Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Temptation


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #55


Oleh Sept


Rate 18+


"Ini kelapanya, minumlah! Biar hatimu tetap dingin," sindir Irna sembari menatap ke arah yang sama dengan Rama.


Kesal, Rama menepis buah kelapa muda yang disodorkan wanita tersebut. Pria itu gusar dan berjalan dengan cepat meninggalkan Irna. Sedangkan wanita tersebut, ia tersenyum tipis. Menatap Arya dan Nur yang mesra dari kejauhan.


Irna memperhatikan Nur dengan seksama, apa bagusnya wanita itu dari pada dirinya? Irna merasa lebih aduhai, dan pasti berpengalaman. Cuma satu yang ia kalah, Nur hanya lebih muda. Itu saja, sisanya ia merasa lebih dari pada istri Arya tersebut. Irna masih mengira, Rama mengincar Nur Azizah.


***


Candlelight dinner


Arya sudah menyiapkan makan malam romantis untuk mereka berdua. Makan malam di pinggir pantai, dengan cahaya lilin yang remang-remang.


"Kalau begini, suka tidak?" tanya Arya sembari membuka penutup mata Nur. Jadi beberapa saat lalu, mata Nur ditutup.


"Suka ... suka sekali."


"Harusnya ada Cua di sini," tambah Nur.


"Sudah malam, biarkan Cua tidur dulu. Cua mungkin mengerti, di sini banyak tidurnya. Sengaja memberi ruang untuk Kita bersama," ucap Arya asal.


"Ish!"


Arya kemudian tersenyum melihat istrinya mendesis kesal.


"Ayo kita makan, nanti keburu dingin."

__ADS_1


Mereka berdua pun makan malam romatis di tepi pantai, menikmati alunan angin dan hembusan lembutnya yang menerpa kulit. Selesai makan malam, mereka pun berjalan-jalan sebentar.


"Kita jalan ke situ bentar, ya!" Nur menunjuk jembatan yang mengarah ke tengah. Di sana lampu-lampu bersinar di tengah gelap. Dari jauh nampak seperti kunang-kunang yang indah.


"Hemm."


Arya merangkul pundak istrinya, mereka berjalan dengan perasaan damai yang menyelimuti hati keduanya. Kedamaian yang jauh dan hampir tak menepi pada hati pria yang membuntuti mereka.


***


"Mereka berdua adalah pasangan yang serasi, mengapa tidak mencari wanita yang single saja?" sindir Irma yang berjalan di sisi Rama. Sejak tadi mereka berdua membuntuti Arya. Dari makan malam di tepi pantai sampai saat ini.


"Aku membayarmu, bukan untuk ikut campur!" tukas Rama dengan wajah masam.


"Aihsss!" Irna langsung menunjukkan rasa kesalnya saat itu juga.


"Banyak wanita di luar sana, untuk apa mengejar-ngejar dia. Dan aku lihat, dia juga gak istimewa-istimewa banget. Sorry ya ... kalau boleh jujur. Bagusan aku ke mana-mana."


"Hey ... tunggu!"


Irna berlari dengan sepatu hak tinggi, ketika akan sampai ke sisi Rama. Tiba-tiba, ia malah oleng. Wanita itu hampir terjerembab ke pasir kalau tidak menarik baju Rama untuk pegangan.


Rama menahan kesal, kemudian membantu Irna berdiri dengan setengah hati.


"Kakiku ..." Irna meringis. Merasakan kakinya yang sepertinya terkilir.


"Apa lagi ini? Agrrrhhh!" gerutu Rama menahan kesal.


***


Bukannya membuntuti Arya dan Nur, Rama malah berakhir kembali ke resort dengan mengendong Irna di punggungnya. Dan sepanjang jalan, telinga Rama dibuat sakit. Karena Irna terus saja mengoceh. Rama sampai ingin menyerah. Sepertinya ia salah pilih partner kali ini.

__ADS_1


"Aku suka aromamu!" bisik Irna di telinga Rama.


"Ada banyak solasi di kamarku, apa perlu aku memakaikannya untukmu?" sindir Arya.


Irna terkekeh, dengan jahil ia malah memainkan daun telinga pria itu. Dan detik berikutnya ....


Bruakkk


"Auhhhh! Astaga," pekik Irna yang tersentak kaget saat Rama menurunkan kasar di atas ranjang.


Rama tidak peduli, pria itu kemudian berbalik pergi.


***


Nur dan Arya sudah kembali ke resort, keduanya sudah puas menikmati makan malam dan jalan-jalan santai sebentar. Kini saatnya mereka untuk istirahat.


Ternyata, kamar mereka bersebelahan. Rama sengaja mengikuti Nur dan Arya dengan totalitas tanpa batas.


Kamar Rama


Pria itu sedang menempelkan sebuah alat pada dinding, kemudian ujung alat itu tersambung ke telinga Rama. Saat sedang asik melakukan serangkaian kegiatan menguntit, tiba-tiba ada yang masuk kamarnya. Rama tidak sadar, karena ia fokus mendengar pembicaraan kamar sebelah.


Irna yang habis mengoles kakinya dengan salep, berjalan pelan-pelan masuk ke kamar pria itu. Ia geleng kepala, saat melihat tindakan Rama yang di luar prediksinya.


"Untuk apa menguping orang yang sedang bercintah? Kalau mau, kita bisa melakukannya sekarang."


Rama seketika berbalik dan melotot tajam ke arah Irna.


"Jangan buang-buang uangmu dengan percuma. Bila kemarin tidak berhasil, aku yakin ... malam ini kita bisa."


Irna melangkah mendekati Rama, dengan berani wanita itu mengecup bibir Rama. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2