Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 38. Kata-kata menyakitkan


__ADS_3

Sheila beralih menatap Xavi yang masih berdiri diam tanpa melihatnya sedikitpun.


"Sepertinya dia marah pada saya. " batin Sheila yang merasa sedih di diami seperti ini oleh xavi.


Sheila meraih tangan xavi," Jangan berfikiran buruk tentang saya, apa yang kamu lihat dan kamu dengar tadi itu ngga seperti yang kami pikirkan. Saya dan Rico tidak punya hubungan apa-apa. "


" Soal Rashel dia hanya salah paham dan menuduh saya yang tidak-tidak. "jelas sheila, entah apa yang merasuki sheila sampai-sampai ia takut sekali jika xavi salah paham dengannya.


Xavier mengerutkan keningnya," Memangnya apa yang saya pkirkan. Kenapa kamu sok tau sekali, dengan isi kepala saya?. "sontak ucapan xavi membuat raut wajah sheila berubah.


" Apapun hubungan kamu dengan Rico bagi saya itu tidak penting."


Sheila menunduk dan melepaskan tangan xavi,"Saya menjelaskan itu supaya kamu tidak berfikiran jelek tentang saya. Saya cuma ngga mau di sama-samain sama sama kamu yang tukang mainin petempuan." ketus sheila yang kemudian berjalan menuju brankar mamanya.


Xavier melihat sheila dengan tatapan tidak Mengerti dengan ucapan sheila yang tiba-tiba ketus dan menuduhnya yang tidak - tidak.


Sheila melihat xavi dengan tatapan kesal" Kamu ngapain masih di sini? Ngga ada kerjaan? "ketus sheila lagi, hatinya terasa sangat oerih saat ini mendengar ucapan xavi tadi membuatnya merasa sangat kecewa.


Xavi terlihat heran dengan sikaoe sheila yang tadinya lembut kini kembali berubah menjadi sheila yang menyebalkan kembali.


" Ini saya mau pergi." jawab xavi yang kemudian keluar.


Tak lama Sheila melihat ke luar ruangan untuk memastikan jika xavi benar-benar telah pergi " Iiiiiiiiihhhhhh........ Goblok goblok goblok" ucap sheila memukuli kepalanya. Sheila sangat menyesali perkataannya tadi. Harusnya dia tidak perlu menjelaskan apapun.


*************


Seharian di kantor membuat xavi cukup lelah apalagi dengan pikiran yang di penuhi dengan perkataan sheila tadi.


"Apa perkataan saya tadi terlalu kejam sampai-sampai membuat sheila sakit hati dan untuk menutupi itu sheila berkata ketus pada saya? "pikir xavi sembari terus berjalan maauk kedalam rumah.


" Tapi kalau di pikir-pikir perkataan saya pada sheila memang sangat kasar tadi, harusnya saya bisa lebih menghargai penjelasan sheila, bukan malah merespon seperti tadi." xavi merasa sangat bersalah dengan kata-katanya pada sheila.


Sangking fokusnya xavi memikirkan sheila, xavi sampai tidak sadar kalau ternyata mamanya sudah berada di hadapannya.


Karina mendekati anaknya yang baru saja pulang," Xavi, kamu sudah pulang?" ucap Karina menatap anaknya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Xavi, xav. "panggil karina namun anaknya itu masih tidak ngeh, xavi melangkah pelan tak tentu arah dengan pandangan mata yang enatah kemana.


" Xavi." ucap Karina sembari memukul pundak anaknya.


" Iya sheila." mulut xavi reflek menyebut nama sheila begitu mamanya memanggilnya.


"Sheila? "ucap karina" Jadi benar yang di katakan Stiven jika kamu memang sudah bertunangan dengan Sheila? "

__ADS_1


Sontak pertanyaan mamanya membuat xavi kaget.


" Mama____"


" Kamu ngga usah jawab sekarang, opa sudah menunggu kamu di ruang keluarga. Semua keluarga saat ini sudah tau kalau kamu sudah memiliki tunangan. Lebih baik kamu jelaskan di sana nanti." ucap Karina menuntun anaknya untuk pergi ke ruang keluarga.


Saat sampai di ruang keluarga xavi melihat jika papa, mama, oma, opa dan Stiven telah duduk di sana.


" Ini dia orang yang kita tunggu - tunggu. Silahkan duduk keponakanku!" ucap Stiven dengan nada mengejek mwlihat ke arah xavier.


"Perdebatan hebat akan segera di mulai. "batin Stiven tersenyum sinis ke arah xavi.


Xavier tidak mengindahkan ucapan Stiven, xavier duduk di sofa tunggal di depan opanya.


" Ada apa opa, kenapa opa ngumpulin keluarga seperti ini? Memangnya ada masalah yang seeius?" tanya xavier.


Semua orang menatap ke arah Xavier,suasana ruangan saat ini sangatlah tegang. Xavi yakin pasti ada masalah seeius yang akan di bicarakan opanaya saat ini.


" Ini tentang kamu xavi." jawan Alexander membuat xavi tidak mengerti xavi tidak pernah merasa jika ia sudah membuat kesalahan ataupun membuat masalah.


"Tentang aku, maksud opa apa? "


"pura-pura ngga tau." ucap Stiven sembari tertawa kecil.


"Kamu bisa diam!, saya tidak bicara dengan kamu. "bentak xavier yang tertuju pada Stiven.


Xavier terdiam dengan pertanyaan opanya, masalah pertunagannya dengan sheila memang belum xavi ceritakan pada keluarganya karna xavi ingin mencari waktu yang tepat agar semua yang di rencanakannya dengan sheila bisa bwlerjaln lancar dan mereka bisa segera menikah.


"Kok kamu diem, ngga sanggup bilang atau ngga mau jujur? "Stiven semakin memanas manasi suasana agar papanya bisa terpancing emosi dan suasana semakin seru.


" Stiven diam kamu, papa tidak bicar dengan kamu." tegur Karina yang sangat muak karna dari tadi adiknya iti terus saja memojoki anaknya.


" Apa yang di katakan ativen itu benar Karina kamu tidak perlu membentaknya seperti itu."balas Stela yang malah mendukung anaknya.


Firman mengelus pundak istrinya" sudah ma jangan membuat keadaan semakin buruk. "bisik Firman.


" Iya xavi dan sheila memang sudah bertunagan."


Stiven tersenyum sinis. '' benarkan pa apa ativen bilang. Coba kalau stiven tidak memberi tahu papa tadi pasti sampai sekarang xavi tidak akn mengatakan ini pada kita semua."


"Bukan begitu opa, tanpa Stiven beritahupun xavi pasti akan memberitahukan ini semua pada opa, papa dan mama." Bantah Xavi.


"Lalu kenapa setelah opa bertanya seperti ini kamu baru memberitahukan kita semua? Kalau bukan karna stiven yang memberi tahu opa pasti sampai saat ini opa tidak akan tau." Alexander masih sangat kecewa dengan sikap cucu kesanyangannya itu.

__ADS_1


Stiven merasa menang karna saat ini namanyalah yang paling di atas dari pada xavier.


" Opa merasa tidak di hargai oleh kamu seperi kepala keluarga di sini. "


" Apalagi papa dengar dari stiven kalau kamu menggunakan fasilitas Keluarga di rumah sakit. "sambung alexsander.


Xavier menggeleng," bukan seperti itu opa, mana mungkin xavier tidak menghargai opa. Apalagi opa adalah kepala keluarga dan orang tertua di keluarga ini. Orang yang paling berjasa dan paling xavier hargai. "


" Xavier sengaja belum memberitahu keluarga karna mama sheila saat ini sedang terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang sangat lemah. "


" Mama sheila saat ini sedang memerlukan donor ginjal supaya nyawanya bisa di selamatkan. Jadi xavi berpikir jika xavi mungkin akan memberitahukan ini semua setelah mamanya sheila mendapatkan pendonor dan kondisinya membaik. "


" Xavi ingin membawa sheila dan mamanya ke sini untuk bisa di kenalkan pada opa mama dan papa. "jelas Xavier.


Alah pas terpojok aja kata - kata mutiaranya keluar." ucap Stiven tidak mau papanya termakan begitu saja dengan penjelasan xavi.


"Stiven yakin pa kalau bukan stiven yang memberitahukan ini pasti xavi akan terus diam bahkan mungkin dia juga merencanakan pernikahan tanpa sepengetahuan kita." sambung Stiven kembali memanas-manasi Papanya.


"Stiven cukup jangan semakin memperburuk keadaan." bentak Firman yang dari tadi juga sangat kesal dengan Stiven.


"Kalau opa memang tidak percaya dengan penjelasan xavi, xavi akan membawa sheila ke sini besok. Kita atur makan malam bersama dia di sini. "satu ide gila lagi-lagi terucap di mulut xavi. Lagi - lagi ia berkata tanpa tau bagaimana cara membawa sheila ke rumahbya. Sudah tau hububgannya dengan sheila saat ini sedang tidak baik tapi sekarang bisa - bisanya dia berkata seperti itu di hadapan seluruh keluarganya.


Baik opa tunggu dia besok. "ucap Alexsander yang kemudian meninggalkan ruang kekuarga


" Papa papa mau kemana, papa belum memarahi xavi loh. Semua ini belum jelas pa! Pa.... Papa!" teriak Stiven karna tidak puas dengan semua ini.


" Sudah biar mama yang mengejar papa kamu."ucap stela yang kemudian berdiri menyusul suaminya.


" Kamu benar akan membawa perempuan itu ke sini? Apa kalian sudah siap? "


" Kamu tau bukan bagaimana sikap opa kamu?"


Tanya karina dan Firman bergantian.


Xavier mengangguk walaupun sebenarnya ia ragu untuk itu. Xavier tau bagaimana sikap opanya yang suka sekali mengintrogasi setiap siapapun yang akan masuk atau bergabung ke keluarga Alexander. Alexander akan menyelidiki bibit bobot orang tersebut.


Tapi saat ini bukan itu yang xavier pusingkan, saat ini xavier sangat memusingkan bagaimana cara xavier mengajak Sheila untuk bisa datang ke rumahny dan di kenalkan ke seluruh keluarga.


"Akkkhhh.... Saya bru saja terjebak dengan kata-kata saya sendiri. " batin Xavi yang sangat pusing dengan masalahnya.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2