Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Ternoda Di Tangan Suami


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #16


Oleh Sept


Rate 18+


"Mas Arya, jangan!" Nur terus memohon dan meratap. Berharap Arya merasa iba. Ia beringsut tak kala Arya sudah meletakan tubuhnya di atas ranjang.


Dilihatnya dengan tatapan nanar, hatinya mulai dirundung gelisah tak kala melihat Arya melepas kemejanya.


"Mas Arya sudah janji! Mas nggak bakal nyentuh Nur!" protes Nur dengan suara serak yang mulai meninggi. Ia sedang menuntut janji pada pria yang kini sudah ganti posisi tersebut.


Arya sudah mengkungkung tubuh gadis itu, dengan bertumpu pada lengan, dan tatapan mata Arya menatap tajam pada gadis yang terlentang di bawahnya itu. Pria tersebut juga sudah tidak memakai atasan. Pakaian yang semula melekat pada tubuhnya yang tegap, sudah melayang entah ke mana. Sesaat yang lalu, Arya sudah melempar kain itu.


"Jangan, Mas!" pinta Nur berulang-ulang.


Seolah tidak bisa mendengar, atau ia sengaja mengabaikannya. Arya terus saja melakukan aksinya. Ia membelai tubuh Nur, merayap seperti cicak.


Tidak peduli kaki Nur yang terus meronta, sedangkan kedua tangan Nur, sudah dalam cengkraman pria itu. Arya mengengam kedua tangan Nur, mencengkram pergelangan tangan gadis itu. Gelap mata, membuat Arya hilang kendali. Sepertinya, dosis yang diberikan Rama sangat berat dan banyak.


Terlihat dari gelagat Arya yang kepanasan bukan main, meskipun bajunya sudah ia lepas, tapi Arya masih merasa panas di dalam tubuhnya. Rasa gerah, dan terbakar yang sangat menyiksa.


"Tolong aku," bisik Arya lirih. Setelah itu ia menyesap leher kemudian bermain-main di sekitar sana.


"Lepasin, Mas ..." Nur terus saja memohon.


Tidak mau ada yang mengusik, ia menempelkan telunjuk tepat di bibir istrinya itu. Seolah mengatakan, jangan berisik. Ia sedang menikmati permainan yang gila ini.


Mata Nur terpejam, saat pria itu kembali bermain-main. Perlahan bulir bening menetes dari sudut matanya. Dan Arya kebetulan melihatnya.


"Jangan menangis, maafkan aku yang tidak bisa menepati janji."


Krekkk


Arya langsung membuka paksa baju piyama gadis tersebut. Membuat gunung Everest menyembul dengan jelas.


Nur ingin menarik tangannya, ia ingin menutupi bagian dadanya yang terekspose. Sayang, Arya mengengam pergelangan tangannya dengan erat.


Gadis itu hanya bisa menahan malu, tanpa bisa berbuat sesuatu. Hanya menangis, karena tidak berdaya.

__ADS_1


Saat Nur mulai pasrah tak berdaya, mata Arya malah terbelalak. Jika tidak salah, ini adalah kali pertama ia menatap bagian wanita itu dari dekat dan jelas.


"Lakukan denganku malam ini, aku suamimu kan?" bisik Arya sembari terus berkelana.


Tubuh Nur bergetar menahan tangis, sungguh ia ingin lari. Arya benar-benar sama seperti pria yang sudah-sudah. Tidak ada yang tulus, pria yang bertemu dengannya hanya ingin tubuhnya saja.


"Jangan takut, hanya malam ini. Tolong aku ... malam ini saja!" mohon Arya dengan gerakan memaksa.


Ia memeluk tubuh Nur dengan erat, melihat Nur yang hanya memakai kacamata kuda. Membuat sesuatu di sana bereaksi. Arya mulai tidak tahan, darahnya kian mendidih. Jiwa laki-lakinya terkoyak.


Dengan nekat, ia merampas bibir ranum yang merah itu. Bukan karena lipstick, tapi karena terus menangis. Detik berikutnya, Arya menyesap dengan lembut. Berirama dan pelan. Nur yang semula terisak, mulai terdiam. Tapi, air matanya masih terus keluar.


semakin lama ciuman itu mulai berubah, Arya yang semula kalem, mulai meningkatkan ritme. Bermain-main di dalam sana, dan beberapa kali sengaja mengigit lidah dan bibir istrinya itu. Seperti pemain solo, seperti mencium manekin. Hambar tak terasa.


Merasa tidak puas, Arya melakukan sesuatu yang di luar kepalanya. Sesuatu yang tidak pernah ia tertarik sebelumnya. Dengan gerakan lembut, ia meremas mount Everest.


Hal itu sukses membuat Nur mengeliat menahan sensasi rasa yang berbeda.


"Jangan!" sentak Nur kaget. Setelah berhasil melepaskan tangannya, ia mendorong kuat kepala Arya. Pria itu mau menyesapnya. Jelas saja Nur langsung menolak dan mengeliat kuat.


Arya yang sudah keluar jalur karena obat yang diberikan Rama, tidak peduli perlawanan Nur. Ia kembali mendekatkan wajahnya ke dada Nur. Dengan gerakan cepat, ia malahap apa yang sudah di depannya itu. Tidak peduli dengan Nur yang meronta. Arya hanya mau pelepasan malam ini juga.


Ketika bibirnya sibuk menjelajahi isi di dalam sana, tangan Arya kembali berulah. Kali ini ia menarik paksa celana piyama yang mudah di lepas tersebut.


Panik, Nur langsung memegangi celananya agar tidak bisa dilepas. Namun, berapa sih tenaga gadis tersebut. Sekali tarikan, Arya bisa membuatnya tidak memakai apa-apa.


"Jangan, Mas!" rintih Nur sambil menggeleng kepalanya, berharap belas kasih dari suaminya. Suami yang ia nikahi karena sebuah perjanjian, bukan karena rasa cinta dan suka sama suka.


Mungkin matanya sudah buta, telinganya mendadak tuli. Semakin Nur memohon, semakin Arya tidak terkendali.


Bukkk


Arya melempar celananya sendiri ke sembarang arah. Dilihatnya Nur yang akan bangkit dan terus beringsut. Wajah gadis itu mulai pucat, mungkin ketakutan melihat rudal.


Dengan lembut, Arya kembali menarik tangan Nur. Membuat gadis itu seperti sebelumnya, terlentang di bawah kuasanya. Tangannya yang kekar, membelai pipi Nur. Menyibak anak rambut yang menutupi wajah gadis tersebut.


Arya dapat merasakan keringat dingin sang gadis, tapi mau bagaimana lagi. Ia sungguh butuh Nur malam ini.


Cup

__ADS_1


Ia mengecup dua mata itu saling bergantian. Kemudian turun ke hidung. Semakin ke bawah, menyesap sekilas di bibir Nur yang sudah kebas itu. Lalu merayap lebih ke bawah lagi. Dilihatnya dada Nur yang naik-turun.


Tidak lagi meronta, Arya membuat Nur meremang dan mengeliat ketika ia menyentuh tubuh gadis itu satu persatu dengan jari-jarinya.


Melihat Nur yang seperti itu, Arya semakin tidak tahan. Dengan gerakan cepat dan kasar, ia menerobos masuk ke dalam tubuh sang gadis.


Betapa terkejutnya gadis tersebut, Nur memekik menahan perih yang luar biasa. Ada sesuatu yang masuk, benda asing yang membuatnya merasa nyeri luar biasa.


"Hanya sebentar, tahan!" ucap Arya dengan suara yang serak.


Dengan gerakan cepat, ia membuat Nur kembali merasakan rasa sakit yang tidak terkira. Semakin lama, sentakan pria itu semakin cepat, tidak peduli pada wajah Nur yang sudah pucat menahan sakit. Arya terus saja melakukan gerakan itu.


Detik berikutnya, Arya mencengkram kedua pundak gadis itu. Matanya terpejam, seperti menahan sesuatu. Nur pun sama, ia menutup matanya lekat-lekat. Hanya air mata yang menetes dari sudut matanya. Hanya itu yang mengambarkan, bagaimana perasaan Nur malam ini. Hilang kesucian di tangan suami sendiri.


Bukkk


Arya melemparkan tubuhnya sendiri ke samping Nur. Napasnya memburu, seperti habis memutari lapangan. Pria itu menatap langit-langit kamar hotel cukup lama, kemudian melirik Nur yang terbaring di sisinya.


"Kamu pasti merasa dirugikan, aku akan membayar sebagai kompensasi," ucap Arya di tengah sunyi.


Gadis yang sejak tadi menangis dalam diam, akhirnya tidak bisa lagi membendung perasaannya. Tangis Nur pecah. Bersambung.


Nur Azizah bukan barang, mengapa ia diperlakukan demikian?


Sambil nunggu up baca juga novel Sept yang lain ya.


Rahim Bayaran


Istri Gelap Presdir


Dea I Love You


Jerat Cinta Tuan Muda


Kesetiaan cinta


Fb : Sept September


Instagram : Sept_September2020

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2