Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Go Home


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #51


Oleh Sept


Rate 18+


"Apa ini, Mas?" Nur mengusap matanya yang basah, kemudian menyingkirkan tangan Arya yang semula menghalangi ia membuka kemeja pria tersebut. Nur amat penasaran, apa yang ada di balik kain tipis itu.


"Bukan apa-apa," tepis Arya. Ia kemudian mengengam tangan Nur. Meremasnya, memainkan jari-jemari runcing nan mungil milik Nur.


"Tunggu, aku ingin melihatnya!" Nur terus saja memaksa.


"Hem ... Ayo masuk ke ruanganmu dulu." Arya kemudian bangkit dan mengulurkan tangannya. Meraih tangan Nur yang sudah menyambutnya.


Mereka berdua berjalan beriringan menuju bangsal milik Nur Azizah. Tidak butuh waktu lama, jalan sebentar mereka langsung tiba di sana. Kamar yang sama, serba putih dan pasti sangat bersih.


KLEK


Nur menoleh, dilihatnya sang suami yang menutup pintu.


"Kenapa ditutup?" tanya Nur penasaran.


"Katanya mau lihat?"


Nur menelan ludah, wanita itu kemudian memilih duduk di pinggir ranjang rumah sakit.


Arya terlihat tenang, ia bersikap sangat biasa-biasa saja dan kelewat santai. Membuat Nur merasa canggung sendiri. Lama tak bertemu, membuat hati Nur tiba-tiba berdesir. Dag dig dug, apalagi melihat Arya yang membuka kancing bajunya sendiri.


"Apa itu?" Nur langsung berdiri, ia mendekati Arya dengan wajah yang cemas.


"Ini kenapa?" tanya Nur sekali lagi dengan panik. Ia memegangi permukaan perban yang menempel di dada suaminya.


"Hanya luka kecil?"


"Terkena apa? Katakan sejujurnya, Mas!" paksa Nur.


"Hanya luka tembak," suara Arya melemah, terdengar lirih. Sebenarnya ia takut bila membuat Nur shock karena tahu kebenarannya. Tapi, sepertinya Nur harus tahu. Itu adalah alasan ia tidak muncul di hadapan Nur berhari-hari. Bahkan seminggu lebih.


Nur melepaskan tangannya dari tubuh Arya, "Tembak?" Ia mengulang kata itu dengan tatapan nanar.


"Tidak apa-apa, aku sudah sehat. Hanya luka kecil." Arya mencoba meyakinkan bahwa ia baik-baik saja di depan istrinya yang terlihat terkejut tersebut.


"Kenapa bisa tertembak? Apa yang terjadi?"


"Sudahlah, ceritanya panjang. Bisa tidak Kita membahas yang lain?"


Nur menggeleng keras, ia butuh penjelasan lebih dan pasti.


Akhirnya Arya mengalah, "Baiklah, akan aku ceritakan."

__ADS_1


***


Satu jam lebih Nur menangis dalam pelukan Arya. Setelah mendengar semua cerita Arya, tangisnya malah pecah.


"Kenapa orang itu kejam sekali? Apa salah Mas Arya?" tanya Nur sambil menyusut hidungnya yang sudah merah seperti buah tomat.


"Sudahlah, polisi sudah memburunya. Yang penting aku tidak apa-apa."


"Tidak apa-apa bagaimana? ... Itu bukan luka lecet atau apa. Itu luka tembak ... bagaimana sampai kena jantung. Ya Tuhan, mengapa dia jahat sekali ... bagaimana kalau sampai ke sini ... bagaimana .... apa yang akan terjadi bila Mas Arya celaka dan tak selamat?" Nur terus saja bicara sambil menangis dan sesengukan.


"Hey ... Aku baik-baik saja kan sekarang?" Arya memegang kedua pundak Nur. Ia meminta Nur menatapnya, melihatnya, memastikan bahwa ia benar-benar


"Baik-baik ... saja .... bagaimana?" Nur berhenti sejenak karena suaranya terputus-putus akibat menahan tangis.


"Ada lubang di situ," ucap Nur menutup wajahnya. Entah berapa tisu yang sudah ia habiskan untuk mengusap tangisnya.


"Sudah ditutup, sudah dijahit, Nur!"


Makin ngilu lah hati Nur Azizah, ia masih belum percaya suaminya terkena tembak.


"Sudah, jangan menangis. Cepatlah sembuh, aku ingin Kita pulang sama-sama lagi. Kamu tidak rindu Cua?"


Menyebut nama Cua, mata keduanya terasa perih. Ada anak yang butuh kasih sayang dan perhatian dari mereka berdua.


"Aku mau pulang," bisik Nur sambil memeluk Arya. Pria itu meringis menahan sakit ketika Nur mempererat pelukannyan.


"Iya, setelah hasilnya bagus. Kita pulang." Arya melongarkan pelukan Nur, dadanya masih terasa sakit. Karena lukanya belum sepenuhnya pulih.


***


Senin pagi.


"Bagaimana perasaamu, Nur?" tanya Arya saat membantu Nur berkemas.


Hari ini adalah jadwal kepulangan Nur, akhirnya ia bisa pulang dan berjumpa dengan putri semata wayang mereka di rumah.


"Senang ... senang sekali." Bibirnya merekah, mengembang penuh bahagia.


"Benarkah?"


Nur mengangguk.


"Syukurlah, itu apa tidak ada yang ketinggalan lagi?"


"Sudah, sudah beres semuanya."


"Ya sudah, tunggu di sini jangan ke mana-mana. Akan aku temui dokter sebentar."


"Hemm."

__ADS_1


***


Arya kembali dengan membawa map, hasil pemeriskaan Nur selama di sana.


"Semua sudah beres, ayo pulang ke rumah." Arya mengandeng tangan Nur. Satunya lagi membawa tas milik istrinya. Berdua, menyusuri lorong rumah sakit yang penuh kenangan bagi keduannya. Sebuah kenangan pahit dan juga ada manis-manisnya, meski hanya sedikit.


Tidak lama kemudian, mereka sudah berada di dalam mobil. Mereka dijemput oleh pak sopir. Sepanjang jalan, Nur bersandar dalam dada bidang suaminya itu. Keduannya duduk di kursi belakang. Menjadikan pak sopir bagai obat nyamuk merek Kingkung.


"Nur, sudah sampai."


Arya membangunkan Nur yang malah tertidur. Macet membuat mereka lama sampai rumah.


"Aku ketiduran?" tanya Nur sambil mengucak mata.


"Ayo masuk, Cua pasti rindu berat padamu."


Nur langsung buru-buru membuka pintu, ia menginjakkan kakinya dengan rasa haru. Akhirnya ia bisa pulang juga.


"CUA ...!" panggil Nur ketika melihat Cua turun dari gendongan opanya. Cua sedang menunggu di teras rumah dengan oma dan opanya.


"Mamaa!"


Langkah kakinya yang kecil berlari menuju sang mama. Cua yang manis, poninya naik turun terkena angin.


Rasa rindu yang berat, membuat Nur langsung memeluk tubuh kecil itu.


"Anak Mama, .... Cua kangen tidak sama Mama."


Cua mengangguk, ia meletakkan kepalanya di pundak Nur. Melingkarkan lengannya, seolah Nur tidak boleh pergi lagi.


"Ayo masuk, sayang," seru Mama yang masih di teras.


Mereka pun masuk ke dalam rumah bersama-sama. Menyambut kepulangan Nur dengan rasa suka cita.


***


Siang harinya.


"Apa sudah tidur?" tanya Arya yang melihat Nur keluar dari kamar Cua.


Nur mengangguk, dan menutup pintu dengan pelan agar anak mereka tidak bangun. Cua baru saja tidur siang.


"Mana mama?" ganti Nur yang bertanya.


"Mereka lagi istirahat di kamar tamu."


"Oh ...."


Karena suasana rumah lagi sepi, semua sedang beristirahat, akhirnya Arya memiliki sebuah ide.

__ADS_1


"Ayo ke sini." Arya menarik tangan Nur dengan lembut menuju kamar utama, kamar mereka yang lama tidak dijamah.


"Mas Arya mau ngapain?" tanya Nur sok lugu dan wajah polos. Bersambung.


__ADS_2