
Suamiku Pria Tulen #63
Oleh Sept
Rate 18+
"Ada apa dengannya? Apa dia mau main-main denganku? Sebentar tak ingin lalu ingin," batin Irna sembari mengamati wajah pria di depannya. Ia ingin melihat keseriusan di raut wajah Rama. Apa ada kepalsuan di dalam sana. Matanya kemudian beralih pada tangan pria tersebut. Irna melirik punggung tangan Rama yang terluka.
"Tapi aku tidak akan menikahimu!" ucap Rama kemudian. Memecah suasana di antara mereka berdua yang semula menegangkan.
Rama benar-benar pria tanpa perasaan. Ingin wanita itu tetap melahirkan benihnya. Namun, tidak ingin menikahi Irna.
Jleb
Irna langsung tersenyum kecut dalam hati, harusnya ia tidak kaget, dan seharusnya sudah paham paham betul sifat asli pria dingin itu. Hampir saja ia tersentuh.
"Astaga, sekali pria brengsek tetaplah brengsek selamanya," rutuknya dalam hati.
Hampir dinaikkan ke awan, dengan waktu bersamaan ia dihempas ke bumi saat itu juga.
"Siapa juga yang mau menikah dengan pria sepertimu?" Irna menatap sinis. Dalam hatinya ia mengutuk Rama tidak karuan. Ia tidak pernah membanyangkan, akan memiliki anak dari pria tersebut.
Rama pun melirik sinis. Ia juga tidak ada niatan menghabiskan sisa hidupnya dengan wanita berisik seperti Irna.
__ADS_1
"Diam dan tenang di sisihku, sampai anak itu lahir. Kau boleh pergi."
"Apa maksudmu? Kau mau merebutnya dariku?" Irna menatap tidak percaya. Dari kata-kata Rama barusan, ia menangkap arti bahwa setelah anak itu lahir. Irna harus pergi tanpa anak itu.
"Aku tidak perlu mengulang kata-kataku, kau bukan wanita bodoh, bukan? Kau pasti sangat paham."
"Pria brengsek! Aku bisa memberikan tubuhku padamu. Tapi anak? Jangan harap."
"Kau mulai berani sekarang?" Wajah Rama berubah mengeras, ekspresi dingin mulai menyelimuti wajahnya.
Rama mengangkat tangannya kembali, dengan emosi karena melihat Irna yang sudah melunjak dan berani padanya. Ia lantas mencengkram rahang Irna sekali lagi. Rama mengancam wanita itu hingga patuh.
"Jangan main-main denganku lagi!"
BUGH
Menyikapi tindakan Rama yang kelewatan, Irna tanpa segan menendang Rama ke bagian pusat inti. Detik berikutnya, Rama mundur. Pria itu menahan sakit sambil melotot ke arah wanita yang sudah menendang telor puyuhnya.
"IRNAAA!" teriakan Rama tertahan di tenggorokan. Ia menahan kesal dengan wajah geram.
Sedangkan Irna, tanpa rasa bersalah. Wanita itu melangkah melewati Rama.
"Rasakan! Aku sumpahi tidak akan mampu berdiri untuk waktu yang lama!" kutuk Irna dalam hati dengan muka sinis.
__ADS_1
Kalau tidak sakit, Rama sudah mengejar wanita itu. Gila, Irna menendangnya cukup keras. Membuat Rama yang kebal sakit, sekilas meringis. Namun, bibirnya malah nampak tersenyum. Sebuah senyum yang penuh arti seiring menatap kepergian Irna yang menghilang dari balik pintu.
***
Kediaman Rama.
Irna sudah sampai rumah terlebih dahulu, ia sedang mengeluarkan baju-baju miliknya dan milik Kevin. Sepertinya ia benar-benar sudah mengambil keputusan. Dari pada harus melahirkan anak Rama lalu berpisah dengan anak itu. Mending ia pergi membawa anak itu jauh. Agar Rama tidak menemukan mereka.
Beberapa saat kemudian, terdengar derap langkah yang buru-buru. Irna yakin, itu pasti pria yang tadi ia tendang dengan kekuatan penuh. Salah siapa, suka sekali bersikap kasar pada dirinya.
KLEK
"Kau tidak mendengarku?" Rama langsung berjalan cepat. Ia merebut baju di tangan Irna. Dengan kasar, Rama melempar baju itu ke sembarang arah.
Tidak hanya itu, ia juga menendang koper di atas lantai yang masih terbuka dan isinya baru setengah.
"Ambil! Aku juga tidak butuh!" cetus Irna, ia akan pergi dengan tangan kosong. Toh semua itu bukan miliknya, karena Rama yang membelikan pakaian-pakaian bagus tersebut.
Irna lantas berbalik. Namun, ketika di ambang pintu. Peringatan Rama membuat wanita itu langsung berhenti seketika.
"Berani keluar dari kamar ini, akan kubunuh kau!"
Bersambung.
__ADS_1