
Suamiku Pria Tulen #124
Oleh Sept
Rate 18 +
"Lah, kenapa tuh mas Kevin?" gumam Lea sembari menyusul suaminya.
Tok tok tok
"Mas Kevin ... Mas ... Mas kenapa?" Lea berdiri di depan pintu kamar mandi. Ia heran, mengapa suaminya mual-mual di dalam sana. Apa masuk angin karena AC semalam cukup dingin? Lea pun hanya bisa menebak-nebak. Sembari menunggu Kevin keluar.
KLEK
Kevin menatap tak suka pada Lea, lebih tepatnya tidak menyukai pada apa yang istrinya itu pegang.
"Astaga! Buang itu, bauk banget leaaa!" Kevin langsung menghindar dari Lea yang kala itu masih memegang kotak ice cream. Dengan bergegas ia jalan melewati Lea.
"Lah, Mas Kevin kan biasanya juga suka?" tanya Lea yang mulai heran. Ia menatap kotak ice cream di tangannya. Nggak basi kok, masih baru. Cuma lumer karena sejak tadi keluar dari freezer.
"Nggak, udah. Singkirkan itu, nyengat banget menusuk hidung!" Kevin mengibas-ngibaskan tangan. Meminta Lea untuk segera menyingkirkan benda itu jauh-jauh.
"Ish ... enak banget ini mah, Mas. Coba deh!"
"Udah! Sana, Lea ... Mas gak tahan baunya!"
"Iya ... iyaaa. Lebay banget sih!" Lea pergi sambil mengerutu.
Lea pun keluar kamar, dan pergi ke dapur untuk menyimpan ice cream durians tersebut. Setelah itu, ia balik lagi ke kamar. Dilihatnya Kevin sudah bersandar pada kepala ranjang. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Makanya Mas, jangan terlalu setres. Masa weekend masih ngurusin pekerjaan," celoteh Lea.
"Hemm!"
"Jadi nggak?"
"Apanya?" Kevin menatap heran.
Bibir Lea mengerucut, sepertinya sang suami lupa tujuan mereka semula.
"Bukan apa-apa." Lea langsung memasang muka sebal.
"Besok ya, Mas tiba-tiba pusing." Ternyata Kevin tidak lupa. Hanya moodnya mendadak naik turun dan berubah.
__ADS_1
"Apanya yang besok?" Lea mulai mancing-mancing.
"Bukan apa-apa, lupakan."
Lea kembali masam, suaminya begitu sangat jual mahal. Tadi yang ingin siapa? Kalau begini kok kelihatan Lea yang mengharap banget. Kesal, Lea memutuskan ke balkon. Mending mencari udara segar.
"Ke mana?"
"Cari angin, gerah di dalam!" jawab Lea ketus.
***
Tidak sampai di situ, Lea kembali dibuat kesal oleh tingkah Kevin yang kembali aneh-aneh.
Senin pagi, ketika mereka sarapan bersama. Waktu enak-enaknya menyantap nasi goreng sea food madakan Bibi, eh ... tiba-tiba Kevin kembali merasakan mual. Pria itu langsung mengeluarkan isi dalam perutnya.
Meminta Lea menyiapkan sarapan yang jangan menusuk hidung.
"Gimana sih, Mas? Kan ini kesukaanya Mas Kevin. Ini gak mau, itu nggak mau. Mas lagi ngerjain Lea ya? Mau ngeprank? Lea masih lama ultahnya!" cerocos Lea panjang lebar.
"Udah ... udah. Mas sarapan di kantor. Perut Mas nggak nyaman."
"Hemm ... Ya sudah. Hati-hati." Lea mengecup pungung tangan suaminya. Setelah ia mengantar suaminya sampai depan. Lea balik lagi melanjutkan makannnya.
Tap tap tap
Bibi berjalan mendekat ke meja makan, ia membawa satu piring lagi menu nasi goreng special.
"Ini, Non Lea."
"Wahh ... makasi ya, Bi. Berkat Bibi, Lea bisa makan enak kapan saja."
Bibi hanya tersenyum kecil, kemudian kembali masuk ke dapur.
Siang harinya. Lea kaget karena Kevin pulang di jam yang tidak semenstinya.
"Loh, tumben Mas?"
Bukkk
Kevin langsung merebahkan tubuhnya di sofa.
"Lea ... ke dokter ya, temani Mas ke dokter. Ada yang gak beres ini sama badan Mas."
__ADS_1
"Mas sakit?" Lea langsung meletakkan telapak tangan ke dahi Kevin.
"Nggak panas?" batin Lea.
"Makanya, tapi Mas mabok berat. Pusing dan mual."
"Ya sudah, sekarang aja. Bentar, Lea ganti baju dulu."
***
Rumah sakit Medika
Di dalam sebuah ruang pemeriksaan, terlihat seorang dokter sedang memeriksa kondisi Kevin. Ia mendengar semua keluhan sang pasien dengan saksama. Dokter itu kemudian manggut-manggut. Lalu menatap ke arah Lea yang duduk di sebelah Kevin.
"Apa istri Pak Kevin sedang hamil muda saat ini?"
"Hamil?" ulang Kevin sambil menatap Lea.
Lea menggeleng.
"Nggak ... Lea nggak hamil kok, Dok," sanggah Lea.
"Benarkah? Biar suster yang bantu periksa. Suster ...!"
"Iya, Dok." Seorang suster lalu mendekat.
"Bantu Ibu Lea untuk cek kehamilan," terang dokter pada suster yang ada di depannya.
Dokter merasa yakin sekali. Sebab dari pengalaman beliau selama ini, apa yang terjadi pada Kevin memang sering terjadi pada kasus pasiennya yang lain.
Kehamilan simpatik atau disebut juga sindrom Couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung.
Kehamilan simpatik biasanya dialami suami saat kehamilan istri berada di trimester pertama dan ketiga.
Sama halnya dengan istri yang sedang mengandung, suami yang mengalami kehamilan simpatik dapat merasakan beberapa gejala fisik, berupa mual dan muntah.
Bagi dokter, mungkin Lea belum menyadari kehamilannya. Bisa jadi karena masih terlalu dini. Atau kurang pahamnya calon ibu tersebut.
***
Kevin sedang duduk di depan dokter dengan wajah gelisah. Menanti Lea dan hasil tes yang dilakukan oleh istrinya tersebut.
KLEK
__ADS_1
Lea keluar dari kamar kecil dengan wajah aneh, seperti baru saja melihat penampakan. Bersambung.