
Suamiku Pria Tulen #75
Oleh Sept
Rate 18+
Mohon di skip. Tidak cocok untuk anak muda, tapi bagus untuk yang sudah berumah tangga. Awas, prank di mana-mana.
***
"Ram ...!"
Telinga Rama jadi gatal, Irna di atas ranjang jadi sangat berisik. Merusak fokus pria tersebut.
"Tunggu!" ujar Irna.
Rama menatap jengkel, ingin membuat Irna diam dan penurut. Ia langsung mengungkung tubuh Irna. Mengunci ruang gerak istrinya itu.
"Duh!" batin Irna gelisah. Apalagi mata Rama yang terus saja menatapnya.
"Aku mau minum." Irna melirik gelas di atas nakas.
Saat ia mencoba bangkit, Rama menahannya. Pria itu dengan mudah meraih segelas air putih untuk Irna.
Glek glek glek
"Terima kasih."
Irna memberikan gelas itu pada Rama.
"Habis ini apalagi?" sindir Rama dengan halus.
"Hah?"
"Ya ... habis ini apa lagi? Aku rasa kamu mengulur waktu."
"Eh ... bukan! Bukan begitu!" Irna grogi dan kesulitan menelan ludah.
"Lalu?"
"Jantungku ... jantungku berdetak lebih cepat. Mungkin aku gugup. Hanya itu!" kelit Irna.
Alis Rama mengkerut, kemudian mengulurkan tangan.
"Biar aku periksa!"
Tiba-tiba telap tangan pria itu langsung menyentuh dada Irna.
"Aduh!" batin Irna mengeluh. Bukannya apa-apa, begitu disentuh Rama, bukannya meredam tapi malah berkejar-kejaran.
Apalagi Rama jahil sekali, tidak hanya memegang. Pria itu malah bermain-main dengan benda yang bukan mainan.
__ADS_1
"Jangan, Ram!" desis Irna dibarengi tubuhnya yang mengeliat. Membuat Rama semakin tertantang dan melanjutkan aksinya. Melihat Irna seperti cacing kepanasan, jiwa pria itu terkoyak. Bergejolak dan berkobar.
"Ram!"
Irna masih saja berisik, karena gemas ingin menyumpal Irna agar tidak mengeluarkan suara. Dengan cepat Rama merampas bibir Irna kembali.
Seketika Irna ikut terbakar bersama arus, wajahnya terasa semakin panas. Terasa dari napas keduanya yang terasa hangat menerpa wajah masing-masing.
Rama menarik wajahnya sesaat. Namun, Irna malah melingkarkan lengannya, dan menarik Rama semakin dekat. Kali ini, Irna yang menyesap Rama tanpa malu.
Ciuman panas yang mengawali malam pengantin mereka.
***
Irna sudah tertidur pulas di atas ranjang yang seperti kapal pecah, sedangkan Rama. Pria itu berdiri di balkon mansion miliknya. Menatap langit gelap sambil ditemani kepulan asap.
Cukup lama pria itu merenung, hingga sebuah tangan melingkar di pinggangnya.
"Sedang apa?" tanya suara itu dengan manja. Bila sebelumnya Irna terlihat keras kini wanita itu menjadi melembek.
"Di sini dingin, ayo tidur lagi!" Rama melempar puntung terakhir. Kemudian berbalik dan membopong tubuh Irna.
"Turunin!"
"Kenapa menyusulku, pasti kau mau lagi."
"Eh, bukan. Aku hanya terbangun lalu mencarimu."
"Baiklah kalau tidak mau mengaku, sepertinya kamu memang minta dipaksa daripada meminta."
Rama tersenyum penuh Arti.
Bukkk
Mereka sudah berada di sofa.
"Coba di sini!"
Irna menelan ludah, apalagi Rama juga sudah melepas kaus pendek yang semula ia kenakan.
"Astaga!" pekiknya takjub dalam hati. Sejak kapan pria itu jadi gagah begini. Pemandangan yang memanjakan mata Irna.
Detik berikutnya, Irna sudah tidak bisa konsentrasi lagi. Rama sudah membawa dirinya melayang hingga hilang kendali.
"Rammm!" desisnya tanpa daya.
"Sebentar lagi!"
***
Kamar mandi.
__ADS_1
"Apa sakit?" bisik Rama di bawah guyuran shower yang sama.
Irna menggeleng, ia bersandar pada dada bidang tersebut. Membiarkan kulit mereka bertemu dan dibasahi air yang terus jatuh dari atas tubuh mereka.
"Mandilah dulu! Kalau begini terus ... bisa-bisa kita tidak hanya mandi." Rama membelai rambut Irna yang sudah basah, ia mengusap pipi Irna yang juga terasa dingin.
"Kalau nggak mandi, lalu ngapain?"
Rama tersenyum tipis. Kata-kata Irna bagai pancing.
"Apa mau di sini juga?" tanya Rama sambil merengkuh pinggang Irna.
"Menurutmu?"
Rama menjawab dengan langsung menyesap bibir yang sudah menggodanya sedari tadi.
Di bawah guyuran air yang terus mengalir, kapal mereka kembali berlayar. Menikmati surga dunia yang selalu dirindukan. Begitulah pengantin baru, tidak pernah merasa cukup bila harus berakhir hanya sekali.
"Ram ..."
"Hemm."
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Katakan?"
"Apa kamu mengkonsumsi obat?"
"Maksudmu?"
"Anu ... itu."
"Bicara yang jelas."
"Ah ... lupakan!" Irna malu mengatakannya.
"Obat apa? Jangan membuatku penasaran," tanya Rama sambil memakai baju.
"Obat kuat!" jawab Irna cepat dan langsung menarik selimut. Malu rasanya.
"Untuk apa?" Rama melangkah ke arah tempat tidur. Ia duduk di sebelah Irna, dan menyibak selimut yang menutupi wajah Irna.
"Jadi tidak pakai?" tanya Irna lagi.
Bibir Rama melengkung. Kemudian mendekatkan wajahnya.
"Ini obatnya!"
Cup
Sekali sesapan sudah berhasil menghantarkan sengatan listrik yang membuat tubuh Rama bergejolak. Dengan perlahan ia menarik tangan Irna, menunjukkan pada wanita itu. Bagaimana effect dari ciuman barusan.
__ADS_1
Irna menelan ludah, ketika merasakan sesuatu yang membuatnya sangat malu. Bersambung.
Skip yaa.