Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 76.Hamil?


__ADS_3

"Sheila! "


"Sheila! "


Ucap alexsander membangunkan sheila yang telah tergeletak di atas lantai.


"Udahlah pa paling juga akting, biar ngga tersudut. "ucap stela memandang remeh ke arah cucu mantunya itu.


" Bener itu mah, palingan bentar lagi juga sadar." sambung stiven.


" Xavi!" bentak Alexsander karna xavi hanya diam melihat istrinya telah pingsan seperti itu.


" Istri kamu ini benar - benar pingsan! Badannya panas, dia demam xavi. "xavi masih diam memandang sheila dan opanya bergantian.


" Kalau kamu tidak mau membawa sheila ke rumah sakit, biar opa yang bawa." ucap alexsander yang akan menggendong sheila.


" Kenapa papa jadi Care seperti itu pada sheila, padahal selama ini papa terlihat tidak peduli ? "batin Stiven yang terlihat heran dengan sikap papanya itu.


Melihat itu xavipun segera bangkit dan merebut sheila dari gendongan opanya. Dengan wajah datarnya xavi berjalan cepat menuju mobil untuk segera membawa sheila ke rumah sakit.


Stiven dan stela saling bertatapan dengan senyum miring melihat kekacauan di rumahnya.


*************


Xavi melihat sheila sesekali saat perjalan ke rumah sakit, jujur saat ini ia belum bisa mengalahkan rasa amarahnya terhadap sheila. Kalau saja bukan karna opanya mungkin xavi akan membiarkan sheila tergelak di atas lantai tadi.


Xavi menghela nafas panjang, bahkan saat ini xavi tidak bisa berfikiran positif tentang sheila. Kejadian tadi malam membuat kepercayaannya terhadap sheila hancur.


Xavi menghentikan mobilnya di depan rumah sakit dan menyuruh staf rumah sakit membawakan brankar untuk sheila.


"Anggap saja ini kebaikan terakir saya untuk kamu. " batin xavi mengangkat sheila ke brankar.


Para petugas itu langsung mendorong brankar tersebut menuju. UGD.


Lagi - lagi xavi mendengus kesal sembari melangkah mengikuti petugas yang membawa sheila.


" Maaf tuan muda, tuan muda silahkan tunggu di sini! Selama dokter memeriksa keadaan nona sheila. "ucap perawat tersebut saat xavi tanpa sadar masuk kedalam ruangan UGD.


Xavi mengangguk dan duduk di kursi tunggu yang ada di depan ruangan itu.


" Apa saya harus mengabari mama qarina untuk memberitahu kelakuan anaknya?" pikir xavi.


" Tapi..... Tidak - tidak saya tidak mau membuat mama qarina menjadi drob. "batin xavi lagi menolak pikirannya sendiri.


Sandra yang kebetulan juga bertugas di sana tidak sengaja melihat xavi yang tengah duduk menundukndi kursi ruang tunggu UGD.


Sandra mengerutkan keningnya melihat xavi yang duduk sendirian di sana dengan wajah kusut, lenuh pikiran.


"Ada apa xavi ke sini? "ucap sandra yang kemudian menghampiri xavi.


" Er? ." ucap sandra begitu ia sampai di dekat xavi.


Xavi mendongak dan melihat sandra yang kini sedang menatapnya.


" Boleh aku duduk?" tanya sandra.


Xavi mengangguk lemah sembari kembali menunduk.


" Kamu ada apa ke sini? "tanya sandra.


" sheila. "jawab xavi melihat ke arah UGD.


" Sheila kenapa? "tanya sandra pelan - pelan..


" Sheila...dia.... "


" Tuan muda." panggil perawat yang membuat xavi tidak jadi berbicara.

__ADS_1


Xavi melihat ke arah perawat tersebut," Tuan muda di tunggu dokter di dalam. "ucapnya yang di angguki oleh xavi.


" Saya.." xavi memainkan tanggannya menunjuk ke arah UGD.


" Iya.." jawab sandra yang mengerti maksud xavi.


Xavi masuk kedalam ruangan UGD dan menemui dokter yang memeriksa sheila.


" Tuan muda." sapa dokter tersebut tersenyum ke arah xavi.


"Bagaimana ke adaan istri saya dok? "tanya xavi yang sebenarnya tidak peduli dengan apapun keadaan sheila.


" untung saja nona sheila segera di bawa kesini, kalau tidak.... mungkin tuan muda akan kehilangan calon anak tuan muda. "


" Hah?... Calon anak? " ucap xavi yang terkejut dengan penuturan dokter tersebut.


"Tunggu - tunggu dok, jadi maksud dokter sheila hamil?" tanya xavi memper jelas perkataan dokter tersebut.


"Iya tuan muda, kandungan nona sheila sudah memasuki minggu keenam. "jelasnya lagi.


" Minggu keenam?.... Saya dan sheila menikah baru satu bulan dan tidak melakukan apapun. Jadi bagaimana bisa?" mata xavi membulat "atau jangan - jangan kejadian itu...." pikir xavi.


"Tuan muda? "ucap dokter itu memecah pikiran xavi.


" Iya." jawab xavi yang masih sangat terkejut dengan kabar yang ia dapatkan ini.


" Apa nona sheila meminum minuman keras? ''


" Iya dok. "


"Pantas saja, minuman keras sangat berbahaya oleh ibu hamil tuan muda apa lagi usia kandungan nona sheila yang saat ini masih terlalu muda, Nona sheila sangat rentan mengalami keguguran jika ini terjadi lagi." xavi hanya mengangguk mengiyakan ucapan dokter tersebut.


" Untuk saat ini nona sheila masih belum sadar karna masih terpengaruh obat. "


" Setelah ini kami akan memindahlan nona sheila ke dalam ruang rawat untuk melihat keadaan nona sheila.Mengingat nona sheila yang saat ini mengalami demam. Kami takut kondisi nona sheila seperti ini mempengaruhi keadaan janinnya nanti." jelas dokter itu lagi yang kemudian pamit untuk pegi.


*************


Ceklek....


Stiven membuka pintu rumah Rashel tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


Sheila yang akan keluarpun terkejut dengan kedatangan Stiven yang tiba-tiba kerumahnya. Apalagi cara stiven masuk ke rumahnya itu sangat tidak sopan..


"Stiven. "bentak rashel yang terlihat sangat kesal.


" Stiven melihat ke arah Rashel sembari tersenyum tanpa bersalah. Stiven duduk di sofa ruang tamu Rashel dengan satu kaki yang ia naikkan ke atas.


Dengan wajah yang amat kesal Rashel menghampiri Stiven dan menyuruhnya untuk keluar dari rumahnya.


'' Kamu ngapain di sini?..... Keluar saya bilang! "usir Rashel memelototi Stiven yang masih duduk santai di atas sofa.


Stiven menaikkan satu tanggannya,"uuuu santai... Saya di sini untuk mengucapkan terima kasih pada kamu." jawab stiven.


"Apa maksud kamu? "tanya Rashel pura - pura tidak tahu.


Stiven tertawa sinis mendengar pertanyan rashel yang sok tidak tahu." Sudahlah Rashel tidak usah pura - pura seperti itu... Saya tau kamukan yang sudah menjebak sheila?" ucap stiven tersenyum sinis pada Rashel.


Rashel berjalan menuju sofa dan duduk bersebrangan dengan stiven..


"Saya benar - benar tidak mengerti dengan maksud kamu." ucap Rashel masih mempertahankan kepura - puraannya.


Stiven menggeleng sembari tertawa, "Rashel - rashel saya tau persis bagaimana kamu. Kamu selalu menggunakan cara licik dan kriminal,..... tapi rencana kamu kali ini cukup bagus sih."


"Kamu berhasil membuat semua orang percaya jika sheila sudah berbuat keji dengan pria lain. "


"Oh ya,... Lalu bagaimana apa sheila sudah di tendang dari keluarga alexsander? "tanpa pertanyaan itu terlontar dari mulut Rashel.

__ADS_1


Lagi - lagi Stiven tertawa atas pengakuan Rashel yang tanpa sengaja mengakui perbuatannya sendiri.


" Ya mungkin sebentar lagi sheila akan di tendang dari keluarga alexsander. Mama dan papa xavi sudah kehilang respek pada sheila." Rashel terlihat sangat senang mendengar kabar tersebut dari Stiven. Karna rencananya berjalan sesuai keinginannya.


"Lalu bagaimana dengan xavi?" tanya Rashel lagi.


"Xavi... Dia sangat marah melihat kelakuan istrinya seperti itu. Apa lagi dia sendiri yang sydah membawa sheila keluar dari bar itu. Xavi terlihat sangat marah dan tidak peduli lagi dengan sheila." Senyum di wajah Rashel semakin lebar sasaran utamanya masuk dalam perangkapnya.


Stiven menggeleng ia tersenyum sinis melihat wajah Rashel yang tak bisa berbohong," Selain otak kriminal dan licik ternyata kamu juga bodoh. Kamu dengan gampangnya masuk kedalam perangkap orang lain. Pertanyaan - pertanyaan menjebak membuat kamu mengakui perbuatan kamu sendiri." ucap Stiven yang kemudian bangkitbdan keluar dari rumah Rashel.


Rashel terbelalak dia baru sadar jika ia baru saja mengakui perbuatannya pada Stiven.


************


" Halo pak, saya sudah menangkap orang yang bapak perintah kemarin."


" Bagus, buat dia mengakui perbuatannya,lalu kamu kirim pada saya! "


"Baik pak. "


Alexander menggegam ponselnya, vidio ini akan menjadi bukti yang akan menyelamatkan sheila dari tuduhan keluarganya.


**********


Buhg


Bugh


Bugh


"Bilang sekarang juga apa yang sudah kamu lakukan dengan wanita ini? "Orang suruhan alexsander itu memukuli pria tersebut dengan sangat brutal.


" Saya.. Say... Saya tidak tau siapa dia." jawab pria itu terbata - bata menahan sakit akibat pukulan dari para preman tersebut.


" Bilang sekarang juga atau kamu akan mati kami hajar! "ancamnya mengangkat kepalan tangannya mengarah pada wajah pria itu.


" Ampun bang... Ampun" mohon pria itu. "Saya benar - benar tidak tau siapa wanita itu.


" Kamu masih belum menjawab ya!" ucap preman itu lagi melayangkan pukulannya.


" Aaaaakkkh." rintih pria itu.


" jawab atau saya benar benar akan membunuh kamu! "


" Iya.. Iya bang iya." ucapnya yang sudah tidak berdaya.


"Saya... Saya tidak melakukan apapun dengan wanita itu. Saya bahkan tidak tau apa yang terjadi dengan saya. "


" Satu hal yang saya ingat, sebelum saya ada di sana ada dua orang wanita yang datang pada saya. Mereka menawarkan alkohol pada saya padahal pada saat itu saya sudah dalam keadaan mabuk berat."


" Banyak pertanyaan yang mereka tanyakan pada saya sampai tiba-tiba salah satu dari mereka membekap mulut saya dan setelah itu saya tidak tau apa-apa lagi." jelas pria itu.


" awas kalau kamu berbohong ! "


" Benar bang saya mengatakan itu sesuai fakta."


" Lalu apa kamu ingat dengan wajah kedua perempuan itu? "Pria itu menggeleng," saya tidak ingat karna pandangan saya sangat buram waktu itu. "


Kedua orang suruhan Alexander itupun menghempas tubuh pria itu lalu pergi meninggalkannya begitu saja.


" Pengakuan pria tadi tidak akan membuat bos puas, jadi Kita cari CCTV dekat bar sekarang juga karna CCTV di bar sudah di hapus oleh orang itu. "ucap salah satu orang suruhan alexsander yang langsung di angguki oleh temannya itu.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2