Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Masa Lalu


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #44


Oleh Sept


Rate 18+


Milen menepis tangan Arya, wanita tiga puluh tahun dengan wajah kebule-bulean itu menarik tangan putrinya. Milen terus berjalan, entah mengapa, ia tidak nyaman bertemu dengan Arya.


"Daddy!"


Anak kecil itu berlari dan menghambur kepelukan seorang pria keturunan Jerman-Indonesia yang lama menetap di USA. Sekali lirikan, Milen mengerti suaminya bertanya. Siapa pria yang mengajaknya bicara tersebut.


"James, ini Arya ... Arya ... kenalin, my husband."


Arya mengangguk pelan, ia tidak mengira. Milen sudah memiliki pasangan. Dan juga anak, bukannya dulu Milen sedikit aneh? Apa Milen sengaja menipu dirinya? Arya berjibaku dengan pikirannya. Dan ketika James serta Milen pergi, anak mereka sempat melirik ke arahnya.


Anak itu sepertinya sudah besar, berapa umurnya? Bila diingat-ingat, jangan-jangan Milen hamil saat mereka masih pacaran? Arya menggeleng kepalanya keras. Pria itu lalu berbalik masuk ke dalam restaurant.


"Dari mana?" Nur mengeryitkan dahi.


"Tadi ada kenalan."


"Kenalan? Rekan bisnis?"


"Bukan ... sudah, ayo makan."


"Makan apa? Mas Arya bahkan belum pesan."


"Astaga!"


Arya mengusap wajahnya, bertemu Milen membuat otaknya sedikit konslet.


***


Di dalam mobil warna hitam, Milen menatap kosong ke depan. Sedangkan putrinya asik main handphone di kursi belakang.


"Apa dia orangnya?" tebak James.


Milen langsung menoleh. Ia menatap pria yang sudah ia nikahi selama 10 tahun ini.


"Bukan," jawab Milen ragu.


"Jangan katakan dia pria itu?"


"No ...!"


James menambah kecepatan, sepertinya ia sedang menahan kesal. James menikahi Milen 10 tahun silam, ia menerima keadaan Milen yang merupakan single mom. James marah, karena Milen tidak pernah cerita siapa ayah kandung putri Milen yang sebenarnya.


***


Di restaurant.


Sejak tadi Arya tidak fokus. Dari pada makan, pria itu malah banyak melamun. Arya masih menerka-nerka, umur anak itu. Ia penasaran, tapi tidak tahu harus bertanya pada siapa.


"Mas ... Mas!" sentak Nur kesal.


"Ah ...!"


"Cua mau ke kamar kecil, Nur ke belakang dulu."


Arya mengangguk.


Setelah Nur kembali, Arya sudah membayar billnya. Mereka pun memutuskan balik ke apartemen.

__ADS_1


Malam harinya, Nur dan Cua yang kelelahan langsung tidur dengan cepat. Sedangkan Arya, pria itu masih terjaga. Sampai ponselnya berdering, ada email masuk dari seseorang. Seseorang yang tadi siang temui.


Buru-buru ia membuka surat elektronik tersebut. Di sana Milen menyebutkan alamat, meminta Arya datang malam itu. Sebelum ia pergi, ia memastikan Nur dan Cua tidur. Arya juga sudah pesan pada asisten yang ada di apartemennya, bila Nur bangun, katakan ia ada perlu sebentar.


Hugo's Cafe


Arya masih di dalam mobil, ia sedang menunggu Milen. Beberapa menit kemudian, dengan langkah penuh keraguan, ia keluar dari mobil. Ia melihat sekeliling, mencari sosok Milen. Cinta pertama yang membuat ia patah hati.


"Ar!" panggil Milen sambil melambaikan tangan. Wajahnya tak seperti tadi siang, Milen terlihat lebih tenang. Malam itu keduannya masuk ke dalam cafe bersama.


Setelah memesan minun, Milen mulai mengatakan alasan ia meminta mereka bertemu.


"Maaf, karena harus memintamu datang ke mari," ucap Milen.


"Hemm."


"Suamiku marah, ia ingin bicara denganmu besok. Aku tahu, kamu pasti sibuk dan memiliki urusan sendiri. Tapi, untuk kali terakhir. Bisa tidak kamu menolongku?"


Arya menatap penuh tanya.


"Please Arya, aku nggak mau rumah tanggaku hancur."


"Lalu apa hubungannya denganku?" Selain heran, ia juga kesal. Sebenarnya ia muak melihat Milen, mengingat kejadian beberapa tahun silam. Di mana Milen melakukan hubungan terlarang dan ia memergokinya sendiri. Jijik, tapi kini ia penasaran. Mengapa Milen memiliki anak yang sudah beranjak remaja?


"Dia mengira kamu ayah dari putriku."


"APA?"


"Jangan marah, tolong bantu aku ..." Milen mulai gelisah saat melihat Arya yang mulai kesal. Tergambar jelas dari cara pria itu menatapku.


"Mengapa dia anakku? Sampai di titik itu saja kita nggak pernah!" sentak Arya marah.


Kadang tidur bareng, tapi nggak sampai anu.


"Aku minta maaf ... aku menyesalinya. Tapi aku mohon. Kali ini aku mohon padamu."


"Katakan saja ayahnya siapa, kenapa bawa-bawa aku segala?" Arya masih tidak terima.


"Nggak bisa, dia sekarang di Thailand. Dia bahkan sudah merombak seluruh tubuhnya. Aku nggak mau suamiku tahu masa laluku. Tolong Arya, bantu aku."


Arya tersentak, jadi wanita yang dulu satu ranjang dengan Milen memang pria. Tapi berpenampilan wanita, astaga. Sepertinya bumi sudah tua. Dipenuhi manusia menyimpang. Seolah tidak mau belajar dari sejaran. Bagaimana kaum Nabi Luth dilenyapkan.


Arya mengusap wajahnya kasar.


"Lalu kamu mau aku mengaku ,bahwa dia anakku? Jangan gila kamu Milen, kamu tidak lihat? Aku juga punya keluarga?"


Milen menyeka pipinya, kemudian merogoh ponsel dari dalam tas.


"Bantu aku sekali saja, setidaknya bilang padanya. Bahwa Kita pernah bersama. Lihat ini ... aku nggak mau keluargaku tahu, bahwa aku memiliki masa lalu yang memalukan ini."


Milen menunjukkan gallery dalam ponselnya. Terdapat banyak foto lama di mana ia berciuman dengan seorang wanita. Dan Arya ingat jelas, siapa sosok itu.


"Maaf Milen ... aku tidak bisa membantuku!"


Arya lantas bangkit, siap meninggalkan Milen.


"Mengapa kamu tidak berubah? Bukankah Kita sama-sama menyimpang?" Arya langsung berbalik.


"Jangan omong kosong, hanya karena kamu menyukai wanita. Bukan berarti aku menyukai pria!"


"Lalu kenapa kamu tidak mau bercintah denganku? Jangan bohong, sama-sama jujur."


"Ya Tuhan!!! Harus aku katakan dengan bagaimana lagi agar kamu mengerti? Aku tidak mau tidur denganmu karena aku menjagamu. Kamu tahu Milen? Aku bahkan sudah menyiapkan lamaran untukmu? Tapi apa? Kau malah tidur dengan orang lain!"

__ADS_1


Milen tersentak, ia terkejut alasan Arya yang selalu menolak jika diajak berhubungan. Ia kira Arya tidak normal. Ternyata, Milen keliru.


Setelah marah pada Milen, Arya langsung keluar. Pria itu masuk dalam mobil dan menutup pintu dengan kencang.


Tok Tok Tok


Milen mengetuk kaca mobil Arya. Kesal, Arya membuka pintunya sedikit.


"Jangan bawa aku ke dalam masalahmu! Bila suamimu tanya siapa ayah anak itu, katakan! Ayahnya sudah mati!"


Mbremmm


Arya menyalahkan mesin mobil, tidak peduli pada Milen yang berteriak memanggil namanya.


Milen pun terduduk di parkiran, ia mengusap wajahnya. Sepertinya ia akan mengatakan sesuai saran Arya. Ayah anaknya sudah mati, daripada suaminya tahu, bahwa dia pernah punya masa lalu yang menjijikkan dengan wanita jadi-jadian.


***


Klek


Arya masuk ke dalam apartemen, lampu sudah padam. Ia tidak menyadari bahwa Nur sedang memperhatikan sejak tadi.


"Dari mana?"


Arya menelan ludah.


"Ketemu teman sebentar."


"Perempuan? ... Laki-laki?"


Arya mendesis.


"Jangan mikir aneh-aneh, sudah malam. Ayo tidur."


"Sudah tahu ... sudah malam, kenapa keluar? Kenapa masuknya mengendap-ngendap seperti pencuri?" Nur menatap curiga.


"Nur ... "


"Pasti wanita kan? Aku bisa mencium parfum lain. Apa wanita yang tadi siang?" Nur terus memojokkan Arya. Sebab, ia sempat melihat Arya mengejar wanita tadi siang.


"Apa wanita itu?" tebak Nur lagi. Insting wanita memang lebih tajam dari pisau.


Arya sampai tersentak, kenapa Nur semakin hari semakin pandai menebak?


"Aku capek banget hari ini, kalau mau ribut. Kila lanjutkan besok." Arya memilih kabur dari pada menghadapi Nur. Ia merasa Nur sekarang lagi galak-galaknya. Arya memilih menghindar dan memilih zona aman.


"Mana bisa begitu? Selesaikan saat ini juga. Katakan! Tadi itu siapa? Dan kenapa Mas Arya ketemuan malam-malam?"


Arya sedang pusing gara-gara permintaan Milen yang aneh-aneh. Sampai apartemen, Nur malah mengintrogasi layaknya seorang penyidik.


"Katakan! Siapa?"


"Milen."


"Milen siapa?"


"Bukan siapa-siapa."


"Bohong!"


Arya tersenyum tipis, kemudian menarik Nur dalam pelukannya.


"Jangan khawatir, dia hanya masa lalu. Dan masa depanku bersamamu." Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2