
Stiven terdiam memikirkan semua hal yang di lakukan oleh xavier saat ini, stiven menerka-nerka apa yang sebenrnya di rencanakan oleh Xavier. Kenapa xavier bisa mempunyai tunangan yang padahal dalam keluarga alexsander sendiripun tidak tau jika selama ini xavier telah bertunangan dengan wanita.
"Saya harus segera keluar dari rumah sakit ini, saya takut semakin lama saya di sini xavi malah semakin menguasai papa. "gumam Stiven menakutkan posisinya sebagai ahli waris papanya mengingat xavier adalah cucu kesayangan papanya jadi bukan tidak mungkin jika Alexander mewariskan hartanya pada Xavier.
Stiven meraih ponselnya untuk menyuruh para dokter untuk ke ruangannya, pokonya hari ini juga ia harus bisa keluar dari rumah sakit sialan ini.
"Sekarang juga kamu cari dokter yang paling ahli di rumah sakit ini untuk bisa menangani saya. Pokoknya saya ngga mau tau hari ini juga saya harus keluar dari rumah sakit ini. "tegas Stiven yang kemudin menutup telfonnya.
" Apapun yang kamu rencanakan saya akan menggagalkan itu." ucap Stiven.
**********
Sheila terbelalak sat xavier mengatakn jika ada harga yang hrus ia bayar atas pembelaan yang di lakukan oleh xavier. Padahal baru saja sheila mengagumi xavier sebagai pria yang baik dan penyelamat untuknya . Namun ternyata kekagumannya salah, ada maksud terselubung dari xavier karna menolongnya.
"Ternyata kamu itu masih CEO bejat."
"Saya kira dengan kamu belain saya tadi, kmu itu berbeda. Kamu udah tobat dan mau jadi pria baik-baik ternyata ada maksud lain yang kamu ingin dari saya."
Sheila sudah berpikir yang tidak - tidak dengan harga yang harus di bayar yang di ucapkan xavier kepadanya. Sheila yakin jika xavier akan meminta sesuatu yang berbau mesum kepadanya.
"Saya ngga habis pikir ternyata yang ada di dalam otak kamu itu hal-hal bejat semua ya."
"Apa lagi yang kamu mau dari saya? apa belum puas kamu me______"dengan cepat xavier langsung membekap mulut sheila, sehingga sheila tidak melanjutkan ucapannya lagi.
Xavier mendorong pintu kamar inap mama sheila dan menyeret sheila masuk kedalam dalam posisi tangan xavier yang masih membekapnya.
Kesal dengan bekapan Xavier sheilapun langsung menggigit tangan xavier begitu ia dan xavier sudah berada di dalam ruangan mamanya.
"Aaaakkkhh... "teriak xavier karna tangannya terasa begitu sakit, xavier dengn cepat melepaskan tangannya dari mulut sheila.
Xavier mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa sangat perih akibat gigitan sheila. Xavier menatap sheila dengan tatapan penuh kekesalan. Ia tidak habis pikir kenapa ada wanita yang sangat menyebalkan seperti sheila di dunia ini. Wanita aneh matre sekaligus tidak tau terima kasih.
'' Kenapa sakit? "tanya sheila yang juga menatap xavier penuh kekesalan.
" Ya iyalah pake nanya lagi," jawab xavier penuh kekesalan.
" Itu ngga seberapa, saya itu hampir mati gara-gara bekapan kamu yang kuat banget tau ngga." ketus sheila sembari mengatur nafasnya.
Xavie memutar matanya malas mendengar ocehan sheila yang malah membuat hatinya semakin panas. Xavier memilih untuk diam dan memalingkan wajahnya.
" Kenapa diem? "ketus sheila lagi karna xavier tidak mengacuhkan ucapannya.
Xavier menghela nafas kasar," Saya diem kamu marah saya ngomong apa lagi. Mau kamu itu apaan sih,heran saya. "kesal xavier karna semua yang ia lakukan selalu salah di mata sheila.
Sheila berdecak kesal mendengar jawaban xavier." Jadi apa mau kamu? "tanya sheila kembali ke pembahasan awal. Mau bagaimanapun sheila juga ingin tau apa yang sebenarnya harga yang harus ia bayarkan terhadap pembelaan yang di lakukan xavier tadi.
" Ngga usah saya udah males bahasnya." jawab xavier yang sudah tidak ingin membahas apapun tentang tadi.
Sheila mengerutkan keningnya, sheila semakin yakin jika xavier pasti tadi memikirkan hal-hal bejat untuk di bayarkan olehnya.
"Saya tau kamu pasti mikirin hal bejat untuk kamu lakuin ke sayakan, makannya kamu sok bela-belain saya di depan mama tiri saya tadi. ''
__ADS_1
" Hal bejat apa sih yang kamu pikirin sampai kamu menyuruh saya membayar semua itu? "Sheila masih penasaran dengan apa yang di inginkan xavier darinya. Tangan sheila sudah bersiap-siap untuk memukul xavier jika ternyata dugaannya benar.
" Liat aja saya bakal mukul kamu dengan sekuat tenaga kalau kamu minta hal yang mesum dari saya." batin sheila mengepal tangannya kuat.
Xavier menggeleng tidak habis pikir dengan apa yang di pikirkan sheila, ia merasa semua hal yang sheila tuduhkan kepadanya adalah prilaku sheila sendiri.
" Saya ngga pernah memikirkan hal yang kamu tuduhkan kepada saya. "bantah xavier.
" Lalu apa kalau bukan hal mesum yang kamu rencanakan? Kamukan memang pria bejat yang sudah melecehkan saya lalu pergi tanpa bertanggung jawab." hujat sheila.
"Jangan pernah kamu mencap saya sebagai pria bejat hanya karna saya pernah melakukan itu kepada kamu. Sayakan sudah bilang kalau saya di jebak. Kalau saya tidak di jebak saya tidak akan melakukan itu kepada kamu."
"Lagian sekarang saya ada di sisi kamu dan saya juga mengaku jika saya adalah tunagan kamu yang sebentar lagi akan menikahi kamu.jadi saya bertanggung jawab saya bukan pria pengecut seperti yang kamu tuduhkan." sambung xavier mematahkan semua tuduhan sheila kepadanya.
" Yaudah kalo gitu apa hal yang harus saya bayar untuk membalas budi kamu karna sudah membela saya?" Sheila sedikit mengurangi keketusannya, (yaa sedikit lembutlah). Mau bagaimanapun sheila tidak mau berhutang budi kepada Xavier, sheila tidak ingin hutang budinya itu di jadikan senjata untuk xavier agar bisa melancarkan semua aksi bejatnya.
" Saya mau kamu menemani saya ke pesta ulang tahun perusahaan rekan bisnis saya. "jawab xavier ogah-ogahan mengatakan itu.
Sebenarnya tadi ia berkata seperti itu hanya agar sheila mau menemaninya tapi ternyata sheila malah berpikir yang tidak-tidak dan menuduhnya sebagai pria bejat. Padahal xavier tidak mengharapkan apapun saat ia membela sheila tadi, itu semua ia ucapakan suapaya harga dirinya di mata sheila tidak jatuh.
Mendengar jawaban xavier yang terlihat serius membuat sheila tersadar jika ia baru saja melakukan ke salahan.
"Oke, saya akan menemani kamu ke acara itu."
"Lagian saya juga ngga mu ada hutang budi sama kamu. "sambung sheila lagi yang kemudian berjalan menuju brankar mamanya.
" Saya ngga boleh langsung percaya gitu aja, bisa saja di sana dia merencanakan hal-hal bejat yang dapat mengancam harga diri saya." batin sheila yang tidak mau percaya begitu saja walauoun tadi ia sempat menyesali tuduhannya yang tidak-tidak terhadap xavier.
**********
"Dari mana kamu? "leonard melihat ke arah helen yang baru saja pulang dengan wajah yang kesal.
" Pagi-pagi sudah ngilang, masalah apa lagi yang kamu buat?" tuduh leonard karna helen memang sering membuat masalah yang ujung-ujungnya leo yang membereskan kekacauan itu.
" Kamu kok nuduh aku kayak gitu? "Helen tidak terima dengan tuduhan suaminya itu, ya walaupun apa yang di katakan suaminya itu benar.
" Kenapa mas leo menuduh aku seperti ini, apa anak haram itu sudah mengadu lagi? "batin helen menuduh sheila.
" Ya apalagi kalau bukan masalah yang kamu buat. Emang kemaren-kemaren kayak gitukan." perkataan leonard membuat helen semakin kesal.
" Kenapa sih mas kamu itu selalu nuduh aku yang ngga - ngga?"
" Ooo... Aku tau karna sekarang qania dan anak haram kamu itu udah ketemu jadi kamu sengaja cari gara-gara sama aku biar kamu bisa balikankan sama pelakor itu kan? "
"Aku itu lagi bahas kamu jangan di sangkut pautkan sama mereka kenapa sih? ''
" Tapi emang itu tujuan kamu kan mas?"
Rashel yang baru saja turun dari kamarnya langsung menyaksikkan pertengkaran antara papa dan mamanya.
" Ngga ada sedikitpun, kamu yang terlalu Overthinking sama aku. "
__ADS_1
"Aku ngga Overthinking tapi_____"
"STOP plise, stop ma, pa" ucap Rachel yang segera turun menghentikan pertengkaran orang tuanya itu.
"Aku tuh capek tau ngga ngeliat mama sama papa tiap hari kayak gini terus. "
"Kalian ngga mikirin aku, gimana rasanya jadi aku?"
"aku tertekan ma, pa.setiap hari harus nyaksikin kalian ribut. "Rachel melihat mama dan papanya bergantian dengan wajah yang amat marah.
" Sekarang terserah kalian, mau ribut atau mau ngungkit-ngungkit masa lalu aku ngga peduli lagi. Terserah apa yang mama papa mau lakuin sekarang." ucap Rashel yang pergi keluar dari rumahnya.
Rashel kamu mau kemana." tahan helen.
"Kemana aja ma asalkan aku ngga denger keributan antara mama sama papa lagi." jawab Rashel yang kemudian melepas tangan mamanya.
********
Tokk...
Tokkk....
Tokk....
Sheila keluar dari ruangan mamanya karna mendengar suara ketukan dari luar yang mengetuk pintu kamar inap mamanya.
" Selamat sore Nona sheila." ucap seorang pria berperawakan tinggi dengan wajah yang juga tampan.
Sheila menyengitkan keningnya melihat pria yang berada di depan pintu rungan mamanya.
"Saya daniel, asisten pribadinya Tuan muda xavi. Saya kesini di tugaskan untuk menjeput Nona sheila. "jelas Daniel.
" jemput saya? tapi saya belum siap-siap. "sheila belum menyiapkan baju apa yang akan ia pakai di acara itu lagian sheila juga merasa jika daniel terlalu cepat menjemputnya.
" Nona tenang saja tuan muda xavi sudah menyiapkan semuanya untuk nona"
" Menyiapkan?" tanya sheila sedikit bingung.
" Iya nona, mari ikut saya!" ucap Daniel menyuruh sheila untuk ikut dengannya.
"Saya ambil tas saya dulu. "sheila masuk kedalam ruangan mamanya untuk mengambil tas juga ponselnya.
" Apa yang di siapkan pria bejat itu, jangan-jangn ia menyiapkan hal-hal aneh untuk bisa macam-macam dengan saya." pikir sheila yang masih Overthinking pada xavi.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1