Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Jangan Mati


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #58


Oleh Sept


Rate 18+


Irna masih tergeletak lemas di ranjang, sedangkan Rama, pria itu duduk di atas sofa sambil merokok. Menatap Irna yang sudah ia jungkir balik beberapa saat lalu.


Rama menatap benci pada Irna, tapi juga acuh. Yang penting sekarang darahnya sudah tidak bergejolak lagi. Ombak sudah tenang, karena kapal habis berlayar. Meskipun begitu, Rama tetap sakit hati. Ia merasa Irna sudah menjebak dirinya. Ia bahkan berani bersumpah, tidak akan menyentuh yang namanya wanita. Hanya membuat sakit kepala.


"Mau ke mana?" suara Irna serak saat menahan langkah Rama. Rupanya sejak tadi ia tidak tidur. Ia bahkan sadar, bahwa Rama memperhatikan dirinya.


"Bukan urusanmu!" cetus Rama dengan ketus. Pria itu kemudian menekan ujung rokok pada asbak dengan muka masam.


Mendapat jawaban yang tidak enak, Irna hanya diam. Ia kemudian memejamkan mata. Lelah rasanya setelah memberikan servis terbaiknya pada Rama, terserah pria itu mau berlagak dingin dan sekeras batu. Yang jelas ia capek, Irna mau tidur saja.


***


Di tepi pantai di tengah malam yang gelap. Nampak Rama sedang menghubungi seseorang lewat ponsel pintar miliknya.


"Urus penerbanganku, aku mau yang paling awal."


"Baik, Tuan."


Tut Tut Tut


Rama kembali memasukkan ponsel ke dalam saku celananya. Matanya menatap kosong ke tengah laut. Menatap ombak yang bergulung-gulung di bawah cahaya rembulan.


Esok harinya.


"Kenapa buru-buru pulang, padahal Kita datang belum lama." Irna terus saja mengerutu sepanjang resort sampai Bandara.


"Bisa diam tidak? Kalau berisik, akan ku turunkan di tepi jalan!"


"Ish!" Irna mendengus kesal.


***


Indonesia


Kediaman Pramudya


Rumah Arya sedang kedatangan tamu, mama kaget mengapa Arya cepat kembali. Ia hampir cemas, takut kandungan Nur kenapa-kenapa.


"Yakin tidak terjadi apa-apa?" Mama masih belum percaya.


"Ya ampun, nggak ada apa-apa, Ma." Nur meyakinkan bahwa kepulangan mereka yang mendadak memang tidak ada apa-apanya.


"Syukurlah, Mama kan khawatir." Mama mengusap pipi Cua yang kala itu sudah tenang saat di rumahnya sendiri.


***


Seminggu kemudian.


"Nur, besok aku mau ke luar kota. Kamu sama Cua ikut apa tidak?" Arya menatap penuh sayang pada istrinya. Ia mengusap perut Nur, ketika mereka sedang berbicara.


"Nggak, Mas. Nanti Cua rewel lagi."


Pergi ke mana-mana membawa anak kecil itu memang merepotkan, apalagi Nur sedang hamil. Rasanya, ngidamnya sudah lain lagi sekarang. Sudah tidak mau jalan-jalan lagi seperti sebelumnya.


"Ya sudah, cuma dua hari. Nggak papa, kan?"


"Gak usah khawatir, Mas Arya tenang saja." Nur tersenyum menatap suaminya. Tidak apa-apa dia ditinggal.


"Apa aku anterin ke rumah mama?" tawar Arya yang tidak enak meninggalkan Nur sendirian.


"Nggak ... nggak. Jangan ngrepotin mama. Udah, cuma dua hari, kan? Nur gak apa-apa, beneran."

__ADS_1


"Baiklah, tapi nanti kalau ada apa-apa langsung telpon ya."


"Hemmm,"


***


Kabar Arya yang keluar kota, akhirnya terdengar oleh Rama. Dengan cepat ia sudah memboking kamar hotel sebelah kamar Arya.


Hari keberangkatan.


"Tumben, nggak ngajak?" celoteh Irna yang melihat Rama menarik koper.


"Jangan melewati batasmu!" balas Rama dingin.


Dengan muka masam, Irna menghampiri Rama.


"Pakai dasinya dengan benar!" ucap Irna yang sudah berdiri tepat di depan Rama. Wanita itu membetulkan posisi dasi Rama yang miring. Padahal miring cuma sedikit, dasar saja si Irna tukang modus. Ia sengaja nempel-nempel sama Rama.


"Jangan berani menyentuhku!" Rama menepis tangan Irna. Habis membetulkan dasi, tangan Irna sengaja menyentuh yang lain. Membuat mood Rama langsung memburuk.


"Ish!"


Irna langsung sebal, susah sekali menggoda pria beku di depannya itu. Dengan lesu ia mundur teratur.


***


Arya sudah sampai di sebuah hotel, ia sampai beberapa saat yang lalu. Dan ketika ia akan keluar bertemu klien, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Rama. Rama ada di dalam lift ketika Arya mau masuk dan turun ke lantai bawah.


Awalnya Arya terkejut. Namun ia berusaha tenang. Entah mengapa, fellingnya kurang bagus mengenai tetangganya itu.


"Menginap di sini juga?" Rama orang pertama yang membuka obrolan.


Arya hanya mengangguk, dan tersenyum tipis. Suasana kembali hening.


"Lantai berapa?" tanya Rama saat akan memencet tombol lift.


***


Malam harinya.


Seorang wanita seksi sedang duduk di dalam kamar Rama. Ia memegang cek dan sedang mendengar perintah apa yang harus ia lakukan.


"Hanya tidur di sisinya?" tanya wanita itu tak percaya. Ia dibayar mahal hanya untuk tidur di samping seorang pria, tidak melakukan apa-apa? Aneh sekali. Biasanya ia dibayar setelah membuat pelangannya merasa puas. Rupanya, Rama sedang mengatur jebakan untuk Arya. Seolah-olah, suami Nur tersebut sudah main-main dengan wanita lain.


"Bagaimana? Kau paham apa yang harus dilakukan?"


"Baik, Tuan."


"Kalau begitu, tunggu satu jam lagi. Begitu aku membereskannya. Kau langsung masuk ke kamarnya. Tepat di sebelah," Rama melirik dinding kamar sebelahnya.


Wanita berpakaian aduhai itu pun mengangguk mengerti.


Satu jam kemudian.


Saat wanita penjebak itu mau keluar kamar dan bersiap menuju kamar Arya, tiba-tiba ada yang berjalan ke arahnya.


"Sialan! Dia membayar wanita untuk menemaninya di hotel?" pikir Irna. Ia mengepalkan tangan.


"Dasar pria sialan!" Ia merutuk sambil mendekat wanita tersebut.


"Berhenti!" sentak Irna.


Wanita itu langsung berhenti, ia menatap aneh pada Irna. Siapa wanita asing itu. Mengapa ingin bicara pada dirinya. Kenal saja tidak.


"Berani kau ganggu suami orang!" Irna melotot tajam.


Wanita itu langsung salah paham, jangan-jangan Irna adalah istri dari pria yang akan ia jebak. Tidak mau ketahuan, wanita itu langsung kabur tanpa bicara pada Iran.

__ADS_1


"Hey! Berhenti!" teriak Irna.


Irna jengkel, karena wanita itu lolos dari tangannya. Dengan gusar ia menunggu Rama tiba. Irna berdiri cukup lama di depan kamar suami palsunya.


***


Lama menunggu, akhirnya Irna memutuskan ke sebuah bar yang tidak jauh dari sana. Beberapa jam kemudian, ia kembali ke hotel tersebut. Ia mengedor pintu kamar Rama dengan brutal.


"Keluar kau!!!"


Rama yang sudah kembali ke kamarnya, merasa terganggu. Padahal ia merasa tenang, karena berpikir besok pagi akan melihat Arya shock akibat surprise darinya.


Tok Tok tok


"Jam berapa ini?" gumam Rama, pria itu kemudian melangkah menuju pintu.


KLEK


BUGH


Baru membuka pintu, Rama langsung mendapat pukulan dari Irna.


"Apa yang kau lakukan?" sentaknya kasar.


Rama memegangi tangan Irna yang terus saja memukuli dadanya.


"Mengapa kau membayar wanita lain? Pria brengsek!" maki Irna yang kala itu sudah mabuk berat.


Rama nampak berpikir, kemudian mendesis kesal. Dengan kasar, ia menarik lengan Irna untuk masuk ke dalam kamar. Kalau ketahuan Arya, bisa gagal rencananya. Padahal sejak awal, Irna sudah membuat rencananya gagal total. Tapi dia tidak tahu.


"Jangan pegang-pegang!" teriak Irna.


Rama langsung melotot tajam, yang suka pegang-pegang selama ini siapa? Ia jadi kesal dengan sikap Irna. Kalau tidak mabuk, sudah ia usir wanita tersebut.


"Wanita gila!" desis Rama kesal.


"Apa kau bilang?" telinga pemabuk sepertinya lebih sensitive.


Rama pun berkacak pinggang, ingin marah namun ia tahan.


"Aku rasa matamu sudah rusak! Seleramu dari kemarin hanya begitu-begitu saja," celoteh Irna. Wanita yang tengah mabuk itu merancau, ngomel-ngomel tak jelas.


Dari pada mendengarkan Irna terus mengoceh, dan membuat telinganya gatal, Rama menyeretnya lagi ke dalam. Kali ini, ia membawa Irna ke kamar mandi.


Byurrr


Tanpa perasaan, Rama menceburkan Irna dalam bathtub. Irna yang kala itu masih mabuk malah dengan sengaja menegelamkan diri dalam air.


"Hey! Jangan bertingkah ... KELUAR!" sentak Rama yang melihat Irna tidak mau keluar dari dalam bathtub.


"Keluar!" titahnya sekali lagi.


"Jangan main-main, mau aku seret lagi?" Rama mulai emosi.


"Ish!" Ia hanya bisa mendesis kesal.


Rama terus saja bicara sendiri, kesal karena Irna main-main seperti biasanya. Ia pun memutuskan untuk berbalik. Baru beberapa langkah, ia membuang napas dengan kesal dan menoleh.


"Na ... Irna!" Rama memanggil nama Irna berkali-kali. Namun wanita itu tidak menyahut. Rama lantas mengangkat tubuh Irna yang basah kuyup.


"Aku tahu, kau ahli dalam bersandiwara. Buka matamu, cepat!"


Lama-lama raut wajah Rama berubah, ketika Irna benar-benar tidak membuka mata. Dengan cepat ia memompa dan menekan dada Irna.


"Jangan mati di sini!" batin Rama sembari terus memompa dada wanita tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2