Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 40.Saran tak berguna


__ADS_3

Disaat yang bersamaan Danielpun masuk kedalam ruangan Xavier. Kaget dengan adanya orang yang masuk kedalam ruangannya xavierpun langsung mendongak dan melihat orang sudah tidak sopan masuk kedalam ruangannya.


"Daniel. "ucap Xavier begitu tau ternyata orang itu adalah daniel, asisten pribadinya.


Daniel melihat xavier yang terlihat sangat pusing dan wajah yang sangat kusut.


" Keluar kamu! Saya paling tidak suka jika ada orang yang masuk ke ruangan saya tanpa mengetuk pintu. "


Daniel mengerutkan keningnya, "Maaf tuan muda tapi dari tadi saya sudah mengetuk pintu ruangan tuan muda tapi tidak ada jawaban apapun dari tuan muda makannya saya masuk." jelas daniel,tidak biasanya Xavier seperti ini apalagi di kantor seperti ini. Daniel yakin jika apa yang di pikirkan xavier saat ini bukanlah masalah kantor,tapi pasti ada sesuatu yang bersangkutan dengan sheila.


Xavier kembali memegangi kepalanya karna masalahnya dengan sheila ia sampai-sampai tidak fokus seperti ini.


Daniel meletakkan berkas yang ia bawa ke atas meja xavier, daniel duduk dan bertanya tentang masalah yang di alami xavier saat ini.


"Tuan muda lagi mikirin apa, kenapa tuan muda terlihat sangat banyak pikiran seperti ini bahkan tuan sampai tidak fokus? "


Xavie menghela nafas panjang, "ini tentang perempuan itu." jawab xavier yang memunculkan senyum di wajah daniel.


"Nona Sheila, maksud tuan muda? "


"Hmmm... "jawab Xavi sembari mengangguk mengiyakan pertanyaan daniel.


Daniel menahan tawanya karna ternyata dugaannya benar." Memang apa yang terjadi dengan nona sheila sampai membuat tuan muda sepusing ini sekarang? "


" Dia meminta saya untuk mengembalikan moodnya yang hancur karna perkataan saya yang terlalu kasar dengan dia kemarin. "


Walau daniel hanyalah asisten pribadinya tapi xavier tidaklah menganggap daniel sebagai orang asing. Daniel adalah orang yang sangat di percayai oleh xavi, daniel adalah kariyawan sekaligus sahabat untuk xavi.


" Saya tidak tau harus melakukan apa untuk dia bisa memaafkan saya. "


"Dan yang lebih parahnya lagi malam ini opa meminta saya untuk membawa sheila ke rumah untuk di kenalkan kepada seluruh keluarga. "


Xavier menjelaskan masalahnya yang sangat rumit itu pada Daniel, xavier tidak tau bagai mana cara untuk membujuk seorang wanita karna selama ini xavier tidak pernah mendekati wanita manapun.


" Kenapa tuan muda tidak mencoba membelikan nona sheila bunga dan coklat, karna biasanya wanita sangat suka dengan itu." ucap Daniel memberikan solusi pada xavi.


"bunga dan coklat?"


"Iya tuan, saya lihat banyak pasangan-pasangan di luar san yang memberikan itu kepada kekasihnya. "


"Saya kira kamu yang melakukannya. "ucap xavi yang hanya di senyumi oleh Daniel. Karna jujur saja dia belum pernah melakukan itu. Mau ngasih bunga sama coklat ke siapa pacar aja ngga punya.


" Percuma saya minta saran sama jomlo seperti kamu" ucap xavi yang kemudian bangkit dan berjalan keluar dari ruangannya.


Daniel menggeleng, "percuma tapi pergi." ucap daniel melihat xavi yang keluar dari ruangannya. Daniel tau pasti xavi akan melakukan saran darinya. Xavi mengatakan itu hanya tak ingin ia di anggap payah oleh daniel.


Tak lama danielpun juga ikut keluar dari ruangan xavi.


***********


Rico pergi ke kediaman keluarga alexsander, rico ingin menemui Stiven untuk menceritakan sakit hati yang ia rasakan saat ini.

__ADS_1


"Silahkan masuk tuan. "ucap maid yang bekerja di sana.


Ricopun masuk dan langsung berjalan menuju kamar Stiven.


Suasana rumah stiven saat ini sangatlah sibuk, para maid-maid di sana sibuk mempersiapkan makanan.


" Sepertinya akan ada acara malam ini." batin rico.


Rico terus berjalan menuju kamar Stiven tanpa mempedulikan kesibukan tersebut.


Ceklek..


Rico melihat ke arah Stiven yang terkapar pulas di tempat singgasan ternyamannya. Stiven tidak tau Rico masuk kedalam kamarnya karna Sangking kebonya Stiven.


Rico mengambil satu bantal dari kasur stiven,lalu melemparkannya kuat ke depan wajah Stiven.


Jelas saja pukulan kuat yang mendarat di wajahnya membuat stiven tersentak dan langsung melihat ke orang yang sudah berani-beraninya memukul aset berharganya.


"Kurang ajar. "umpat Stiven namun orang yang di umpati malah bersikap biasa saja. Rico malah berbaring dan bersikap seolah olah dia tidak melakukan kesalahan apapun.


" Kamu ngapain ke sini?, Kamu itu mengganggu waktu istirahat saya. "kesal Stiven melihat Rico yang malah menikmati kenyaman singgasananya.


" kamu bisa diam tidak, saya itu lagi galau berat gara-gara keponakan sialan kamu itu. "ucap Rico dengan mata terpejam.


Stiven mengerutkan keningnya mendengar perkataan Rico,karna selama ini Rico dan Xavier tidak pernah memiliki masalah apapun bahkan Rico tidak ingin ikut capur dengan urusan Stiven dan xavier.


" kamu punya masalah apa dengan xavi?" tanya stiven penasaran.


Rico membuka matanya lalu duduk dan meliht Stiven, "Wanita idaman yang saya ceritakan ke kamu ternyata adalah tunangan keponakan kamu."


Rico menggeleng, "Dia berkata seperti itu cuma untuk menenagkan saya waktu saya bertengkar di bar."


Rico menghela nafas kasar, "saya ngga nyangka saya bakal sepatah hati ini sekarang. Baru kali ini saya di kecewakan oleh seorang wanita yang sangat saya harapkan." jelas Rico.


Stiven terdiam mendengar perkataan Rico, stiven sibuk dengan pikirannya sendiri. "Ini saatnya saya memanfaatkan Rico untuk bisa membatalkan semua rencana xavi. Dengan adanya Rico saya tidak perlu repot-repot untuk mendekati sheila. Saya bisa menggunakan Rico agar bisa menghancurkan hubungan mereka dengan begitu rencana pernikahan di antara mereka akan batal dan apapun rencana busuk Xavi pasti juga akan hancur berantakan. "Xavier tersenyum sinis dengan ide brilian yang baru saja ia pikirkan. Di saat situasi Rico yang galau saat ini masih sempat-sempatnya Stiven memikirkan keuntungan untuk dirinya .


" Kenapa kamu tidak rebut sheila dari xavi? "ucap stiven yang mendapat pelototan dari Rico.


***********


Xavier berjalan di lorong rumah sakit dengan membawa satu kuntum bunga dan sebatang coklat tangannya. Xavier menyempatkan diri untuk mampir ke toko bunga dan mini market terdekat untuk bisa membelikan semua saran dari daniel tadi. Walau xavi menganggap saran dari daniel ini percuma tapi tetap saja ia mengikutinya. Karna tidak ada ide lain yang terpikir oleh xavi selain mengikuti perkataan Daniel tadi.


Xavier mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk ke ruangan mama sheila.


Saat sampai di dalam ruangan xavier menyembunyikan bawaannya di belakang punggu. Xavier berjalan mendekat ke sheila yang sedang duduk di sofa sembari melihat majalah. Sheila terlihat sangat acuh dengan kedatang xavi.


Xavi berusaha untuk tersenyum di hadapan sheila, Sesampainya di dekat sheila xavi langsung menyodorkan bunga serta coklat bawaanya.


Sheila dan xavi saling beradu tatap"Ini untuk kamu supaya mood kamu kembali membaik. "ucap xavi sembari memasang senyum paling iklasnya di hadapan sheila.


Bukannya senang atau mengucapkan terima kasih tapi sheila malah menjauh dari barang yang di bawa oleh xavi.

__ADS_1


Haciun.. Hacun... Hacun


Sheila menutup mulutnya yang tak henti - hentinya bersin. Hidung sheila langsung memerah, sheila bergerak semakin menjauh dari bunga yang di bawa oleh xavi.


"Kamu kenapa? "heran xavi dengan reaksi sheila yang tak sesuai dengan exspektasinya.


" Stop, kamu diam di situ jangan mendekati saya!! ." ucap sheila dari pojok dinding ruangan.


" Ya tapi kenapa?" heran xavi.


" Saya elergi dengan bunga. "ucap sheila.


Xavi melirik bunga yang ia bawa," Tapi inikan bunga mawar sheila kenapa kamu bisa elergi? "


" Ngga penting bunga apapun itu. Lebih baik sekarang juga kamu buang bunga itu sebelum elergi saya semakin buruk!"pinta sheila yang masih tak henti-hentinya bersin.


Mau tidak mau xavipun menurut lagian ia juga tidak ingin sheila sakit karenanya. Sebelum pergi xavi meletakkan coklat bawaannya di atas meja terlebih dahulu.


" Buang yang jauh!" teriak sheila.


Dengan raut wajah yang kembali kusut xavipun keluar dengan membawa sekuntum bunganya.


Bersin sheilapun mulai berhenti walaupun hidungnya masih memerah.


Sheila kembali berjalan menuju sofa. Sesampainya di sana sheila melihat sebatang besar coklat dengan secarik kertas di atasnya tergeletak begitu saja.


Sheila mengambil coklat itu dan membuka isi kertas tersebut.


"Saya minta maaf“


Isi tulisan yang ada di sana." Kenapasa saya malah berasa bersalah seperti ini karna telah mengerjainya seperti ini? "batin sheila melihat perjuangan xavi yang sebegitunya meminta maaf padanya. Padahal sebenarnya tada sheila hanya ingin mencari cari alasan agar xavi datang ke rumah sakit. Sheila tidak menyangka jika xavi menanggapi seserius itu perkataannya.


Sheila berlari keluar ruangan untuk mencari xavi sheila yakin pasti xavi belum jauh.


Pak apa bapak lihat xavier kemana? "tanya sheila pada penjaga yang berjaga di depan pintu.


" Iya non, tadi tuan muda jalan ke arah sana." tunjuk penjaga itu menujuk ke bangsal depan rumah sakit.


Sheilapun berterima kasih lalu berlari menuju bangsal depan. Tak berapa lama sheilapun langsung menemukan xavi.


"XAVI! "teriak sheila menghentikan langkah xavier.


Xavier berbalik dan melihat sheila yang berdiri tak jauh darinya.


" Saya sudah memaafkan kamu." ucap sheila sembari tersenyum.


Mendengar itu xavipun tersenyum dan langsung berjalan mendekat, begitupun dengan sheila yang juga ikut melangkah untuk mendekat.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung


__ADS_2