
Xavi terdiam, xavi sadar jika ia baru saja melakukan kesalahan.
"Xavi sheila hamil? "tanya Karina.
Xavi masih diam ia bingung akan menjawab apa di saat semua orang menunggu jawabannya.
" Xavi jangan diam saja, kmi semua menunggu jawaban kamu! "ucap alexsander yang juga terkejut dengan ucapan cucunya tadi.
Xavi merasa sangat terpojok apalagi sekarang sheila sedang menatapnya dengan tatapan penuh amarah," Iya, sheila hamil. "jawab xavi melihat kepada semua orang.
" Alhamdulillah...akirnya kita punya cucu dari xavi pa." ucap karina yang terlihat sangat senang.
" Yaampun mama seneng banget." ucap karina tersenyum melihat ke arah sheila dan xavi.
Sheila berusaha untuk tersenyum walau sebenarnya ia sangat marah dengan xavi.
Stiven yang juga ada di sana menatap keduanya dengan sangat tidak suka. Keponakannya itu sekarang sangat di sanjung - sanjung dan di banggakan dalam keluarganya. Stiven sangat tidak suka dengan kebahagian itu, mau bagaimanapun ia mau xavier juga merasakan apa yang dia rasakan saat ini.
"Lihat saja kandungan istri kamu tidak akan bertahan lama,. "batin stiven.
Begitupun demgan stela yang juga ada di sana, ia juga tidak suk melihat krlurga xavi bahagia apalagi suaminya juga terlihat sangat bahagia mendapatkan kabar tersebut.
" Ini tidak bisa di diami lagi, saya harus segera menyingkirkan perempuan ini. "batin stela.
****************
" Mas sekarang jelaskan pada saya apa maksud semua tadi, kamu berbohongkan?" sheila menuntut penjelasan xavi di saat mereka telah berda di dalam kamar seusai makan malam tadi.
Sheila memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing," Saya tidak mungkin hamil... "ucap sheila.
" Kamu hamil,apa itu kurang jelas?" tanya xavi yang kemudian mengambil hasil USG yang di berikan dokter kepadanya waktu itu.
"Kamu lihat ini, itu hasil USG kamu. Apa sekarang kamu masih tidak percaya?"
Sheila mengambil kertas yang di berikan xavier kepadanya, sheila melihat dan memeoerhatikan kertas tersebut. "Ngga... Ngga mungkin ini pasti dokter salah USG. Saya itu ngga hamil." tolak sheila yang tidak mau jika ia mengandung dari pernikahan yang bahkan tidak ia inginkan ini. Tujuannya menikah dengan xavi hanya untuk membalas dendam.
"Dokter tidak mungkin salah sheila, kamu harusnya sadar dan bisa merasakan sendiri perubahan dalam tubuh kamu. "
"Saya... Saya baik - baik saja. Mentruasi saya.... "sheila terdiam ia baru sadar jika sudah hampir dua bulan ini ia belum menstruasi.
Bahkan akir - akar ini ia juga merasa jika tubuhnya mudah lelah dan ia sangat sensitif dengan bau - bau yang menyengat.
" Kamu yang kurang menyadari perubahan dalam diri kamu. "ucap xavi.
" Oke... Tapi saya tidak mau hamil apa lagi anak kamu, kamu tau kan saya melakukan pernikahan ini hanya untuk membalas dendam pada keluarga papa saya."
__ADS_1
" Lalu kamu mau apa,mau menggugurkannya? Kamu mau menjadi seorang pembunuh?" tanya xavi.
"Jika memang itu mau kamu lakukan, saya juga tidak bisa melarang karna itu tubuh kamu bukan tubuh saya." ucap xavier.
Sheila sangat kesal dengan ucapan xavi itu, ia yang membuatnya sampai seperti ini lalu sekarang apa? Dia mau lepas tangan begitu saja? Tidak akan sheila biarkan mau bagaimanapun xavi harys ikut menderita karna ulahnya ini.
Sheila mencengkram kerah baju xavier, dan menariknya mendekat, "Kamu pikir kamu bisa lepas tangan seperti ini? , kamu harus ikut merasakan bagaimana rasanya hamil seperti yang saya rasakan!" tegas sheila menatap xavier dengan sangat mengerikan.
Xavi menelan ludah saat sheila meninjit untuk bisa mencengkram kerah bajunya seprti ini.xavi cukup terkejut dengan teriakan tegas yang sheila lontarkan kepadanya. Xavi dan sheila saling bertatapan xavi masih diam larut dalam keterkejutannya melihat sikap sheila.
Tatapan amarah sheila mereda melihat xavi yang menatpnya dengan tatapan konyol menurutnya, matanya yang membulat melihat ke arahnya dan wajah yang tegang terlihat sangat lucu bagi sheila.
Sheila melepas cengkramannya dan mendorong xavi lalu pergi masuk kedalam toilet karna ia tidak sanggup lagi menhan tawanya.
Sheila tertawa sepuasnya saat ia telah berda di dalam toilet. Wajah xavi tadi sangat menggelitik baginya. Amarahnya tadi seketika lenyap karna wajah xavi yang sangat konyol seperti itu.
**************
"Mama sudah tidak tahan lagi stiven, pokoknya kita harus segera menyingkirkan wanita itu. Anak yang ia kandung tidak boleh sampai lahir! "
"Aku tau ma, aku juga tidak akan membiarkan itu terjadi."
Stela melihat ke arah anaknya.
"Kita tidak bisa melakukan cara itu ma." tolak stiven.
"kenapa tidak? Kamu mau tunggu apalagi? Kamu selalu bilang pada mama kamu akan segeraenyingkirkan sheila tapi sampai sekarang apa? Perempuan itu masih ada di rumah ini."
Stiven menghela nafas, mendengar ucapan mamanya itu.
"Jika mama menggunakan cara seperti itu papa akan langsung tau jika dalang di balik itu mama."
"Bahkan cara licik yang di lakukan orang pada sheila kemarin dengan mudah di ungkap oleh papa, bagaimana jika hanya cara yang mama lakukan tadi? "sambung stiven.
" Lalu kita harus apa sekarang? Kamu mau terus - terusan menyaksikan mereka bahagia?"
" Tentu saja tidak ma, kita harus hancurkan kelemahan terbesar sheila."
" Maksud kamu? "
" Qania, mamanya sheila. Kita harus bisa membuat dia drob dengan begitu sheila pasti akan stres dan tidak akan ada waktu untuk mengurus rumah tangganya bahkan memikirkan dirinya sendiri. "
" Dan akan lebih baik lagi kalau kita bisa membuat qania meninggal. Mama pasti kebayangkan bagaimana keadaan sheila nantinya jika itu terjadi? "
Stela tersenyum melihat ke arah anaknya itu. Ide brilan itu sangat ampuh untuk menghancurkan sheila bahkan bisa menggugugurkan kandungannya sekaligus.
__ADS_1
" Kamu benar stiven, kamu hebat. Memang sudah saatnya dia menderita." ucap stela tersenyum bahagia mendengar rencana anaknya itu.
*************
Rashel masuk kedalam ruangan Rico, seharian tidak ada kabar apapun dari Rico kemarin bahkan ia tidak pulang ke rumah setelah apa yang terjadi pada mereka kemarin.
'' Mas, kamu kenapa ngga pulang kemarin? "tanya Rashel berdiri di depan meja kerja Rico.
Ricoenatap Rashel dengan tatapan sinis.
" Kamu pikir saya bisa pulang setelah apa yang sudah kamu lakukan apada saya? "
Rashel mengerutkan keningnya," apa maksud kamu mas, aku tidak melakukan apa - apa. "
" Tidak usah pura - pura bodoh rashel. "ucap Rico melempar hasil tes laboratorium terhadap minuman yang di berikan rashel kepadanya kemarin.
Rashel melihat kertas yang di lemparkan rico kepadanya.
" Kamu memasukkan obat perangsang dalam minuman saya, kamu sudah gila ya? Tega - teganya kamu melakukan itu pada saya. "ucap Rico tidak habis pikir.
'' Harusnya kamu tau kenapa aku melakukan ini pada kamu? Kamu tidak pernah menyentuh aku mas bahkn setelah kita menikah sekalipun. Yang ada di pikiran kamu hanya sheila Sheila dan sheila."
"Lalu sekarang kamu menyalahkan aku karna aku melakukan ini? Bukannya ini sudah sewajarnya di lakukan oleh sepasang suami istri?"
Rico menggeleng tidak habis pikir dengan perbuatan Rashel, istrinya itu memang sudah sangat gila. Dia tidak menyesali sedikitpun perbuatannya.
" Kamu memang tidak penah mengakui kesalaha kamu sendiri. Kamu selalu melampiaskan kesalahan kamu pada orang lain. "
"Mas! Kenapa kamu membesar - besarkan persoalan ini? Yang aku ingin sekarang kita pulang hidup seperti keluarga lainnya. Bukan mempermasalahkan masalah kecil seperti ini."
"Masalh kecil, ini masalah kegilaan kamu. Bahkn sekarang saya jadi kepada istri saya sendiri di bandingkan harta warisan saya sendiri." ucap Rico yang kemudian keluar dari ruangan.
"Saya akan kembali setalah kamu menyadari semua kesalahan kamu. "ucap Rico sebelum ia pergi"
"Aaakkh..."kesal rashel menendang kursi yang ada di depannya.
" Kenapa sih semua perbuatkan aku selalu salah di mata kamu mas?" ucap Rashel berteriak di dalam ruangan Rico.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1