
Suamiku Pria Tulen #121
Oleh Sept
Rate 18 +
Setelah melewati banyak negara, akhirnya burung besi itu pun mendarat juga dengan sempurna. Lebih dari 20 jam, Kevin dan Lea menempuh perjalanan hingga sampai ke negara tersebut.
Begitu tiba di Bandara, Cua dan anak kembarnya sudah menjemput mereka. Lea melambai dan langsung berjalan cepat memeluk keponakan kembarnya.
"Papa gimana, Mbak?" tanya Lea kemudian setelah melepas pelukan para bocil.
"Papa udah mendingan, tapi tetap harus dirawat intensive dulu. Mengingat usia papa yang sudah tua, takut beresiko bila Kita bawa pulang ke Indonesia."
Tiba-tiba Lea merasa sesuatu yang membuat matanya perih, tapi bukan bawang.
"Heii ... jangan cengeng! Harus strong di mata papa nanti. Buat papa semangat, jangan malah memperlihatkan wajah sedihmu itu!" Cua menepuk punggung adiknya, memeluknya erat. Melihat Arya sakit, sebagai anak, keduanya pasti merasakan kesedihan yang sama. Hanya saja, Cua jauh lebih dewasa dan bisa kontrol emosi. Beda sekali dengan Cua. Ternyata, si badung jadi mellow juga kalau lihat papanya sakit.
Setelah melepas pelukan Lea, Cua ganti menyapa Kevin. Saat itu Kevin sedang bertegur sapa dengan ayah si kembar.
"Bagaimana kabarnya, Vin?"
"Baik, Mbak."
"Syukurlah, lancar kan, penerbangan tadi?"
Kevin mengangguk sembari tersenyum ramah pada kakak iparnya.
"Ayo, Mbak. Lea mau ketemu papa," sela Lea yang tidak mau berlama-lama menunggu. Ia ingin segera ketemu sama papanya.
***
John International Hospital
Di sebuah rumah sakit terbaik di negara itu, terlihat Arya sedang duduk di sebuah kursi roda sembari menatap pemandangan lewat balkon bangsal VIP miliknya.
__ADS_1
"Kenapa Lea belum ke sini?"
"Iya, Pa. Masih di perjalanan. Kan sudah dijemput sama Cua dan Ferdinand."
Mendengar jawaban sang istri, Arya masih kurang puas.
"Sejak tadi kok belum sampek, coba hubungi mereka."
"Iya, ini ... Mama telpon mereka."
Baru juga memencet tombol, belum sempat memanggil. Pintu langsung terbuka.
"Pa ...!"
Arya langsung berbalik, ia rindu dengan putrinya tersebut. Meski terlihat keras selama ini, Lea itu sebenarnya anak kesayangannya mereka semua. Paling bontot, yang sering bikin sports jantung.
"Papa sehat, Kan?" Lea berjongkok di depan papanya. Mengengam kedua tangan Arya yang sudah dipenuhi keriput.
Arya mengangguk, mengusap rambut Lea. Tidak terasa, putrinya sudah menikah. Dan Arya lega, Lea mendapat suami seperti Kevin. Arya yakin, pria itu bisa membimbing putrinya menjadi pribadi yang lebih baik dari pada sebelumnya.
"Sejak kapan kamu jadi lembek begini? Astaga ... ini putri Papa apa bukan?"
Dicandai sang papa seperti itu, Lea malah tersenyum sambil menangis. Ia kemudian memeluk papanya.
"Sudah ... sudah ... malu sama semua."
Arya melepaskan pelukan Lea, mengusap pipi anaknya tersebut. Ia merasa anak itu masih gadis kecil, dengan lembut Arya kembali membelai rambut Lea. Dan tiba-tiba Arya merasa matanya sedikit buram. Kepalanya pusing, dan ulu hatinya terasa sakit. Seolah ada yang mencengkram tepat di sana.
"Papa lelah, boleh Papa tidur dulu sebentar?"
Dua orang menantu Arya buru-buru membantu Arya naik ke ranjang.
"Cepet sembuh ya, Pa!" ucap Lea saat papanya sudah berbaring.
"Ayo sini, biar papamu istirahat." Nur menyentuh pundak sang putri, sejak tadi Lea belum istirahat setelah menempuh perjalanan jauh. Nur tidak mau, putrinya ikut-ikutan sakit.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian.
Arya sudah tidur. Kevin pun pamit dulu. Mereka harus ke hotel untuk meletakkan barang-barang mereka, dan juga ingin istirahat sebentar.
"Kevin ke hotel dulu, Ma .. Mbak ... Mas."
"Jaga Lea ya, Vin."
Nur memeluk putrinya.
"Lea pergi dulu, Ma. Nanti malam ke sini lagi."
"Iya, gampang. Istirahat dulu. Nanti malah ikut-ikutan sakit."
Akhirnya mereka meninggalkan rumah sakit, kini keduanya menuju sebuah hotel yang letaknya tidak jauh dari rumah sakit tersebut.
Grand Silla Hotels
Kevin sudah booking satu kamar untuk mereka. Rencana bulan madu mereka mungkin gagal, tapi diganti dengan yang lain. Situasi dan kondisi menyesuaikan.
"Capek tidak?" tanya Kevin yang melihat Lea merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Seperti kucing lapar, ia sedang mengamati target.
"Capek ... capek banget. Kaku semua punggungnya. Tapi gak apa-apa. Lea lega karena sudah lihat papa."
"Mau lihat yang lain?"
Lea menatap aneh, tidak mengerti apa yang suaminya bicarakan.
"Lihat apa maksudnya?" tanya Lea dengan wajah serius.
Setttttt
Kevin menyusul Lea ke atas ranjang dan menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka berdua.
"Eh ...!" Bersambung.
__ADS_1