
Tok... Tokk... Tokk
Stiven mengetuk pintu rumah rashel dengan sangat semangat. Ia sangat ingin memberitahu kabar bahagia tentang keberhasilan rencananya.
"Siapa sih? "kesal rashel karna pagi - pagi begini sudah ada orang yang mengganggu kebersamaannya dengan Rico.
" Sebentar ya sayang." ucap rashel berdiri dari meja makan untuk membuka pintu untuk tamu.
Rico mengangguk, sambil terus menyantap sarapannya.
Tok.. Tok...
"Iya sebentar! "teriak rashel karna tamunya itu sangat tidak sabaran.
Ceklek...
Begitu pintu terbuka stiven langsung memeluk rashel sambil berkata jika semua rencananya berhasil.
" Semua rencana kita berhasil sel." ucap stiven menggerak-gerakkan tubuh rashel dalam keadaan masih berpelukan.
Deg
Entah kenapa dada rashel terasa berdebar saat stiven memeluknya erat seperti ini. Debaran yang sama persis ketika ia jatuh cinta pada rico dulu kini ia rasakan kembali namun dengan orang yang berbeda.
"Orang tua itu sudah masuk ke rumah sakit. "sambung stiven masih enggan melepas pelukannya karna ia sangatlah senang saat ini.
" Orang tua siapa?" pertanyaan itu membuat keduanya tersentak dan langsung melepaskan pelukannya.
" Mas" ucap rashel.
"Rico kamu ada di rumah? "ucap stiven yang juga terkejut dengan kehadiran rico.
Rico mengangguk," kalian sejak kapan sampai sedekat ini? "heran rico karna dulu stiven sangatlah tidak menyukai rashel karna sifat licik dan egois rashel.
Rashel melihat ke arah Stiven yang juga sama gugupnya dengan dirinya.
" Saya?"tanya stiven melihat ke arah rivo.
Rico mengangguk," barusan kalian saling berpelukan. "
" Bukan seperti itu mas." jawab rashel, takut jika rico salah paham dengannya.
" Itu... Itu hanya pelukan biasa, sebagai bentuk terima kasih saya pada rashel."alasan stiven.
__ADS_1
" Terima kasih? Memang apa yang sudah di lakukan rashel?"heran Rico.
" Dan orang tua tadi? Orang tua siapa? "sambubg rico yang semakin penasaran.
" Itu.. Itu saingan bisnis saya. Berkat rashel saya berhasil mengalahkan orang tua sombong itu dan sekarang dia sudah terkapar di rumah sakit."
Rashel mengerutkan keningnya, lalu melihat ke arah Rico sambil mengangguk. "iya sayang."
"Makannya saya sangat senang dan reflek memeluk rashel tadi."
Lagi - lagi rashel mengangguk.
Rico mengangguk - angguk, "ooo... Begitu" ucap rico tanpa menaruh rasa curiga.
"Kamu tidak cemburu pada saya bukan karna pelukan yang saya lakukan pada rashel? "tanya Stiven merasa tidak enak pada Rico. Karna mau bagaimanapun rico tetaplah sahabatnya dan rashel adalah istri rico.
" Hah..." Rico tertawa. "Cemburu? Tentu saja saya tidak cemburu. Itu hanya hal biasa untuk apa saya cemburu." ucap rico dengan santainya.
Mendenar jawaban Rico wajah rashel terlihat sedikit murung.
Rico merangkul pundak stiven, "ayo kita sarapan, rashel masak banyak untuk saya pagi ini!" ajak rico menarik stiven ke meja makan.
****************
Sheila membuka matanya dengan sempurna dan terbelalak saat melihat xavier tidur di sebelahnya dengan posisi berhap-hadapan. Xavi menggengam tangannya dengan erat sambil sedikit ia himpit dengan pipinya agar tidak terlepas.
"kenapa lagi - lagi saya harus menatap wajah kamu, di saat saya terbangun."
" Yang lebih saya kesalkan lagi, kenapa jantung saya harus berdebar di setiap saya berdekatan dengan kamu"
"Saya sangat marah, kesal, kecewa tapi saya juga tidak bisa menyemvunyikan rasa senang saat kamu memperlakukan saya seperti ini."
Batin sheila melihat jas xavi yang menutupi kakinya.
"Kenapa kamu harus melakukan ini kepada saya, jika kamu memang mencintai saya harusnya kamu lebih memilih saya di bandiing sandra, harusnya kamu tidak meninggalkan saya di restoran dan harusnya kamu ada di saat saya serasa ingin mati ketika mendapatkan kabar jika mama saya terjatuh dan keadaannya kritis. "
Sheila membiarkan air matanya terjatuh begitu saja ia tidak mau begerak bahkan pandangannya sulit untuk berpaling dari wajah xavi yang saat ini masih tertidur di sampingnya.
" Harusnya saat ini saya menendang kamu dari sisi saya tapi kenapa saya tidak bisa hati saya ingin kamu tetap seperti ini tapi tidak dengan pikiran saya apalagi ketika mengingat kejadin kemarin. "
Sheila langsung memejamkan matanya begitu melihat mata xavi yang telah bergerak - gerak akan bangun.
Xavi mengucek matanya untuk menormalkan penglihatnya. Xavi melihat ke arah sheila yang kini sedang memejamkan mata.
__ADS_1
" Saya tau kamu sudah bangun, saat ini kamu hanya berpura - pura tertidur. "ucap xavi pada sheila yang masih enggan membuka matanya.
" Air mata kamu masih menetes walaupun mata kamu terpejam, itu artinya kamu bangun lebih dulu dari saya!" sambung xavi lagi.
Sheila masih enggan membuka matanya walaupun sudah kepergok oleh xavi , ia masih tetap diam tanpa mau merespon perkataan xavi.
Xavi mengusap air mata sheila, "Maafkan saya, saya sudah membuat kamu menangis seperti ini. Harusnya saya tidak seperti itu kemarin, saya menyesal maafkan saya!" ucap xavi menatap wajah sheila yang sedang di jatuhi air mata.
"Kamu pasti sangat kecewa, terluka dan panik kemarin, harusnya saya ada untuk kamu tapi saya terlalu brengsek saya malah pergi menemui wanita lain tanpa memikirkan wanita yang saya cintai sakit hati. "jelas xavi.
Xavi menghela nafas sambil terus mengusap air mata sheila yang semakin berjatuhan, " Sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bermaksud untuk menyakiti kamu. Saya juga mohon jangan ragukan cinta saya keoada kamu karna saya memang benar-benar mencintai kamu."
Xavi melepas pegangan tangan sheila," saya tau pasti berat untuk kamu memaafkan kesalahan saya."
Xavi bangkit dari sofa, " Saya terima jika kamu marah, kamu kecewa kamu tidak mau bicara pada saya tapi tolong jangan terlalu lama saya tidak sanggup jika harus berlama - lama dalam keadaan seperti ini dengan kamu."
" Saya tersiksa dengan ini, jadi tolong beritahu saya apa yang harus saya lakukan supaya kamu mau memaafkan saya! "ucap xavi masih menatap sheila yang terlihat masih tidak mau membuka mata juga mulutnya.
Xavi menunduk," sepertinya kamu masih belum mau bucara dengan saya,....."ucap xavi yang kemudian berdiri dan keluar dari ruangan VVIP ruangan mama sheila.
Sheila membuka matanya setelah mendengar bunyi pintu yang tertutup. Sheila bangkit dan melihat ke arah pintu.
" Saya bukan tidak mau bicara dengan kamu tapi...... "sheila menepis air matanya.
" Saya belum siap, saya masih takut, saya takut jika kamu mengulangi ini lagi dan saya berakir seperti ini lagi lagi dan lagi."
" Mungkin dengan keadaan kita seperti ini kita bisa saling belajar untuk bisa menghargai perasaan satu sama lain. "
Batin sheila masih menatap ke arah pintu.
" Mama tau pasti sulit untuk kalian." sheila langsung berbalik ketika mendengar perkataan mamanya itu.
Sheila melihat qania yang sudah sadar sambil menatap ke arahnya dengan penuh prihatin.
" Mama mendengar semua perkataan xavi. "ucap qania yang membuat sheila semakin terbelalak.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1