
Suamiku Pria Tulen #122
Oleh Sept
Rate 18 +
Bukan bacaan anak-anak, remaja dan belum menikah skip ya. Demi kebaikan bersama.
"Bentar lagi, kita kan mau balik ke rumah sakit," ucap Lea dengan suara lirih. Lea rasa momennya kurang tepat.
"Sebentar juga bisa," timpal Kevin dengan percaya diri tinggi.
"Ya ampun." Lea sampai tidak bisa berkata-kata. Mengapa suaminya jadi sering pengen begitu?
Namanya juga pengantin baru, tidak akan ada kata cukup. Terus berlayar sampai lemas.
***
Ketika Lea dan Kevin sedang bergelut mengarungi samudra cinta mereka di America sana. Di tempat yang berbeda, ada pasangan lain yang baru mulai menarik jangkar untuk pergi berlayar.
Kendra terlihat begitu serius. Pria itu sedang menatap layar ponselnya. Ia membuka aplikasi calenders. Ia hitung bolak-balik, bila dijumlah maka ini adalah hari kebebasan. Bebas melakukan apa saja dengan Dita.
Kamar Bayi
Setelah makan malam tadi, Dita menidurkan Orion. Karena lelah seharian menjaga bayinya itu, Dita malah ikut tertidur di sebalah Rion. Tanpa sengaja, ia justru ikut Rion berkelana di alam mimpi.
Krieeet....
Kendra sedang mencari Dita, dibukanya pintu dengan perlahan. Takut bila bayi mereka bangun. Setelah sudah di dalam sana, Kendra menatap dua orang yang paling penting dalam hidupnya kini. Keduanya terlihat tidur dengan damai. Apalagi Rion, bayi itu sesekali tersenyum meski matanya terpejam. Sepertinya, Rion sedang mimpi indah.
"Dit ... Dita ...!" bisik Kendra. Ia menyentuh lembut pundak istrinya yang sudah tertidur.
Dita mengerjap, ia mersepon sentuhan Kendra. kemudian mengosok kedua matanya.
"Aku ketiduran," ucapnya, kemudian turun dari ranjang. Sedangkan Kendra, ia memindahkan bayi mereka ke box bayi. Biar aman kalau ditinggal-tinggal.
"Jam berapa ini?" Dita menoleh, dilihatnya jam di atas meja.
Rupanya sudah jam 10 malam.
"Kok belum tidur, Ken?" tanya Dita memperhatikan suaminya yang masih segar bugar.
"Em ... itu." Kendra terlihat salah tingkah, ia memegangi tengkuk lehernya.
"Apa ada masalah di kantor?" tebak Dita. Ia tahu, akhir-akhir ini atasan Kendra sering membuat suaminya pusing karena harus mengerjakan banyak laporan sampai malam.
"Bukan, bukan itu!" Kendra langsung menepis dugaan Dita.
__ADS_1
"Kok jadi susah begini," batin Kendra.
Karena Kendra diam saja, Dita pun mau tidur lagi.
"Oh, ya sudah. Sudah malam juga, kamu tidur saja, besok kerja, kan? Hoamm!" tiba-tiba Dita menguap. Sepertinya ia masih mengantuk.
"Ah ... iya."
Kendra berbalik, canggung mau meminta sesuatu dari Dita. Bingung bagaimana memulainya, akhirnya ia menyerah.
***
Dita yang tidak peka, ia pun malah merapikan ranjang yang semula sedikit berantakan. Malam ini ia mau tidur di kamar bayi bersama Orion.
Pukul 1 malam.
Seperti biasa, Rion bangun karena popoknya tembus. Atau mungkin haus dan lapar. Dita pun bangun, setelah Rion kembali tidur, ganti ia yang merasa lapar.
Kruk kruk kruk
"Padahal tadi sudah makan banyak, kok masih lapar?" gerutu Dita.
Tidak bisa tidur, Dita pun memutuskan ke dapur untuk mencari sesuatu guna mengisi perutnya yang mulai keroncongan.
"Belum tidur?" batin Dita yang melihat Kendra menonton bola sampai larut malam di ruang tamu.
Kendra menoleh ke belakang, dilihatnya Dita dengan baju daster yang kancingnya lupa dibetulkan. Sepertinya ia habis memberi Asi. Selain memberikan sufor pada Rion, Dita selama ini juga memberikan asi ekslusive pada putranya tersebut. Karena kurang lancar, makanya ia memakai sufor sebagai tambahan.
"Belum ngantuk," jawab Ken dengan mood yang kurang bagus. Ken sedang dilema, pria itu lagi gegana. Sedang ingin, tapi bingung bilangnya. Alhasil, ia hanya menahannya seorang diri. Sampai kepalanya pusing sendiri.
Dita yang belum peka, hanya mengatupkan bibir kemudian ke dapur.
5 menit kemudian.
Sudah kenyang, ia pun berniat balik lagi ke kamar. Sembari berjalan ia melirik ke arah Kendra. Aneh, pria itu memang menatap TV tapi Dita rasa Kendra sedang melamun.
"Ken," sapa Dita.
Wanita itu duduk tak jauh di sebelah Kendra.
"Apa ada masalah, coba ceritakan. Aku lihat wajahmu menyimpan masalah."
Kendra tersenyum tipis.
"Tidak ada, sudah ... tidurlah." Kendra sudah bad mood.
"Benarkah?"
__ADS_1
Kendra mengangguk. Dan karena pria itu tidak mau berterus terang, Dita tidak ingin memaksa. Ia pun beranjak.
Setelah Dita pergi, Kendra membuang napas dengan berat. Ia kemudian melempar remote yang ada di tangannya. Dengan cepat ia menyusul Dita.
"Diittt!"
Dita menoleh, ia berdiri terpaku di depan kamar bayi. Memperhatikan wajah Kendra dengan saksama.
"Katakan yang ingin kamu katakan!" ucap Dita yang melihat Kendra ragu saat akan berbicara.
Kendra pun menghampiri istrinya, sembari menelan ludah ia menatap mata wanita tersebut.
"Tidurlah denganku malam ini!"
Akhirnya Kendra bisa mengatakannya. Melihat reaksi Dita yang terkejut, membuat Kendra langsung minder dan berkecil hati. Ia pun langsung kembali berbicara.
"Jangan khawatir, aku tidak akan memaksa. Jika kamu belum siap, aku tidak akan memaksa."
Kendra berbalik, ia memejamkan matanya dalam-dalam. Harusnya ia tidak buru-buru. Pria itu merutuki dirinya sendiri. Sedangkan Dita, ia masih berdiri di tempatnya semula.
Dita butuh waktu untuk mencerna semuanya, menyadari bahwa sang suami sedang ingin mengajak duet. Akhirnya Dita mulai peka. "Oh, pantes!" batin Dita yang merasa Kendra dari tadi agak bagaimana gitu.
"Di kamarku atau kamarmu?"
Suara Dita membuat jantung Kendra yang semula lemah, kembang kempis langsung berdegup kencang. Meletup-letup seperti kembang api. Apakah itu sinyal, sebuah lampu hijau dari Dita? Tidak mau menebak-nebak. Ken langsung berbalik dan mendekat kepada Dita.
Ketika jarak tinggal satu meter, Kendra langsung merengkuh pinggang Dita. Pria itu sudah tidak tahan lagi, sudah lama hanya ditahan-tahan saja.Tanpa banyak kata, ia langsung membopong tubuh Dita ke kamarnya.
Bukkkk
Direbahkannya tubuh Dita di atas ranjang yang ada di kamarnya. Keduanya saling menatap, sembari terus menatap, Kendra melepas kancing daster Dita satu persatu. Terlihat sekali pria itu sangat gugup, karena Dita melihat tangan itu gemetar.
Settt
Kini giliran Kendra yang melepaskan bajunya sendiri. Terlihat barisan roti sobek yang aduhai. Membuat Dita silau sampai harus memalingkan wajah.
Dita malu, dan wajahnya jadi terasa hangat. Apalagi ketika detik berikutnya celana Ken yang melayang hilang entah dilempar ke mana oleh suaminya tersebut.
Benar-benar merasa malu, Dita menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
Cup
Ken mengecup pungung tangan tersebut, turun ke bawah. Hingga sampai dagu yang juga masih tertutup rapat tangan Dita.
Kendra tidak berhenti, kini ia menelusuri semakin ke bawah. Hingga tubuh Dita mengeliat, wanita itu seperti cacing kepanasan saat Kendra terus saja menyerah tanpa ampun. Dita tak betkutik, ia meremang bersama sentuhan Kendra yang membuatnya melayang-layang. Bersambung.
wkwkwkwk
__ADS_1