
Suamiku Pria Tulen #101
Oleh Sept
Rate 18 +
"Terima kasih!" ucap Lea dengan canggung. Wajahnya tiba-tiba terasa hangat.
Lea terus saja menundukkan wajahnya, paska kejadian barusan ia merasa canggung. Rupanya, gadis pemberani itu sudah kehilangan taringnya.
Sedangkan Kevin, ia justru bersikap biasa saja. Ciuman barusan bagi Kevin tidak ada artinya. Hanya sentuhan kulit ketemu kulit. Tidak ada kesannya sama sekali.
"Di luar sangat bahaya, dan ...!" Kevin mengamati ujung rambut sampai ujung kaki Lea. Ia menatap remeh pada gadis tersebut. Penampilan Lea memang seperti gadis yang tidak baik-baik.
"Sudahlah!" sambung Kevin kemudian mereka keluar bersama dari tempat gelap itu. Kevin mengantar Lea sampai ke tepi jalan dan memanggilkan taksi untuknya.
"Terima kasih!" Lea menundukkan wajahnya sekali lagi. Sebagai rasa terima kasih, berkat pria itu ia akhirnya selamat. Kalau tidak ada pria tersebut, ia pasti harus menanggung aib.
"Masuklah!" seru Kevin dengan datar. Setelah Lea masuk taksi warna biru tersebut. Kevin pun berbalik, ia mau kembali ke klab malam. Mobilnya ada di sana.
***
Sepanjang jalan, Lea menepuk kedua pipinya.
"Sadar, Lea!"
Ia menggeleng keras, kemudian terlihat seperti memikirkan sesuatu. Matanya kemudian membulat sempurna. Pertemuan di perusahaan, saat di tangga darurat. Saat ia interview dulu dan saat ia dinyatakan diterima di perusahaan itu. Bila tebakannya tepat, mungkin pak Kevin yang disebut sebagai CEO itu jangan-jangan orang yang sama. Orang yang ia bawah ke rumah sakit.
"Astaga!"
Lea terkejut dengan tebakannya sendiri.
"Aku kira CEOnya sudah tua."
"Ada apa, Non?" sahut sopir taksi karena mendengar Lea yang bicara sendiri.
"Nggak, Pak! Nggak!"
***
Sampai rumah, seperti biasanya. Lea harus bersikap manis pada penjaga di rumahnya itu. Biar tidak dilaporin kepada orang tuanya. Lea menyogok petugas keamanan di rumah orang tuanya itu. Kalau tidak dengan makanan, pasti pakai barang. Kali ini, karena tidak punya apa-apa, Lea hanya pakai janji manis.
"Temen saya besok pulang dari Paris, saya kasikan ke bapak ya. Ada jam bagus, nanti buat Bapak!"
"Tidak usah, Non. Tidak usah." Si bapak pakai acara sok nolak segala, padahal dalam hati mau banget. Pasti bagus dan mahal. Selama ini sogokan yang diberi nona mudanya kan nggak pernah KW, pasti ORI dan harganya fantastic.
"Udah, Pak. Besok ya. Lea janji ... tapi sekarang Lea masuk dulu ya?"
"Silahkan, Non. Silahkan."
Jelas saja Lea lolos, kan dijanjikan jam dari Paris. Lumayan, pikir petugas keamanan di rumah Arya.
Lea masuk rumah sambil jinjit, takut ketahuan. Sampai di kamar, ia langsung mandi. Sudah wangi, sudah bersih. Lea lantas merebahkan tubuhnya. Ia kemudian melirik jaket milik Kevin yang ia taruh kursi. Lea meraihan, dan mencium aroma yang tertinggal di sana.
"Astaga! Kamu sudah gila, Lea!" Lea memaki dirinya sendiri.
"Hanya karena dia menolongmu, jangan sampai kamu tersentuh! No!" Lea langsung melempar jaket itu ke keranjang baju kotor.
Gadis itu kemudian memilih memejamkan mata. Lelah sekali rasanya hari ini.
Tok tok tok
__ADS_1
Merasa baru tidur sebentar, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar berisik di telinganya.
"Iyaaaa!"
KLEK
"Kamu belum bangun? Nggak kerja?"
"Kerja? Lea sudah mengundurkan diri, Ma! Lagian malam-malam ngapain kerja!" cetusnya dengan bibir meliuk-liuk.
BUGH
Lea kembali mendapat sarapan pukulan dari sang mama.
"Jam berapa ini? Sudah jam 7!" ketus Nur dengan kesal. Heran, kapan putrinya itu cepat dewasa. Seperti kakak-kakaknya.
"Jam 7?"
Lea langsung menarik korden kamar, astaga. Matahari sudah muncul dengan cerahnya. Ia pun buru-buru mandi. Setelah mandi, Lea bingung sendiri.
"Terus aku mau ngapain?" tanyanya pada cermin.
Kan dia sudah menolak tawaran Mas Willi, tapi tunggu. Kalau CEOnya pria seperti Kevin, jujur Lea nggak nolak. Tanpa sadar sudut bibirnya melengkung. Jadi, karena ditolong Kevin semalam, otak Lea mulai konslet. Alam bawah sadarnya penasaran dengan sosok Black Knight-nya tersebut.
"Loh! Jaketnya mana?" Lea panik, keranjang cucian sudah kosong. Buru-buru ia turun mencari bibi.
"Bik ... bibikkkk!"
Tap tap tap
Bibi langsung lari menuju ke tempat Alea yang teriak-teriak.
"Iya, Non."
"Oh ... ada, Non."
"Mana?"
"Mesin cuci."
"Aduh! Jangan dicuci harusnya!" ucap Alexa kesal.
"Kan di keranjang, Non. Bibi kira kotor."
Lea menghela napas, kemudian langsung balik ke kamarnya. Padahal ia mau pakai itu untuk alasan balik ke kantor. Dia kan malu, sudah mencak-mencak ke mas Willi. Setidaknya jaket itu jadi alasan ia menemui Kevin.
Satu jam kemudian.
"Sudah beneran kering, Bik?"
"Sudah, Non."
Lea tersenyum sambil menenteng paper bag berisi jaket Kevin.
"Maaa ... Lea berangkat dulu."
"Siang banget?"
"Iya, Ma. Bos Lea baik!" ucap Lea penuh dengan kebohongan.
Lea mengemudi dengan hati berbunga-bunga. Begitu sampai, ia langsung mencari ruangan mas Willi. Sepertinya Dewi fortuna sedang berada di pihak Lea. Baru akan dicari, Willi malah ada di lobby. Apalagi, di depan pria itu ada Kevin.
__ADS_1
Sembari membetulkan posisi rambutnya agar terlihat rapi, padahal biasanya ia cuek bebek. Kali ini ia ingin terlihat berkesan.
"Mas Willi!" sapa Lea sok akrab. Membuat Willi mengeryitkan kening.
Karena ingin bernegoisasi dengan pria tersebut. Lea langsung menarik Willi menjauh sedikit.
"Tawaran kemarin masih bisa, kan?"
"Ah ...!" Willi tersenyum penuh arti.
"Iya ... itu yang kemarin. Lea mau."
"Biar Tuan Kevin yang putuskan, ya." Willi meninggalkan Lea. Pria itu kemudian menghampiri Kevin yang sejak tadi fokus pada ponselnya. Kevin sedang melihat grafik saham yang sedang turun drastis.
"Tuan ... Tuan!" panggil Willi lebih keras. Rupanya sejak tadi Kevin memakai headset wireless.
"Ada apa?"
Lea langsung melambai ke arah mereka. Kevin teringat dengan gadis itu.
"Kenapa kau ke sini? Apa kau minta ganti rugi ponselmu?" tanya Kevin to the point.
"Bukan ... bukan. Ini jacket Mas Kevin yang semalam! Eh ... Pak Kevin."
Uhuk uhukkkk
Willi terbatuk, ia tidak tahu kalau semalam keduanya sudah bersama.
"Em ...saya permisi dulu, Tuan." Willi pun langsung undur diri.
"Ya sudah, terima kasih!" ucap Kevin dingin. Pria itu kemudian berjalan meninggalkan Lea.
"Eh!" Lea bingung. Kok malah jadi begini. Bagaimana dengan tawaran sekretaris itu?
"Mas Kevin ... eh Pak Kevin. Tunggu!"
"Apa lagi kali ini? Saya sudah kasih cek waktu itu. Dan kamu menolak. Jadi tidak ada urusan lagi antara kita berdua. Dan tolong, jangan muncul lagi di perusahaan ini!" Kevin berbalik, ia meninggalkan Lea yang bengong begitu saja.
"Pria brengsek! Setelah apa yang kamu lakukan semalam lalu kamu menyuruhku tidak muncul lagi?" teriak Lea yang emosi. Akhirnya muncul juga sifat asli Lea yang dari tadi mati-matian ia sembunyikan.
Seketika, dua orang itu jadi pusat perhatian orang-orang yang lalu lalang di sana. Tidak butuh waktu lama, gosip hangat pun beredar di sosial media para pegawai perusahaan tersebut.
Mereka pikir, CEO mereka adalah pria hangat dan patut dikasihani setelah gagal menikah. Tidak tahunya, malah melecehkan seorang gadis muda. Mungkin gadis itu tengah hamil. Marah-marah di perusahaan dan minta pertanggung jawaban. Begitulah berita yang beredar saat ini.
Lea yang kesal, setelah memaki Kevin dan pria itu malah pergi tanpa peduli padanya. Dengan dada yang meletup-letup. Ia meninggalkan perusahaan tersebut.
Sore hari.
"Tuan, apa yang terjadi. Apa gadis itu benar-benar hamil anak, Tuan?"
Kevin melotot tajam ke arah Willi. Bicara apa sekretarisnya tersebut.
"Kalau tidak ada yang lebih penting, tinggalkan ruangan saya!"
"Tapi Tuan ... para dewan direksi semuanya menghubungi saya. Mereka minta klarifikasi dari Tuan Kevin."
"Jangan gila kamu, Wil! Klarifikasi apa?"
"Kehamilan gadis itu, Tuan. Apa itu anak Tuan?"
"WILLI!!!!" teriak Kevin. Ia sepertinya ingin makan orang hidup-hidup. Bersambung.
__ADS_1
Yang menyebabkan kekacauan semua ini, malah sedang bersantai sambil makan snack di dalam gedung bisoskop.