Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
Tersentuh


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #83


Oleh Sept


Rate 18+


Rama duduk terdiam di depan UGD, ia berdiri kemudian berjalan mondar-mandir. Lalu duduk kembali, mengusap wajahnya dengan kasar. Terlihat sekali kalau pria itu sangat frustasi.


Flashbacks On


"Na ... Bangun. IRNAAAAA!" sentak Rama dengan emosional. Ia marah karena wanita itu tidak mau membuka matanya.


Melihat Irna yang terus mengucurkan darah pada luka di pungungnya, Rama langsung bergegas membopong Irna keluar dari tempat tersembunyi tersebut.


Ia berteriak-teriak memanggil penjaga dan memanggil sopir pribadinya.


"Rumah sakit! Cepat antar saya ke rumah sakit!" teriaknya histeris pada para bawahannya yang kaget melihat nyonya besarnya bersimbah darah.


"Ba ... Baik, Tuan."


Pak sopir langsung bergegas menyiapkan mobil untuk mengantarkan keduanya menuju rumah sakit.


***


"Tolong cepat sedikit!" sentaknya pada pak sopir.


"Ini sudah kecepatan maksimum, Tuan!" Sopir tadi menoleh ke belakang. Melihat kepanikan di wajah bosnya. Jarang sekali bosnya itu terlihat panik dan khawatir.


"Aku tidak peduli! Kalau sampai nyawanya tidak tertolong, akan ku pecat kau!" ancamnya.


Pak sopir hanya bisa menelan ludah dan menambah kecepatan lagi.


Rumah sakit International Phaross


Begitu mereka tiba, tenaga medis langsung menangani Irna. Mereka langsung membawa Irna ke ruang UGD. Sedangkan Rama, pria itu seperti orang ling-lung ketika melihat pintu UGD ditutup.


Flashbacks End


***


"Bagaimana istri saya?"


Saat dokter keluar, Rama langsung mencegah pria berjubah biru tersebut.

__ADS_1


"Kami masih menanganinya, Pak. Mohon bersabar."


Dokter itu kembali masuk dengan beberapa tim yang lain. Mereka sepertinya mendiskusikan sesuatu.


Rama yang tidak bisa betkutik hanya bisa menatap nanar. Ia tidak punya kuasa apapun, tidak bisa menyembuhkan luka Irna karena dirinya. Pria itu kini terpuruk dan hanya bisa memukuli tembok karena frustasi.


Hingga seorang suster lewat, Rama pun mengakhiri aksinya. Terlihat sekali kalau pria itu nampak kacau dan menyesali apa yang sudah terjadi. Namun, semua sudah terlambat. Irna sudah terluka karena ulahnya.


***


Ruang rawat VIP


Irna masih belum siuman, pengaruh obat bius masih membuat wanita itu terlelap.


"Mengapa istri saya belum sadar? Katanya operasinya berhasil?" Rama menuntut penjelasan dari dokter. Mengapa Irna tak kunjung membuka mata.


"Tenang, Pak. Pasien masih dalam pengaruh bius."


"Kalau sampai istri saya tidak bangun, akan saya tuntut rumah sakit ini!" ancam Rama pada pria bejas putih tersebut.


Dokter hanya menatap aneh. Namun, ia maklum. Mungkin keluarga pasien shock dengan apa yang menimpa si pasien. Tidak ingin menangapi keluarga pasien yang kelewat baper dan bar-bar, dokter pun memilih pamit untuk undur diri. Lagian banyak pasien yang harus ditangani juga.


"Dokter mau ke mana? Istri saya belum bangun!" Rama menghalangi dokter untuk pergi. Dan suster yang juga ada di sana, hanya bisa geleng-geleng kepala, dan memgaruk kepalanya yang tidak gatal. Baru kali ini ada keluarga pasien yang kelewat lebay.


"Maaf, Pak. Masih banyak pasien yang harus saya tangani."


"Fokus sama istri saya dulu! Sembuhkan lukanya, berapapun akan saya bayar!


Pak dokter hanya bisa menyentuh dahinya, karena pusing menghadapi manusia seperti Rama.


***


Beruntung bagi dokter dan suster, beberapa saat kemudian Irna mengerakkan jari-jarinya. Kelopak matanya juga bergerak-gerak. Sepertinya ia akan segera siuman.


"Na ...!" Rama langsung berdiri di samping ranjang.


"Dok, periksa istri saya!" titahnya pada dokter yang masih di dalam sana.


Ketika dokter memeriksa satu persatu, mata Irna mulai terbuka. Bila semula Rama selalu ada di dekatnya. Ketika wanita itu membuka mata dengan sempurna, Rama justru berdiri agak jauh. Ia menjaga jarak.


Irna menatapnya, mengerjap dan bulir bening menetes dari sudut matanya. Rama memalingkan wajah, tak mampu menatap wajah itu. Karena semua baik-baik saja, dokter pun akhirnya benar-benar bisa keluar dari sana.


***

__ADS_1


Dokter dan suster sudah meninggalkan kamar VIP tersebut. Kini tinggal dua orang yang tengelam dalam sepi. Tanpa suara, hanya detak jam yang terdengar oleh telinga.


"Ram ...!" suara Irna terdengar lirih memanggil nama suaminya. Dilihatnya sang suami masih diam saja. Tidak mau mendekat atau menanyakan keadaannya.


Rama justru bergeming, ia diam terpaku pada tempatnya semula.


"Ramaaa!" Irna terus saja memanggil namanya, membuat Rama tidak tahan dan langsung mendekati Irna.


"Wanita bodoh!" makinya.


Bibir Irna bergetar, matanya pun sudah berkaca-kaca.


"Kau wanita paling bodoh!"


Irna terisak makin dalam.


"Kau bodoh sekali!" Rama terus saja memarahi istrinya tersebut.


Pria itu pun akhirnya duduk di tepi ranjang, kemudian memeluk Irna dengan rasa yang penuh sesal.


"Kau membuatku gila!"


"Tolong jangan marah, tubuhku sakit semua," bisiknya memelas. Irna mengalungkan lengan ke leher Rama. Mengikatnya erat, seolah tidak rela pria itu jahat pada dirinya.


"Jangan lakukan itu lagi!"


"Pasti ... pasti akan aku lakukan lagi."


"Kau memang tidak pernah mendengar ucapanku!"


Rama melepaskan lengan Irna, kemudian menyentuh wajah Irna lembut. Ia menatapnya dalam.


"Kau tidak takut denganku?"


Irna menggeleng.


"Kenapa?"


Irna meraih tangan Rama, meletakkan telapak tangan itu tepat ke dadanya.


"Aku sangat takut, tapi ... hatiku lebih takut saat melihat kau terluka." Bersambung.


Bola mata Rama membulat, pria itu terlihat terkejut. Kata-kata Irna bagai aliran listrik yang langsung menyengat hatinya.

__ADS_1


__ADS_2