
HAPPY READING GAYS!!!
Sontak Helen dan Qania menoleh ke arah seorang pria yang tiba-tiba memotong pembicaraan mereka.Qania dan helen menetap binggung ke arah pria tersebut.
Xavier menatap helen dengan tatapan tidak suka , "kamu siapa?dateng-dateng Ikut campur urusan saya." tanya helen balik menatap xavier dengan tatapan tidak suka.
Xavier tertawa sinis mendengar pertanyaan Helen
Raut wajah xavier kemudian berubah menjadi sangat serius dan marah'' Saya pria sialan yang baru saja kamu tanyakan pada calon mama mertua saya. "jawab xavier menatap tajam ke arah helen.
Helen dan qania tercengang mendengar jawaban xavier.
" Calon mama mertua? Jadi pria ini yang membuat sheila telah berani melawan dan mengancamnya waktu itu." batin Helen yang sekarang telah mengerti dengan maksud ancaman sheila waktu itu kepadanya.
" Saya heran dengan sikap anda yang tidak punya sopan santun sendikitpun." Xavier melihat Helen dari atas sampai bawah dengan tatapan mengejek.
" Maksud kamu apa, berani-beraninya kamu menghina saya?" tanya Helen yang baru kali ini di permalukan dan di hina seperti ini oleh pria yang mengaku-ngaku sebagai calon menantu Qania.
"Anda punya malu ngga sih bertanya seperti itu ke saya? "Helen semakin kesal juga tidak mengerti apa sebenarnya yang di bicarakan pria di hadapannya ini.
" Sudah di usir, sudah di hina tapi anda tidak pergi anda masih berdiri di sini." sambung xavier.
Helen mengangkat tangannya untuk menampar pria sialan yang sudah mempermalukannya itu. Harga diri dan martabatnya di injakginjak oleh pria sialan yang tiba-tiba ikut campur urusannya.
Danie mencengkram tangan Helen kuat sebelum tanggannya menyentuh pipi Xavier.
"Lepasin tangan saya. "berontak helen.
Xavier tertawa kecil mengejek prilaku helen yang sama sekali tidak mencerminkan bahwa dia orang yang beretika dan mempunyai kekuasaan di mana-mana.
Xavier beralih menatap qania," Halo tante. "Sapa Xavier menyambut tangan qania kemudian menyalaminya.
__ADS_1
" Saya xavier Alexander, calon menantu tante." ucap xavier memperjelas siapa dirinya tanpa mempedulikan ocehan Helen.
Sebenarnya xavier sengaja mengatakan nama lengkapnya agar perempuan yang menghina dan bersikap semenagmena itu tau siapa laki-laki yang sudah dia kata-katai sebagai pria sialan.
" Gimana keadaan tante?apa udah membaik? '' tanya Xavier mengalihkan topik pembicaraan karna situasinya saat ini sangat canggung apa lagi, helen masih berdiri di sana jadi tatapan-tatapan permusuhan masih terlihat jelas.
Qania masih belum bisa percaya dengan kehadiran pria yang mengaku sebagai calon menantunya itu. Ia masih ragu karna sebelumnya ia belum pernah bertemu.
" Saya kesini sengaja menemui tante, khusus"ucap xavier menekankan kata kusus untuk menyinggung helen yang masih berdiri di sebelahnya.
Awalnya qania berpikir jika xavier memandang rendah putrinya apalagi setelah percakapan mereka di telfon waktu itu. Tapi melihat xavier yang sangat sopan dan sangat menghargainya seperti ini membuat qania menepis semua prasangka buruknya pada xavier. Apalagi xavier bilang jika ia mengunjunginya secara khusus hari ini.calon menantunya itu rela meluangkan waktunya yang sangat penting dan super sibuk itu hanya untuk mengunjunginya. Tapi pertemuannya dengan menantunya itu malah terkesan tidak baik seperti ini karna keributan yang di buat oleh helen di depan ruangannya.
"Tante" panggil xavier karna melihat qania yang terlihat masih bingung dengan kehadirannya.
Xavier memegang tangan qania"Tante kenapa? "tanya xavier karna qania yang tertegun melihatnya seperti sedang menilai karakter dirinya.
Qania tersadar" Tante ngga papa." jawab qania yang mengalihkan pandangannya.
" Kalau begitu mari masuk!" ajak kania mengundang xavier untuk masuk ke dalam ruangan rawatnya.
" Tunggu, urusan kita belum selesai. "uvap helen menahan tangan qania.
" Saya ngga punya urusan apapun sama kamu. '' qania menepis tangan helen dari tangannya.
"Susah ya bicara sama orang yang urat malunya udah putus. "sindir xavier.
Namun helen tidak diam begitu saja ia beralih menatap xavier dan mulai menuduh yang tidak-tidak agar ia bisa mempermalukan xavier.
" Udah di kasih apa aja sama sheila sampai kamu mau membiayai perempuan murahan seperti dia?" tanya helen terus menghina qania.
Helen kemudian tersenyum sinis"Ooooh.... Atau mungkin sheila udah ngasih kehormatannya sama kamu makannya kamu sampai bela-belain dia seperti ini? "ucap Helen lagi untuk semakin memperkeruh suasana.
__ADS_1
Xavier tidak ada niatan untuk menjawab pertanyaan tidak penting dari perempuan stres yang berada di hadapannya itu. Bagi Xavier tidak ada gunanya meladeni perempuan yang hanya bisa menghina dan merendahkan orang lain seperti itu hanya karna ia punya kekuasaan.
Xavier menahan qania yang telah terpancing emosi dengan ucapan helen, "Tante ngga ada gunanya meladeni orang seperti perempuan itu, lebih baik sekarang kita masuk!" Xavier mengode dua pengawal yang berdiri di pintu masuk untuk mengusir helen dari sini.
"Baik tuan muda. "ucap pengawal itu yang mengerti maksud xavier.
Tidak tunggu lama para penjaga itupun langsung bergerak dan menyeret helen untuk menjauh dari ruangan qania.
" Kalian mau ngapain?" tanya helen karna para pengawal itu mengunci kedua tangannya sehingga ia sulit untuk melepaskan.
"Lepasin saya! Urusan saya itu sama perempuan murahan itu bukan dengan kalian jadi lepaskan saya." berontak helen tidak terima di usir secara paksa seperti ini.
"Heh pelakor jangan mentang-mentang calon menantu kamu itu orang kaya kamu bisa memperlakukan saya seperti ini." helen terus saja menghina dan merendahkan qania walau ia telah di seret menjauh.
"Kamu itu ngga ada apa- apanya di bandingkan dengan saya." helen berteriak karna dirinya sudah cukup jauh dari qania.
"Sudah tan ngga usah di dengarkan! "ucap xavier lagi yang kemudian menutup pintu ruangan qania.
"cukup Lepaskan saya! "penjaga itu acuh dengan teriakan-teriakan helen yang memberontak untuk melepaskan diri. Namun tenaganya kalah dengan dua orang pria yang kini memegang tangannya sangat kuat. Mereka tidak peduli dengan tangan helen yang sakit, lagian mereka juga cukup lelah menghadapi helen dari tadi. Apa lagi dengan semua ocehan dan teriakannya yang membuat kuping mereka serasa akan pecah.
"Ibuk bisa diam tidak? "bentak pengawal itu karna ocehan helen.
" Lepaskan saya!" ucap helen tidak takut dengan bentakan pengawal.
" Kami akan melepaskan ibuk ketika ibuk sudah keluar dari ruamh sakit ini." jawab penjaga satunya lagi.
" Kurang ajar, lepaskan saya!" bentak helen lagi karna saat ini ia telah menjadi pusat perhatian oleh para pasien dan para perawat yang ada di rumah sakit.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung