Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 25.Perusak suasana


__ADS_3

FLASHBACK


Stiven berjalan- jalan menggunakan kursi roda, komdisinya yang belum memungkin untuk jalan membuatnya terpaksa harus menggunakan kursi roda. Stiven bosan jika terusgterusan berada dalam ruangan rawatnya, stiven butuh udara sekarang dan pemandangan agar ia bisa sedikit merasa bebas. Namun di saat stiven sedang berjalan-jalan di lorong rumah sakit stiven tidak sengaja melihat xavier yang terlihat sangat terburu-buru. Karna penasaran stivenpun mengikuti xavier secara diam-diam.


Karna kesulitan mendorong kursi rodanya sendiri stivenpun meminta bantuan pada perawat untuk mendorong kursi rodanya untuk mengikuti xavier.


Stiven mengerutkan keningnya begitu xavier masuk kedalam ruangan VVIP khusus anggota keluarga alexsander. Dalam benaknya Stiven memikirkan siapa dari anggota Alexander yang sakit.


Stiven menyuruh perawat yang membantunya untuk pergi setelah stiven tau ke mana tujuan xavier.


Stiven mendorong kursi rodanya sendiri untuk masuk kedalam ruangan tersebut. namun saat stiven akan masuk dua penjaga yang berjaga di sana malah menghalangi stiven.


"Maaf pak bapak tidak bisa masuk ke ruangan ini kecuali ada izin dari mbak sheila atau tuan muda. "Cegat penjaga itu.


" Saya tidak perlu izin dari mereka karna saya adalah Stiven Alexander paman dari Xavier Alexander." ucap Stiven.


"Saya lebih berkuasa dari xavier jika kalian masih berani menghalangi saya, saya akan pastikan kalian akan kehilangan pekerjaan kalian dan bukan cuma itu saya juga akan menyuruh papa saya untuk menuntut kalian karna sudah berlaku tidak sopan kepada anak pemilik rumah sakit ini. "ancam Stiven yang membuat nyali para penjaga itu ciut. Para penjaga itu akirnya pasrah dan membiarkan stiven masuk.


*******


Xavier dan sheila langsung berdiri begitu Stiven datang. Mereka sama-sama terkejut karna kehadiran stiven yang tiba-tiba.


" Stiven? "xavier menatap stiven dengan penuh tanda tanya begitupun dengan sheila yang tidak tau siapa yang telah masuk kedalam ruangan mamanya tanpa seizinnya.


" Siapa kamu?" tanya sheila.


Stiven tersenyum sinis ke arah sheila dan mengabaikan pertanyaan sheila.


"Hai keponakan. "sapa stiven tersenyum ke arah xavier. Stiven mendorong kursi rodanya untuk semakin mendekat ke arah xavier.


" Keponakan?" pikir sheila dengan ucapan pria yang ada di hadapannya itu.


" Mau ngapain kamu? '' ketus xavier pada stiven.


Lagi- lagi stiven mengeluarkan senyuman sinis khasnya," Harusnya saya yang nanya seperti itu ke kamu. "jawab stiven dengan nada bicara penuh sindiran.


Stiven beralih menatap wanita paruh baya yang terbaring di brankar rumah sakit, sepertinya wanita itu bukanlah kerabat dari keluarga Alexander.

__ADS_1


" Gimana mainnya seru?" lanjut stiven yang memunculkan amarah sheila dan xavier.


"JAGA MULUT KAMU! "kompak sheila dan xavier.


Stiven bertepuk tangan mendengar jawaban dari sheila dan xavier," pasangan yang romantis. "sambung stiven semakin memanas-manasi xavier.


" Xavi... xavi ternyata kamu ngga sebaik yang keluarga selama ini pikirkan ya, kamu itu ternyata ngga ada bedanya sama saya."


" Kamu sama brengseknya dengan saya, di depan keluarga aja kamu sok jadi anak yang baik tapi tanpa keluarga tau kelakuan kamu..... "Stiven berdecak sambil menggeleng kan kepalanya.


Xavier menggeram mengepal tangannya untuk memukul pamannya itu.ternyata pukulannya yang bertubi-tubi kemarin tidak membuat stiven jera tapi malam semakin mencari ribut dengannya.


" Emang ngga ada tempat lain ya selain di rumah sakit?" sambung stiven lagi.


"Apa lagi pakai ruangan VVIP kusus keluarga dengan menempatkan wanita tua itu di sini. "ucap stiben menunjuk qania yang terbaring lemah di brankar tidak jauh dari tempatnya.


" Itu perempuan tua kalo sadar gimana kamu ngga mikir ya? Apa lagi kalau perempuan tua itu liat kelakuan bejat kamu."


" Harusnya kalo mau macem-macem itu di hotel bukan di rumah sakit."


"Jangan kayak orang miskin deh, apa perlu saya bayarin. "


PARR...


" Jaga ucapan kamu !!! wanita yang kamu hina tadi itu adalah mama saya." bentak sheila.


"Dan saya ngga macem-macem di sini. "


"Kalo kamu ngga tau gimana kejadiannya jangan asal bicara. "


"Dan satu hal lagi harusnya dengan kondisi kamu seperti ini kamu lebih menjaga kesehatan dan kesembuhan kamu jangan gunain bacot dan tenaga kamu itu untuk menghina orang. "


Stiven memegang pipinya yang di tampar oleh sheila, stiven menatap sheila dengan tatapan tajam. "Kamu berani menyentuh saya? Kamu tau saya siapa?" bentak Stiven.


"Saya ngga perlu tau siapa kamu dan saya juga ngga mau tau tentang kamu. Yang saya mau sekarang kamu pergi dari ruangan mama saya. "usir sheila.


" Rumah sakit ini punya papa saya yang harusnya pergi dari sini itu kamu." balas stiven yang juga mengusir sheila.

__ADS_1


" Ini memang punya kakek tapi bukan berarti kamu berkuasa di sini." ucap xavier ikut berbicara karna sebenarnya dari tadi ia memang sangat geram dengan stiven.


Tapi kakek kamu itu papa saya jelas saya berkuasa di sini.


"Sejak kapan kakek mewariskan rumah sakit ini ke kamu? Kakek bahkan tidak pernah menyinggung sedikitpun tentang harta kekayaannya untuk kamu. Harusnya kamu sadar diri. "


"Papa saya juga tidak pernah mengatakan jika ia mewariskan rumah sakit ini ke kamu jadi jangan sok berkuasa di sini."


"Yasudah kalau begitu kita impas, kekuasaan kita berarti sama jadi ngga usah ada yang sok di sini. "


"Dan lebih baik sekarang kamu pergi dari sini karna ruangan kamu bukan di sini!" usir xavier.


"Saya berhak pergi ke manapun dan menetap di ruangan manapun."


"Ini ___"


"STOP" sheila berteriak keras menghentikan pertengkaran antara dua saudara itu.


"Ini ruangan mama saya kalau kalian mau ribut, ribut di luar!!! "ucap sheila menunjuk ke arah pintu keluar.


Sheila berjalan mendekat ke stiven dan langsung mendorong kursi roda stiven ke luar dengan cepat.


"Hei berhenti, saya bilang berhenti!!" stiven berusaha memberontak agar ia bisa tetap di ruangan itu, stiven belum puas dengan ucapannya sebelum ia bisa mencoreng nama baik stiven.


"Kamu akan saya tuntut jika kamu tidak berhenti sekarang juga!"


Sheila tidak mempedulikan ucapan stiven dan masih mendorong kursi roda stiven. Sesampainya di pintu sheila menendang kursi roda stiven sehingga stiven hampir saja terjungkal kalau saja pengawal yang ada di pintu sheila tidak memegang kursi roda stiven.


"Jangan pernah kamu masuk ataupun mampir ke ruangan mama saya lagi! "ucap sheila yang kemudian masuk dan mengunci pintu ruangannya.


" Kurang ajar tu cewek liat aja saya pastiin dia bakal terima pembalasan dari saya."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


Ganggu aja tuh stiven, bisanya ngerusak suasana aja!


__ADS_2