
Suamiku Pria Tulen #47
Oleh Sept
Rate 18+
Niat hati membuat kejutan untuk Nur, mau pulang lebih awal. Karena tidak bisa lama-lama jauh dari wanita tersebut. Tapi, Arya malah dibuat terkejut setelah melihat kondisi Nur malam itu.
"Salwa ... Salwa!" teriak Arya kencang, Salwa yang sudah dag dig dug berlari masuk ke kamar utama. Dengan pura-pura terkejut Salwa bertanya apa yang terjadi.
"Panggil sopir, suruh siapkan mobilnya."
"Ba ... baik, Tuan."
Salwa pura-pura panik dan berlari ke luar. Ia mencari supir pribadi di rumah itu sesuai titah sang majikan.
Sedangkan Arya, ia langsung membopong tubuh Nur masuk ke dalam mobil yang sudah siap.
"Cepat, Pak!" ucapnya pada sopir. Arya kemudian menoleh dan menatap Salwa.
"Jaga Cua di rumah."
"Iya, Tuan."
Mbremmm
Mobil melaju cukup kencang menuju rumah sakit terdekat. Arya sudah panik ketika melihat kondisi Nur yang tidak biasa itu. Apalagi saat wanita itu memegangi dadanya, Nur terlihat kesulitan bernapas. Makin paniklah Arya melihatnya.
Di tengah kekacauan itu, Arya meraih ponsel dalam saku celananya. Pria itu lalu menghubungi penjaga di rumahnya.
"Pastikan tidak ada yang keluar atau masuk ke dalam rumah, blokir semua pintu."
__ADS_1
"Baik, Tuan!"
Tut Tut Tut
Arya meremas ponselnya, pria itu kemudian menarik Nur dalam pelukannya. Sorot matanya menyalak marah. Gejala yang Nur alami sekarang, membuat ia mengingat sesuatu. Sama persis seperti salah satu temannya dulu.
Setelah menghubungi pihak keamanan di rumahnya, Arya kembali menelpon. Kali ini ia menghubungi orang tuanya.
"Ma, tolong ambil Cua sekarang di rumah sendiri. Arya sedang perjalanan ke rumah sakit malam ini."
"Hah? Apa? Siapa yang sakit?"
Mama panik, bangun tidur ditelpon Arya dikabari kabar mengejutkan.
"Pokoknya Mama ke rumah Arya sekarang, bawa Cua jauh dari rumah itu."
"Iya ... iya. Mama dan Papa ke sana."
Sebenarnya Arya bisa saja putar balik dan mengambil Cua. Tapi, dilihatnya Nur sudah kesulitan napas. Pria itu takut, akan hal fatal yang akan terjadi. Ia baru tersadar saat di tengah jalan, gejala Nur sama persis dengan orang yang sengaja berhenti memakai barang terlarang.
Tidak mungkin Nur memakai benda-benda itu, ia rasa selama ini hidup mereka sudah bahagia. Dan lagi, ia merasa curiga. Beberapa hari ini dengan asisten di rumah. Namun, hanya felling yang belum terbukti.
***
Rumah sakit Bhakti
Sama seperti dugaan Arya, mendengar penuturan dokter kaki pria itu langsung lemas seketika. Siapa gerangan yang berani membuat istrinya menderita seperti ini?
Arya mengepalkan tangan, kemudian meremas hasil test menyeluruh yang dilakukan pada Nur. Kini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa melihat kekasih hatinya itu menderita seorang diri. Nur melawan kesakitan, berperang dalam ketergantungan.
Wanita yang tidak tahu apa-apa itu harus mengalami penderitaan berat karena obat dihentikan mendadak oleh Salwa. Suruhan Rama tersebut sengaja menyiksa dan membunuh Nur secara pelan-pelan.
__ADS_1
Arya ingin marah, tapi fokusnya masih tertuju pada kondisi Nur yang terpuruk. Bahkan diajak komunikasi pun Nur tidak konsentrasi. Nur terlihat cemas, gelisah dan nampak depression.
Beberapa saat kemudian.
Nur sudah menjalani serangkaian perawatan. Nur mulai menjalani program detoksifikasi. Tim medis berusaha membuang sisa-sisa zat terlarang dalam tubuh Nur. Tidak ada jalan lain, Arya harus merelakan Nur agar rawat inap di sana. Istrinya harus direhab, dan ini adalah pilihan yang paling cocok. Agar Nur bisa mengontrol dan mengelolah gejala saka* yang akan semakin kuat selama masa detoks, dengan pengawasan tim medis yang professional. Ini akan membuat Nur lebih aman dan nyaman dalam menjalani rehabilitation.
***
Arya melarang mama dan papanya ke rumah sakit, ia hanya meminta orang tuanya menjaga Cua saat ia fokus menemani Nur.
Sedangkan Salwa, setelah memeriksa semua CCTV, tidak ada bukti Salwa menaruh obat-obatan di dalam makanan atau minuman Nur. Yang ada hanya gerak-gerik mencurigakan yang tertangkap kamera. Dan Salwa saat ini masih di ruang tahanan. Ia masih diperiksa oleh penyidik. Dan bersikeras tidak mengaku. Malam itu, begitu mama tiba, selang beberapa saat polisi datang.
Tidak ada bukti rekaman, tidak ada bukti benda itu di mana-mana. Rupanya Salwa bekerja sangat bersih. Ia melakukan pekerjaan kotor itu dengan sangat rapi.
***
Beberapa hari kemudian.
Nur masih sering saka* akan tetapi tidak seekstrim seperti pertama. Gejalanya mulai mereda, meski tatapan matanya masih nampak kosong.
"Nur," panggil Arya sembari mengengam tangan Nur.
Nur hanya tersenyum datar tanpa ekspresi, wanita itu merasa ada yang salah dengan tubuhnya. Tiba-tiba ia merasa kembali gelisah, panik, cemas dan perasaan kacau balau. Nur memeluk tubuhnya, kemudian mengacak-acak rambutnya sendiri. Rupanya rehab tidak sesingkat yang Arya bayangkan.
Tidak tahan, Arya menghela napas panjang. Tangannya masih mengepal, kemudian melemas. Dengan hati yang berat, ia menarik Nur dalam pelukannya.
"All is well," bisik Arya lirih. Pria itu kemudian bicara dengan wajah memelas.
"Semua akan baik-baik saja. Kita akan pulang ... Kita bisa melewati bersama-sama. Aku mencintaimu sangat banyak, ingat Nur. Lawan sakit itu, kami semua menunggumu pulang."
Seolah hati kecilnya mengerti dan paham, Nur berakhir terisak dalam dekapan Arya. Bersambung.
__ADS_1