
Suamiku Pria Tulen #74
Oleh Sept
Rate 18+
Skip kak, tidak cocok untuk anak-anak, remaja dan kakek nenek. Hehehe ... Area skip.
***
"Apa kamu ingin aku tetap tinggal di sini sampai kita tua?" tanya Irna sambil memainkan bulu-bulu lengan Rama yang halus.
"Hem," jawab Rama dengan mata terpejam.
"Apa kamu mau menyayangi Kevin seperti putramu sendiri?"
Rama terdiam, sebuah kondisi yang sama saat ia kecil dulu. Ibunya menikah lagi dan membawa pria asing menjadi ayah sambungnya. Serasa djavu, sekilas Rama mulai ragu.
"Jawab aku!"
Irna bangkit, ia menarik selimut agar tubuhnya tidak terekspos.
Rama mengangguk.
"Kalau begitu, kapan kita menikah?" kata tanya itu lolos tanpa rem.
Rama hampir terkejut, tapi kemudian meraih tubuh Irna. Menarik wanita itu dalam pelukannya.
"Kamu mau kapan?"
Irna kembali mendongak, ia menatap Rama. Mencari keseriusan di wajah pria tersebut.
"Besok!" ucap Irna dengan asal, bibirnya mengulas senyum. Rupanya ia sedang bercanda.
"Baiklah."
"Eh ... aku bercanda, Ram."
"Tapi aku serius."
"Jangan ngawur!"
"Besok akan aku siapkan semuanya."
"Jangan ... jangan! Tadi aku cuma asal bicara, Ram." Irna benar-benar panik.
"Dan aku selalu serius dengan ucapanku."
Irna tak betkutik dan hanya bisa menelan ludah dengan pasrah. Rama benar, pria itu tidak pernah main-main dengan apa yang ia katakan.
***
Di dalam sebuah mobil di siang yang terik.
"Apa kamu menyesal, menikah tanpa pesta?" tanya Rama sambil fokus menyetir.
Irna menatap Rama, kemudian menggeleng pelan.
"Terima kasih, sudah menerima kami." Irna melempar senyum paling manis, sekalian biar kadar gula darah Rama naik tajam. Agar sikapnya tambah manis ke Irna.
__ADS_1
"Hemm!" Rama menggengam tangan Irna. Meremas jari-jarinya dengan lembut. Sedangkan tangan satunya melekat pada kemudi. Keduanya sedang menuju mansion setelah menandatangani berkas pernikahan mereka.
***
Mansion mewah milik Rama.
"Malam nanti, tidur di kamarku!" pinta Rama begitu mereka tiba.
"Ah ... iya." Malu, Irna langsung jalan duluan.
Rama menatap punggung Irna dengan sudut bibir yang mengembang.
Malam Hari.
Rama sudah menunggu sejak tadi, tapi Irna tak kunjung datang ke kamarnya.
"Sedang apa, dia?" batin Rama sambil terus menatap ke arah pintu.
Sudah jam 10, belum ada tanda-tanda Irna datang. Penasaran, Rama memutuskan mencari langsung istrinya tersebut. Ya, istri. Hari ini mereka sudah menikah. Sudah sah di mata hukum.
Rama berjalan menyusuri pintu demi pintu, akhirnya ia sampai di kamar tamu. Di sana ia membuka pintu. Terlihat Irna malah tidur di samping Kendra. Rupanya wanita itu ketiduran.
"Sepertinya memiliki dua anak membuatmu kelelahan," gumam Rama.
Dengan hati-hati, ia mengangkat tubuh Irna. Memindahkan ke tempat seharusnya. Tidak lupa, sebelumnya Rama memindahkan Ken ke box bayi terlebih dahulu. Biar aman dan tidak jatuh.
Bukkk
Padahal Rama meletakkan tubuh Irna dengan pelan, tapi Irna tetap saja bangun.
"Ah ... aku ketiduran. Jam berapa ini?" Irna mengosok mata.
"Belum terlambat, masih banyak waktu."
"Eh!"
Ia panik sendiri saat Rama perlahan membuka kancing bajunya sendiri.
"Tunggu ... aku mau ke kamar Mandi!" Irna seketika itu langsung kabur.
Sedangkan Rama, ia hanya melempar senyum ke arah kamar mandi di dalam sana.
"Rupanya kamu mau di sana." Rama pun menyusul Irna ke kamar mandi.
Tok tok tok
"Kenapa dikunci?"
"Irna ...!" panggil Rama.
Di dalam kamar mandi.
"Aduh ... gawat, kenapa jadi begini. Duh ..."
Klek
Akhirnya Irna membuka pintu.
"Mau pipis? Silahkan."
__ADS_1
Irna kembali melangkah.
"Mau ke mana?" Rama mencegah Irna dengan menyentuh pundaknya.
"Sudah malam, mau tidur."
Irna menepis tangan Rama, dan berjalan cepat menuju ranjang.
"Astaga! Kenapa aku malah di sini?" batin Irna ketika mendengar derap langkah Rama yang kian jelas.
"Jangan plin-plan ... Di ranjang, kamar mandi, atau sofa?" Rama menunjuk sofa warna lemon di sampingnya.
"Eh ... bicara apa kamu, Ram. Sudah malam. Ayo tidur!" Irna yang malu dan dag dig dug, memilih menarik selimut untuk menutup tubuhnya.
Srekkk
Rama menarik kain tebal yang menganggu tersebut.
"Ram ...!"
"Bisa tidak, tetap tenang dan jangan berisik."
Irna menurut, ia menatap Rama sambil mengigit bibir bawah. Irna kini sedang terbius dengan pemandangan di depannya. Barisan roti sobek yang menggoda. Apalagi ketika Rama mulai menyentuh permukaan kulitnya dengan lembut. Belum apa-apa, Irna sudah meremang.
"Cukup! Geli!" pekik Irna ketika Rama mulai merambat.
"Husst!"
"Jangan di situ! Geli!" hampir saja Irna berteriak.
Rama sampai kesal, ini si Irna kenapa jadi super sensitive sekali.
"Tahan! Aku bahkan belum memulainya."
"Tapi geli, Ram!"
Rama membuang napas dengan kesal. Pria itu kemudian melempar tubuhnya sendiri ke samping Irna.
Bukkk
"Mendekatlah!" Rama meraih tubuh Irna, dan merapatkan ke arahnya.
Pria itu membelai rambut Irna, melainkan anak rambut itu hingga kusut.
"Jangan gitu, nanti rengket ... kusut!" Irna menjauhkan kepalanya.
"Ish ... ini nggak boleh. Itu nggak boleh. Lalu kita menikah untuk apa?" protes Rama dengan gusar.
"Iya ... tapi geli!"
"Berisik sekali!" omel Rama. Sejak tadi Irna dirasa mengulur waktu terus. Tidak sabar, Rama langsung saja melepaskan semua pakaiannya.
"Eh ... Ram!" Irna mengangkat tangan dan menutup mata.
"Ada apa denganmu? Seperti pengantin baru saja!" sindir Rama.
"Lah, kan memang pengantin baru?" balas Irna. Namun, hanya dalam hati saja.
"Ya sudah, terserah mau tutup mata atau melihat. Yang jelas aku mau kamu malam ini."
__ADS_1
"Astaga! Apa itu?" Mata Irna terbelalak di balik jari-jarinya. Niatnya tidak mau melihat, tapi jatohnya malah mengintip. Bersambung.
Skip ya. Hehehe