Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 58.kejadian itu


__ADS_3

Di sebuah bar, di dalam ruangan yang sangat ramai berkumpul begitu banyak orang dan juga rekan - rekan kerja xavier di dalamnya.


" Mari kita rayakan kemenangan tuan muda xavi. "pimpin seorang pria dengan satu gelas alkohol di tangannya. Pria itu menganggkat gelas alkohol itu ke atas mengajak orang - orang di sana untuk bersulang bersama.


Semua orang yang ada di sana mengangkat gelas mereka dan mengadu gelas mereka untuk bersulang, Xavi sebagai orang yang di sanjung dan di hormati juga ikut dalam acara tersebut. Xavi baru saja menang tender yang sangat besar jadi para rekan - rekan serta kariyawannya merayakan kemenangan tersebut dengan bersenang - senang di Bar seperti saat ini.


"Selamat ya tuan muda. "ucap para karitawan tersebut yang di angguki oleh xavier.


Di luar ruangan Stiven menatap sinis ke dalam ruangan, ia sangat benci melihat xavier yang di sanjung - sanjung seperti itu oleh para kariyawan dan rekan kerjanya.


" Jadi kapan kita akan melancarkan rencana ini? "ucap seorang pria yang duduk di sebelah Stiven. Orang tersebut memegang sebuah botol kecil berisikan obat perangsang.


Stiven beralih menatap wildan" Kita lakukan sekarang, ini waktu yang tepat karna di sini sangat banyak wanita untuk ia melimpahkan gairahnya. "jawab Stiven dengan senyum liciknya.


Wildan mengangguk," Saya juga akan menyuruh anak buah saya untuk berjaga di luar agar dia tidak bisa kabur. "


Stiven mengangguk," Ini adalah hari kehancuran kamu xavier. "Batin stiven tidak sabar dengan semua rencana briliannya.


Wildan menyuruh seorang pelayan untuk mengantarkan sebuah minuman ke dalam ruangan Xavier. Wildan menyuruh pelayan tersebut memberikannya pada xavier dan memastikannya untuk meminum minuman tersebut.


Segelas wine di antarkan oleh pelayan tersebut ke dalam ruangan Xavier.


"Permisi tuan muda, ini pesanan wine tuan muda. "ucap pelayan tersebut memberikannya pada xavier.


Xavier menyengitkan keningnya karna ia tidak pernah merasa memesan wine." Maaf saya tidak memesan wine. "tolak Xavier.


'' Memang bukan tuan muda yang memesan tapi salah satu rekan kerja tuan muda yang memesankan khusus untuk tuan muda. Dia bilang ini caranya untuk memberikan selamat atas kemenangan tuan muda karna dia harus buru-buru pergi dan tidak sempat menemui tuan muda ." jelas pelayan tersebut,karna xavier dalam keadaan mabuk jadi dia percaya begitu saja pada pelayan tersebut.


Xavier mengambil wine tersebut kemudian meminumnya dalam satu tegukan.


Semua kariyawan tersebut bersorak melihat Xavier yang sangat menikmati acara tersebut.


Setelah memastikan xavier meminum minuman tersebut pelayan itupun keluar dari ruangan dan mengacungkan jempol pada stiven juga wildan. Mereka berdua tersenyum karna rencananya berjalan dengan lancar.


"Sebentar lagi obat itu akan berjalan. "ucap wildan.


" Iya, saya sudah tidak sabar menyaksikan kehancuran dia." balas Stiven.


Setelah meminum minuman tadi xavier merasakan ada yang aneh pada dirinya. Tubuhnya terasa sangat panas dan ia merasa sanga bergairah. Ia sangat ingin melimpahkan hasratnya sekarang juga.


" Sial... Pasti ada sesuatu dalam minuman itu tadi. "umpat Xavier yang langsung berjalan keluar dari ruangan.Bagaimanapun caranya ia tidak boleh melimpahkan hasratnya di sini. Ia harus bisa melawan dan lari dari sini.

__ADS_1


Xavier melihat ada beberapan orang yang memperhatimannya, xavier merasa jika orang - orang tersebut sedang mengawasinya.


"Sial... Ternyata ini sudah di rencanakan.Bagaimanapun saya harus kabur dari sini! "batin xavier yang berjalan melalui pintu belakang.


Dengan langkah gontai xavier berlari keluar dari bar tersebut melalui pintu belakang. Namun sialnya salah satu dari orang yang mengawasinya mengetahui jika ia kabur dari sana. Mereka semua mengejar xavier sampai ke gang sempit dekat perumahan kumuh.


Di salah satu persimpangan xavier tidak sengaja menabrak seorang wanita sampai membuat wanita itu terjatuh. Karna keadaan sangat genting dan ia tidak tau akan meminta bantuan pada siapa xavierpun meminta bantuan pada wanita itu dengan imbalan uang satu miliyar.


Semua orang suruhan wildan dan stiven berpencar dan berteriak memanggil nama xavier. Mereka semua sibuk mencari keberadaan xavier yang lari dan menghilang tanpa jejak.


"Halo bos kami kehilangan jejak Xavier bos. "lapor salah seorang suruhan wildan.


" Menangkap satu orang saja kalian tidak becus...." bentak wildan yang tidak terima jika rencananya kali ini gagal.


" Maaf bos. ''


"Kalian cari xavier sampai dapat atau kalian semua tidak saya bayar!" tegas wildan yang sangat kesal dan marah pada semua anak buahnya yang tidak becus dalam menjalankan tugas.


"Xavier kabur, sepertinya dia menyadari kalau dia kita jebak. "ucap wildan menjelaskan laporan anak buahnya pada Stiven.


" Dasar Bodoh." umpat Stiven menggeram kuat tangannnya.


Stiven kembali mengingat rencananya yang gagal waktu itu coba saja jika rencananya waktu itu berhasil pasti saat ini ia tidak akan mendapati posisi seperti ini.


" Aaaaakkkhhh...... Saya akan balas kamu xavier saya akan hncurkan dan membuat kamu menderita!" teriak Stiven yang sangat kesal mengingat kepusingan yang ia hadapi saat ini..


************


"Halo bagaimana apa kamu sudah mendapatkan informasi tentang qania dan sheila?" Alexsander menelfon orang yang ia kerahkan untuk mencari informasi tentang qania. Khususnya pada sebuah kampung tempat dimana alexsander menabrak seorang pria paruh baya waktu itu.


" Soal itu kami belum mendapatkan info apapun pak. Tapi kami akan coba untuk mendatangi langsung kampung tersebut untuk menanyai pada warga sekitar. "


" Lakukan cepat, saya ingin segera tau apakah dugaan saya benar atau tidak!" tegas Alexsander.


"Baik pak." jawab orang tersebut.


Alexsander menutup telfonnya, dan berjalan menuju luar jendela memperhatikan xavier dan Sheila yang sedang berdiri di luar rumah.


"Jika dugaan saya benar, saya akan berikan salah satucabang perusahaan saya pada dia sebagai bentuk penebusan kesalahan saya waktu itu. "ucap alexsander.


***************

__ADS_1


" Hati - hati ya mas." sheila mencium tangan xavier sembari melayangkan senyuman palsunya.


" Iya sayang. '' jawab xavier mengusap puncak kepala sheila.


Sheila mencubit perut xavier, "ngusapnya ngga usah lama-lama yang ada rambut saya nanti kusut gara-gara kamu!" bisik sheila.karna di sana ada Karina, mama Xavier.


Xavier langsung menyudahi usapnnya karna bisikan serta cubitan yang di lakukan sheila padanya.


"Saya berangkat dulu! "ucap Xavier sembari tersenyum pada mamanya yang berdiri di depan pintu rumah.


" Aku berangkat dulu ya ma." ucap xavier sebelum masuk kedalam mobil.


Karina mengangguk sembari berjalan menuju Sheila.


Tak lama danielpun melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah yang besar tersebut.


"Mama senang sekali melihat keharmonisan rumah tangga kalian, pertahankan ya sayang! "ucap karina pada sheila.


" Iya ma." jawab sheila.


" Oh ya sheila... nanti mama akan pergi bertemu dengan teman - teman sosialita mama, kamu ikut dengan mama ya?!" ajak Karina.


" Ikut sama mama?" tanya Sheila ragu.


" Iya sekalian nanti mama kenalkan kamu dengan teman - teman mama." jawab karina.


"Teman - teman sosialita, pasti di sana ada Helen. Ini kesempatan bagus untuk saya memamerkan derajat serta status saya pada dia. "batin Sheila.


" Iya mama, sheila mau." jawab sheila yang langsung mendapatkan tatapan bahagia dari karina.


Di sisi lain stela, mama tiri Karina sedang memperhatikan kedekatan antara menantu juga mertua tersebut. Stela sangat tidak suka melihat kedekatan karina dengan sheil karna jika seperti ini terus akan sulit untuknya menyingkirkan sheila dari keluarga ini.


"Ini tidak bisa dibiarkan, kalau karina dan anak kampung itu semakin dekat akan sulit untuk saya menguluarkan dia dari rumah ini."


"Saya harus buat mereka bertengkar. Pokoknya posisi stiven sebagai pewaris tunggal tidak boleh di gantikan oleh xavier." gumam Stela yang mengintip dari balik jendela.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2