
Suamiku Pria Tulen #127
Oleh Sept
Rate 18 +
"Lea ...!"
Kevin berlari mengejar Lea yang terus berjalan cepat menjauh darinya.
"Lea, tunggu!" Karena jangka kaki Kevin yang panjang, pria itu dengan mudah menangkap Lea.
"Jangan seperti anak kecil!" sentak Kevin ketika mereka jadi pusat perhatian di dalam sana.
Dikatakan anak kecil, setelah mendengar pertengkaran sang suami dengan pria lain dan seorang wanita, tentu hati Lea semakin sakit. Lea juga terngiang-ngiang kata-kata Kevin pada wanita tersebut. Tentang batalnya pernikahan mereka. Terlanjur cemburu, Lea menepis tangan Kevin. Dengan cepat ia kabur dan berlari keluar memanggil taksi.
"Leee! Leaaa!" Kevin mengejar Lea sampai depan mini market. Sayang, sang istri sudah dapat taksi dan langsung masuk ke dalam taksi tersebut. Tidak menyerah, Kevin mengejar taksi yang masih belum jalan itu.
Ia mengetuk kaca taksi dengan keras, tapi mobil taksi itu malah mulai menyalakan mesin dan meninggalkan dirinya.
"Lea!"
Mau berteriak kencang, semua percuma. Lea terlanjur sakit hati.
"Lebih cepat, Pak!" seru Lea pada driver di depannya. Sepanjang jalan, Lea menatap kosong ke arah jendela.
Sementara itu, Kevin yang sudah basah kuyup karena mengejar Lea, akhirnya kembali ke mobilnya. Mau mengejar sudah ketingalan jauh. Pria itu pun memutuskan ke apartment langsung.
Apartment Kevin.
Ketika sampai, ia mencari keberadaan Lea. Kevin pikir Lea akan pulang. Tapi ternyata, tidak ada Lea di sana.
"Bi, Lea belum pulang?"
Bibi menatap aneh, "Kan tadi pergi sama Tuan?"
Kevin langsung ke kamar, ia ganti pakaian dan bergegas keluar lagi.
"Bik, nanti kalau Lea pulang, segera hubungi saya."
"Baik, Tuan."
***
Kediaman Pramudya.
"Ma ..."
"Eh, Lea. Ya ampun. Nggak bilang-bilang mau ke sini. Tau gitu, Mama masakin kesuakaan Lea. Lah ... Kevin mana?"
Lea hanya tersenyum tipis, kemudian menanyakan sang papa.
"Lagi sibuk, Ma. Papa mana?"
"Oh. Ada, lagi istirahat di kamar. Tadi habis jalan-jalan di taman sambil lihat ikan Koi." Nur sama sekali tidak curiga, sebab Lea memang sering ke sana sendirian saat Kevin sedang sibuk kerja.
__ADS_1
"Lea ke kamar papa dulu ya, Ma."
"Iya, Mama buatin camilan dulu. Nanti Mama antar ke kamar."
Lea mengangguk kemudian menuju kamar papanya. Sengaja ia tidak mengatakan apapun. Ia tidak mau orang tuanya tahu, kalau sedang ribut dengan Kevin.
Beberapa saat kemudian.
Begitu sampai di rumah mertuanya, Kevin langsung masuk ke dalam. Saat bertemu asisten rumah tangga di sana, ia sempat bertanya.
"Lea di sini, Bik?"
Pelayan itu mengangguk sopan.
"Terima kasih," ucap Kevin lalu masuk ke dalam. Ia mau mencari istrinya yang sedang merajuk tersebut.
Saat berjalan menyusuri lorong rumah keluarga Pramudya, Kevin mendengar gelak tawa dari salah satu ruangan.
Kamar Arya, kamar utama.
Samar-samar Kevin mendengar Lea sedang bercanda pada kedua orang tuanya. Dan tidak mau merusak suasana, ia memilih berbalik. Menunggu di ruang tamu.
"Non Lea ada kan, Tuan?" tanya Bibi yang tadi, karena melihat Kevin melamun di ruang tamu seorang diri.
"Ada, Bik. Saya hanya masu santai di sini."
"Em ... mau minum apa, Tuan?"
"Tidak, terima kasih."
***
[Turunlah, aku di bawah]
Dengan cepat Lea membalas.
[Pulang lah!]
Kevin tersenyum kecut.
[Turun atau aku naik?]
Di dalam kamar, Lea memasang muka masam.
"Ma, bentar. Lea keluar dulu."
"Mau ke mana? Papa masih ingin mendengar ceritamu," cegah Arya.
"Bentar aja, Pa."
***
Lea menatap tangga yang biasanya ia pakai prosotan, kalau tidak ingat ia sedang hamil, rasanya ingin melakukan hal itu lagi.
Tap tap tap
__ADS_1
Akhirnya ia turun tangga sesuai semestinya. Karena ingat sedang hamil, tapi tiba-tiba ia jadi jengkel lagi.
"Istri hamil malah mikir wanita lain, astaga ... nasibku!" gerutu Lea yang menuruni tangga.
Setelah sampai di ruang tamu, pandangan Lea lurus menatap tajam ke arah Kevin. Seperti sedang melihat musuh.
"Malam ini Lea nginep."
"Nggak bisa."
Lea melotot. Ia memberikan tatapan tajam pada suaminya itu. Suami yang membuat darahnya naik turun. Namun, tiba-tiba Nur malah muncul di antara ketegangan yang terjadi.
"Kevin ... tadi kata Lea kamu sibuk?"
"Surprise, Ma. Kami mau nginep di sini. Kevin sedang cuti kok."
Lea tak berkutik, ia tidak mau membuat papanya cemas kalau tahu putrinya sedang ribut. Dengan wajah terpaksa, Lea pun mengiyakan apa kata Kevin.
***
Menjelang malam, sudah jam sembilan malam tapi Lea masih belum masuk kamarnya. Padahal di dalam sana, Kevin sudah menunggu dari tadi. Lea sengaja, ia mau memberikan pelajaran pada suaminya itu.
Kamar utama.
"Lea tidur sini ya sama kalian. Lea kangen Papa." Lea bersandar pada pundak papanya.
BUGH
Nur memukul pundak Lea.
"Aduh, Ma!" Lea memegangi pundaknya. Dan Arya mengusapnya lembut.
"Sudah menikah, sana tidur ke kamarmu."
Nur memarahi Lea seperti anak kecil.
"Paaa ... Lea di sini ya? Papa kangen Lea, kan?"
"Sudah, turuti apa kata mamamu."
Lea menghela napas dengan berat.
***
Kamar Alea Pramudya.
KLEK
Lea masuk kamar kamar dengan muka masam.
"Aku nggak mau tidur satu ranjang!"
"Aku juga nggak mau tidur di sofa," sahut Kevin dengan tenang.
Lea membuang napas dengan kesal. Mau tidak mau ia memilih tidur di sofa. Tidak mau tidur dengan penghianat.
__ADS_1
"Eh ... turunin!" teriak Lea saat Kevin mengangkat tubuhnya dengan paksa.
"Jangan teriak, atau ....!" Bersambung.