisa ada rashel di sana? "ucap Stiven menatap langit - langit kamarnya.
Stiven mencoba mengingat dengan keras kejadian semalam, hal yang terakir ia ingat yaitu waktu ia bertemu dengan sheila. Setelah itu ia tidak ingat apa - apa.
'' Iya gadis itu, kenapa bukan dia yang bersama dengan saya? "pikir stiven lagi.
Ting..
Ting..
Deringan pesan chet membuat stiven berhenti memikirkan itu. Stiven merogoh sakunya untuk mengambil ponsel. Stiven melihat siapa yang mengirim chat kepadanya.
" Frans?" pikir Stiven yang kemudian melihat apa yang di kirim oleh Frans.
Sebuah Vidio dikirim oleh Frans pada Stiven.
"Gila Vidio kali ini paling wah bro. Ini sih paling hot banget saya yakin kamu sangat suka. "
"Untung kemarin saya sempat melihat kamu dan wanita itu masuk kedalam kamar jadi saya langsung bisa mengangtifkan kamera untuk kamu. "
"Hal hasil kamu bisa mendapatkan vidio sebagus ini."
" Sepertinya untuk kali ini kamu harus memberi bonus yang lebih banyak untuk saya. "
Isi chat dari Frans membuat Stiven tidak paham dengan maksudnya. Memang setiap kali ia melakukan itu pada gadis - gadis di bar stiven selalu menyuruh Frans untuk menyiapkan satu kamera untuknya di dalam kamar . Untuk di rekam dan di jadikan koleksi pribadinya.
Tapi untuk kali ini Stiven tidak menyuruh Frans untuk melakukan itu. Bahkan stiven sendiri tidak tau jika ia sudah melakukan apa malam ini.
"Apa maksud kamu.?..... "balas Stiven.
__ADS_1
" Memang apa yang sudah saya lakukan?"
" Kamu tidak ingat?"
" astaga Stiven ini adalah satu-satunya vidio yang paling romantis dan paling wah dari sekian banyak kamu lakukan. "balas Frans yang semakin membuat stiven bertanya-tanya.
" Sepertinya kamu harus segera melihat vidio yang baru saya kirimkan!!" pinta Frans yang langsung di turuti oleh Stiven. Ia juga sangat penasaran apa yang sebenarnya terkadi malam ini.
Tak butuh waktu lama vidio yang di kirim oleh Franspun terunduh. Dengan cepat Stiven memutar vidio itu.
" Apa?" ucap Stiven yang langsung duduk begitu melihat wanita yang ada di vidio itu.
"Rashel.... Jadi saya benar berhubungan dengan rashel. "ucap Rico begitu melihat dirinya dan Rashel bercembu mesra di dalam vidio itu. Malah Rashel dan dirinya terlihat sangat menikmati itu semua.
Dengan cepat stiven mengetik dan menyuruh Frans untuk menghapus vidio itu dari kamera tersebut.
" Sekarang juga kamu hapus vidio itu!! "
" Saya juga minta untuk hapus semua jejak saya dengan wanita itu dari CCTV!"
"Memangnya kenapa Stiv? "balas Frans.
" Tidak usah banyak tanya kamu turuti apa yang saya perintahkan!" bala Stiven yang malah semakin pusing dengan ini semua.
" AAAAAHH..." kesal Stiven melempar ponselnya ke sembarang arah, masalahnya dengan Rashel membuat stiven bertambah Frustasi. Niatnya yang ingin bersenang-senang dan melupakan masalah malah berujung seperti ini.
*************
Sheila dan Xavi duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh leonard. Leonard sudah sampai di restoran tersebut sebelum sheila dan xavi datang. Ajakan xavi kemarin membuat leonard sangat bersemangat dan tidak sabar untuk bertemu dengan anaknya itu.
Sheila memandang kelain arah begitu melihat leonard tersenyum ke arahnya.
"Bagaimana keadaan mama kamu sekarang sheila?" tanya leonard.
"Bagaimanapun keadaan mama saya sepertiya anda tidak perlu tau. "ketus sheila yang masih enggan melihat ke arah leonard.
Leonard menarik nafas dalam melihat sikap anaknya yang sangat dingin seperti ini kepadanya" Andai kamu tau sheila kalau papa yang sudah mendonorkan ginjal papa untuk mama kamu. "batjn leonard masih menatap sheila.
" Ehemmm...." ucap xavi berdehem untuk memecahkan suasana yang tidak enak di antara leonard dan Sheila.
" Lebih baik saya langsung saja ya tentang maksud dan tujuan saya mengajak om untuk bertemu seperti ini. "ucap Xavi.
" Harus, lebih cepat lebih baik." sindir sheila masih sangat ketus.
__ADS_1
" Jadi tujuan saya dan sheila mengajak om bertemu adalah untuk meminta om hadir di acara pernikahan kami minggu depan, sebagai wali dari sheila...... Mau bagaimanapun om adalah papa kandung sheila, tanpa kehadiran om pernikahan kami tidak akan bisa terlaksana "jelas Xavi.
" Kalau bukan karna terpaksa saya juga tidak akan meminta bantuan pada kamu. "sambung sheila yang enggan melihat wajah sedih leonard.
" Saya bersedia menjadi wali Sheila, saya akan hadir di acara pernikahan kalian untuk menjadi wali sheila.... Mau bagaimanapun sheila tetap anak saya." jawa leonard.
Sheila tersenyum sinis mendengar ucapan Leo, "lebih tepatnya anak yang tidak pernah dianggap dan di akui keveradaannya, iyakan?" ucap sheila menatap leonard dengan tataoan kebencian.
Leonard menggeleng, "Bukan begitu sheila, papa______"
"Om tenang saja khusus acara pernikahan ini saya akan buat privat, jadi hanya akan ada keluarga saya di sana nanti."
"Dengan begitu tidak akan ada orang yang tau jika ternyata om memeliki anak selain Rashel. "potong Xavi sebelum drama keluarga itu semakin larut di hadapannya.
Memang seharusnya begitu, iyakan? Lagian sampai kapanpun saya juga tidak mau orang - orang tau jika ternya saya adalah anak dari pria pengecut dan brengsek seperti dia." ucap sheila yang kemudian berdiri.
" Saya rasa obrolan kita kali ini sudah cukup,Saya permisi. "setelah mengatakan itu sheilapun berjalan cepat menuju pintu keluar.
" Sekali lagi saya harap om bisa datang ke acara pernikan kami nanti, saya permisi."ucap Xavi yang juga ikut pamit menyusul Sheila.
Leonard masih terdiam di kursi restoran, Leonard sangat merasakan betapa bencinya sheila kepadanya.
" Apa yang harus papa lakukan lagi nak supaya kebencian kamu pada papa bisa hilang?" batin leonard yang sangat sedih di perlakukan seperti ini oleh anak kandungnya sendiri.
Di sisi lain xavi mengejar langkah Sheila yang sangat cepat, langkah sheila begitu tergesa - gesa sehingga ia kesulitan untuk mengejarnya.
" Sheila!" ucap Xavi meraih tangan sheila agar sheila berhenti.
Sheila berhenti dan menatap xavi yang kini juga menatapnya.pipi sheila yang baru saja di basahi air mata masih terlihat jelas.
"Saya tau jauh di lubuh hati kamu kamu pasti merindukan kasih sayang papa kamu. "ucap xavi menepis air mata sheila.
Xavi mengelus pipi sheila dengan jarinya," Semakin kamj membencinya semakin terlihat helas jika kamu sangat merindukan dia. "sambung xavi.
Sheila tidak bisa berkata apapun saat ini bahkan untuk menyangkal kata - kata xavi saja sheila rasanya tidak sanggup. Mukutnya terasa terkunci saat ini hanya air mata yang bisa menjelaskan kondisinya.
Xavi memeluk sheila untuk menenangkannya, "Saya mengerti perasaan kamu, perbuatan papa kamu memang keterlaluan tapi bukan berarti tidak bisa di maafkan..." xavi mengelus punggung sheila "Saya yakin kamu pasti bisa melewati ini semua." ucap Xavi.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung