Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Don't Trust Me


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #23


Oleh Sept


Rate 18+


Rumah Sakit Mitra Persada, rumah sakit terdekat dengan apartemen Arya. Di sebuah ruang UGD, seorang wanita muda sedang terbaring. Dia adalah Nur, wanita yang tengah hamil muda itu kehilangan kesadaran karena terlalu banyak menghirup asap. Nur sempat terkunci beberapa saat di dalam kamar mandi ketika terjadi kebakaran.


Sebuah kebakaran yang disengaja tentunya. Ya, Rama sengaja membuat apartemen Arya terbakar. Untung saja bik Rum segera tiba. Asisten baru itu langsung histeris minta tolong pada orang-orang ketika mencium bau gosong di dalam apartmen.


Beruntung bagi Nur, api hanya melahap sebagian dapur. Tidak sampai ke kamar mandi, dan petugas keamanan pun segera tiba. Beberapa personil pemadam juga bertindak dengan cepat dan cekatan. Hingga api mudah dipadamkan, tidak sampai merambat ke mana-mana.


***


Tap tap tap


Terdengar derap langkah cukup cepat, itu bersumber dari sepatu seorang pria. Ya, pria berjas rapi berlari menyusuri lorong rumah sakit. Wajahnya memperlihatkan kecemasan yang berlebih. Dahinya dipenuhi bulir keringat, sepertinya Arya takut hal buruk menimpa Nur dan janin yang dikandung istrinya tersebut.


"Di mana Nur, Bik?" Napasnya masih terengah-engah, ketika bicara pada wanita paruh baya di depannya. Ia masih shock, ketika bik Rum mengabari ada kebakaran di apartemennya. Tanpa sadar ia langsung mencemaskan Nur yang pasti ada di dalam sana.


"Masih di dalam, Tuan. Dokter sedang menanganinya," jawab bik Rum sembari menatap pintu UGD.


"Bagaimana bisa terjadi kebakaran? Apa Nur lupa mematikan kompor atau bagaimana?" tanya Arya yang juga menatap pintu yang sama.


"Bik Rum tidak tahu, Tuan. Begitu Bibi datang, ruangan sudah dipenuhi asap."


Ketika keduannya sedang bicara, tiba-tiba dua orang berseragam polisi datang menghampiri.


"Dengan Tuan Arya?"


Arya langsung mengangguk.


"Bisa ikut bersama kami untuk memberikan beberapa keterangan."


Arya menatap pintu UGD, "Nanti, Pak. Saya sedang menunggu kondisi istri saya."


Dua orang polisi itu saling melempar pandangan. Kemudian mengangguk.


KLEK


Mendadak pintu UGD terbuka lebar, spontan Arya meninggalkan polisi tersebut dan berjalan menghampiri dokter.


"Bagaimana istri saya, Dok?" tanya Arya dengan tidak sabaran. Dan dokter menyadari akan hal itu.


"Tenang, Pak. Istri anda tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat, semua baik-baik saja," ucap dokter sambil menepuk pundak Arya.


"Alhamdulillah," seru Arya sambil melirik ke arah ranjang. Ia mengusap wajahnya dengan berat, ia akhirnya bisa bernapas lega.


***

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Nur sudah dipindahkan ke kamar lain. Sebuah kamar VIP, kamar paling mahal dan kelas nomor satu. Dari pada sebuah bangsal rumah sakit, kamar Nur yang sekarang malah lebih mirip kamar hotel, atau penginapan mewah di luar sana.


Nur masih belum siuman ketika Arya memberikan keterangan pada polisi mengenai CCTV yang tertangkap jelas gambar seorang pria. Yang jelas itu adalah sosok yang tidak asing bagi Arya. Itu adalah Rama, pria possessive yang akhir-akhir ini sepertinya kembali berulah.


Arya menatap benci pada gambar Rama yang tertangkap kamera. Di sana, ia meminta polisi segera menangkap pria jahat itu. Tangannya mengepal, rasa amarahnya semakin memuncak, apalagi ketika dengan sengaja Rama menatap CCTV, seolah sedang menantang dirinya.


Setelah memberikan keterangan, Arya bergegas ke rumah sakit. Ia sudah tidak sabar melihat kondisi Nur, meskipun Bik Rum sudah mengabari lewat ponsel, bahwa Nur sudah siuman dan terlihat baikan.


****


Ruang VIP


Nur sedang makan buah apel yang dikupas oleh Bik Rum. Padahal habis tertimpa musibah, sebuah kejadian yang mungkin luar biasa. Tapi ia nampak biasa saja. Mungkin karena Nur merasa cuma terkunci. Dari tadi Nur memang tidak diberi tahu, bahwa apartemen sudah terbakar sebagian. Arya sengaja meminta bik Rum agar tidak mengatakan apapun.


"Lagi Non?"


Nur menggeleng, rasanya satu apel yang ia makan sudah cukup. Karena sebenarnya ia ingin makan yang lain. Tapi nggak enak, Masa mau nyuruh Bik Rum.


"Bik ..."


"Iya, Non."


"Mas Arya mana?"


"Masih di jalan. Sebentar lagi mungkin tiba, Non."


Nur manggut-manggut.


"Itu apa, Bik?"


"Ini salak, bik Rum kupasin ya?"


"Nggak ... Nur bisa kupas sendiri." Nur lalu tersenyum lebar sembari mengulurkan tangan.


Ketika sudah menghabiskan salak dua biji, mendadak sosok Arya muncul dari balik pintu. Begitu masuk, ia langsung menatap Nur. Tanpa sengaja, kedua mata mereka malah saling bertemu. Canggung, Nur langsung mengalihkan perhatian. Ia pura-pura mengupas buah salak lagi.


"Saya permisi, Tuan." Bik Rum pamit keluar, memberikan privasi untuk majikannya itu. Barangkali mereka mau berbicara.


"Bagaimana kondisimu?" tanya Arya dengan kaku.


"Nur nggak apa-apa." Nur menjawab tanpa menatap pemilik sorot mata yang sedang melihatnya itu.


"Bagaimana dengan perutmu?"


"Perut?" gumam Nur, detik berikutnya ia tersadar. Oh, Arya menanyakan janin dalam perutnya.


"Iya ... apa baik-baik saja?"


Nur menyentuh perutnya sendiri, "Dia baik-baik saja." Masih dengan wajah tertunduk.

__ADS_1


Arya kemudian berjalan mendekat ke sisi ranjang. Ia rasa tidak mau membahayakan Nur lagi, sepanjang jalan menuju rumah sakit, ia sudah memikirkan masak-masak. Percuma kalau ia menutupi semua, bila ia terbuka, setidaknya Nur akan lebih hati-hati. Karena bahaya terus mengintai selama Rama masih bebas di luar sana.


"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu, Nur."


Barulah Nur mengangkat wajahnya, ia dapat melihat sorot mata tajam namun teduh tersebut. Nur sampai tak berkedip, lama menghindar dari tatapan Arya, kini mata mereka bertemu cukup lama.


Nur bahkan sempat menangkap, jakun pria itu yang naik turun. Suasana pun nampak hening, Arya malah tertegun tak melanjutkan kata-katanya. Padahal semula ia sudah berencana mengatakan perihal Rama dan masa lalunya. Tapi, menatap mata Nur. Arya langsung mundur. Takut bila Nur menjauh karena tahu cerita di balik masa lalunya.


"Cepat sembuh!" Arya mengusap rambut Nur dengan singkat. Ia buru-buru menarik tangannya kembali.


Nur mengerutkan dahi, katanya ada sesuatu yang mau dibicarakan. Tapi kok ...


Nur menelan ludah, setelah sadar bahwa pria itu barusan mengusap rambutnya. Mendadak ada yang tidak beres dengan jantungnya.


KLEK


Arya dan Nur langsung menatap pintu begitu ada yang masuk. Mama datang dan langsung menghabur dalam pelukan Nur.


"Ya ampun, kamu nggak apa-apa, Nur?" tanya mama cemas.


"Udah, pokoknya kalian tinggal sama Mama. Setidaknya sampai Nur melahirkan!" Mama terlihat memaksa.


Sedangkan Arya, ia melihat ke arah Nur. Memang bagus, tapi rumah mereka juga sebentar lagi selesai di renovasi. Tapi, Arya jadi ragu. Bila Nur sendirian, ia takut Rama akan meneror dan mengancam keluarganya.


***


Esok harinya, Nur sudah boleh pulang karena kondisi tubuhnya yang memang sudah benar-benar fit. Mereka pulang ke rumah keluarga Brotoseno. Mama sangat senang, begitu juga tuan Brotoseno.


Seperti impian semua orang, Nur mendapat sambutan hangat di keluarga sang mertua.


Malam harinya.


Arya bingung mau tidur, mau tidak mau ia masuk ke dalam kamarnya sendiri. Di sana sudah ada Nur yang sudah terbaring tapi masih terjaga.


"Aku akan tidur di sofa."


Suasana kembali canggung.


"Ranjangnya luas, Mas Arya bisa tidur di sini." Nur kemudian mengambil guling dan meletakkan tepat di tengah-tengah.


"Tidak ... tidak usah. Nanti kamu tidak nyaman."


Nur terdiam sesaat.


"Aku percaya sama Mas Arya."


Ucapan Nur membuat Arya langsung tertegun.


"Jangan percaya padaku!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2