
Suamiku Pria Tulen #113
Oleh Sept
Rate 18 +
- Orion Bratadikara -
Dita berangsur pulih pasca menjalani persalinan secara caesar. Dan hari ini adalah hari kepulangan Dita dari rumah sakit. Semua menyambut dengan suka cita. Kamar bayi pub sudah disiapkan Kendra beberapa waktu sebelumnya.
Semua orang bersuka ria, merayakan moment penyambutan anggota keluarga baru mereka. Keluarga Rama dan Bima hadir, kecuali Kevin dan istrinya.
Mulanya Kendra terkejut mengetahui sang kakak sudah menikah. Tapi, mengingat apa yang sudah ia lakukan pada Kevin dan Dita. Kendra memilih menjauh dahulu. Nanti, bila sudah saatnya. Dan emosi sang kakak mereda, ia berjanji akan meminta maaf dengan benar pada kakaknya itu. Sebab, mereka berdua benar-benar sudah hilang kontak berbulan-bulan ini.
***
"Sekarang fokus pada keluarga kecilmu, Ken. Mengenai masa lalu, Mama mau kamu membuat itu semua menjadi pembelajaran. Sekarang sudah hadir anak di antara kalian. Mama minta, kamu menjaganya baik-baik."
Irna menasehati Kendra, keduanya ada di kamar tamu. Sedangkan yang lain berkumpul di ruang keluarga.
"Bagaimana bila Dita menagih janjinya, Ma?"
"Cukup buat Dita nyaman di dekatmu. Dia pasti melupakan perjanjian konyol itu."
"Tapi, Ma ..."
"Pada dasarnya, yang wanita butuhkan adalah cinta tulus. Bukannya kamu menyukainya? Tunjukkan! Toh kakakmu Kevin sudah menikah dengan wanita lain. Kamu dan Dita juga berhak untuk bahagia. Apalagi sudah ada anak. Jangan korbankan anak, dan berusaha lah dengan keras. Sebagai perempuan, Mama tahu bagaimana perasaan Dita selama ini."
Kevin nampak memikirkan sesuatu, karena sejujurnya ia juga tidak ingin berpisah.
"Mama mau kamu bahagia," ucap Irna sembari menyentuh pundak Kendra. Ia lalu beranjak dan bergabung dengan yang lain di luar sana. Sementara Kendra, pria itu nampak memikirkan sesuatu dengan serius.
***
Apartment Kendra pagi sampai sore tadi sangat ramai, tapi kini sudah sepi kembali. Setelah acara aqiqah selesai, semua kerabat dekat dan rekan kerja Kendra pulang satu persatu. Menyisahkan Kendra dan keluarga kecilnya, serta Bibi. Asisten yang sudah lama setia di kediaman Irna sebelumnya.
Waktu itu Dita nampak menahan rasa kantuk yang berat, beberapa malam terus bergadang, karena si kecil yang tak mau diajak tidur.
__ADS_1
Malam ini, bayinya kembali rewel. Bayi munggil bernama Orion Bratadikara itu terus saja menangis. Membuat Kendra masuk ke kamar bayi. Di sana dilihatnya Dita tertidur dan Rion menangis.
Dengan lembut, Kendra menggendong bayinya. Menimang mahluk kecil tanpa dosa tersebut.
"Rion lapar?" tanya Kendra pada bayi munggil yang kulitnya selembut sutra terbaik tersebut.
Ia kemudian melihat dot bayi yang ada di atas nakas, tanpa membangunkan Dita, Kendra menaruh putranya kembali ke box bayi. Sembari menyalakan permainan di atas box bayi, Kendra membuat minuman formula untuk si kecil Orion.
Dita yang merasa ada seseorang lalau lalang di sampingnya, mengosok mata. Ia sempat terhenyak ketika menyadari ada Kendra di dalam sana.
"Apa Rion rewel?" tanya Dita spontan.
"Tidak! Rion hanya mau ini!" Kendra mengacungkan dot di tangannya.
"Ah ... berikan padaku. Biar aku pangku."
"Tidak, dia sudah tenang. Kamu tidur lagi aja, Dit."
"Tidak apa-apa, berikan padaku. Aku sudah tidur barusan."
"Nggak, kamu tidur aja. Rion biar aku yang jaga."
Karena memang masih ngantuk berat, tidak butuh waktu lama dia kembali tertidur. Begitu juga Rion dan Kendra, semua ikut diserang rasa kantuk. Akhirnya Kendra tidur di sofa. Sekalian jaga-jaga kalau Rion nanti nangis terbangun tengah malam.
Tengah malam.
Dita terbatuk, ia kemudian mencari air minum. Setelah membasahi kerongkongan, ia hendak tidur kembali. Tapi, matanya tidak sengaja menatap Kendra yang tidur di sofa. Merasa kasihan, Dita pun mengambil selimut.
Dengan hati-hati ia menyelimuti suaminya tersebut, agar tidak bangun. Dasar Kendra yang sensitive, saat Dita berbalik mau kembali ke tempat tidur, Ken justru memegang tangan Dita.
"Astaga! Kau mengejutkanku!" Dita menarik tangannya. Kontan saja ia kaget, karena ia kira Ken sudah tidur nyenyak.
Dita semakin salah tingkah karena pria tersebut terus saja menatapnya.
"Aku ke sana dulu." Merasa canggung sendiri, karena ditatap seperti itu. Dita memutuskan menjauh.
"Dit ..."
__ADS_1
"Jalan terus ... jangan hiraukan dia," batin Dita saat mendengar Kendra memanggil namanya dengan lirih.
"Tidak apa-apa, kamu tidak mau menatapku. Cukup dengar kata-kataku ini. Aku sudah pikirkan cukup lama ... Mengenai perjanjian itu. Aku tidak ingin melakukannya. Aku ingin Orion ... dan juga kamu."
"Kamu masih mengantuk, kita bicaranya besok saja." Dita mencoba menghindari pembicaraan tersebut.
"Aku sadar, sangat sadar."
Kendra bangkit, kemudian berdiri mendekati Dita. Sedangkan Dita, ia masih membelakangi Kendra. Mengigit bibirnya karena gelisah.
"Dit!"
Kendra berjalan dan berhenti tepat di depan wanita tersebut.
"Bisakah kita tetap bersama?"
Melihat keseriusan di mata Kendra, Dita dilema, bingung mau menjawab apa. Jujur, akhir-akhir ini ia memang sudah nyaman. Tapi, entahlah. Hati Dita belum terbuka sepenuhnya.
"Apa mungkin kamu masih marah padaku?"
Dita memalingkan wajah.
"Ah ... sepertinya iya. Baiklah, kesalahanku memang tidak akan termaafkan. Aku tidak akan memaksa lagi. Yang jelas, aku sudah katakan apa yang aku rasa. Aku menghargai keputusanmu itu. Seperti janji semula, aku akan mengurus segalanya. Sesuai dengan rencana awal kita."
Tiba-tiba Dita merasa dadanya sesak, mendengar Kendra akan menepati janjinya, mengapa Dita tidak merasa puas dan bahagia saat mereka benar-benar akan berpisah? Apakah hatinya mulai goyah?
"Jika kamu pergi, siapa yang akan menggendong Rion tengah malam?"
Dita mengusap pipinya yang sudah berair. Dan Kendra nampak terkejut dengan ucapan Dita.
Setiap hari hidup di bawah satu atap yang sama, lambat laun rasa nyaman mulai tercipta. Dita sudah terbiasa ada Kendra di sisinya. Ia dilema, bila tiba-tiba Kendra harus menarik diri dari hidupnya. Dengan alasan Orion, Dita menahan Kendra.
"Apa tidak masalah, aku tidak menepati janji?" tanya Kendra untuk meyakinkan dirinya sekali lagi. Mungkin ia salah dengar.
Dita hanya mengangguk pelan, kemudian menundukkan wajahnya. Seolah mendapat door prizes, saking senangnya Kendra ikut menundukkan wajahnya. Ia mencium pipi Dita. Membuat wanita itu langsung mendongak karena terkejut.
Dua pasang mata itu pun kini bertemu, saling menatap. Semakin dalam, seolah sedang mencari jalan keluar. Ada yang tersesat rindu di dalam sana. Kendra dan Dita, berbicara hanya dengan saling menatap.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Kendra bertindak mengikuti naluri lelaki. Ia kembali menurunkan wajah. Kali ini, ia mengecup bibir Dita dengan lembut. Tak seperti dulu, Dita tidak mengunci rapat mulutnya. Wanita itu seakan menyambut belaian yang Kendra tawarkan.
Di malam yang dingin, wajah keduanya malah mendadak terasa panas. Bersambung. Mungkin AC-nya mati.