
" Aaaakkh." rintih sheila masih memegangi kepalanya yang terasa masih sakit.
Sheila melihat sekeliling dan melihat ke arah tangannya yang saat ini sedang di imfus.
Sheila menghela nafas, "Saya di rumah sakit?" batin sheila.
Sheila melihat ke arah xavi yang saat ini sedang tertidur di atas sofa.
"Andai saja kamu bisa percaya sedikit saja pada saya, pasti kamu akan menjadi pembela untuk saya di saat semua keluarga kamu memojokkan saya."
"Tapi..... Sudahlah." sheila memalingkan wajahnya, "Saya akan membuktikan sendiri pada kamu dan keluarga kamu jika saya memang di culik malam itu."
Sheila berusaha bangkit, kehadirannya saat ini belum bisa di terima sebelum ia bisa membuktikan pada keluarga xavi jika dirinya tidak bersalah. Dia hanya di jebak dan tidak melakaukan apapun seperti yang di tuduhkan keluarga xavi. Ia tidak bisa berada di sini di saat semua orang tidak ada yang memepercayainya, sheila pikir lebih baik ia pergi untuk menenagkan diri sebentara sambil mencari bukti untuk bisa mengembalikan keadaan seperti semula.
Sheila menahan sakit saat ia mencabut selang imfus dari tangannya.
"Aaaaa... "sheila mengibaskan tangannya beberapa kali.
Sheila turun dari brankarnya pelan - pelan agar xavi tidak terbangun.
" Saya pergi bukan untuk lari, tapi ini cara saya menyelesaikan masalah. Saya ingin mencari buktibdengan tenang." batin sheila menatap xavi sebelum ia keluar.
Ceklek...
Pintu ruangan itupun tertutup dengan langkah kaki yang terdengar samar - samar.
Xavi membuka matanya sambil menatap brankar sheila yang telah kosong." Saya tau kamu akan melakukan ini. "ucap Xavi yang kemudian meraih ponselnya untuk menelfon daniel.
" Dia pergi, "ucap Xavi pada daniel.
"Cari dia dan bawa dia ke apartemen. Saya tau dia butuh ruang sendiri. "ucap xavi yang kemudian menutup telfonnya.
***************
Sheila sesekali melihat kebelakang memastikan jika xavi atau mata - mata xavi tidak mengikutinya.
" Nona sheila." sheila terperanjak saat mendengar suara itu. Sheila terelalak begitu melihat daniel yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
"Daniel? "ucap sheila masih terkejut dengan kehairan daniel.
" Kamu kenapa ada di sini?" tnya daniel.
" Saya... Saya" sheila terlihat sangat gugup ia tidak tau akan menjawab apa.
'' kamu mau pergikan? "tanya daniel lagi.
" ngga.. Saya eeeeeee..... "
" saya punya tempat yang aman untuk kamu bisa pergi. "ucap daniel menawarkan.
" Tuan muda dan keluarganya tidak akan tau." sambung daniel lagi meyakinkan.
__ADS_1
" Saya tau kamu pasti saat ini butuh ruang sendiri umtuk bisa berfikir dan menghadapi masalah kamu."
Sheila menatap daniel," Apa saya bisa percaya dengan daniel?" batin sheil yang ragu.
" Saya tidak akan menawarkan ini dua kali jadi putuskan sekarang sebelum tuan mudaenyadari jika kamu sudah tidak ada di dalam ruangan!" desak daniel.
" Mungkin ini pilihan terbaik untuk saya, lagian saya juga belum punya tujuan saat ini. "batin sheila.
" Oke, saya ikut dengan kamu." jawab sheila yang memunculkan senyum di wajah daniel.
" Pilihan yang tepat,ayo ikut saya!" ucap daniel menuntun sheila keluar dari rumah sakit.
Di sisi lain xavi. Memperhatikan interaksi sheila dan daniel dari lantai atas rumah sakit.
" Saya akan beri kamu ruang semdiri agar kamu tidak tertekan. Lagipula saya tidak mau terjadi sesuatu pada janin yang kamu kandung. "batin xavi masih memperhatikan kepergian sheila.
************
" Firman, karina ayokita ke rumah sakit sekarang!" ucap Alexsander dengan tegas.
" Maaf pa, aku masih syok dengan kejadian tadi. Untuk saat ini aku belum mau melihat wajah sheila." jawab karina.
"Aku juga tidak mau pa, maa jika aku membantah." jawab Firman.
"Kalian harus ikut karna papa punya bukti jika sheila tidak bersalah!" ucap Alexsander.
"Stela kamu juga ikut dengan saya. Biar kamu tidak lagi menyalahkan sheila. "ucap Alexander
" Iya pa, papa ada bukti apa sampai papa seyakin itu jika sheila tidak bersalah?" sambung karina.
" Papa akan perlihatkan setelah kita sama - sama melihat keadan sheila di rumah sakit. "
"Stela panggil stiven, biar kita melihat sama - sama bukti ini agar tidak ada lagi di antara kalian yang menyalahkan sheila."
"Stiven masih kerja mas. "
"Yasudah kalau begitu kita pergi sekarang!" ucap Alexsander yang kemudian berjalan dulu menuju pintu keluar.
*****************
Sheila melihat sekeliling apartemen yang terlihat sangag rapi dan terawat. Barang - barang yang ada di sana juga sangat mahal dan mewah. Apartemennya juga lcukup luas dan semua peralatannya juga sangat lengkap.
"Ini apartemen siapa nil? "
"Ini apartemen saya. "jawab daniel berbohong.
" lalu kenap kamu membawa saya ke sini? "
" Karna ini satu - satunya tempat yang aman untuk kamu bersembunyi saat ini."
" Tapi kalau saya di sini lalu kamu akan tinggal di mana?"
__ADS_1
" Saya ada rumah dan apartemen ini hanya untuk persingan dan ruang sendiri untuk saya. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak. Anggap saja jika ini apartemen kamu." jelas daniel.
Sheila mengangguk," Tapi apa saya bisa percaya pada kamu? "tanya Sheila menyelidik.
" Tentu, saya tidak akan memberi tahu siapapun jika kamu ada di sini. Termasuk tuan muda. Saya akan berpura-pura tidak tau jika tuan muda bertanya pada saya nanti."
Kenapa kamu melakukan ini?"
"Karna di sini kamu akan lebih aman, saya juga akan lebih tenang jika kamu berada di sini."
"Bahkan daniel lebih bisa memahami saya dari pada xavier yang jelas - jelas saat ini adalah sumi saya. "batin sheila.
" Kalau begitu saya pamit dulu, saya tau kamu pasti masih lemah dan perlu istirahat. Nanti saya akan kirimkan makanan supaya kamu tidak perlu keluar apartemen. "ucap daniel menunduk kemudian keluar dari apartemen.
Daniel menghela nafas panjang," Harusnya tuan muda sendiri yang melakukan semua ini bukan saya. "ucap daniel setalh keluar dari apartemen.
*************
" Stiven kamu harus segera ke rumah sakit karna papa kamu punya bukti jika sheila tidak bersalah !" iso caht yang dikirimkan karina pada stiven anaknya. Sambil menyusul suaminya yang telah dulu berjaln menuju ke ruangan rawat sheila.
Ceklek....
"Xavi! "ucap Alexsander begitu ia sampai di ruang rawat sheila.
" Opa?" heran xavi karna satu keluarganya datang ke rumah sakit.
" Kenapa opa, mama, papa dan oma ada di sini?"
" Di mana sheila?" tanya alexsander melihat sheila yang tidak ada di ruangan.
" Sheila pergi. "jawab xavi.
" Apa?.... Kamu tau istri kamu pergi tapi kamu tetap diam di sini? Suami macam apa kamu. "ucap Alexsander.
" Sheila butuh ruang untuk dia berpikir juga menyadari kesalahannya opa."
" Walaupun begitu tidak seharusnya kamu membiarkan sheila pergi, harusnya kamu ada di sisi dia."
" Xavi masih sangat mrah pada sheila opa, mungkin memng ini jaln yang terbaik untuk kami berdua."
" Kejadian tadi malah bukan seperti yang kamu pikirkan, harusnya kamu sebagai suami bisa percaya pada istri kamu."
" Gimana aku bisa percaya opa, aku sendiri yang gendong dia dari samping laki-laki itu."
" Opa punya bukti jika sheila tidak bersalah." ucap Alexsander dengan sangat tegas.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung