
Suamiku Pria Tulen #125
Oleh Sept
Rate 18 +
"Apa hasilnya?" Kevin menatap Lea dengan wajah penasaran.
Lea menelan ludah terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaan sang suami. Lea masih ragu, baru telat datang bulan dua hari saja kok sudah keluar hasilnya. Ia kira datang bulannya mundur. Lea terbiasa jadwal datang bulannya tak tentu sebelum menikah. Jadi, ia tidak begitu memperhatikan saat telat. Apalagi baru dua hari.
Tapi, ternyata kata suster tadi. Mungkin memang telat dua hari. Tapi sebenarnya Lea sudah hamil empat mingguan. Terhitung dari hari terakhir datang bulan Lea.
Sambil berjalan dan duduk di sebelah Kevin, ia memberikan hasil test itu pada suaminya. Saat Kevin tertegun dengan benda di tangannya. Dokter mulai berucap.
"Jadi Pak Kevin, anda tidak sakit ya. Istri anda sedang hamil. Selamat." Dokter mengulurkan tangan untuk memberi selamat.
Kevin menyambut uluran itu dengan perasaan berkecamuk. Kemudian menoleh ke samping. Ia menatap tidak percaya, kemudinya meletakkan telapak tangannya ke perut Lea.
Lea juga masih sama, kabar mengejutkan ini membuat ia seperti tidak percaya. Ia tidak mengira diberi buah hati begitu cepat. Tapi, bagi Kevin ini adalah hadiah paling indah. Bukan masalah cepat atau lambat, Kevin bersyukur akhirnya usahanya selama ini mengali sumur akhirnya membuahkan hasil.
Mereka pun memeriksakan kandung Lea ke dokter specialist kandungan. Setelah melakukan USG, ternyata buah hati mereka sudah sebesar biji kedelai hitam Malika.
***
Setelah selesai dari rumah sakit, mereka berdua langsung ke mansion Rama. Kevin selama ini belum pernah mengajak Lea ke kediaman orang tuanya. Selama ini paling Irna yang beberapa kali mengunjungi apartemen mereka.
Hari ini, pulang dari rumah sakit, Kevin mau pamer pada mamanya.
"Pelan-pelan, habis hujan ... jalannya licin." Kevin membuka pintu mobil untuk Lea.
__ADS_1
"Mas dulu tinggal di sini?" tanya Lea, matanya yang bulat dan bersinar tersebut sibuk memindai segala sesuatu di sana.
"Hemm ... Ayo, masuk!" Kevin merangkul bahu Lea. Mereka bersama masuk ke mansion mewah milik Rama.
"Ma ... Mamaaaa! Sebentar, duduk dulu di sini. Aku cari mama dulu."
Lea mengangguk, ia pun memilih duduk di sofa empuk warna maroon tersebut.
Dari dalam, sosok Irna tiba-tiba muncul.
"Kevin ... Lea ...! Kenapa tidak bilang-bilang mau ke sini?"
"Kejutan, Ma."
"Mama seneng banget kalian di sini. Tapi papa sedang di luar. Main golf sama temen-temennya."
Irna jadi was-was, apa terjadi sesuatu? Pikir wanita yang rambutnya sudah banyak ubannya tersebut. Tapi karena diwarnai, jadi uban itu pun tersamarkan.
"Lea hamil, Ma." Lea yang dari tadi diam, mengulurkan hasil USG tadi pada mama mertuanya.
"Benarkah?" Irna menatap tak percaya. "Selamat, sayang!" Irna langsung meraih tubuh Lea. Memeluknya dengan erat.
"Selamat ya, Vin. Mama doakan lancar sampai persalinan." Ganti ia memeluk putranya.
Mereka pun berbincang-bincang kurang lebih satu jam. Dan Kevin memutuskan untuk pulang, kapan-kapan mereka akan berkunjung lagi.
"Makasih sayang, sering-sering ke sini ya!" Irna memeluk mereka bergantian.
Lea dan Kevin pun meninggalkan mansion itu dengan hati lega. Terutama Kevin, akhirnya ia bisa menginjakkan kaki di sana tanpa memikirkan apapun. Loss tanpa beban. Sebelumnya ia bahkan berjanji, tidak akan ke sana lagi.
__ADS_1
Tapi sekarang sudah tidak lagi. Kehadiran Lea dalam hidup Kevin, bagai oase. Lea memberi warna tersendiri. Sesuatu yang membuatnya bersemangat menjalani hidup yang sebelumnya nampak hampa untuk dijalani.
***
Karena langit mulai mendung gelap, mereka tidak jadi ke kediaman keluarga Pramudya.
"Ke rumah papa besok saja, ya?" ucap Kevin sambil fokus menyetir di tengah gerimis.
"Iya, besok saja."
"Langsung pulang, ya?"
Lea mengangguk.
WUSHHH
Mobil melaju meninggalkan kawasan mansion mewah tersebut. Cukup lama mereka mengemudi, karena jarak pandang yang terbatas. Disertai jalanan yang licin hampir saja Kevin menabrak pengendara roda dua di depannya.
"Hati-hati, Mas!" pekik Lea yang terkejut.
Kevin menarik nafas, kemudian menepi. Ia mencari kafe terdekat. Sepertinya ia harus istirahat sebentar. Tapi tidak ada kafe di dekat sana, hanya ada sebuah mini market. Akhirnya ia pun berhenti di sana.
"Hujan semakin deras. Kita masuk dulu ya. Nggak aman kalau terus jalan."
Lea mengangguk, dan berniat turun. Tapi Kevin mencegahnya.
"Bentar, aku ambilin payung."
Saat Kevin keluar dari mobil dengan membawa payung, tanpa sengaja matanya melihat sosok Dita yang juga keluar dari mobil tidak jauh dari tempatnya berdiri. Bersambung.
__ADS_1