
Suamiku Pria Tulen #85
Oleh Sept
Rate 18 +
"Sebenarnya aku ingin pergi, tapi aku tetap menunggu di luar sejak tadi. Suster bilang kamu tidak tidur. Apa terasa sakit? Apa lebih baik pindah rumah sakit? Aku bisa mengusahakannya sekarang."
Rama bicara dengan nada kaku, ia bingung menghadapi wanita yang sedang menangis. Hal paling ia benci adalah wanita dan anak kecil. Keduanya mahluk lemah dan hanya bisa menangis kalau dalam masalah.
Melihat Irna yang terisak, Rama makin bingung harus bagaimana.
"Baiklah ... lebih baik aku menunggu di luar."
Rama pikir Irna tidak nyaman dengan kehadirannya. Ia pun memutuskan untuk keluar saja.
"Tetap di sini," cegah Irna.
Rama langsung memutar tubuhnya, seketika matanya tertuju pada Irna. Kakinya pun berjalan dengan sukarela mendekat ke ranjang di mana wanita tersebut berada.
"Berhentilah menangis, aku paling tidak tahan melihat wanita menangis."
Rama mengusap pipi Irna dengan tangannya, berusaha mengeringkan pipi yang sudah terlanjur basah.
"Siapa yang membuatku menangis?" Irna mendongak, menatap suaminya dengan mata yang sembab.
Pria itu kemudian menghela napas dalam-dalam, kemudian mulai bicara lagi.
"Iya ... Maaf. Aku salah."
"Apa kesalahanmu?" tanya Irna dengan nada ketus sambil tetap ingin menangis. Sebuah keajaiban seorang Rama meminta maaf pada dirinya.
"Membunuh orang?"
Irna langsung melotot mendengar jawaban Rama.
"Katakan! Apa salahmu!"
"Hanya itu ... apa lagi?"
Irna langsung memasang muka masam. Kemudian memukuli Rama.
"Salahmu banyak!!!"
Rama hanya terkekeh, ketika Irna terus saja memukuli tubuhnya. Ia tidak menahan, hanya diam dan menerima dengan ikhlas. Sepertinya ia memang pantas dipukul.
"Capek?" tanya Rama saat Irna berhenti.
"Belum! Nanti setelah aku pulang dari sini, akan aku balas perlakuanmu kemarin!" ancam Irna.
Rama tersenyum tipis.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu hukuman darimu. Aku akan menerima hukumanku seumur hidup. Tak akan lari dan tidak akan menyuruhmu pergi."
"Selamanya?" Irna menatap penuh harap.
"Selamanya!" ucap Rama mengulang kata tersebut.
Senang, Irna langsung merentangkan tangan, minta dipeluk. Tumben, Rama langsung connect alias nyambung. Dengan hangat, pria itu memeluk Irna. Kedua pasutri itu pun akhirnya mengibarkan bendera perdamaian. Mengakhiri perang yang sempat terjadi antara mereka berdua.
***
Tiga bulan kemudian.
Kadang kala, ada rahasia yang akan lebih baik bila tetap menjadi sebuah rahasia. Seperti sejarah kelam Rama. Pria itu memilih menutup rapat dan menguburnya dalam-dalam. Cukup bahwa Irna mengetahui ia mantan pembunuh, jangan mantan penyuka pria. Kalau Irna sampai tahu, Rama mungkin akan kehilangan istrinya itu selamanya. Dan ia tidak mau akan hal itu.
Mulai sekarang ia akan membuka lembaran baru. Menikmati sisa usianya, menua bersama Irna dan anak-anak mereka. Sesuai janji yang pernah ia ucapkan pada istrinya tersebut.
Hari ini suasana mansion cukup berisik. Irna sudah pulih seperti sedia kala. Sambil mengendong Ken, ia membawa cangkir kopi panas untuk Rama.
"Berikan padaku!" titah Rama.
Irna langsung mengulurkan kopi.
"Bukan!" Rama langsung mengambil Kendra dari gendongan Irna.
"Ini bahaya sekali, lakukan satu-satu. Ke mana bibi? Mengapa melakukan semuanya sendiri?" protesnya pada Irna.
"Nggak apa-apa. Aku bisa kok."
Irna langsung memukul pundak suaminya. Dan Rama hanya tersenyum. Kemudian mengecup bibir Irna yang sudah mulai mengerucut karena sebal.
"Ma, Kevin les dulu ya."
Sang mama langsung mundur, Irna malu kalau Kevin melihat kejadian barusan. Sedangkan Rama, pria itu tidak peduli. Ia malah merangkul bahu Irna.
"Berangak sama Papa, sekalian Papa ada urusan."
"Iya, Pa."
Kevin dan Rama pun perlahan mulai akrab. Apalagi sikap Rama berangsur mulai hangat. Lambat laun, jiwa kebapakan pun mulai terasah.
Begitulah hidup Rama dan keluarga kecilnya. Keluarga yang semula dingin, beku dan palsu. Kini berubah menjadi keluarga harmonis yang hangat dan nyaman.
***
Suatu malam.
"Lama sekali?" Rama mengerutu, ia menunggu Irna terlalu lama.
"Ken rewel, minta digendong baru tidur."
"Tapi sekarang sudah tidur, kan?"
__ADS_1
"Sudah, sudah aman!" ucap Irna dengan mata penuh binar.
"Astaga! Lihatlah ... semangat sekali," sindir Rama.
"Ish, ya sudah. Kita tidur langsung saja!" Irna ngambek. Ia merajuk kemudian naik ke atas ranjang dan menarik selimut dengan kasar.
"Aku suka, kalau kamu marah begini ... tenagannya jadi lebih ekstra!" bisik Rama sembari mengigit kecil telinga istrinya.
"Udah sana ... Aku nggak mood lagi!" Irna mendorong Rama hingga ke tepi.
"Apanya yang nggak mood?" Rama langsung menarik paksa Irna agar mendekat ke arahnya.
"Udahlah, Ram. Mendadak males aku sama kamunya."
"Benarkah?"
Irna hanya melotot.
"Ah ... coba aku periksa."
Cup
Cup
Cup
Rama malah memberi stempel pada kening, pelupuk mata, pipi, hidung dan bibir.
"Udah, ah! Aku mau tidur!"
"Tidurkan yang ini dulu!"
Mata Irna membulat, apalagi saat Rama langsung kembali mengecupnya. Kali ini bukan sebuah kecupan singkat. Tapi kecupan yang berakhir dengan ciuman yang hangat, dalam dan menuntut.
Pertama-tama cukup lemah, lembut dan pelan. Tapi, saat berikutnya. Rama menambah ritme kecepatan. Berubah menjadi semakin cepat dan jantung keduanya saling berkejaran.
"Lanjut nggak?" pancing Rama saat melepaskan tautan bibir mereka.
Irna hanya tersenyum, dan wajahnya sudah terasa panas.
KLEK
Tangan Rama meraih tombol lampu, ia mematikan lampu dan ganti menyalakan lampu tidur di atas nakas.
Cahaya remang-remang, memperlihatkan sileut Irna yang semakin menggoda. Apalagi mereka sudah seperti bayi, tidak butuh waktu lama untuk melepaskan apa yang mereka kenakan.
"Apa ini?" Rama merasakan sesuatu yang lengket.
"Astaga!" Irna langsung mendorong Rama dan berlari ke kamar mandi. Bersambung.
Oalah ... apa itu. Hehehee
__ADS_1