Suamiku Pria Tulen

Suamiku Pria Tulen
TERGODA


__ADS_3

Suamiku Pria Tulen #103


Oleh Sept


Rate 18 +


Setelah selesai yoga, Dita merapikan matras. Perutnya kembali protes minta diisi. Ia mencari apa yang ada di dalam kulkas. Hanya sushi, kue dan buah apel. Mendadak ia ingin makan yang lain.


Untung ada aplikasi pesan antar. Dita lantas mengotak-atik ponselnya. Jarinya sibuk mengeser layar. Bingung mau pilih yang mana.


"Ini sepertinya enak!" gumamnya setelah menekan tombol klik.


Sambil menunggu pengantar makanan datang, Dita kembali ke kamar. Ia mau membersihkan tubuhnya dahulu. Habis yoga tubuhnya jadi gerah.


Di kamar sebelah, terdengar suara perut Kendra yang berisik. Melewatkan makan malam, membuat pagi ini perutnya keroncongan. Mau tidak mau, ia pun pergi ke dapur.


Saat akan makan sepotong kue, mendadak ada yang membunyikan bel. Kendra pun menaruh lagi kuenya di atas piring. Pria itu kemudian berjalan menuju pintu utama.


KLEK


Dita keluar dari kamarnya, dua orang itu tidak sengaja berpapasan. Bahkan mata mereka sempat bertemu.


"Kamu pasti kaget, aku sudah pulang," ucap Kendra dengan kaku.


"Aku hanya terkejut dan aku tidak bertanya!" batin Dita kemudian berjalan melewati Kendra. Ia langsung menuju pintu utama. Pesanan makanan yang ia pesan tadi pasti sudah datang.


"Terima kasih!" ucapnya pada pengantar makanan.


Tanpa menoleh pada Kendra. Dita langsung menuju dapur. Meletakkan makanan itu di atas meja. Dita lantas mengambil piring, ia makan dengan diam di sana.


Kendra mendekat, ia yang tidak jadi makan jadi lapar saat mencium aroma makanan milik Dita. Sepertinya enak.


Kruk kruk kruk


Dita yang jengkel sekali pada Kendra, mendadak tidak bisa menahan tawa. Ia menutup mulutnya, mendengar suara perut Kendra yang keroncongan, membuat Dita ingin tertawa.


"Makanlah!"


Dita mengambil piring satu lagi, lalu menatap Kendra yang masih berdiri di tempat.


"Ini ... makanlah!"


"Tidak! Terima kasih." Ken tahu, pasti sulit bagi Dita dekat-dekat dengan pria sepertinya. Pria yang merusak hidup gadis tersebut. Makanya, ia memilih menghindar agar Dita merasa nyaman. Tapi, perut Kendra tidak bisa diajak kompromi. Baru berbalik, perutnya kembali mengeluarkan bunyi nyaring.


Kreuk kreuk kreuk


"Baiklah, aku tidak memaksa." Dita melanjutkan makannya. Selesai makan, ia kembali ke kamarnya.

__ADS_1


KLEK


Begitu Dita masuk kamar, Kendra langsung makan. Ia lapar sekali, sudah seperti orang puasa satu hari full.


***


Sore harinya. Irna menelpon Dita.


"Jadwal periksa sore ini kan, Dit?" tanya Irna di telpon.


"Iya, Ma."


"Mama minta maaf, ya. Ini tiba-tiba kaki Mama terasa keram. Mama nggak bisa antar ke dokter kandungan. Tapi kamu jangan khawatir. Mama barusan telpon Kendra, nanti pergi sama Ken ya?"


Dita memejamkan mata, ia mencium rencana sang mama mertua.


"Iya, Ma."


"Maafin Mama ya, Dit?"


"Nggak apa-apa, Ma," jawab Dita dengan terpaksa.


Beberapa saat kemudian.


Mereka berdua sudah terlihat rapi, tanpa tegur sapa, keduanya masuk mobil milik Kendra. Sepanjang jalan, Kendra pun diam, sama seperti Dita. Setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam, mereka akhirnya sampai di sebuah rumah sakit.


Niat hati, Kendra turun dahulu dan bergegas membuka pintu untuk Dita. Tapi, istrinya itu malah membuka sendiri pintu mobilnya. Dan langsung berjalan mendahului dirinya. Dari sini, Kendra mulai menghela napas panjang.


***


Tidak perlu antri, karena Dita sudah daftar saat mereka di rumah. Begitu sampai, kebetulan nomor urut Dita. Saat akan masuk, Kendra jadi gamang, ikut masuk apa tidak? Ingin masuk tapi tak enak pada Dita. Jangan-jangan istrinya tidak suka dia masuk ke dalam. Alhasil ia mematung saja.


"Silahkan masuk, Pak!" titah perawat yang ada di belakang Kendra.


Akhirnya Kendra pun masuk ke dalam ruangan tersebut.


Dita sendiri kurang memperhatikan Kendra, ia hanya fokus pada dokter yang menjelaskan hasil USG miliknya.


"Sehat ya Bu, Pak. Kaki tangan lengkap, semua sempurna. Dan sepertinya ... laki-laki." Dokter tersenyum ramah pada keduanya secara bergantian. Ia ikut senang karena janin yang diperiksa sehat tanpa kurang apapun.


"Minggu depan jadwal kontrol lebih pendek ya, Bu. Dan hindari melakukan aktifitas berlebihan," sambung dokter.


"Baik, Dok."


Sedangkan Kendra, mantan anak badung itu, setelah menatap layar USG 4D tersebut, ada sesuatu yang tiba-tiba menyeruak dalam hatinya. Entah rasa haru atau apa. Ini adalah kali pertama melihat hasil USG anaknya.


Kendra memalingkan wajah sedikit, kemudian mengusap sudut matanya. Dan Dita mengangkap kejadian itu.

__ADS_1


"Jangan katakan dia menangis!" batin Dita, ada rasa kesal dan juga kasihan.


Pulang dari rumah sakit, mereka mampir ke swalayan sebentar. Dita ingin membeli sesuatu. Kendra terus saja mengekor di belakang istrinya tersebut sambil mendorong trollie. Dan masih sama-sama tidak ada yang bicara di antara mereka berdua.


Setelah mendapat apa yang ia butuhkan, Dita minta duduk sesaat. Ia mau istirahat, kakinya capek karena terus berjalan.


Seperti anak kecil, Dita membongkar kantong belanjaan. Ia mengambil sekotak ice cream. Ia mau makan itu sekarang. Tanpa sadar, ia sejak tadi diperhatikan oleh Kendra. Namun, kendra pura-pura tidak melihat. Pria itu berlagak main HP. Padahal, ia sudah beberapa kali mencuri potret Dita yang asik makan ice cream di depannya.


Melihat betapa manisnya Dita makan ice cream, sebenarnya Ken ingin mencubit dan mencium pipi yang kini seperti bakpou tersebut. Tapi, itu hanya rasa ingin yang tak akan menjadi sebuah kenyataan.


Puas beristirahat, Dita mengajak pulang. Keduanya pun menuju mobil yang diparkir paling ujung. Eh, tiba-tiba hujan turun tanpa aba-aba sebelumnya. Spontan, Kendra melepas jaketnya. Menjadikannya payung untuk Dita. Agar wanita itu tidak basah.


"Pelan-pelan, jangan lari. Nanti kelepeset. Pelan-pelan saja!" ucap Kendra yang melihat Dita mau buru-buru lari menuju mobil.


"Kau basah," timpal Dita yang melihat Kendra hanya memayungi dirinya seorang.


"Tidak apa-apa! Pelan-pelan saja, hati-hati."


"Cepat sedikit, kau basah!" Dita tidak sabar karena merasa Kendra begitu lamban. Nanti malah basah kuyup.


"Jangan pedulikan aku! Kamu lebih penting."


Dita langsung diam, ia kemudian berjalan pelan sesuai arahan Kendra. Lagian juga perutnya sudah sangat besar. Takut jalan yang licin malah nanti terpelset.


Begitu sampai mobil, Kendra mencari handuk kering di jok belakang. Kemudian memberikannya pada Dita.


"Kau yang pakai, aku tidak terlalu basah," Dita menepis handuk itu.


"Jangan pedulikan aku, fisikku sangat kuat. Kamu sedang hamil, nanti malah demam."


Reflek, Kendra mengusap kepala Dita dengan handuk yang ia pegang. Dan Dita langsung menghindar.


Sadar ditolak kesekian kali oleh wanita yang sama, Kendra pun terdiam. Ia menarik diri, meringis dalam hati. Baginya, patah hati sudah biasa. Ken pun bersiap menyalakan mesin.


"Keringkan dulu tubuhmu!" cegah Dita yang melihat air menetes dari rambut kendra."


"Nanti saja di rumah," jawab Kendra yang terlanjur patah hati berkali-kali. Meski kebal, tetap saja dadanya terasa sakit.


Kesal melihat Kendra yang mengabaikan sarannya, apalagi Kendra memang terlihat basah kuyup. Dita lantas meraih handuk dan mengusap kepala Kendra yang basah karena air hujan tersebut.


Tentu saja Kendra terkejut. Sejak kapan Dita mau menyentuh dirinya? Reflek, ia memegang pergelangan tangan Dita.


"Hentikan ... Jangan lakukan ini," seru Kendra spontan.


Pria itu takut, satu sentuhan Dita bisa merusak segalanya. Dita pun sama kagetnya, karena Kendra memegang tangannya secara tiba-tiba, ia langsung menepis tangan pria tersebut. Mereka berdua kembali terdiam, dan canggung.


Cukup lama Kendra hanya duduk di balik kemudi. Menikmati suara gemuru hujan yang semakin deras. Tanpa sengaja matanya melirik Dita. Sialnya, Dita malah mengigit bibir bawahannya. Dita kalau tidak nyaman memang selalu begitu. Kalau tidak memainkan jari ya mengigit kecil bibirnya sendiri.

__ADS_1


"Maaf, Dit!" Tidak tahan, Kendra langsung melepas sabuk pengaman dan mengecup bibir Dita. Membuat Dita langsung terbelalak.


PLAKKK. Bersambung.


__ADS_2