
Suamiku Pria Tulen #93
Oleh Sept
Rate 18 +
"Dit ... Ditaaa!"
Begitu tahu siapa yang ia jumpai, Dita langsung berbalik. Wanita muda yang tengah mengandung tersebut, bergegas meninggalkan Kendra. Bertemu dengan pria seperti Kendra, adalah malapetaka bagi Dita.
Hingga Kendra memanggil namanya berkali-kali, Dita tidak peduli. Ia berjalan cepat. Meskipun perutnya terasa sakit.
Dita terus melangkah, dengan kenangan masa lalu yang muncul di pelupuk mata. Pria itu, pria yang sudah menghancurkan mimpi-mimpinya. Hari ini, Dita ingin menghilang begitu saja.
"Pak ... tolong saya. Dia menguntit saya sejak tadi," ucap Dita sambil memegang tangan petugas keamanan.
Begitu Dita berbalik, Kendra shock. Ada yang aneh pada tubuh wanita tersebut. Ken baru menyadari. Bahwa Dita sedang hamil. Otaknya mulai berpikir, tidak mungkin kan itu anaknya?
"Dit ... kamu hamil?" Kendra menatap nanar. Ia langsung lemas, sepertinya Kendra benar-benar mulai menyadari, bahwa ia adalah pria brengsek.
"Pak ... tolong saya. Saya nggak kenal dengan laki-laki itu!"
Dita memasang wajah ketakutan. Entah takut beneran apa cuma akting. Yang jelas, petugas keamanan bandara langsung memanggil kawan-kawannya.
"Bawa ke post ke amanan!" titahnya pada rekan kerjanya.
"Dit ... Ditaaaa!" teriak Kendra ketika ia dibawa oleh beberapa petugas.
***
"KENDRAAA! Bisa tidak kamu itu bener kerjanya!" sentak Ayu yang marah-marah. Bukannya kerja malah ia harus menjemput Kendra di pos keamanan.
"Bu Ayu, saya mau cuti. Nanti akan saya hubungi lagi!"
Setelah dijamin dan dilepas, Kendra langsung lari keluar Bandara. Ia mau mencari Dita.
Tidak memiliki kuasa, tidak memiliki apapun itu. Ken langsung menghubungi sang papa.
"Pa ...!"
"Ada apa?" tanya Rama galak.
"Ken butuh bantuan Papa."
"Tidak ada!" sentak Rama kasar.
__ADS_1
"Ini tentang Dita."
"Hentikan! Jangan membuat masalah lagi. Kalau tidak ada yang penting. Papa tutup telponnya."
"Dita hamil!"
Baru akan mematikan ponselnya, Rama tertegun. Ia mematung, jantungnya hampir copot. Bencana apa lagi ini. Bila Dita hamil, apa itu anak Ken? Apa itu artinya cucunya sendiri?
"Jangan bicara omong kosong!" timpalnya kemudian. Rama tidak mau percaya begitu saja.
"Ken serius, Pa."
"Kamu di mana?"
Dua orang itu pun lama berbicara, dan sepertinya Rama bakalan membantu putranya kali ini.
***
Dita langsung pulang ke rumah. Ia buru-buru mengunci pagar rumahnya.
Malam harinya.
Nyonya Bima heran, sejak pulang kerja Dita tidak keluar kamar. Ia pun mencari Dita ke kamarnya.
KLEK
Dilihatnya Dita sudah tidur. Nyonya Bima curiga, baru jam tujuh kok sudah tidur. Biasanya tidurnya agak malam. Ia pun menghampiri Dita. Duduk di tepi ranjang. Memijit-mijit kaki putrinya.
"Mama bilang jangan kerja, kamu masih membantah. Lihat ... kedua kakimu bengkak!" gumam nyonya Bima. Tidak henti-hentinya ia mengomeli Dita. Padahal yang dimarahi sudah tidur.
Esok harinya.
Beberapa mobil hitam tiba-tiba muncul di depan kediaman tuan Bima. Para tetangga langsung bergunjing. Semua pada heboh. Kedatangan tamu agung dari mana, sampai begitu banyak bodyguard yang menjaga di sekitar kediaman tuan Bima tersebut.
Bukan perkara sulit bagi Rama menemukan keberadaan Dita serta tempat tinggalnya. Sekali perintah, semua bisa dikerjakan.
"Pa ... Dita nggak mau!"
Dita menggeleng keras, ketika Kendra dan papanya datang ke rumahnya. Ia tidak mau menikahi pria yang sudah merusak hidupnya. Sedangkan tuan Bima, meskipun benci setengah mati pada Ken. Tapi ia tidak bisa membiarkan Dita menanggung malu, bila harus melahirkan tanpa suami.
"Nggak!"
Bruakkk
Dita masuk kamar dan mengunci diri.
__ADS_1
"Mungkin Dita butuh waktu," sela nyonya Bima. Jujur ia sempat merasa senang. Setidaknya aib keluarga segera tertutupi. Meskipun masih memendam benci setengah mati pada Kendra.
Kendra terdiam, sejak tadi menunduk. Ia tidak enak dengan tatapan tuan Bima yang sepertinya ingin menghajar tubuhnya lagi.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi."
Rama pun pamit, ia pergi bersama seluruh anak buahnya.
Di dalam perjalanan.
Kendra duduk di depan bersama sopir. Sedangkan Rama duduk di belakang sambil melipat tangan. Wajahnya masih kesal, tapi ia juga kasihan. Diamatinya Kendra yang sudah banyak berubah. Anak badung itu sepertinya bisa dipoles.
"Telpon mamamu, besok kita ke rumah itu lagi."
Kendra menelan ludah, mencari arti perintah sang papa.
"Ke sana lagi?"
"Ya."
"Tapi Dita bahkan tidak mau bertemu kita, Pa."
"Ikuti perintah Papa. Kalian harus segera menikah!" ujar Rama penuh penegasan. Bersambung.
Jangan lupa!!!
Ada novel lain yang mau dibaca sama kalian. Hehehe ...
Rahim bayaran
Menikahi Majikan
Istri Gelap presdir
Dea I love you
Kesetiaan Cinta
Semua novel di atas sudah tamat. Terima kasih yang sudah mau mampir. Lope lope yang banyakkkk.
IG : Sept_September2020
__ADS_1