
Mata sheila terbelalak saat pria yang ia tabrak adalah Rico, tunangan kakak tirinya. Tapi bukan itu yang membuat sheila terkejut tapi karna Rico yang mengenali dirinya. Padahal saat ini sheila sedah tidak merias dirinya menjadi jelek. Dan penampilannya saat ini sangatlah jauh dari penampilannya di bar di tambah lagi dengan dandanannya saat ini yang jauh dari biasanya.
"Kamu sheilakan? "tanya Rico membantu sheila berdiri.
Sheila menerima bantuan rico, sheila masih terdiam dan juga sangat kaget karna Rico mengetahui identitasnya. Sheila tidak tau namanya, shei tidak tau dari mana Rico tau tentang indentitasnya. Sheila berfikir mungkin mita telah memberitahu Rico tentang bagaimana penampilannya yang sebenarnya.
"Aaaaa"teriak sheila saat ia merasa sangat kesakitan saat ia berusaha untuk berdiri.hayhils dan baju yang ia kenakan saat pergi ke kantor xavi tadi belum sempat ia tukar, dandanan sheila masih sama dengan tadi walau saat ini sudah terlihat sedikit urak - urakan namun kecantikan sheila masih terpancar.
"Kamu kenapa? "tanya Rico melihat sheila yang kesakitan.
Sheila tidak menjawab, sheila memilih untuk bergelayutan di bahu Rico. Kaki sebelah kanannya sangat sakit ia gerakkan.
" Kamu pasti keseleo" ucap Rico lagi namun tetap tidak ada jawaban dari sheila.
Rico meraih kursi kosong yang berada tidak jauh dari jangkauannya. Rico menyuruh sheila untuk duduk di kursi itu.
Setelah sheila duduk Rico langsung membuka hayhils yang sheila gunakan. Rico langsung mengambil tindakan dengan memijat pergelangan kaki sheila.
"Aaauu.... "rintih sheila saat pijatan rico sangat terasa di bagian kakinya yang ke seleo.
" Tahan ya ini mungkin agak sakit." Rico sedikit menarik pergelangan kaki sheila sampai membuat sheila berteriak cukup keras.
"Aaaaa.... "Tarikan yang di lakukan Rico membuat Kaki sheila seakan- akan rasa ingin copot di buatnya.
Dan tentu saja teriakan sheila membuat orang - orang yang ada di kantin langsung melihat ke arah sheila. Namun karna ia yang merasa sangat sakit sekarang jadi sheila tidak mempedulikan perhatian orang-orang tersebut.
"Gimana udah enakan? "tanya Rico yang kemudian ikut duduk di bangku sebelah sheila.
Mendengar pertanyaan Rico sheilapun tersadar jika kakinya saat ini sudah bisa di gerakkan dan tidak terlalu sakit lagi.
" Jadi sekarang kita impaskan?" ucap Rico melihat sheila dengan senyum yang manis.
"Ini orang bener - bener bisa ngenalin saya?" batin sheila masih tidak percaya jika Rico bisa mengenalinya dengan penampilannya yang saat ini sangat jauh berbeda.
FLASHBACK
Rico masih stay di bar saat hari sudah menunjukkan pukul lima subuh. Rico tau jika sebentar lagi bar yang ia kunjungi ini akan segera tutup. Dengan langkah gontay Rico berjalan menuju toilet namun karna nyawa dan pikirannya belum sepenuhnya terkumpul Rico malah nyasar ke ruang ganti kusus kariawan.
Di sana Rico tidak sengaja melihat wanita yang membantunya saat ia berkelahi tadi malm. Dengan cepat Rico bersembunyi dan memperhatikan wanita itu membuka week dan membersihkan riasannya.
"Jadi benar ternyata wanita itu aslinya sangat cantik namun ia sengaja memperjelek dirinya sendiri. "batin Rico saat Wanita itu telah selesai menghapus semua riasannya. Wanita itu juga membiarkan rambut panjangnya terurai sehingga wanita itu terlihat sangatlah jauh berbeda dari saat ia memperjelek dirinya.
Rico merogoh ponselnya kemudian diam-diam Rico memotretnya.
Dari dalam ruangan kecil keluar seorang wanita yang ternyata itu adalah bawahan wanita yang menolongnya itu.
"Kak sheila udah selesai? "tanyanya pada sheila.
__ADS_1
" Oooo jadi wanita itu namanya sheila." Rico akirnya tau siapa nama wanita itu sekaligus identitasnya yang sebenarnya.
" Udah saya udah selesai. Kamu gimana?" tanya sheila balik.
"Udah kak. ''
"Yaudah mau bareng? "tawar sheila.
Dengan cepat bawahannya itu mengangguk.
Sebelum keluar sheila memakai masker untuk menutupi wajahnya.
Melihat sheila dan bawahannya itu akan keluar Ricopun dengak cepat pergi dari sana.
Rico mengerutkan keningnya melihat sheila terlihat sangat bingung. "kamu kenal sayakan?" tanya Rico takut jika Sheila lupa dengannya.
"Gimana ini apa saya bilang saja jika saya tidak mengenal dia. "sheila sangat bimbang dengan apa yang akan ia jawab karna baru sekali ini ada orang yang mengenalinya bahkan Xavier yang jeleas-jelas kini sudah menjadi calon suaminya tidak bisa mengenalinya saat ia berpenampilan jelek di bar.
" Saya ngga kenal sama kamu. '' jawab sheila.
Rico terlihat sangat heran," apa saya salah orang? "batin Rico.
" Kamu sheila kan ?" tanya Rico memastikan jika ia tidak salah orang.
Sheila mengangguk. " Kamu perempuan yang sudah membantu saya di bar waktu itukan?" tanya Rico lagi.
"Waktu itu saya sempat mengajak kamu untuk minum dengan saya tapi kamu menolaknya karna kamu masih bekerja. "sambung Rico yang membuat sheila semakin tidap percaya jika ternyata Rico benar-benar mengenalinya. Sheila sangat penasaran dari mana rico tau identitasnya seperti ini. Apa mita yang sudah membocorkannya? Tapi sheila juga tidak percaya jika mita bisa setega itu kepadanya.
"Kamu tau dari mana kalau saya adalah perempuan yang sudah menolong kamu di bar? "tanya sheila karna dia tidak ingin berburuk sangka pada mita.
Rico tersenyum," Walaupun kamu dandan jelek di bar dan sangat jauh berbeda dari sekarang tapi saya bisa mengenali kamu, lewat senyum dan sorot mata kamu. "jawab Rico sembari merayu sheila dengan gombalan andalannya. Mungkin wanita lain bisa luluh dengan gombalan Rico apa lagi Rico berbicara sambil memamerkan senyum manis juga ketampanannya.
"Kamu punya bola mata yang indah dan senyum yang sangat manis. Jadi mudah buat saya mengenali kamu walaupun dengan penampilan kamu yang saat ini sangat cantik. "puji rico lagi dengan sorot mata yang sok di tulus-tuluskan..
" Maaf saya harus pergi." ucap sheila yang muak mendengar bualan Rico. Sheila sangat yakin jika Rico pasti memata-matainya sampai ia tau identitasnya. Tidak mungkin rico tau hanya karna senyuman juga sorot matanya. Jelas sheila jarang sekali tersenyum dan menatap orang secara langsung.
Sheila berdiri dan hendak pergi,Namun baru saja sheila berdiri sheila langsung memegang perutnya yang terasa sangat perih. Ia lupa jika ia ke sini adalah untuk memesan makanan agar maaghnya bisa sedikit terobati. Namun gara-gara pertemuannya dengan Rico malah membuat sheila lupa.
Rico dengan cepat memegang tangan sheila dan menyuruh sheila untuk kembli duduk.
"Kamu kenapa? "tanya Rico yang terlihat sangat khawatir.
" Saya ngga papa." jawab sheila dengan wajah yang sangat pucat. Sheila menepis tangan Rico dari bahunya.
Rico kembali memegang pundak sheila " Ngga kamu itu kenapa - napa, bilang sama saya biar saya bisa bantu kamu!" ucap Rico.
Sheila menepis tangan Rico lagi."Saya ngga papa, dan walaupun saya kenapa apa kamu ngga perlu tau." jawab sheila ketus.
__ADS_1
" Kamu bukan siapa-siapa saya jadi jangan bersikap seolah-olah kita udah lama kenal." bentak sheila yang kembali berdiri dan berjalan pelan menjauh dari Rico. Sheila tidak mau dekat ataupun kenal lebih jauh dengan Rico. Sheila tidak mau menambah masalah hidupnya lagi hanya karna ia dekat dengan tunangan kakaknya itu.
Rico menahan tangam Sheila,Rico memberikan bingkisan makanan yang barubia beli tadi ke tangan sheila, "Setidaknya kamu bisa terima ini, kalau kamu emang ngga mau ngasih tau saya." ucap Rico yang kemudian pergi.
Rico sengaja pergi agar sheila menerima itu, kalau ia terus berdiri di sana ia yakin sheila akan mengembalikan bingkisan itu.
Sheila terdiam melihat Rico yang berjalan keluar dari kantin rumah sakit. Sheila ingin sekali mengejar dan mengembalikan bingkisan makanan ini tapi kondisinya yang saat ini sedang lemah terpaksa mau tidak mau ia menerima pemberian Rico. Lagian jika ia kembali mengantri makanan pasti ia tidak akan kuat lagi apa lagi saat in pengunjung kantin semakin ramai dan antriannya tadi juga sudah di salip oleh orang.
*********
Orang suruhan Stiven datang mengantarkan berkas-berkas yang berhubungan dengan Status sheila.
"Ini pak data-data tentang perempuan yang bapak minta pada saya. "ucap orang suruhan Stiven sembari memberikan identitas sheila kepada Stiven.
Stiven mengambil berkas itu kemudian menyuruh orang suruhannya itu untuk keluar dari ruangannya.
Stiven mengambil berkas yang berada di dalm map coklat tersebut dan mulai membaca identitas sheila.
"Jadi perempuan itu namanya Sheila lovania leonard. "ucap Stiven sembari terus membaca.
" Leonardirgantara.?, kenapa saya merasa jika nama ini tidak asing." pikir stiven mengingat nama orang yang tertulis sebagai ayahnya sheila.
" Qania larasati, jadi wanita tua yang sedang sakit itu adalah ibu kandungnya. "ucap ativen lagi mengangguk-nganguk, kini ia mengerti kenapa wanita itu bisa sangat marah kepadanya kemarin.
Xavier mencari berkas yang menjelaskan hubungan Sheila dan Xavier namun di dalam map tidak ada lagi berkas yang tersisia.
Stiven sangat kesal dan menelfon orang suruhannya itu.
"Berkas yang menjelaskan tentng hubungan perempuan itu dengan xavier mana?" bentak Stiven karna pekerjaan orang suruhannya itu tidak becus.
"Maaf bos kamu belum bisa mencari tau tentang hubungan tuan Xavier dengan wanita itu. Karna sejauh ini kami tidak menemukan apapun tentang mereka." jelasnya.
"Aaaaakh..... Bodoh kalian semua, cari status hubungan mereka saja tidak bisa. "hujat stiven yang langsung mematikan telfon. Stiven tidak mau menerima alasan apapun dari orang suruhannya itu.
" Oke kalau mereka tidak mendaptkan apapun tentang hubungan xavier dengan wanita itu, maka saya sendiri yang akan mencari taunya." ucap Stiven meremas berkas tentang identitas sheila.
Ceklek...
Pintu kamar inap Stiven terbuka dan seorang pria masuk kedalam kamar inapnya.
" Hay bro! "ucapnya dengan wajah yang sangat ceria berjalan ke arah Stiven.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung