Suamiku CEO Kaya

Suamiku CEO Kaya
Bab 101. Mati!


__ADS_3

"Keluar!"ucap stiven dengan mata memerah dan bau alkohol yang menyengat saat ia masuk kedalam ruang rawat qania.


"Pak"ucap ratih menahan stiven utuk tidak mendekat pada qania.


"KELUAR! "bentak stiven namun dengan nada suara yang pelan.


Ratih masih berdiri tanpa beranjak sedikitpun dari kamar rawat qania.


"Keluar atau cucu kamu akan lenyap dari dunia ini! "ucap stiven penuh penekanan.


Ratih terlihat sangat gemetar saat stiven mengancam akan melenyapkan cucunya.


" Keluar! sebelum saya saya suruh anak buah saya untuk menyakiti cucu kamu!"


Mau tidak mau ratih terpaksa menurut, walaupun ia sangat hawatir dengan qania.


Stiven berjalan mendekat ke arah qania tatapan stiven pada qania sudah jelas jika stiven akan mencelakai qania.


Stiven menatap qania dengan sangat tajam, langkah pelan dan penuh hati membuat qania tak sadar jika saat ini ia berada dalam bahaya.


"Jika hal yang paling berharga dalam hidup saya lenyap maka hal yang paling berharga dalam hidup anak kamu juga harus lenyap. "gumam stiven memegang infus yang mengalir di tangan qania.


Gerakan - geran infus yang di lakukan stiven saat akan menyuntikkan racun ke dalam infus membuat qania terbangun.


" Siapa kamu? ." tanya qania memegang tangan stiven.


Stiven membuang alat suntik itu dari tangannya lalu menepis tangan qania dengan sangat kasar " kamu tidak perlu tau siapa saya." ucap stiven memelototi qania.


Qanua memperhatikan wajah Stiven, "kamu... Kamu stivenkan anak bungsu dari pak alexsander." ucap qania saat ia mengingat stiven.


Kurang hajar. "ucap stiven yang langsung menarik bantal qania lalu membekap wajah qania dengan sangat kuat.


Qania berusaha memberontak untuk bisa melepaskan bekapan bantal yang dilakukan stiven kepadanya.


" Hmmm.... Hhmmm." ucap qania yang sudah sangat sesak dan kehabisan oksigen.


"Sebelum kamu mati saya mau bilang kalau yang mengirim teror di rumah kamu adalah saya, stiven alexsander." ucap stiven masih menekan kuat bantal yang ia pegang ke wajah qania.

__ADS_1


"Melalui perantara pembantu yang sangat kamu percayai itu! "


Qania sangat terkejut dengan penuturan stiven, tapi walaupun begitu ia tidak bisa apa - apa lagi sekarang tubuhnya telah terkunci oksigen dalam tubuh yapun juga telah menipis.


"Tapi sekarang saya turun tangan sendiri untuk menghabisi kamu, karna saya telah muak terlalu bertele-tele. "


Qania dengan sekuat tenaga masih berusaha untuk melepaskan dirinya namun semua usaha yang ia lakukan sia - sia malah membuat oksigennya semakin menipis.


"Harusnya anak kamu yang mati agar dia tidak mengganggu saya dan harta warisan yang saya punya."


" Harusnya anak kamu tidak pernah hadir dan masuk ke rumah saya. "


" Dan harusnya kalian berdua tidak pernah ada di dunia ini! "ucap stiven menekan bantal itu sekuat tenaganya sampai qania tidak bernafas dan bergerak lagi.


Stiven mengangkat bantal yang ia gunakan untuk membekap qania," apakah dia sudah mati? "tanya stiven sendiri memeriksa nafas qania."


Stiven tersenyum sinis saat ia tidak merasakan hembusan nafas lagi dari hidung qania.


"Hitungan menit dari sekarang hidup kamu akan hancur sheila. "gumam stiven sembari tertawa kecil.


Bugh..


Picratan darah segar keluar dari bekas luka jahitan qania. Darah itu mengalir tanpa henti sampai membasahi baju yang di kenakan qania.


"Selamat tinggal ibuk qania. "ucap stiven keluar dari ruangan qania.


Ceklek


Ratih langsung melihat ke arah stiven saat ia keluar dari ruangan qania.


Stiven memukul pundak ratih dua kali," Saatnya giliran kamu! "ucap stiven yang pergi begitu saja setelah ia berhasil membunuh qania.


************


Sheila dan xavi sedang berdangsa di tepi kolam berenang menikmati alunan musik yang di putar oleh xavi. Musik romantis dengan dengan nuansa klasik membuat malam itu terasa begitu romantis.


"Maafkan saya. "ucap xavi menatap lekad pada sheila.

__ADS_1


" saya sudah memaafkan kamu. "jawab sheila yang juga menatap xavier dengan sangat tulus.


" thank you "


Sheila mengangguk dengan senyum yang tak lepas di wajahnya.


Saya juga minta maaf mungkin kata-kata saya kemarin menyakiti hati kamu."


Nico mrnggeleng, "memangnya kamu mengatakan apa pada saya, saya sudah tidak ingat bahkan saya tidak terbayang bagaiaman kamu marah pada saya?"


Sheila tertawa,"kamu...." belum juga sheila menyudahi ucapannya xavi malah terlebih dulu menggulam mulutnya sehingga membuat sheila langsung terdiam.


"Tidak usaha mengatakan apapun, karna saya sudah tidak mengingat apapun soal kejadian kemarin bahkan kata - kata kamu sekalipun."


" Tidak usah meminta maaf apalagi merasa bersalah dengan kata - kata kamu pada saya."


"Yang seharusnya merasa bersalah dan minta maaf itu saya, oke."


Sheila mengangguk, "Cara kamu membuat saya terdiam sangat luar biasa tapi...." sheila menggantung ucapannya, ia beralih menatap kolam berenanh, "tapi saya menyukainya." ucap sheila pelan sambil tersenyum bahagia.


"Apa?, saya tidak mendengar ucapan kamu? "tanya xavi.


" Lebih baik begitu." jawab sheila berjalan menjauh dari xavi namun masih saling bertatapan.


" katakan atau saya akan melakukannya lagi! "ancam xavier.


" Oh ya?" ucap sheila yang malah berjalan cepat pada xavi lagi membalas ciuman xavi.


" Tapi sebelum itu saya yang akan melakukanya terlebih dahulu! "ucap sheila yang langsung berlari pelan menjauh dari xavi untuk menyembunyikan pipinya yang terasa sangat panas.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2