Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Janji Perpisahan


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #112


Oleh Sept


Rate 18 +


"LEAAA!"


Kevin memegangi pingangnya yang sakit. Menikahi gadis seperti Lea sepertinya adalah sebuah langkah yang salah. Bagi Kevin, sebenarnya menikah dengan siapa saja itu sudah tidak penting. Hatinya yang terlanjur membatu dan dingin, tidak begitu peduli arti sebuah pernikahan. Itu hanya sebagai formalitas. Gagal menikah dengan Dita membuat hati Kevin sudah lama mati.


"Kenapa tak pakai baju?"


Bukannya minta maaf, Lea menuju Kevin macan-macam padanya.


"Hey gadis nakal!!! Kamu memelukku erat, hingga aku merasa gerah."


"Alasan! Pasti kamu mau macan-macam!"


"Koma-kamu! Sopan sedikit pada orang yang lebih tua. Terlebih aku ini suamimu!"


"Astaga ... iya OM!"


"Cih!" Kevin berdecak kesal.


Tok tok tok


"Lea ... bangun sayang. Mama mau pulang, nih."


"Iya, Maaa!"


Kebetulan mamanya memanggil, Lea pun kabur seribu langkah. Meninggalkan Kevin yang menatapnya sebal.


KLEK


"Pagi banget, Ma? Nggak nginep lagi?"


"Mama ada jadwal check up papamu, Mama lupa. Sudah janjian sama dokter kemarin."


"Oh ... ya sudah. Salam buat papa."


"Hem ... Kevin mana? Mama mau pamit pulang."


"Ada, bentar. Lea pangilin ...Keee ... ish." Lea mengatupkan bibir, hampir keceplosan.


"Massss .... Mas Kevin!" Lea geli sendiri memanggil suaminya dengan sebutan mas.


"Hem!" Kevin muncul dengan wajah masam.


"Mama mau pulang, tuh!"

__ADS_1


Pria itu kemudian merubah ekpresinya. Ia tersenyum ramah saat sang mertua mau pamit pulang.


"Kevin antar ya, Ma?"


"Nggak, udah dijemput sopir. Makasih ya, Mama boleh nginep sini. Maaf Mama repotin kalian."


"Nggak, Ma. Makasih sudah mau ke sini."


Nur meraih tangan Kevin, "Mama titip Alea ya. Kalau bandel, pukul saja. Mama nggak apa-apa," ucap Nur dengan nada bercanda.


"Mamaaaa!"


Nur dan Kevin langsung terkekeh bersama, melihat betapa cemberutnya wajah Alea.


"Ya sudah, baik-baik kalian. Lea ... inget ya... Nurut sama suami. Jangan aneh-aneh."


"Hemmm!"


"Daaaa!"


"Daaa Mama! Hati-hati!"


Begitu Nur pergi, dua orang itu langsung kembali ke posisi semula. Ala-ala Tom and Jerry.


"Apa?" ujar Lea sambil melotot ketika Kevin menatapnya.


Kevin menepis pundak Lea, karena gadis itu menghalangi langkahnya.


***


Ketika rumah tangga Kevin dan Lea seperti tikus dan kucing yang tidak pernah akur. Berbeda sekali dengan nasib Kendra dan Dita.


Pharose International Hospital


Tap tap tap


Irna berjalan setengah berlari. Ia bergegas ke rumah sakit ketika Kendra menelpon.


"Ken! Bagaimana Dita?" tanya Irna khawatir.


"Masih di dalam, Ma." Kendra menatap pintu kamar operasi.


"Bukannya seminggu lagi?"


"Ketubannya pecah, Ma. Tadi cuma mau kontrol. Tapi, pas balik baru masuk mobil tiba-tiba ada yang merembes."


"Semoga Dita baik-baik saja." Irna menepuk pundak Kendra. Ia tahu anaknya itu pasti juga panik dan cemas, menanti Dita yang sedang menjalani operasi caesar.


"Mama dan papa Dita juga sedang perjalanan ke sini, Ma," ucap Kendra kemudian.

__ADS_1


"Iya, baguslah."


***


Oek ...Oek ... Oek


Kendra dan Irna saling menatap ketika mendengar suara tangisan bayi.


"Alhamduliah ... nangisnya kenceng banget Ken. Persis seperti kamu dulu."


Irna memeluk putranya, ia malah mengingat kisah yang dulu-dulu. Bagaimana harus melahirkan Kendra tanpa sosok suami.


"Maafkan, Mama!" Irna menarik diri. Ia melepaskan pelukannya. Kemudian mengusap pipinya yang sudah basah.


Beberapa saat kemudian.


Dita masih berada di ruang pemulihan, sedangkan Kendra dan mamanya, mereka berdua melihat Kendra junior lewat balik kaca.


Bayi yang belum memiliki nama itu berada di kamar bayi, bersama bayi-bayi yang lainnya.


***


Ruang perawatan.


Dita sudah dipindah beberapa saat lalu, ia kini sedang mengstimulasi sang bayi. Dengan menaruh si kecil di atas tubuhnya.


"Ganteng sekali, mirip papanya."


Irna mengusap lembut kulit bayi tersebut. Cucu pertamanya, dari pernikahan yang tidak terencana. Begitulah jodoh!


Sesaat kemudian, kedua orang tua Dita juga sudah datang, tuan Bima terlihat senang menyambut kelahiran sang cucu. Apalagi sikap Kendra juga sangat sopan padanya. Sepertinya, keluarga Bima mencoba berdamai dengan kesalahan yang pernah dilakukan oleh Kendra. Meski tidak bisa melupakan sepenuhnya.


Kendra sejak tadi hanya melihat dan menyentuh saja. Ia belum berani mengendong bayi munggil itu. Hingga Irna menawarkan untuk mengendong bayi munggil tersebut.


"Mau gendong, Ken?" tanya mamanya. Namun, Kendra malah menatap Dita. Seolah minta ijin untuk mengendong bayi tersebut. Dita yang masih lemas, tersenyum kecil.


"Awas, Ma. Kendra nggak berani."


"Nggak apa-apa. Diberani-beraniin, ini kan anak kamu sendiri."


Perlahan Kendra mencoba mengendong bayi munggil itu. Mukanya sangat kaku, Ken terlihat begitu tegang. Membuat ia ditertawakan oleh istirahat. Tapi, tawa Dita justru membuat Ken rileks.


"Nah, gitu sayang!" puji Irna saat melihat Ken sudah bisa luwes mengendong putra pertamanya.


Cup


Ken mengecup lembut pipi yang kemerah-merahan tersebut. Ia menatapnya begitu dalam, Kendra seolah tidak percaya dengan apa yang terjadi. Rasa haru menyeruak dalam hati dan tiba-tiba matanya terasa perih. Laki-laki badung itu akhirnya menitihkan air matanya.


Dita memperhatikan Ken dari tempatnya berbaring, dalam hati ia merasakan kesedihan yang muncul tiba-tiba. Apa benar, setelah ini mereka akan berpisah? Sesuai dengan janji mereka. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2