Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
MENDAMBA


__ADS_3

Suamiku Pria Tajir #39


Oleh Sept


Rate 18+


Arya menepis tangan Nur, pria itu kemudian keluar meninggalkan Nur sendiri. Nur yang diperlakukan seperti itu, ia lantas tidak terima, ia pun mengikuti Arya saat itu juga.


Arya tidak keluar dari kamar, ia hanya berjalan menuju sebuah lemari besar. Di dalam sana terdapat sebuah brangkas kecil, Nur mengamati apa yang suaminya lakukan. Dilihatnya Arya membuka kotak besi itu setelah menekan beberapa digit sandi.


"Lihat ini! Baca baik-baik. Sepertinya mungkin sebaiknya kita akhiri saja." Arya memberikan hasil tes yang pernah ia lakukan beberapa tahun silam.


Nur membaca kertas yang ada di tangannya, kepalanya mulai mencerna. Ia menggeleng tidak percaya. Kembali lagi ia mengulang deret tulisan yang langsung membuatnya pusing tersebut.


"Ini bohong! Bagaimana mungkin? Apa Mas Arya dulu sebegitu bebasnya?" Nur menatap tak percaya.


"Aku akan jelaskan, tapi aku sama sekali tidak mengharap simpati darimu. Akan aku ceritakan agar kita berpisah dengan baik-baik," ucap Arya dengan tenang. Mungkin dia plong, setelah memendam semuanya sendiri. Ia sekarang bisa jujur dengan istrinya itu.


***


Arya pun memulai ceritanya, dari saat malam ketika dia menghilang. Pria itu juga mengatakan apa yang sudah Rama lakukan pada dirinya. Dan ia minta maaf pada Nur, karena harus egosi dengan memilih bertahan di sisi Nur dengan menyakitinya, seperti sekarang.


"Mas Arya sehat selama ini, itu pasti bohong! Ini pasti ada kesalahan."


Nur tetap tidak percaya. Namun, separuh hatinya merasa lega. Arya tidak mau berhubungan bukan karena Arya tidak lagi mencintai dirinya. Tapi ada alasan di balik semua itu. Dan Nur sekarang tahu.


"Aku juga sama sepertimu, menolak kenyataan ini."

__ADS_1


"Lakukan test lagi! Mas Arya memiliki banyak uang, kan? Bila perlu kita tes di luar negri."


"Cukup, Nur! Bagaimana bila hasilnya tetap sama?"


Rupanya Arya terlalu takut menghadapi kenyataan, pria itu takut bila hasil test berikutnya juga sama. Ini karena ia tahu, seberapa besar jahatnya Rama selama ini.


"Bagaimana bila aku benar? Mas Arya sehat. Selama ini tidak pernah sakit, ini pasti ada yang tidak beres. Nur tidak percaya."


"Sudahlah, Nur. Kamu mungkin belum siap menghadapi kenyataan ini. Sekarang kamu tahu, kan? Mengapa aku menjaga jarak. Demi kebaikanmu. Sebelum aku pindah, kita pisah ranjang saja."


Nur langsung meremas kertas di tangannya, melempar ke badan Arya.


"Jika itu memang benar, lalu kenapa kalau Mas Arya sakit? Itu urusanku, mau tertular apa tidak."


"Jangan keras kepala, kamu masih muda. Dan ... ingat Cua!" Arya melotot tajam.


Arya menghela napas dalam-dalam, kemudian mengusap pipi Nur yang sudah basah.


"Ini demi kebaikanmu," ucap Arya. Sepertinya ia sudah mantap meninggalkan Nur.


"Bukan ... yang mengerti mana yang terbaik adalah Nur sendiri."


"Jangan seperti ini, Nur."


"Mas yang jangan begini! Mudah sekali Mas Arya menyerah begitu saja. Ternyata, selama ini memang Nur nggak ada artinya, yang nggak pantas untuk dipertahankan!"


"Ya Tuhan ... Aku begini karena tidak ingin menyakitimu."

__ADS_1


"Justru dengan begini, Mas Arya sudah menghancurkan hati Nur!" sela Nur saat mendengar Arya terus bicara, bahwa semua demi kebaikan dirinya.


Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar, tidak tahu harus mengatakan dengan cara apa, agar Nur paham. Bahwa virus yang yang ada di tubuhnya sangatlah berbahaya.


Suasana di dalam kamar kini tampak hening, baik Arya dan Nur tidak lagi perang mulut. Mereka duduk merenung atas apa yang sudah terjadi. Emosi keduanya pun sudah mereda, mereka sepertinya sudah bisa menguasai diri.


"Aku sudah membeli rumah, tidak jauh dari sini. Tetap tinggal di sini bersama Cua. Aku pasti akan sering datang ke sini."


Nur memejamkan mata, bulir bening menetes menyebrangi pipi.


"Nur tidak mau, aku tidak mau!" Nur menutup wajahnya dengan tangan. Ia menangis tanpa suara.


"Mau atau tidak, kamu harus menerimanya." Arya nampak memaksa Nur untuk menghargai keputusannya.


"Sampai langit runtuh! Nur nggak mau pisah. Persetan dengan virus itu!"


Arya tertegun, sejak kapan Nur jadi keras kepala dan berani?


"Kamu mau mati konyol?" cibir Arya dengan rasa tak percaya.


"Lihat nanti, Nur bakal mati apa tidak."


Marah, Nur langsung mendekati suaminya. Arya beringsut, pria itu semakin mundur saat Nur mendekat.


Seperti haus kasih sayang, Nur meminta haknya dengan sedikit memaksa malam ini. Dimulai dari ia mengalungkan lengannya ke leher Arya. Menarik Arya agar ia bisa mengapainya. Nur sampai harus berjinjit agar ia sampai.


"Ini gila, aku sepertinya dengan suka rela menyeretnya ke neraka bersamaku," batin Arya ketika Nur menciumnya. Arya tidak menolak, ia tidak bisa lagi menghindar. Karena tubuhnya juga sudah lama mendamba. Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2